NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. SERIGALA DI AMBANG PINTU

​Kehangatan ranjang sutra di pagi hari itu mendadak sirna oleh suara ledakan yang menggetarkan fondasi vila Inari. Alana tersentak bangun, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Ia menoleh ke samping, namun tempat di mana Alexei tidur sudah kosong.

​"Alexei!" teriak Alana, suaranya serak.

​Pintu kamar terbanting terbuka. Alexei masuk dengan kemeja yang belum dikancingkan sempurna, sebuah senapan serbu tergantung di bahunya. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kemarahan yang terkendali.

​"Vadim," desis Alexei singkat. "Dia tidak menggunakan pengacara atau negosiasi. Dia mengirim tentara bayaran ke dermaga pribadi kita. Pakai bajumu, Alana. Sekarang!"

​Alana tidak membuang waktu. Ia menyambar celana taktis dan jaket kulitnya. Tidak ada lagi ketakutan di matanya yang ada hanyalah fokus yang dingin. Ia meraih pistol Glock yang kini selalu ia simpan di bawah bantal, memeriksanya dengan gerakan yang presisi.

​Di luar, suara tembakan bersahutan dengan deru mesin helikopter yang rendah. Mikhail menyerbu masuk ke lorong, lengannya berdarah. "Tuan, mereka datang dari arah danau! Mereka menggunakan perahu cepat untuk menghindari radar darat. Vadim benar-benar gila, dia menyerang wilayah Finlandia secara terbuka!"

​"Dia putus asa, Mikhail. Orang yang putus asa adalah orang yang paling mudah dibunuh," balas Alexei dingin. Ia menoleh pada Alana, matanya berkilat penuh peringatan. "Tetap di belakangku. Jangan mencoba menjadi pahlawan."

​"Aku bukan pahlawan, Alexei. Aku pemilik sah dari apa yang dia coba curi," sahut Alana, mengisi peluru ke dalam senjatanya dengan bunyi klik yang mantap.

​Mereka menuruni tangga menuju ruang kendali bawah tanah. Layar monitor menunjukkan kekacauan di area dermaga. Sekelompok pria berseragam hitam dengan lambang serigala pasukan elit Sokolov sedang berusaha meledakkan pintu gudang utama tempat arsip fisik keluarga Volskaya disimpan.

​Vadim tidak hanya ingin membunuh mereka dia ingin memusnahkan bukti legalitas Alana sebelum dunia tahu bahwa pewaris sah telah kembali.

​"Mikhail, bawa tim dua ke sayap timur. Jepit mereka di area terbuka," perintah Alexei. "Alana, kau ikut denganku ke ruang pemantau pusat. Aku butuh matamu untuk mengarahkan tim penembak jitu."

​Namun, saat mereka mencapai lorong utama, sebuah ledakan kedua menghancurkan dinding kaca ruang tamu. Serpihan kaca beterbangan seperti kristal maut. Tiga pria bersenjata melompat masuk dari lubang tersebut.

​Alexei bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Ia menembak dua orang pertama tepat di kepala sebelum mereka sempat mengangkat senjata. Namun, pria ketiga berhasil menerjang Alexei, menjatuhkan senjatanya. Mereka bergulat di lantai dalam pertarungan fisik yang brutal.

​Alana membeku sejenak melihat Alexei dalam posisi terhimpit. Musuh itu mengeluarkan pisau komando, siap menghujamkannya ke leher Alexei. Tanpa berpikir panjang, Alana mengangkat senjatanya. Tangannya tidak gemetar. Ia membidik bagian tengah punggung pria itu dan menarik pelatuknya.

​DOR!

​Pria itu tersungkur, darahnya memercik ke wajah Alexei. Alexei mendorong mayat itu menjauh, berdiri perlahan, dan menatap Alana yang masih memegang senjata dengan asap tipis yang keluar dari larasnya.

​"Tembakan yang bagus," bisik Alexei, suaranya mengandung campuran antara rasa terima kasih dan kengerian melihat betapa cepat Alana beradaptasi dengan kematian.

​"Ayo pergi. Kita tidak punya waktu untuk memuji," ucap Alana dingin, meskipun jantungnya berpacu hebat.

​Mereka mencapai ruang kendali. Di sana, Alana segera mengambil alih sistem kamera dan drone pengintai. Ia melihat sebuah mobil lapis baja berhenti di gerbang utama. Seorang pria paruh baya dengan rambut putih dan ekspresi haus darah keluar dari mobil itu. Vadim Sokolov.

​Vadim memegang megafon, suaranya menggema di tengah desingan peluru. "Alexei! Serahkan gadis itu padaku, dan aku akan membiarkanmu pergi hidup-hidup ke Rusia! Jangan mati demi darah yang bahkan tidak kau miliki!"

​Alexei meraih mikrofon, suaranya terdengar melalui pengeras suara luar yang menggelegar. "Vadim, kau datang ke rumahku untuk meminta sesuatu yang bukan milikmu. Kau akan pulang dalam peti mati, atau kau tidak akan pulang sama sekali."

​Alana menatap layar monitor yang menampilkan wajah paman tirinya itu. Kebencian membara di matanya. Ia menyentuh mikrofon di depan Alexei. "Vadim! Ini Alana Volskaya. Kau membunuh ibuku, kau mencuri harta keluargaku, dan sekarang kau berani menginjakkan kaki di tanah ibuku? Hari ini, sejarah Sokolov berakhir di sini!"

