mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Sekolah dan Kenangan
Jakarta memasuki bulan Mei dengan suhu yang semakin panas. Tapi di rumah Menteng, kipas angin dan AC bekerja keras mendinginkan ruangan. Anak-anak tetap aktif seperti biasa, tidak peduli panas di luar.
Pagi itu, Asmara—kini 4 tahun—bangun dengan semangat membara. Ini hari pertamanya masuk sekolah setelah seminggu libur. Ia sudah memilih baju sendiri—kaos bergambar T-Rex, tentu saja—dan siap berangkat sejak jam 6 pagi.
"Ma! Ayah! Cepetan! Asmara nanti terlambat!" teriaknya sambil menarik-narik tangan Raka yang masih setengah tidur.
"Jam berapa masuknya, Nak?"
"Jam 8! Tapi Asmara harus duluan! Biar dapat tempat duduk depan!"
Raka tertawa. "Kelas TK, tempat duduknya sudah diatur, Sayang."
"Tetep! Asmara mau duluan!"
Kalara muncul dengan Kiki di gendongan. Kiki masih mengantuk, matanya setengah tertutup.
"Kiki ikut!" protesnya tiba-tiba.
"Kiki belum sekolah, Sayang. Nanti kalau sudah 3 tahun."
"Kiki sudah 3 tahun!"
"Belum, masih 2 tahun 10 bulan."
Kiki cemberut, tapi cepat lupa saat Lastri menawarkan susu.
Asmara akhirnya berangkat dengan Raka. Di sekolah, ia langsung berlari ke kelas, menemukan Bima—teman sebangkunya—sudah duduk.
"Asmara!" sambut Bima. "Aku bawa dinosaurus baru!"
"Wah, pinjem dong!"
Mereka asyik bermain sampai guru masuk. Asmara menurut, duduk manis. Tapi matanya tetap ke arah tas Bima yang berisi mainan dinosaurus.
Saat istirahat, mereka bermain bersama. Asmara bercerita tentang T-Rex, Bima tentang Triceratops. Mereka berdebat soal dinosaurus siapa yang lebih kuat, tapi akhirnya sepakat semua dinosaurus keren.
Raka menjemput siang hari. Asmara bercerita dengan heboh di mobil.
"Pa! Asmara main sama Bima! Bima pinjemin dinosaurus! Besok Asmara bawa punya Asmara, ya?"
"Iya, Nak. Boleh."
"Pa, Bima bilang, dinosaurus punya dia banyak banget. Asmara juga mau banyak."
"Nanti Ayah beliin lagi."
"Asmara mau T-Rex besar! Yang bisa jalan!"
Raka tersenyum. "Nanti kita lihat, ya."
Di rumah, Kiki sudah tidak sabar menunggu. Begitu Asmara masuk, ia langsung berlari.
"Kak! Kak! Main!"
Asmara menghela napas dramatis. "Kiki, kakak capek. Abis sekolah."
"Kiki mau main!"
"Ya udah, main bentar."
Mereka bermain balok di ruang keluarga. Kiki "membantu" menyusun, tapi lebih banyak merobohkan. Asmara sabar—ia sudah terbiasa.
Rara dan Melati belum pulang. Mereka ikut kegiatan ekstrakurikuler. Rara les lukis, Melati les tari.
Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, ditemani Lastri yang sedang menjahit. Ia menatap kedua cicitnya bermain, tersenyum bahagia.
"Asmara, sini bentar," panggilnya.
Asmara berlari. "Eyang, manggil?"
"Iya, Nak. Eyang mau liat gigi kamu."
Asmara membuka mulut. Giginya ompong dua—gigi depan atas.
"Wah, sudah ompong. Nanti tumbuh gigi baru."
"Iya, Eyang. Asmara senang ompong. Katanya nanti dapat hadiah dari Tooth Fairy."
Eyang tertawa. "Tooth Fairy? Siapa itu?"
"Teman gigi. Kalau gigi copot, ditaruh di bawah bantal, nanti diganti uang."
"Ooh... Eyang dulu tidak kenal Tooth Fairy. Tapi nenekmu Rarasati punya cara sendiri. Gigi copot dilempar ke atap rumah, biar gigi baru tumbuh kuat."
Asmara berpikir. "Mana yang bener?"
"Dua-duanya bener. Tergantung kepercayaan."
Asmara mengangguk, lalu berlari lagi ke Kiki.
