Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Installed and Connected
Aula Phoenix Digital Group
"Kita mulai persiapannya," kata Aji pada Renald sambil memberikan laptopnya pada Renald. Dengan gugup, Renald mengangguk.
"Lo lakuin seperti biasa. Jangan lupa kembaliin laptop gue ke ruangan gue," pesan Aji.
"Lo mau kemana?" tanya Renald.
"Gue masih harus meeting sama klien. Gue serahin yang disini sama lo," kata Aji lalu berlalu meninggalkan ruang aula tanpa curiga sedikitpun pada Renald. Renald mengangguk mantap.
Renald langsung bekerja, meng-copy file presentasi aplikasi yang akan diluncurkan besok ke dalam flashdisknya sekaligus meng-install aplikasi yang diberikan oleh orang suruhan Darrel tadi siang.
Renald sudah menghafal prosedur pemasangan aplikasi sebagai penghubung antara laptop Aji dan ponsel Alena. Dengan tetap waspada Renald mengamati progress installasi sambil sesekali melihat ke arah pintu masuk aula.
100% installed.
Renald menghela nafas panjang, lega. Selanjutnya Renald mengaktifkan aplikasi Media Pulse dengan memasukkan username dan password yang diberikan Darrel.
Media Pulse activated.
"Cekrek..." suara pintu ruang aula dibuka.
Renald dengan cepat menutup jendela aplikasi Media Pulse yang baru saja dia aktifkan dan menggantinya dengan materi presentasi konferensi pers besok. Ternyata dua teknisi sound system yang memasuki ruangan.
Tinggal satu langkah lagi, memindahkan Media Pulse dari shortcut desktop ke hidden folder. Sambil melirik dua teknisi sound system yang bekerja di sisi sebelah kirinya, Renald mengklik kanan ikon Media Pulse dan mencari opsi hidden folder.
'Done!'
Mendebarkan. Renald kembali melirik ke arah dua teknisi sound system yang masih sibuk lalu melihat sekilas materi presentasi besok pagi. Saat sedang memahami materi presentasi, sebuah ide cemerlang terlintas di benak Renald.
'Kenapa nggak gue cek sekalian aja datanya disini?' pikir Renald.
Renald melihat ke arah dua teknisi sound system lagi, memastikan keduanya benar-benar teknisi sound system yang sedang bekerja. Setelah merasa yakin, Renald kemudian membuka satu per satu folder dalam laptop Aji. Semua folder hanya diberi nama dengan satu huruf abjad.
Renald memindai dengan cepat satu per satu tujuh folder yang ada di ruang penyimpanan laptop Aji. Nihil. Hanya materi-materi presentasi. Renald mencoba mengetik kata kunci di kotak pencarian file. Nihil. Mustahil Aji dengan gamblang menamai file penting dengan nama yang bisa dilacak.
"Cekrek..." pintu ruang aula sekali lagi dibuka.
Renald dengan cepat menutup jendela ruang penyimpanan di laptop Aji dan menggantinya dengan jendela materi presentasi. Seorang lagi teknisi sound system masuk ke ruang aula. Renald memutuskan untuk menutup laptop Aji dan menyudahi pencarian file panas itu.
'Sudahlah. Yang penting misi gue udah beres,'
***
Alena dengan tegang menanti sebuah notifikasi dari Media Pulse di ponselnya. Darrel mengatakan bahwa jika Renald berhasil mengaktifkan Media Pulse di komputer Aji, Media Pulse milik Alena akan mendapatkan notifikasi.
Andrean memperhatikan Alena dari meja kerjanya. Kini, dia yang tengah buntu mengarang artikel tentang Darrel menatap pasrah ke arah Alena.
"Gue bener-bener nggak paham," gumam Andrean.
"Kenapa lo?" tanya Roni yang menyadari wajah lesu sahabatnya itu. Andrean dengan lemas menoleh ke arah layar komputer di meja kerjanya. Roni melongok, ikut melihat ke layar komputer Andrean.
"Tumben?" komentar Roni. Andrean menghela nafas panjang.
"Lo tau? Waktu sekolah, gue paling sebel kalo guru ngasih tugas mengarang," kata Andrean sambil menatap kosong layar komputernya.
"Kenapa emang? Gue malah paling suka," tanya Roni heran.
