Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.
Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.
Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.
Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:
"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Diselenggarakannya Festival Judi Batu membuat kawasan pasar ini dipadati oleh orang-orang yang gemar berjudi batu dan mengoleksi giok. Di antara mereka bahkan tidak sedikit orang asing.
Namun, tentu saja arena utama judi batu yang sesungguhnya tidak berada di sini, melainkan di sebuah tempat bernama Gedung Keberuntungan yang terletak tidak jauh dari pasar tersebut.
Vivian membawa Calvin dan Raditya langsung menuju sebuah toko giok di bagian dalam pasar. Toko ini memiliki kerja sama jangka panjang dengan Atelier Jewelry; banyak bahan baku giok Atelier Jewelry dibeli dari sini dengan harga yang relatif jujur dan masuk akal.
“Hai, Vivian! Aku sudah tahu kau akan datang hari ini, jadi aku sengaja menunggumu di sini sejak tadi,” kata seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan sambil tersenyum ramah dan memeluk Vivian dengan hangat.
Wanita itu berkulit agak gelap, namun wajahnya cukup menarik. Sepasang matanya yang seolah bisa berbicara beralih bolak-balik memandangi Calvin dan Raditya. Ia sama sekali tidak merasa aneh dengan penampilan khas Raditya, lalu tersenyum sambil berkata, “Vivian, kau mau pergi ke judi batu sebentar lagi, ya? Sampai-sampai membawa tenaga profesional segala.”
Vivian tersenyum dan berkata, “Mereka berdua temanku, ikut ke sini sekadar bersenang-senang.”
Kemudian ia memperkenalkan mereka. Wanita itu adalah pemilik toko tersebut, bernama Regina.
Regina sudah menyiapkan bahan giok untuk ukiran jimat pelindung yang dipesan Vivian. Ini bukan batu mentah, melainkan giok asli yang sudah dipoles. Total ada empat potong, masing-masing seukuran kepalan tangan, dengan warna hijau zamrud dan hijau tua yang sedikit berbeda.
Calvin sama sekali tidak paham soal giok. Ia hanya berkeliling melihat-lihat, sementara Raditya tampak cukup berpengalaman. Melihat empat potong giok itu, Raditya langsung memberikan penilaian singkat dengan penjelasan yang terdengar sangat meyakinkan.
Vivian, sebagai bos besar Atelier Jewelry, tentu juga sangat paham. Setelah mengamati sekitar dua menit, ia menunjuk salah satu giok yang paling hijau dan paling cerah, lalu berkata, “Ambil yang ini saja. Giok es dengan hijau penuh, pas dengan permintaan klien kali ini. Terima kasih, Kak Regina. Berapa harganya?”
Regina menyebutkan harga: 180 juta.
Calvin yang berdiri di samping langsung terkejut. Matanya membelalak menatap giok itu dan berseru, “180 juta? Semahal itu?”
Regina memutar mata, sama sekali kehilangan minat pada pemuda berpakaian barang kaki lima itu. Ia bahkan malas menanggapi; dalam hati ia berpikir dari mana Vivian mendapatkan teman kampungan seperti ini.
Vivian berkata, “180 juta itu sama sekali tidak mahal. Kalau beli di toko lain, minimal 300 juta. Kak Regina, aku langsung bayar saja.”
Calvin sadar dirinya terlalu bereaksi dan mempermalukan diri sendiri. Ia tertawa canggung dan tidak berkata apa-apa lagi. Saat berbalik, ia melihat di samping ada area kecil untuk judi batu. Hatinya tergerak. Ia mengambil satu batu secara acak dan langsung mengaktifkan kemampuan tembus pandang. Seketika, isi di dalamnya terlihat jelas; kosong sama sekali.
Namun, satu hal yang ia pastikan: Mata Phoenix Abadi miliknya benar-benar bisa menembus batu mentah.
Ia memeriksa beberapa batu lagi. Ada beberapa yang mengandung giok, tapi ukurannya kecil. Hingga akhirnya ia menemukan satu batu; di dalamnya terdapat giok sebesar yang dibeli Vivian seharga 180 juta, bahkan warnanya lebih hijau dan lebih padat.
Jantungnya berdegup kencang. Untuk berjaga-jaga, ia bertanya pada Raditya, “Bang Radit, giok itu semakin hijau semakin bagus, ya?”
Raditya menjawab, “Kualitasnya ditentukan oleh warna dan tekstur. Hijau adalah yang terbaik, semakin pekat dan cerah, semakin bagus. Teksturnya harus bening dan bersih.”
Calvin tidak sepenuhnya mengerti detailnya, tetapi ia menangkap inti dasarnya: giok di dalam batu itu pasti barang bagus.
“Permisi, berapa harga batu di sini?” tanyanya pada seorang pelayan wanita.
“Tuan mau judi batu? Harga kami terbagi menjadi tiga tingkat. Di area ini, tiap batu 3 juta. Di sana 8 juta. Yang lebih dalam dan lebih besar, 15 juta. Ada juga satu area lagi dengan harga tiap batu yang berbeda-beda.”
Setelah mendengar itu, Calvin menjilat bibirnya. Batu itu hanya seharga 3 juta. Kalau dijual kembali seharga 180 juta, sialan, benar-benar satu sayatan miskin, satu sayatan kaya. Sekejap bisa mendapat 180 juta. Di Kabupaten D saja jumlah itu sudah bisa digunakan untuk membeli mobil.
