NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

BINGUNG

Pagi datang tanpa mengetuk.

Ia hanya hadir, seperti tanggung jawab—tidak menunggu siap atau tidak.

Aira terbangun dengan mata sembap. Bantalnya masih lembap di satu sisi. Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik, mencoba mengingat hari apa ini, lalu teringat ia harus kuliah.

Dunia tidak berhenti hanya karena hatinya retak semalam.

Di dapur, suara sendok beradu dengan piring terdengar pelan.

Aira berjalan ke meja makan. Rambutnya masih diikat asal, wajahnya polos tanpa usaha menutupi lelah.

Ibunya menoleh dan tersenyum.

“Kamu udah bangun.”

“Uda dari tadi bu” jawab Aira, duduk. “Aku cuma… rebahan.”

Ibunya meletakkan sepiring nasi goreng di hadapannya. Porsinya sedikit lebih banyak dari biasa.

“Makan yang banyak,” kata ibunya ringan. “Anak ibu sekarang kurusan.”

Aira menatap piring itu lama.

“Bu… nasinya kebanyakan”

Ibunya terkekeh kecil. “Ibu masak pakai doa dan cinta jadi kamu harus habiskan.”

Aira tersenyum tipis. Ia tahu. Kalau ibunya mulai bercanda soal doa, artinya ada sesuatu yang disembunyikan.

Mereka makan dalam hening yang tidak canggung.

Hanya suara sendok, kipas angin tua, dan sesekali napas panjang yang ditelan.

“Bu,” Aira akhirnya bicara. “Kalau… aku cari kerja sambilan, ibu nggak keberatan kan?”

Ibunya berhenti makan.

“Kenapa tiba-tiba?”

Aira mengangkat bahu. “Tabunganku menipis. Semester depan banyak biaya.”

Ibunya tersenyum lembut. Terlalu lembut untuk jawaban yang seharusnya ringan.

“Fokus kuliah saja. Ibu masih bisa.”

Aira menatap ibunya lama. Keriput halus di sekitar matanya, rambut yang semakin banyak uban.

“Ibu capek,” kata Aira lirih.

Ibunya menggeleng. “Capek itu wajar. Tapi ibu masih kuat.”

Aira ingin membantah. Tapi ia tahu, ibu seperti ayahnya, kuat dengan caranya sendiri, bahkan ketika rapuh.

“Kalau aku pulang agak malam nanti, jangan khawatir,” kata Aira akhirnya.

Ibunya tersenyum. “Ibu selalu khawatir. Tapi ibu percaya kamu.”

Kalimat itu menempel di dada Aira sepanjang pagi.

Gedung fakultas mulai ramai. Mahasiswa berlalu-lalang dengan tawa, gosip, dan kopi di tangan.

“Aira!”

Raka muncul dari arah parkiran. Tas selempang miring, rambut sedikit berantakan seperti biasa.

“Kamu keliatan kayak orang baru bangun dari perang batin,” katanya sambil berjalan di samping Aira.

Aira terkekeh. “Emang kelihatan ya?”

“Keliatan banget. Mata kamu tuh kayak abis debat sama diri sendiri semalaman.”

Mereka berjalan beriringan. Obrolan ringan mengalir, tentang dosen killer, tugas menumpuk, rumor kampus.

Sampai Raka menurunkan nada suaranya.

“Gimana… keadaan keluargamu?”

Langkah Aira melambat sedikit.

“Masih proses.”

“Proses nya pasti capek ya?”

Aira mengangguk.

Di depan gedung sebelah, suara tawa keras terdengar.

Langit.

Ia berdiri bersama teman-temannya. Tertawa lepas. Dunia seolah ringan di sekelilingnya, tak ada beban seolah masalah kemarin tadm ada artinya bagi langit.

Aira menoleh tanpa sadar.

Langit tidak menoleh balik.

Tidak ada tatapan. Tidak ada raut bersalah.

Seolah Aira tidak pernah ada.

Raka memperhatikan itu.

Raka menatap Aira dan Langit Bergantian.

Mereka terus berjalan. Melewati Langit. Melewati suara tawa itu.

“Ai” kata Raka pelan. “Boleh aku jujur?”

Aira mengangguk.

“Langit… bukan orang baik.”

Aira menelan ludah.

“Aku mau bilang ini dari dulu,” lanjut Raka cepat, seperti takut kata-katanya terlambat. “Waktu pertama kali aku tahu kamu dekat sama dia.”

“Kenapa nggak bilang?” tanya Aira.

Raka tersenyum pahit.

