NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA

KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.

Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.

Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.

Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Trauma?

Satu minggu berlalu, Kara hanya tinggal di rumah. Dia sedang membuktikan kepada Tama jika dia benar-benar menyesali perbuatannya.

Setelah malam itu, Kara secara terang-terangan menunjukkan kepribadian yang bebeda. Sebenarnya bukan berbeda, karena begitulah sifat Kara dari dulu, dia berubah saat mengenal Sarah dan Arka.

Karamel, juga sudah menyewa seorang detektif ternama, untuk menyelidiki kematian kedua orang tuanya, karena di kehidupan lalu, Sarah mengatakan jika Orang tuanya mati karena pembunuh berencana.

Saat ini dia sedang membaca puluhan pesan yang masuk dari Arka dan Sarah, selama seminggu dia mengabaikan kedua orang itu dan menolak semua panggilannya.

"Ck, emang kau siapa? Pake ngancam segala! Tidak ingin memberiku kesempatan? Emang siapa yang mau denganmu!" ucap Kara dengan jijik.

"Astagaa ya Tuhan. Jin apa yang merasuki tubuhku sempai tergila-gila kepadanya.? Padahal Rafa seratus kali lipat lebih sempurna darinya.!"

"Hmm jadi kangen! Rafa sudah tidur belum ya?" gumam Aruna sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Kara beranjak dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar, dan pergi ke kamar Tama yang berada diujung. Kara ingin mengetuk tapi ragu, dia takut Tama jadi risih dengan perubahannya yang berlebihan.

"Hmm mungkin dia sudah tidur!" Kara berbalik dan turun ke bawah menuju dapur, dan bertemu dengan Pak Rudi.

"Nyonya ada yang bisa saya bantu?" tanya dengan sopan, dia makin suka melihat sikap Kara yang tidak pernah marah-marah dan membuat masalah lagi.

"Aku lapar, apa masih ada makanan? Emm itu kopi buat siapa?" Kara duduk dan mengambil gelas untuk minum.

Pak Rudi meletakkan kopinya dia atas nampan. "Tidak ada makanan lagi. Nyonya ingin makan apa? Aku sampaikan pada Koki. Kopi untuk Tuan!"

"Ehh Tama masih diruang kerja? Paman biar aku yang bawa.!" Kara beranjak.

"Baik. Jadi Nyonya ingin makan apa?" Tanya Pak Rudi sedikit canggung, dia masih belum terbiasa dengan panggilan Paman dari Kara.

Ternyata Tama masih di ruang kerjanya, untung dia tidak mengetuk pintu kamarnya seperti orang bodoh.

"Paman antarkan kopinya! Aku yang memanggil koki!" Pinta Kara, sebenarnya dia ingin pengantar kopi itu, tapi dia tidak ingin mengganggu Tama yang masih bekerja.

Jika dia sudah bertemu dan duduk didekat Tama, bawaannya Kara ingin terus memeluknya, dia sudah terlihat sangat bucin.

Kara menggunakan interkom, untuk memanggil koki yang berada di paviliun belakang. Koki yang bekerja ada 4 orang, jadi mereka bergantian untuk jaga malam, karena tuan rumah biasanya tiba-tiba kelaparan di tengah malam.

Contohnya seperti saat ini, tidak butuh waktu lama koki datang dan langsung membuat pesanan Kara. Dia meminta mie goreng dengan telur mata sapi.

Kara yang sedang fokus dengan ponselnya tidak menyadari kedatangan Tama dengan Pak Rudi yang menyusul dibelakang sambil membawa nampan.

Dia baru tersadar saat Tama sudah tiba di samping meja makan. "Kerjanya sudah selesai?"

Tama duduk lalu menjawab. "Lanjut besok! Kamu mau makan apa?" perutnya jadi keroncongan mencium aromanya.

"Hmm, makan mie goreng!" balas Kara sambil menatap Mie yang masih berasap. "kamu mau makan juga?"

"Masih Ada?"

"Masih ada! Tuan tunggu sebentar aku ambilkan!" ucap sang Koki.

"Tidak perlu!" ucap Kara yang mengagetkan mereka semua.

"Maaf! Jangan salahkan mereka! Aku tidak makan." ucap Tama dengan reflek yang cepat saat mendengar suara Kara yang meninggi.

Pak Rudi yang berdiri tidak jauh jalan mendekat. "Nyonya! Kenapa tidak makan dengan Tuan?" Apa Kara ingin membuat masalah lagi?

"Paman Diam! Kara Jangan dengarkan dia! Kamu tidak marah kan?" tanya Tama sedikit gelisah, dia tidak ingin Kara kembali membenci dan menjauhinya.

Kara tak menyangka, suaranya yang keras membuat mereka salah paham. Dia sengaja berteriak, agar sang Koki yang berada di dalam dapur bisa mendengarnya.

Kara beranjak, dan pindah duduk di samping Tama. Dia menggenggam tangannya dan menatapnya penuh penyesalan, Tama terlihat memiliki trauma dengan sikapnya di masa lalu.

"Aku tidak marah! Tadi aku berteriak agar Kokinya bisa dengar apa yang aku katakan. Aku melarangnya untuk tidak mengambilnya lagi, karena punyaku porsinya sangat banyak, jadi aku ingin kita makan berdua!" jelas Aruna dengan lembut.

Semua menghela nafas lega, ternyata seperti itu. Tama juga merasa bersalah, karena terlalu buru-buru mengambil kesimpulan, tapi itu semua reflek tubuh dan mulutnya.

"Maaf!"