Tanpa ragu, ia langsung mengambil batu itu, mengeluarkan setumpuk uang, lalu berkata pada Raditya, “Kau juga pilih satu.”
Raditya melihat batu di tangan Calvin dan menggelengkan kepala. “Batu mentahmu sudutnya terlalu tajam, kulit batunya kasar. Kemungkinan keluar hijau agak sulit. Menurutku sebaiknya ganti.”
Calvin berkata, “Ini judi batu pertamaku dan aku memilih batu ini. Ini takdir, tidak akan kuganti. Kalau kau memang sehebat itu dan berpengalaman, cepat pilih satu. Kalau menang, tiket kereta pulang pun tidak perlu aku bayarkan.”
Raditya kesal dan langsung mengambil satu batu seharga 15 juta.
Calvin melirik dengan kemampuan tembus pandangnya, dan jantungnya bergetar. Tak disangka, batu yang diambil sembarangan oleh orang ini benar-benar mengandung giok, dan ukurannya tidak kecil. Tanpa banyak bicara, ia langsung membayar.
Di toko itu memang ada tempat pemotongan batu. Tukang potongnya berusia sekitar lima puluh tahunan, wajahnya ramah. Ia mengambil batu milik Raditya dan mulai memotongnya perlahan.
Beberapa menit kemudian, Vivian dan Regina selesai mengurus pembayaran dan ikut mendekat. Melihat Calvin dan Raditya ternyata sedang berjudi batu, mereka menonton dengan penuh minat. Regina berkata pada Calvin, “Batu yang besar itu masih punya peluang mengeluarkan hijau. Tapi batu yang kau pilih itu sepertinya sulit. Batu 3 juta, ya, cuma untuk bersenang-senang. Mau mengandalkan ini untuk keluar dari kemiskinan? Sebaiknya jangan bermimpi.”
Calvin tidak menanggapi. Dalam hati ia berpikir wanita ini benar-benar sombong; hanya karena ia sempat berkata ‘mahal’, sekarang ucapannya penuh sindiran.
Tiba-tiba tukang potong batu berseru, “Keluar hijau!”
Sekejap, tujuh atau delapan orang di dalam toko yang awalnya melihat-lihat giok langsung berkerumun. Bahkan beberapa orang dari luar toko ikut masuk.
Vivian tersenyum dan berkata, “Lumayan beruntung. Dari kejernihan dan teksturnya, seharusnya ini jenis bercorak. Kalau ukurannya cukup besar, dijual 50 juta seharusnya tidak masalah.”
Tukang potong bertanya, “Mau lanjut dipotong, atau setengah judi saja?”
Setengah judi berarti batu sudah dibuka "jendelanya" dan terlihat hijau, lalu langsung ditawarkan untuk dijual kepada orang lain.
Regina berkata, “Sekarang nilainya sudah naik. Aku bersedia membelinya kembali dengan harga 30 juta. Bagaimana?”
Ucapan itu ditujukan pada Raditya, tetapi Calvin langsung menyela, “Lanjut potong. 30 juta mana cukup.”
Regina mencibir, malas menanggapi pemuda serakah itu. Namun, Raditya juga berkata, “Potong saja sekalian.”
Setengah jam lebih kemudian, giok itu hampir sepenuhnya keluar. Meski berjenis bercorak, keunggulannya ada pada kejernihan dan ukurannya yang besar, sebesar kepala orang dewasa. Seorang pelanggan di samping langsung menawar 100 juta dan membelinya.
Wajah Raditya tetap tenang, seolah uang itu tidak terlalu berarti. Ia bertanya pada Calvin, “Kau punya kartu bank? Transfer ke kartumu saja, aku tidak punya.”
Calvin berkata, “Kau tidak takut aku menggelapkan uangmu?”
Raditya menjawab, “Kalau begitu anggap saja kuberikan padamu. Batu itu kan kau yang beli. Aku cuma tukang ramal; kalau pegang uang terlalu banyak, bisa sial.”
Banyak orang terkejut. Regina memandang Calvin, berpikir pemuda kampungan ini benar-benar mendapatkan keberuntungan luar biasa. Namun, yang membuatnya semakin terdiam adalah ketika Calvin melanjutkan, “Aku juga tidak punya kartu bank. Kak, bagaimana kalau transfer ke kartumu saja? Kalau aku butuh uang, nanti aku minta padamu.”
Ia khawatir kartunya sedang diawasi polisi; jika ada uang baru masuk dan langsung dibekukan, itu akan menjadi kerugian besar.
Vivian tertawa dan mengulang kata-kata Calvin, “Kau tidak takut aku menggelapkan uangmu?”
Calvin melambaikan tangan, lalu berkata pada tukang potong, “Sekarang potong yang punyaku juga. Hati-hati, ya. Aku punya firasat ini akan mengeluarkan harta besar.”
Regina memandangnya dengan penuh penghinaan. “Potong! Batu yang kau pilih itu? Kalau bisa keluar harta besar, aku rela jadi sapi atau kudamu.”
Wajah Calvin memerah. “Kak, aku masih perjaka. Jangan begitu, dong. Jangan mengambil keuntungan dariku.”
Seorang pria di samping yang terlihat ceria ikut menimpali, “Benar, benar! Kak Regina, adik ini masih pertama kali. Kalau kau benar-benar mau jadi kuda untuknya, setidaknya harus kasih ‘keberuntungan pembuka’ dulu, dong!”
Wajah Regina langsung menggelap.