Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
032~ Sendirian di Rumah
Sesampainya di rumah, Feng Zhou membantu membukakan pintu pagar saat sebuah mobil yang ditumpangi Lin Xia Mei berhenti di depan pintu.
Hari sudah mulai malam, ia langsung membayar ongkos dan mobil pun melaju pergi.
"Selamat datang Nyonya." sambut Feng Zhou.
"Hm," singkat dan padat.
Ia bergegas masuk dan mengabaikan Security-nya yang sedang mengelus dada. Tangannya berhenti di gagang pintu, ia melirik sudut langit-langit terasnya, sebuah CCTV yang menyala.
"Feng Zhou!" panggil Lin Xia Mei dengan kencang, yang dipanggil pun berlari dengan cepat.
"Saya, Nyonya."
"Cabut CCTV jelek itu sekarang juga." titah Lin Xia Mei.
"Eeee Nyonya.. Apakah CCTV nya akan diganti dengan CCTV baru?" tanya Feng Zhou yang tampak ragu.
"Akan ku ganti dengan matamu jika kau masih membantahku!"
Feng Zhou langsung merinding mendengar ancaman majikannya, ia langsung mengambil tangga lipat dan menjalankan perintah Lin Xia Mei.
Beberapa menit berlalu, Feng Zhou turun dan menyerahkan CCTV yang sudah diputus paksa pada Lin Xia Mei.
"Aku tahu Wei Zhu Chen memasang CCTV tersembunyi dan kau yang memberinya ide." Lin Xia Mei menunjuk wajah Feng Zhou.
"Nyonya.. Maaf, saya hanya-"
"Aku tidak butuh alasanmu, ku perintahkan sekarang juga lepaskan semua CCTV di rumah ini, termasuk yang tersembunyi."
Feng Zhou tampak kebingungan.
"Tapi Nyonya, saya takut pada Tuan."
Lin Xia Mei memukul pintu dengan keras.
"Dia tidak akan pulang, jika kau masih sayang nyawamu maka turuti perintahku!"
"Baik Nyonya."
"Sekarang!"
Feng Zhou langsung masuk ke dalam rumah dengan jantung berdebar kencang tanpa ia tahu Lin Xia Mei sedang menahan tawa dibelakangnya.
30 menit berlalu, ia berdiri mengawasi security-nya, berjaga-jaga khawatir Feng Zhou lebih setia pada Wei Zhu Chen.
Sementara itu di rumah sakit, Wei Zhu Chen yang penasaran pada kegiatan istrinya memutuskan mengecek CCTV dari ponselnya, matanya terbelalak saat semua CCTV nya tidak bisa tersambung, tersisa satu CCTV yang ada di depan kamar Wei Ji Xiang, terlihat Feng Zhou sedang memanjat tangga, wajahnya semakin mendekat dan pip... layar hitam kemudian sambungan terputus.
"Sial! Lin Xia Mei, apa yang kau rencanakan sekarang?!" gerutunya kesal.
"Ayah, jangan marah. Aliran darah Ayah tidak beraturan."
Mendengar nasihat Anaknya, Wei Zhu Chen mengatur napas dan kembali bersabar, meskipun dari raut wajahnya jelas ia masih penasaran sekaligus marah atas tindakan istrinya.
Feng Zhou menyerahkan CCTV terakhir di rumah itu pada Lin Xia Mei.
"Pergilah."
Lin Xia Mei memasukkan CCTV terakhir ke dalam kardus yang ia siapkan.
"Hihi, kebebasan sementara akan segera datang!"
Pukul 9 malam..
Bibi Yu Si dan Feng Zhou berdiri di hadapan Lin Xia Mei dengan kepala menunduk.
"Kalian berdua, untuk sementara ini aku liburkan." ucap Lin Xia Mei dengan dingin.
"Nyonya, mohon maafkan saya. Tolong jangan pecat saya." Bibi Yu Si sudah panik.
"Benar, Nyonya. Saya akan memperbaiki kesalahan saya." sambung Feng Zhou.
"Ck, aku tidak sedang berdiskusi, aku sedang memberikan perintah!"
Feng Zhou dan Bibi Yu Si saling beradu pandang, mereka sama-sama cemas.
"Wei Zhu Chen sedang di luar untuk beberapa hari bersama Wei Ji Xiang. Aku akan menyusul jadi rumah akan kosong. Kalian tentu akan bermalas-malasan selama tidak ada aku di rumah. Jadi sebaiknya kalian libur dulu."