​Vadim tertawa, tawa yang terdengar gila. "otak Kau benar-benar sudah dicuci oleh Dragunov, manis. Serang!"

​Pertempuran pecah semakin hebat. Alana menggunakan keahliannya meretas untuk mematikan sistem navigasi perahu-perahu musuh di danau, menyebabkan beberapa di antaranya bertabrakan. Ia juga mengaktifkan sistem pertahanan otomatis yang selama ini Alexei rahasiakan.

​Namun, di tengah kekacauan itu, Mikhail memberikan laporan darurat melalui radio. "Tuan! Ada tim penyusup lain! Mereka tidak masuk lewat dermaga. Mereka masuk lewat terowongan medis... mereka menuju kamar Nenek Sofia!"

​Alana membelalak. "Nenek!"

​Vadim tahu titik lemah mereka. Dia tidak hanya ingin aset dia ingin menghancurkan mental Alana dengan membunuh satu-satunya keluarga yang ia cintai.

​"Alexei, aku harus ke sana!" teriak Alana.

​"Itu jebakan, Alana! Dia ingin menarikmu keluar dari ruang kendali!" Alexei menahan bahunya.

​"Aku tidak peduli! Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh Nenek!" Alana melepaskan diri dari cengkeraman Alexei dan berlari menuju sayap medis, meninggalkan Alexei yang terpaksa harus tetap di sana untuk memandu pertempuran utama.

​Alana berlari menyusuri lorong yang redup, senjatanya siap di tangan. Saat ia mencapai pintu kamar Nenek Sofia, ia melihat dua pria sedang bersiap menyuntikkan sesuatu ke selang infus Neneknya.

​Tanpa peringatan, Alana menembak. Satu pria tumbang, namun pria lainnya berhasil berlindung di balik peralatan medis dan membalas tembakan. Alana bersembunyi di balik pilar pintu, peluru menghantam dinding di samping kepalanya.

​"Keluar, Nona Volskaya!" teriak pria itu. "Tuan Vadim hanya ingin kau melihat bagaimana wanita tua ini mati!"

​Alana menarik napas dalam. Ia teringat latihan dengan Mikhail. Gunakan lingkunganmu. Ia melihat tabung oksigen besar di dekat ranjang Neneknya. Ia membidik katup tabung tersebut dan menembaknya.

​Gas oksigen menyembur keluar dengan tekanan tinggi, menciptakan suara desisan yang memekakkan telinga dan mengaburkan pandangan. Dalam kekacauan itu, Alana berguling masuk ke dalam ruangan, menembak pria itu tepat di dadanya sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi.

​Alana segera berlari ke ranjang Neneknya, memeriksa denyut nadinya. Nenek Sofia masih bernapas, meskipun wajahnya tampak sangat pucat.

​Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di ambang pintu. Alana dengan cepat mengarahkan senjatanya, namun tangannya berhenti.

​Itu bukan Mikhail. Bukan juga Alexei.

​Itu adalah Vadim Sokolov sendiri, berdiri dengan pistol terarah langsung ke kepala Alana. Ia tersenyum licik, matanya berkilat penuh kemenangan.

​"Permainan berakhir, Alana. Kau sangat mirip dengan ibumu... terlalu emosional," ucap Vadim. "Sekarang, letakkan senjatamu, atau aku akan meledakkan kepala cantikmu di depan nenekmu yang sekarat ini."

​Alana berdiri perlahan, tangannya masih memegang Glock, namun moncongnya perlahan turun. Ia menatap Vadim dengan kebencian yang murni. Di belakang Vadim, di lorong yang gelap, ia melihat kilatan cahaya merah kecilntitik laser dari senapan penembak jitu Alexei.

​Alana tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Vadim bingung.

​"Kau salah akan satu hal, Paman," bisik Alana. "Aku tidak emosional. Aku hanya umpan."

​DOR!

​Sebuah peluru menembus bahu Vadim dari arah lorong, membuat pria itu terjerembap ke depan. Sebelum Vadim sempat membalas, Alexei menerjang masuk seperti badai, menendang senjata Vadim menjauh dan menginjak dada pria tua itu dengan sepatu botnya yang berat.

​Alexei menatap Vadim dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Kau menyentuh milikku, Vadim. Itu adalah kesalahan terakhirmu."

​Alana mendekat, ia berdiri di samping Alexei, menatap paman tirinya yang merintih kesakitan. Tidak ada rasa kasihan di matanya. Hanya ada rasa puas yang dingin.

​"Habisi dia, Alexei," ucap Alana dengan suara yang sangat datar. "Dunia tidak butuh sampah seperti dia."

​Alexei mendongak menatap Alana. Ia melihat transformasi total pada diri wanita itu. Alana yang dulu memohon padanya untuk tidak membunuh ayahnya di gudang, kini memerintahkan eksekusi tanpa berkedip.

​"Dengan senang hati, Milaya(sayang)," balas Alexei.

Vadim mungkin tertangkap atau terluka, tapi pasukannya masih ada di luar. Apakah ini akan menjadi akhir dari Vadim, atau dia punya kartu as lain? Dan bagaimana reaksi Alexei saat menyadari Alana telah benar-benar "kehilangan nuraninya"?

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
❖❀~ ᴍʏ__ ~❀❖: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
❖❀~ ᴍʏ__ ~❀❖: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!