"Karena gue nggak bisa nulis sesuatu yang nggak nyata. Pada akhirnya yang gue tulis selalu tentang pengalaman pribadi gue yang udah pasti nggak menarik untuk dibaca," kata Andrean.
"Pengalaman pribadi? Liburan?" tanya Roni. Andrean menggeleng.
"Kegiatan sehari-hari," jawab Andrean datar.
"Hah?! Kegiatan sehari-hari? Lo kan bisa nulis pengalaman liburan lo," kata Roni.
"Gue jarang liburan ke tempat-tempat wisata sama keluarga gue. Lebih sering ke rumah eyang atau opa," jawab Andrean.
"Nah, kenapa nggak itu aja?" tanya Roni.
"Pernah. Dua kali gue nulis itu. Tugas mengarang berikutnya guru gue bilang ke gue buat nulis cerita yang lain," kata Andrean.
"Ppffftt..." Roni menahan tawa.
"Sorry," kata Roni sambil menahan tawa.
"Trus? Apa hubungannya tugas mengarang sama nulis artikel berita? Yang ini kan lo tinggal nyalin berdasarkan hasil wawancara aja," kata Roni. Andrean kembali menghela nafas panjang.
"Iya. Itu kalo narasumbernya jelas jawabannya," kata Andrean. Roni mengerutkan kedua alisnya.
"Emang siapa narasumbernya?" tanya Roni sambil kembali melihat layar komputer Andrean, membaca penggalan kalimat yang sudah ditulis Andrean.
"Aplikasi terbaru HighTech? Darrel?" tanya Roni. Andrean menoleh ke arah Roni lalu mengangguk lemas. Roni menepuk-nepuk bahu Andrean dengan wajah turut prihatin.
"Terkahir kali lo wawancara dia, gue liat lo udah cukup frustasi bikin artikelnya. Semoga kali ini lo lebih frustasi lagi," kata Roni sambil meringis lalu pergi berlalu meninggalkan Andrean. Andrean mengerutkan alisnya sambil menatap Roni yang melenggang pergi.
Andrean kembali melayangkan pandangannya ke arah Alena. Alena masih terlihat fokus dengan ponselnya. Andrean menghela nafas panjang lalu kembali menatap layar komputernya.
HighTech kembali membuat gebrakan dengan Media Pulse, aplikasi baru yang berkaitan dengan media dengan dilengkapi berbagai macam fitur seperti real-time viewer, viral topic, what's trending, potential scoop dan viewer's hot talks.
Andrean menatap paragraf yang dibuatnya selama hampir dua puluh menit. Benar-benar menguras pikirannya. Andrean sudah akan berdiri dari kursinya untuk membuat kopi pahit panas di ruang istirahat saat Alena berlari ke arahnya.
"Berhasil, An! Berhasil!" kata Alena dengan nada tercekat. Andrean menatap mata Alena yang berbinar dan senyum Alena yang terkembang. Cantik.
"Lo coba liat ini," kata Alena sambil mendekatkan tubuh dan ponselnya ke arah Andrean. Andrean mencoba fokus pada layar ponsel Alena meskipun dia sedikit terganggu dengan aroma harum yang menguar dari rambutnya.
'Campuran antara citrus dan rose,'
"Udah ada notifikasi, Media Pulse connected," kata Alena.
"Jadi? Kita bisa mengakses komputer Aji?" tanya Andrean. Alena menggelengkan kepalanya.
"Kita cuma bisa dapetin filenya kalo dia ngirimin file itu ke orang lain via email," kata Alena.
"Jadi, kalo dia nggak ngirim email, kita nggak bisa dapet bukti?" tanya Andrean kecewa.
"Kita bikin dia kirim bukti itu segera," kata Alena dengan tatapan tajam tapi pasti.
"Maksud lo?" tanya Andrean bingung.
"Kita akan pancing mereka dengan berita minyak palsu lagi. Kita liat bagaimana reaksi mereka. Kalau mereka panik, gue yakin Aji bakal ngirim file memo strategi itu ke kliennya via email," kata Alena. Andrean tertegun.
"Begitu kita dapat file itu, jejak kita akan terhapus. Clear!" lanjut Alena bersemangat.
Andrean kembali menatap Alena dengan wajahnya yang penuh semangat. Entah mengapa, ide Alena selalu membuat Andrean tak mampu berkata-kata.
'Cewek ini... benar-benar diluar dugaan,'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