"Tapi Nyonya, rumah saya jauh."
"Feng Zhou, kalau kau terus menolak, maka jangan salahkan aku kalau kau benar-benar ku berhentikan!"
Pada akhirnya kedua pekerja itu memilih patuh pada perintah Lin Xia Mei.
"3 hari lagi barulah kalian boleh kembali. Uang saku sudah ku transfer. Malam ini kalian pergilah."
Setelah itu Lin Xia Mei melenggang pergi meninggalkan Bibi Yu Si dan Feng Zhou, ia tersenyum seperti menemukan kebebasan di depan mata. Ia menaiki anak tangga dengan senang hati.
"Tapi aku khawatir, Nyonya sendirian di rumah." ujar Bibi Yu Si.
"Yu Si, Nyonya bilang dia akan menyusul."
"Ah iya, aku lupa. Tapi..."
"Sudahlah, kita patuh saja. Daripada kita di pecat." kata Feng Zhou yang memilih aman.
Tepat pukul 12 malam, kedua orang itu benar-benar pergi dari rumah, Lin Xia Mei menyaksikan kepergian mereka dari balkon kamarnya.
Lin Xia Mei menghela napas berat, sebenarnya ia senang namun di hatinya seperti terselip batu krikil, terasa nyeri-nyeri tipis saat melihat Bibi Yu Si melangkah di halaman rumah.
Bibi Yu Si menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, terlihat Lin Xia Mei sedang menatap ke arahnya dengan ekspresi datar. Meski berat, ia akhirnya melanjutkan langkahnya.
"Huffft."
Bibi Yu Si menutup gerbang tapi tidak menguncinya, Feng Zhou memberhentikan grab mobil yang mendekat ke arah mereka. Feng Zhou lebih dulu naik ke dalam mobil disusul Bibi Yu Si, ia membuka kaca jendela dan sekali lagi melihat ke arah Lin Xia Mei.
Mobil melaju pelan meninggalkan rumah besar itu, Lin Xia Mei masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon kamarnya.
"Bao."
Bip. Bao muncul dan melayang di udara.
"Inang, kali ini apa rencanamu?" tanya Bao.
"Mencari poin, Bao."
"Tapi di rumah ini tidak ada yang bisa kau musuhi Inang, kau sudah mengusirnya."
Lin Xia Mei menggeleng pelan.
"Aku meliburkan mereka karena aku ingin menjadi diriku sendiri, hihi."
Lin Xia Mei mengambil ponsel dan membuka grup WeChat khusus kelas Wei Ji Xiang. Ratusan pesan tertulis dan sebagian besar isinya adalah memarahi Lin Xia Mei.
Guru pemandu 🖊 Nyonya Lin, kau sangat tidak beretika. Meninggalkan kegiatan tanpa izin.
Wali murid lain 🖊 Benar, kami baru melakukan perjalanan pulang saat senja hampir berakhir hanya untuk menunggumu Nyonya Lin.
Wali murid lain 🖊 Kau membuang waktu kami.
Wali murid lain 🖊 Karena menunggumu, kami masih di perjalanan detik ini ini, Nyonya Lin.
Wali murid lain 🖊 Nyonya Lin tidak membuka grup, mungkin dia sibuk dan ada urusan genting.
Wali Murid lain🖊 Nyonya Ning, kau terlalu baik. Jelas-jelas dia mempermainkan kita semua.
Lin Xia Mei dan Bao tertawa bersama saat melihat keributan dalam grup.
"Inang, kau mau membalas apa?"
"Tentu saja menghargai perhatian mereka. Bao, apakah orang yang sudah menghasilkan poin tadi masih bisa menghasilkan poin lagi?"
"Belum bisa inang, dini hari nanti baru bisa menghasilkan poin pada orang yang sama."
"Baiklah tidak masalah."
Jemari lentik Lin Xia Mei mengetik di keyboard ponselnya diiringi senyum.
Lin Xia Mei🖊 Terima kasih sudah menjadikanku bahan utama obrolan kalian, jujur saja aku tidak peduli dan ya... tidak perlu berterima kasih atas kesulitan yang kuciptakan. Persetan dengan kalian semua 😋.
Senyum Lin Xia Mei kian melebar setelah mengirim balasan pesan di grup.