"Heheh Tidak ada yang perlu dimaafkan!" kata Kara sambil tertawa kecil. "Paman kamu ke dalam makan dengan Koki, jangan sampai ada yang tersisa!"

"Baik Nyonya!"

"Ayo kita makan! Rafa, kamu mau disuapin?" Tanya Kara.

"Hmm,, asal tidak merepotkan!" Dia sempat melamun saat mendengar Kara tertawa, dia membayangkan wajahnya yang manis. Tiba-tiba dia ingin melihat lagi.

"Tidak. Ayo buka mulutmu!"

Tama menurut, dan akhirnya keduanya makan bersama. Terkadang Kara bertanya tentang pekerjaan, dan Tama menjawabnya dengan sabar.

Setelah makan, Kara mengantar Tama ke kamarnya "Sampai di sini saja, aku bisa masuk sendiri!"

"Tidak, aku akan mengantarmu masuk ke dalam!" Kata Kara dengan cepat, kesempatan untuk masuk kamar Tama tidak mungkin dia lewatkan.

"Kamu yakin? Tapi..!" Tama teringat, ucapan Kara yang melarangnya untuk menyimpan barang yang bersangkutan dengannya.

"Kenapa? kamu tidak ingin aku masuk dalam kamarmu? Apa yang kamu sembunyikan di dalam sana? Oh, atau kamu menyimpan foto wanita lain?" tanya Kara dengan sedih.

Tapi jika memang betul, itu wajar saja. Siapa yang tahan hidup dengan Istri yang malah mengejar pria lain.

"Tidak, tidak. Ayo kita masuk!" ajak Tama dengan cepat, dia tidak ingin Kara benar-benar mengira menyimpan foto wanita lain di dalam kamarnya.

Tama membuka pintu dan mengajak Kara masuk ke dalan kamarnya. Kara langsung mencium aroma tubuh dan parfum Tama yang sering dia pakai.

Kamarnya terlihat sangat rapi, seperti pria yang belum menikah. Kara ingin langsung keluar saat Tama sudah sampai ditepi tempat tidur.

Tapi dia malah salfok dengan foto yang ada di atas meja, Kara mengambil dan memperhatikannya. "Kamu masih menyimpannya?" tanya Kara sambil tersenyum.

"Ya!"

Foto itu adalah, foto mereka berdua saat masih kecil, masih polos, belum mengerti dengan masalah orang dewasa, keduanya tersenyum dengan bahagia, foto itu diambil waktu orang tua mereka masih hidup.

Dan sekarang mereka sudah dewasa, tapi orang tua sudah tiada. Keduanya menikah, tapi tidak berjalan dengan baik. Tidak ada lagi senyum yang terukir, dan penyebabnya adalah dirinya sendiri.

"Rafa!"

"Kenapa?"

"Aku merindukan mereka!" dibalik foto kecilnya, ada foto orang tau mereka berempat.

Tama memberanikan diri untuk memeluk Kara, dia tau jika Kara saat ini sedang menahan tangis.

"Menangislah.. Jangan ditahan!"

Kara akhirnya kembali menangis dipelukan Tama, dia merasa bersalah kepada orang tua mereka, terutama pada mendiang Ibu Tama, dia pasti sangat marah jika melihatnya memperlakukan anaknya begitu keji.

"Rafa!"

"Kenapa hem?"

"Aku, Aku...!" Kara tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, pada akhirnya dia memeluknya kembali.

.

.

1
neni onet
ga sabar nunggu kecebongnya netes lah . . . 😁
Wati Ningsih
senengnya 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
neni onet
pantas rasanya kara membalas dengan perlahan tapi mematikan klo tau apa yang Sarah lakukan dimasa lalu . . .🫣
Liza Syamsu
di part ini tama sdh tdk buta ya bisa pakai laptop dan gendong kara, artinya aku dong yg ketinggalan cerita di bagian mana ya
Fii: Hai kk untuk menggunakan laptop ada penjelasan di bab-bab selanjutnya yaa..

Kalau untuk menggendong, anggap saja Tama sudah menghafal tata letak tempat tidurnya yaa🙏😁
total 1 replies
Wati Ningsih
aduhhhh siapa yg mau nampung arka tuhhhh😙😙😙😙😙😙😙
Wati Ningsih
karmaaaa😏😏😏😏😏😏
Wati Ningsih
ketahuan kamu mitaaaaa 😃😃😃😃😃
한스Hans
semangat Thor 🙏
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wati Ningsih
kasian si Dion🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Wati Ningsih
rasakan itu sarah
neni onet
apakah mereka sedang menikmati ketupat lebaran, sepaket sama opor ayam dan sambal goreng balado . . .
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄
Fii: 🤣🤣🤣🙏🙏
total 2 replies
Sribundanya Gifran
lanjut
neni onet
ceritanya keren, reader ikut menerka2 alur ceritanya, menebak apa kejadian dimasa lalu yang membuat seorang Kara menjadi jahat sama Tama dan berusaha membalas satu persatu kejahatan Sarah CS ...
Fii: Makasih supportnya kak😍
jangan lupa mampir di Novel yang sdah tamat😁🙏
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
neni onet
please jangan sampe kebablasan, besok udah sholat Ied lhoo, ini othor juga sambil ngetik, sambil bikin opor kan, biar jadi THR an buat reader nya . . . 😄
Fii: wkwk iya nih.
makanya UP cuman 1 bab😭🙏🙏

Aduuhh THR nya belum bisa ditarik bulan ini 😭😭
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjit
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!