NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Hantu dari Masa Lalu

Aisha tidak bisa tidur lagi setelah panggilan dari Suster Dewi. Ia duduk di tepi tempat tidur, tangan masih memegang ponsel yang layarnya mulai redup. Di sampingnya, Arka masih terlelap, tidak tahu bahwa dunia mereka baru saja berguncang lagi.

*Sari tidak mati. Sari masih hidup.*

Kata-kata Mia berputar di kepalanya seperti angin puyuh. Bagaimana mungkin Sari masih hidup? Arka sendiri yang melihat surat kematiannya. Arka sendiri yang menerima kabar dari keluarga angkatnya bahwa Sari telah tiada. Tapi Mia—yang selama ini menyembunyikan rahasia tentang kematian Cahaya—kini mengklaim bahwa Sari tidak mati.

Apakah ini bagian dari delusi Mia? Atau ini kebenaran lain yang selama ini terkubur?

Aisha mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia tidak bisa memutuskan sendiri. Ia harus membangunkan Arka.

“Arka,” bisiknya, mengguncang bahu suaminya pelan. “Arka, bangun.”

Arka mengerang, membuka mata dengan berat. “Apa? Ada apa?”

“Mia kembali ke rumah sakit. Dia bilang Sari masih hidup.”

Arka langsung duduk, matanya terbuka lebar. “Apa? Siapa yang bilang?”

“Suster Dewi. Dia menelepon tadi malam. Mia datang sendiri ke rumah sakit dalam keadaan ketakutan. Dia bilang ada yang mengejarnya. Dan dia terus mengulang, 'Sari tidak mati. Sari masih hidup.'”

Arka turun dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir di kamar. “Ini tidak masuk akal. Aku melihat surat kematian Sari. Aku sendiri yang mengurus pemakamannya.”

“Kau yang mengurus? Aku kira keluarga angkatmu yang mengurus semuanya.”

Arka berhenti. Wajahnya berubah pucat. “Kau benar. Aku tidak pernah melihat jenazah Sari. Keluarga angkatku yang memberitahu aku bahwa Sari meninggal. Mereka yang mengatur pemakaman. Aku hanya... aku hanya menerima kabar itu dan percaya.”

“Karena tidak ada alasan untuk tidak percaya, Arka. Tapi sekarang, setelah semua yang kita tahu tentang mereka, mungkin ada kemungkinan mereka berbohong.”

“Tapi untuk apa?” Arka menatap Aisha, matanya penuh kebingungan. “Untuk apa mereka berpura-pura Sari mati?”

“Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang aku tahu, kita harus ke rumah sakit. Kita harus bicara dengan Mia.”

---

Mereka tiba di Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa pukul enam pagi. Langit masih gelap, embun masih membasahi rumput di halaman. Suster Dewi menyambut mereka dengan wajah lelah.

“Bagaimana kondisi Mia?” tanya Arka.

“Dia sudah kami beri obat penenang. Sekarang dia tidur. Tapi ketika dia sadar tadi malam, dia sangat gelisah. Dia bilang Sari tidak boleh tahu bahwa Mia ada di sini. Dia bilang Sari dalam bahaya.”

“Sari dalam bahaya dari siapa?” tanya Aisha.

“Dia tidak menjelaskan. Dia hanya terus mengulang kata-kata yang sama. 'Sari tidak mati. Sari masih hidup. Aku harus menyelamatkannya.'”

Aisha menatap Arka. “Kita harus bicara dengan Mia begitu dia sadar.”

“Tapi dokter bilang Mia butuh istirahat,” kata Suster Dewi. “Kondisinya masih labil. Jika dipaksa bicara, bisa kambuh lagi.”

“Kami tidak akan memaksanya. Kami hanya ingin mendengar langsung dari mulutnya. Mungkin kami bisa membantu.”

Suster Dewi menghela napas. “Baik. Tapi saya akan dampingi.”

---

Mereka menunggu di ruang tunggu hingga pukul sembilan. Mia akhirnya sadar dan diizinkan menerima tamu. Aisha dan Arka masuk ke ruang perawatan, ditemani Suster Dewi yang berdiri di sudut ruangan.

Mia terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat, matanya sembab. Ketika melihat Arka, ia langsung menangis.