“Karena aku takut kamu mikir aku menjelekkan dia… cuma karena dulu aku sempat cinta sama kamu.”

Aira berhenti berjalan.

Raka ikut berhenti. “Aku nggak mau jadi orang yang kelihatan posesif atau iri. Jadi aku diam.”

Aira menatap tanah.

“Semua orang bilang itu,” katanya pelan. “Ayahku juga.”

Raka menghela napas.

“Orang baik itu… nggak bikin kamu takut jadi diri sendiri.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan Langit semalam.

"makasih Abang" jawan Aira, Raka hanya mengangguk.

Mereka melanjutkan langkah. Tidak ada yang menoleh lagi ke belakang.

Di kelas, Bima dan Naya sudah duduk.

“Eh! Aira!” Naya melambaikan tangan. “Kamu keliatan kayak tokoh utama novel sedih.”

Bima menyahut, “Iya. Tinggal nunggu hujan turun di dalam kelas.”

Aira tersenyum kecil. “Kalian berisik.”

Mereka tertawa.

Tawa yang ringan. Tawa yang Aira rindukan.

Namun pikirannya melayang.

Perkataan Raka.

Permintaan ayahnya.

Tabungan yang menipis.

Dosen sudah masuk semua siswa duduk di kursi nya masing-masing, dosen mulau berbicara di depan.

Aira menatap papan tulis… tapi tidak membaca apa pun.

“Saudari Aira.”

Aira tersentak.

“Ya, Pak!”

Dosen menatapnya tajam. “Kalau pikiran masih di luar kelas, silakan keluar sekalian.”

semua teman-teman Aira di kelas berbalik melihat Aira.

Aira menunduk. “Maaf, Pak.”

Di dalam dadanya, sesuatu runtuh pelan.

Sementara itu, di rumah.

Ibu Aira membuka lemari dapur dan kulkas semua nya Kosong.

Ia duduk pelan. Menghitung dalam kepala.

Uang habis Semua untuk gaji karyawan.

Di luar sana ada seseorang mengetuk pintu ibu Aira menghentikan lamunannya saat mendengar Ketukan pintu.

Ia berdiri lalu berjalan membuka pintu.

“Assalammualaikum tan” katanya ramah. “Saya cuma mau lihat ibu.”

Ibunya tersenyum. “Kartik.” Raut wajah ibu Aira nampak bahagia saat melihat kartik

Ibunya terkejut. “ayo Masuk, Nak.”

Kartik Masuk dan duduk tenang. Matanya menangkap detail yang orang lain lewatkan.

“Semua baik-baik saja, Tan ?” tanyanya.

Ibuh Aira tersenyum terlalu cepat. “Baik.”

Kartik diam, Ia tidak percaya kata. Ia percaya jeda.

“Tan” katanya pelan. “Saya sudah bilang kalau butuh sesuatu Tante bisa mintak tolong ke saya?”

Ibunya tergagap. “Tante tau itu”

“Kalau begitu Tante ambil uang ini Sekali ini saja,” kata Kartik. “Nanti Tante bisa bayar kapan pun.”

Ibuh Aira menatapnya lama.

Air matanya jatuh tanpa izin.

Sore hari, Aira pulang.

Ibunya tersenyum lebih cerah.

“Kita masak sop malam ini,” kata ibunya.

Aira heran. “Uangnya dari mana bu?”

Ibunya mengusap rambut Aira.

“Dari orang-orang baik.” Aira terdiam.

Malam itu, Aira membuka laptop.

Mencari lowongan kerja.

Ia mengetik dengan tangan gemetar.

Bukan karena takut gagal.

Tapi karena ia tahu, ia harus kuat, tangannya sibuk mengetik tapi pikiran Aira mengingat Tante Desi dulu ayahnya memintak Aira untuk magang di perusahaan tapi ia menolak,

Dan tente Desi pasti bisa membuat Air, Aira harus bertemu Tante Desi besok.

Di luar, seseorang duduk di dalam mobil, memastikan lampu rumah Aira menyala.

Tanpa mengetuk.

Tanpa meminta.

Karena ada hal-hal yang tetap ada,

meski tak pernah diminta. Kartik mengingat semua hal tentang Aira, ia sempat sedih Aira tak mengingat kalau remaja yang bermain basket itu adalah Kartik, ada rasa sedih bercampur patah hati tapi Kartik segera menyadari bahwa cinta nya, tak memaksa, dan kemarin bukan waktu yang tepat membuat Aira mengingat moment itu, apalah Aira berkata bahwa ia hanya mengingat moment yang penting baginya.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!