Sore harinya, Rara dan Melati pulang. Rara membawa lukisan baru—pemandangan gunung dengan warna-warna cerah. Melati membawa kabar gembira.
"Ma! Melati dipilih ikut lomba tari tingkat provinsi!"
Kalara terkejut. "Wah, hebat! Lomba kapan?"
"Bulan depan. Di Balai Kota."
Raka bangga. "Ayah akan datang, pasti."
"Asmara juga mau!" teriak Asmara.
"Kiki mau!" ikut Kiki.
Melati tersenyum lebar. "Semua harus datang, ya. Melati takut sendiri."
Eyang Kusuma memanggil Melati. "Nak, Eyang akan datang. Eyang mau lihat kamu nari."
Melati memeluk Eyang. "Makasih, Eyang."
Malam harinya, saat makan malam, Asmara tiba-tiba bertanya, "Eyang, cerita tentang Nenek Rarasati dong."
Eyang tersenyum. "Mau cerita apa?"
"Waktu Nenek kecil. Apa Nenek juga ompong kayak Asmara?"
Semua tertawa. Tapi Eyang menjawab serius.
"Iya, Nak. Waktu kecil, Nenekmu juga ompong. Gigi depannya copot waktu jatuh dari pohon jambu."
Asmara membelalak. "Nenek jatuh dari pohon?"
"Iya. Dia manjat pohon jambu tetangga, terus jatuh. Untung nggak kenapa-kenapa."
Asmara tertawa. "Nenek nakal, ya?"
"Sedikit. Tapi baik hati."
Rara ikut bertanya. "Eyang, Nenek suka melukis juga?"
"Suka. Tapi dia lebih suka gambar pemandangan. Gunung, sawah, sungai."
"Kayak Rara, dong?"
"Iya, mirip."
Melati tidak mau kalah. "Nenek suka nari?"
Eyang tertawa. "Tidak. Nenekmu kaku kalau nari. Tapi dia suka nyanyi."
Melati cemberut. "Berarti Melati beda."
"Tidak apa-apa beda. Yang penting kalian punya bakat sendiri."
Kiki tiba-tiba berkata, "Kiki suka apa?"
Semua terdiam. Kiki jarang bertanya seperti itu.
Eyang menjawab, "Kiki suka bantu-bantu. Itu bakat. Jadi anak yang suka menolong."
Kiki tersenyum bangga.
Malam semakin larut. Anak-anak tidur satu per satu. Orang dewasa berkumpul di ruang keluarga, seperti biasa.
"Nad," panggil Arsya.
"Hm?"
"Aku dapat kabar dari Pak Willem."
Nadia menoleh. "Kabar apa?"
"Kesehatannya menurun. Dokter bilang... mungkin tidak lama lagi."
Suasana hening. Pak Willem sudah seperti keluarga sendiri. Ia yang pertama kali membantu Arsya, yang selalu ada di setiap acara keluarga.
Kalara memegang tangan Raka. "Kasihan. Kita harus jenguk."
"Besok kita ke sana," kata Arsya. "Aku sudah janji."
Eyang Kusuma berkata, "Bawa anak-anak juga. Biar Pak Willem lihat mereka."
"Tapi Eyang, anak-anak..."
"Justru itu. Orang tua seperti kami, melihat anak-anak adalah kebahagiaan."
Mereka mengangguk setuju.
Besoknya, mereka pergi ke rumah Pak Willem. Rumahnya di kawasan Menteng juga, tidak jauh dari rumah mereka. Pak Willem terbaring di tempat tidur, ditemani perawat.
Begitu melihat rombongan besar masuk, matanya berbinar.
"Wah, kalian semua datang."
Rara maju duluan. "Pak Willem, Rara bawa lukisan. Ini buat Pak Willem."
Ia menunjukkan lukisan pemandangan—sawah dan gunung, dengan warna-warna cerah.
"Cantik sekali, Nak. Kamu makin pintar."
Melati memberikan kalung manik-manik buatannya. "Ini buat Pak Willem. Biar cepet sembuh."
Pak Willem memakainya meskipun agak sempit. "Makasih, Sayang."
Asmara maju dengan malu-malu. "Pak Willem, Asmara kasih ini." Ia memberikan gambar T-Rex coretan sendiri.
Pak Willem tertawa. "Wah, dinosaurus. Keren sekali."
Kiki ikut maju, memberikan boneka kelincinya. "Ini... buat Pak Willem."
Pak Willem terharu. "Kalian anak-anak baik. Pak Willem sayang kalian."