“Arka, maafkan aku. Aku tidak bermaksud kabur. Aku takut. Aku sangat takut.”

Arka duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan Mia. “Takut pada siapa, Mia?”

“Pada Sari. Pada... pada semua orang.”

“Mia, apa maksudmu Sari masih hidup? Aku sudah melihat surat kematiannya. Aku yang mengurus pemakamannya.”

Mia menggeleng keras. “Itu palsu, Arka. Sari tidak mati. Dia masih hidup. Aku bertemu dengannya dua bulan yang lalu.”

Aisha terkejut. “Kau bertemu Sari? Di mana?”

“Di Bandung. Aku pergi ke makam Cahaya untuk membersihkannya, seperti yang biasa aku lakukan setiap tahun. Tapi ketika aku sampai di sana, ada seorang wanita berdiri di depan makam itu. Wanita itu menangis. Aku mengenalinya. Itu Sari.”

“Apa yang dia katakan?” tanya Arka, suaranya bergetar.

“Dia bilang dia selamat. Keluarga angkatmu tidak jadi membunuhnya. Mereka hanya mengancam, menyiksanya, dan memaksanya untuk meninggalkan Bandung. Mereka bilang jika dia kembali, mereka akan membunuh Cahaya. Tapi Cahaya sudah mati. Jadi Sari tidak punya alasan untuk kembali.”

“Lalu kenapa dia kembali sekarang?”

“Karena dia ingin membalas dendam, Arka. Dia ingin menghancurkan keluarga angkatmu. Dia ingin mereka merasakan penderitaan yang sama seperti yang dia rasakan.”

Arka menutup matanya. “Mengapa dia tidak menghubungiku? Aku bisa membantunya.”

“Dia tidak percaya pada siapa pun, Arka. Setelah apa yang dia alami, dia hanya percaya pada dirinya sendiri.”

“Mia, apakah Sari yang mengancammu? Apakah Sari yang mengejarmu?”

Mia menggeleng. “Bukan Sari. Orang suruhan keluarga angkatmu. Mereka tahu Sari masih hidup. Mereka tahu Sari sudah kembali. Mereka mencari Sari, dan mereka tahu aku tahu.

Mereka ingin aku memberitahu mereka di mana Sari bersembunyi.”

“Apa kau memberitahu mereka?” tanya Aisha.

“Tidak. Aku tidak akan pernah mengkhianati Sari. Tapi mereka terus menekanku. Mereka mengirim orang untuk mengikutiku, untuk mengancamku. Itu sebabnya aku berhenti minum obat. Aku takut mereka akan meracuniku.”

Arka mengepalkan tangan. “Aku akan lindungi kau, Mia. Aku tidak akan biarkan mereka menyentuhmu.”

“Kau tidak bisa melindungiku selamanya, Arka. Mereka punya di mana-mana. Mereka punya uang. Mereka punya kekuatan.”

“Tapi kita punya kebenaran, Mia. Dan kebenaran lebih kuat dari uang dan kekuatan.”

---

Setelah menenangkan Mia, Aisha dan Arka keluar dari ruang perawatan. Mereka duduk di taman rumah sakit, berusaha mencerna semua informasi baru.

“Arka, kita harus mencari Sari,” kata Aisha.

“Tapi bagaimana? Mia tidak tahu di mana Sari bersembunyi. Dan jika keluarga angkatmu juga mencarinya, kita harus menemukannya lebih dulu.”

“Mungkin Ren tahu.”

Arka mengerutkan kening. “Ren? Kau pikir Ren tahu di mana Sari?”

“Ren yang menyimpan amplop peninggalan Sari selama bertahun-tahun. Mungkin Sari juga menghubungi Ren. Mungkin Ren tahu lebih banyak dari yang dia katakan.”

“Tapi Ren sudah pergi. Dia bilang dia pergi untuk selamanya.”

“Aku tidak percaya Ren akan pergi tanpa menyelesaikan semua ini. Dia terlalu terlibat. Aku akan coba menghubunginya.”

“Bagaimana? Nomornya sudah tidak aktif.”

“Aku punya cara. Tapi aku butuh waktu.”

---

Sepulang dari rumah sakit, Aisha langsung membuka laptopnya. Ia mengakses media sosial, mencari jejak digital Ren. Tidak mudah, karena Ren memang sengaja menghilang. Tapi Aisha ingat bahwa Ren memiliki akun LinkedIn yang jarang ia buka.

Ia menemukan profil Ren. Tidak ada aktivitas terbaru. Tapi di bagian kontak, ada alamat email yang mungkin masih aktif.

Aisha menulis email:

*“Ren, ini Aisha. Aku tahu kau mungkin tidak ingin dihubungi lagi. Tapi ini penting. Sari masih hidup. Mia dalam bahaya. Keluarga angkat Arka mencari mereka. Kami butuh bantuanmu. Tolong balas. - Aisha”*

Email itu terkirim. Sekarang tinggal menunggu.

---

Dua hari berlalu. Tidak ada balasan dari Ren. Aisha mulai putus asa. Sementara itu, kondisi Mia memburuk. Ia semakin paranoid, sering berteriak di tengah malam, dan harus diikat di tempat tidur untuk keamanannya sendiri.

Arka jarang pulang. Ia lebih banyak di rumah sakit, menjaga Mia. Aisha bergantian dengannya, tapi ia juga harus menjaga Baskara dan mengurus bisnis kateringnya.

Hari ketiga, ketika Aisha sedang membersihkan dapur, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

“Halo?”

“Aisha, ini Ren.”

Aisha menghela napas lega. “Ren, terima kasih sudah menghubungi. Kami butuh bantuanmu.”

“Aku tahu tentang Sari. Aku tahu dia masih hidup. Aku juga tahu keluarga angkat Arka mencarinya.”

“Di mana Sari sekarang?”

Ren diam sejenak. “Dia di tempat yang aman. Tapi tempat itu tidak akan aman lama lagi. Mereka sudah menemukan jejaknya.”

“Bisakah kami bertemu dengan Sari?”

“Aku akan atur. Tapi kau harus datang sendirian, Aisha. Sari tidak percaya pada Arka. Dia takut Arka akan mengkhianatinya seperti dulu.”

“Tapi Arka sudah berubah, Ren. Dia tidak seperti dulu.”

“Aku tahu. Tapi Sari belum tahu. Dia butuh waktu. Dan dia butuh bukti.”

“Baik. Aku akan datang sendirian. Di mana dan kapan?”

“Besok malam. Aku akan kirim alamatnya. Jangan bilang siapa pun, termasuk Arka. Jika keluarga angkat Arka tahu, kita semua dalam bahaya.”

Panggilan terputus. Aisha memegang ponselnya, berpikir keras.

Haruskah ia memberitahu Arka? Arka adalah suaminya. Mereka sudah berjanji tidak punya rahasia. Tapi ini menyangkut keselamatan Sari, Mia, dan mungkin juga keluarga mereka.

Aisha memutuskan untuk tidak memberitahu Arka. Setidaknya untuk sementara waktu. Ia akan pergi sendirian, bertemu Sari, dan setelah semuanya aman, ia akan cerita pada Arka.

---

Malam berikutnya, Aisha pamit pada Arka bahwa ia akan mengantar pesanan katering ke pelanggan di luar kota. Arka tidak curiga. Ia terlalu sibuk memikirkan Mia.

Aisha mengemudi sendirian menuju alamat yang Ren kirimkan. Tempat itu berada di kawasan Puncak, vila kecil yang tersembunyi di antara perkebunan teh. Jalan menuju ke sana gelap dan berliku, membuat Aisha sedikit takut. Tapi ia tidak berbalik.

Setelah dua jam perjalanan, ia tiba di vila itu. Ren sudah menunggu di pintu.

“Masuklah. Sari di dalam.”

Aisha masuk. Vila itu sederhana, hanya satu lantai dengan ruang tamu kecil dan dua kamar. Di ruang tamu, seorang wanita berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu.

Wanita itu berbalik.

Sari.

Wajahnya lebih tua dari foto yang Aisha lihat. Kerutan di sekitar mata dan mulutnya menunjukkan bahwa ia telah melalui banyak penderitaan. Tapi matanya masih sama—penuh api, penuh tekad.

“Aisha,” sapa Sari pelan. “Akhirnya kita bertemu.”

Aisha berjalan mendekat, duduk di kursi yang ditawarkan Ren. “Sari, aku senang kau masih hidup. Arka akan sangat bahagia mendengarnya.”