Mereka menghabiskan waktu di sana. Arsya dan Nadia ngobrol dengan Pak Willem tentang masa lalu, tentang bagaimana mereka bertemu. Kalara dan Raka menemani anak-anak. Eyang Kusuma duduk di samping tempat tidur, berbincang pelan.
"Willem, kita sudah tua," kata Eyang.
"Iya, Kusuma. Tapi kita punya keluarga yang luar biasa."
"Mereka anugerah."
"Iya. Anugerah."
Seminggu kemudian, Pak Willem meninggal dunia.
Kepergiannya tenang, dalam tidur. Perawat menemukannya sudah tidak bernapas, dengan senyum di wajahnya. Di samping tempat tidur, ada lukisan Rara, kalung Melati, gambar Asmara, dan boneka Kiki—semua tersusun rapi.
Arsya menangis. Nadia memeluknya. Mereka kehilangan sosok ayah, sahabat, mentor.
Pemakaman dihadiri banyak orang. Keluarga, teman, kolega. Rara dan Melati menangis. Asmara tidak mengerti, tapi ikut sedih melihat orang-orang menangis. Kiki bertanya-tanya kenapa semua orang berkumpul.
Di depan makam, Arsya berpidato.
"Pak Willem... bukan ayah kandung saya. Tapi ia lebih dari ayah. Ia yang mengajarkan saya tentang arti keluarga. Ia yang selalu ada di setiap momen penting. Ia yang membuat saya percaya bahwa cinta tidak selalu tentang darah."
Air matanya jatuh.
"Selamat jalan, Pak. Terima kasih untuk semuanya. Kami akan menjaga keluarga ini, seperti yang Bapak inginkan."
Mereka menabur bunga. Satu per satu.
Rara menabur bunga sambil berkata, "Pak Willem, Rara akan terus melukis. Lukisan Rara untuk Pak Willem."
Melati menabur bunga, "Melati akan terus nari. Untuk Pak Willem."
Asmara ikut menabur, meskipun tidak mengerti. "Pak Willem, Asmara sayang."
Kiki meniru, "Sayang."
Eyang Kusuma dan Lastri menabur bunga terakhir. "Selamat jalan, sahabat," bisik Eyang.
Hari-hari setelah pemakaman, rumah Menteng terasa berbeda. Ada kehilangan, tapi juga ada kehangatan. Mereka lebih sering berkumpul, lebih sering bercerita tentang Pak Willem.
Rara melukis potret Pak Willem. Ia letakkan di ruang keluarga, di samping foto Rarasati dan Asmara.
Melati menarikan tarian khusus—ciptaannya sendiri—untuk menghormati Pak Willem. Semua menonton dengan haru.
Asmara bertanya pada Kalara, "Ma, Pak Willem ke mana?"
"Ke surga, Nak. Bersama Tuhan."
"Asmara bisa ketemu lagi?"
"Suatu hari nanti. Tapi sekarang, kita doakan dia."
Asmara mengangguk. Setiap malam, ia berdoa, "Tuhan, sampaikan salam Asmara buat Pak Willem."
Kiki ikut berdoa dengan caranya sendiri: "Pak Willem, jaga Kiki dari sana, ya."
Bersambung...
Catatan Penulis:
Bab 32 ini menjadi bab tentang kehilangan dan kenangan. Kepergian Pak Willem meninggalkan duka, tapi juga mengajarkan arti keikhlasan dan cinta yang abadi. Anak-anak, dengan kepolosan mereka, menunjukkan bahwa cinta tidak mengenal batas usia. Rara, Melati, Asmara, Kiki—masing-masing punya cara sendiri untuk menghormati Pak Willem.
Di tengah duka, keluarga ini semakin kuat. Mereka belajar bahwa hidup adalah siklus—ada kelahiran, ada kematian. Yang terpenting adalah cinta yang ditinggalkan. Pak Willem pergi, tapi ia hidup dalam ingatan, dalam lukisan Rara, dalam tarian Melati, dalam doa Asmara, dalam senyum Kiki.
Eyang Kusuma, dengan usianya yang senja, menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Tapi selama mereka bersama, selama rumah ini bernyanyi, tidak ada yang benar-benar pergi.
Bab selanjutnya akan mengeksplorasi bagaimana keluarga ini bangkit dari duka, bagaimana anak-anak terus tumbuh, dan bagaimana kenangan Pak Willem menjadi bagian dari cerita rumah Menteng.