“Arka tidak perlu tahu. Aku tidak percaya padanya.”

“Dia sudah berubah, Sari. Dia melawan keluarga angkatnya. Dia melaporkan mereka ke polisi.”

“Laporan polisi tidak akan mengembalikan masa laluku. Tidak akan mengembalikan Cahaya.”

Aisha menunduk. “Aku tahu. Tapi setidaknya ada keadilan.”

“Keadilan?” Sari tertawa pahit. “Keadilan untuk orang miskin seperti aku? Keadilan untuk orang yang dijual seperti binatang? Keadilan untuk anak yang mati karena tidak punya uang untuk berobat? Jangan membuatku tertawa, Aisha.”

“Lalu apa yang kau inginkan, Sari?”

“Aku ingin mereka menderita. Aku ingin mereka merasakan sakit yang sama. Aku ingin mereka kehilangan segalanya, sama seperti aku kehilangan segalanya.”

Sari mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari sakunya. “Ini adalah catatan harianku selama bertahun-tahun menjadi budak keluarga angkat Arka. Ada nama-nama, tanggal, tempat, dan bukti-bukti kejahatan mereka. Aku akan memberikan ini pada polisi, pada media, pada siapa pun yang mau mendengarkan. Aku akan menghancurkan mereka.”

Aisha memandangi buku itu. “Apa yang bisa aku bantu?”

“Kau sudah cukup membantu dengan datang ke sini. Sekarang pergilah. Jangan beri tahu Arka di mana aku. Aku belum siap bertemu dengannya.”

Aisha berdiri. “Sari, aku harap kau memberinya kesempatan. Dia juga korban, sama seperti kau.”

Sari tidak menjawab. Ia hanya menatap Aisha dengan mata yang sulit dibaca.

Aisha berjalan ke pintu, ditemani Ren.

“Hati-hati di jalan, Aisha,” kata Ren. “Dan jangan cerita pada siapa pun tentang tempat ini.”

“Aku akan jaga rahasia ini. Tapi tidak selamanya, Ren. Suatu hari nanti, Arka berhak tahu.”

“Suatu hari nanti, tapi tidak sekarang.”

Aisha masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan vila. Di spion tengah, ia melihat Sari berdiri di pintu, menatapnya pergi.

---

Di tengah perjalanan pulang, ponsel Aisha berdering. Arka.

“Aisha, kau di mana? Mia kabur dari rumah sakit!”

Jantung Aisha berhenti berdetak. “Apa? Bagaimana bisa?”

“Dia menghipnotis perawat, atau sesuatu. Kami tidak tahu. Tapi dia sudah tidak ada di kamarnya. Polisi sedang mencari. Aku juga. Kau segera pulang, ya?”

“Aku akan segera pulang, Arka. Tapi hati-hati. Mia mungkin mencari Sari.”

“Sari? Maksudmu Sari masih hidup?”

Aisha menutup matanya. Ia sudah membocorkan rahasia. Tidak ada gunanya berbohong lagi.

“Ya, Arka. Sari masih hidup. Aku baru saja bertemu dengannya. Tapi aku tidak bisa bilang di mana. Aku janji pada Sari.”

“Aisha, ini darurat! Mia dalam bahaya! Keluarga angkatku juga mencari Sari! Jika Mia lebih dulu menemukan Sari, atau jika keluarga angkatku menemukan Mia...”

“Aku tahu, Arka. Tapi aku tidak bisa mengingkari janji. Aku harus bertemu Sari lagi, membujuknya untuk mau bertemu denganmu. Beri aku waktu.”

“Kita tidak punya waktu, Aisha! Mia bisa mati!”

Panggilan terputus. Aisha memegang ponselnya dengan tangan gemetar.

Di depannya, jalanan gelap dan sepi. Ia tidak tahu harus ke mana. Pulang ke rumah? Kembali ke vila? Atau mencari Mia?

Tiba-tiba, ia melihat sesosok wanita berdiri di pinggir jalan, di bawah lampu penerangan yang redup.

Wanita itu menatapnya. Mia.

Aisha menginjak rem. Ia keluar dari mobil, berlari ke arah Mia.

“Mia! Apa yang kau lakukan di sini? Kau harus kembali ke rumah sakit!”

Mia tersenyum. Senyum yang aneh, seperti senyum di balik kaca ruang isolasi dulu.

“Aku tidak akan kembali, Aisha. Aku harus menemui Sari. Aku harus melindunginya.”

“Sari baik-baik saja. Dia aman. Aku baru saja darinya.”

“Kau berbohong. Sari tidak aman. Keluarga angkat Arka sudah tahu di mana dia. Mereka akan menjemputnya malam ini.”

“Apa? Siapa yang bilang?”

“Ren. Ren yang memberitahu mereka.”

Aisha terkejut. “Ren? Tidak mungkin. Ren yang menyembunyikan Sari. Ren yang melindunginya.”

“Ren bekerja untuk keluarga angkat Arka sejak awal, Aisha. Dia tidak pernah berubah. Dia hanya berpura-pura membantu kita.”

Dunia Aisha terasa berputar. Ren, pengkhianat. Ren, yang selama ini ia percayai. Ren, yang memberinya amplop cokelat, yang mengatakan bahwa ia pergi untuk selamanya.

“Aku harus kembali ke vila,” kata Aisha panik. “Aku harus menyelamatkan Sari.”

“Aku ikut,” kata Mia.

Mereka berdua naik ke mobil Aisha, melaju kencang menuju vila di Puncak.

---

Ketika mereka tiba, vila itu sudah kosong.

Pintu terbuka, lampu menyala, tapi tidak ada siapa pun. Tidak ada Sari, tidak ada Ren. Hanya secarik kertas di atas meja.

Aisha mengambil kertas itu, membaca.

*“Aisha, maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Keluarga angkat Arka mengancam akan membunuh adikku jika aku tidak bekerja sama. Tapi aku tidak akan biarkan mereka menyakiti Sari. Aku membawanya ke tempat yang lebih aman. Jangan cari kami. Aku akan menghubungimu jika semuanya sudah selesai. - Ren”*

Aisha meremas kertas itu. Amarah dan kekecewaan bercampur menjadi satu.

“Dia membawa Sari,” bisik Mia. “Dia membawa Sari ke mana?”

“Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang aku tahu, kita tidak bisa mempercayai Ren lagi.”

Aisha meraih ponselnya, hendak menelepon Arka. Tapi sebelum jarinya menekan tombol, ponselnya berdering. Pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

*“Aisha, jika kau ingin melihat Sari hidup, datanglah ke gudang lama di kawasan Cakung. Sendirian. Jangan bawa polisi. Jangan bawa Arka. Jika kau melanggar, Sari mati.”*

Aisha menatap Mia. Wajah Mia pucat pasi.

“Ini jebakan,” bisik Mia. “Mereka ingin menangkapmu.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus menyelamatkan Sari.”

“Aku ikut.”

“Tidak. Kau akan ke rumah Arka. Kau akan aman di sana.”

“Tapi Aisha—”

“Tidak ada tapi, Mia. Ini perintahku.”

Aisha mengantar Mia ke rumah Arka, lalu melaju sendirian menuju gudang di Cakung. Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu ini mungkin jebakan. Tapi ia tidak bisa membiarkan Sari mati.

---

Gudang itu gelap dan sunyi. Aisha masuk dengan hati-hati, senter ponsel menyoroti sudut-sudut ruangan.

“Sari?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan lebih jauh, melewati kotak-kotak kayu dan karung-karung semen. Di ujung gudang, ia melihat sesosok wanita terikat di kursi.

Sari.

Aisha berlari, membuka ikatan Sari. “Sari, kau baik-baik saja?”

Sari mengangguk, tapi matanya penuh ketakutan. “Aisha, kau harus pergi. Ini jebakan.”

Sebelum Aisha sempat bereaksi, lampu gudang menyala terang. Beberapa pria bersenjata keluar dari balik kotak-kotak kayu. Di belakang mereka, seorang pria tua dengan kemeja batik berdiri sambil tersenyum.

Pria tua itu adalah ayah kandung Arka.

“Selamat datang, menantu,” katanya dengan suara serak. “Aku sudah lama ingin bertemu denganmu.”

1
Nessa
kapok aisha
M F91: hai ka makasih sudah meramaikan komen dari hasil karyaku yang masih pemula
total 1 replies
Agus Tina
Tetap semangat thor ..
M F91: siap kaka
terimakasih untuk suportnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!