Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mbak Sama Pak Arga Nggak Ngapa-ngapain, kan?
Ambar mengintip dari balik pintu kamar Citra yang tak tertutup rapat. Terlihat sang kakak terduduk di lantai bersandar ke tepi tempat tidur dengan telapak tangan menutupi wajah.
Ambar sempat mencuri dengar percakapan kakaknya dengan Bima tadi di ruang tamu. Dia sempat terkejut ketika mengetahui Bima ternyata masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan mantan suami Citra.
Ambar mencoba membuka pintu perlahan, karena ia melihat sang kakak bersedih. Langkahnya pelan mendekat ke arah Citra.
"Mbak ..." Ambar menepuk pelan pundak Citra yang tak menyadari kedatangannya di kamar itu.
Citra tersentak. Dia memang tak merasakan kehadiran sang adik di kamarnya.
"Kamu? Ada apa?" Citra menyusut cairan bening di sudut matanya.
"Aku dengar apa yang Mbak sama Mas Bima obrolkan tadi. Memang benar Mas Bima itu kakak Mas Bayu?" Ambar penasaran. Sejujurnya ia menyayangkan fakta itu. Dia mulai akrab dan bisa menerima Bima sebagai calon kakak iparnya, karena ia menganggap Bima berbeda dan jauh lebih baik dari Bayu.
Citra menghempas nafas panjang seraya menyisir rambut dengan jari tangannya.
"Iya," sahutnya pelan.
"Duh, sayang banget, deh! Padahal Mas Bima itu baik banget," sesal Ambar dengan wajah sedih, "Ibu jadi larang Mbak berhubungan sama Mas Bima, ya?" Ambar merangkul sang kakak dan menyandarkan kepala di pundak Citra seakan merasakan kesedihan kakaknya.
Kembali hembusan nafas Citra terdengar. "Ya, Ibu udah terlalu sakit hati sama keluarga Bayu," sahutnya.
Ambar melirik sang kakak. Dia yakin kakaknya merasa sedih dan patah hati, karena hubungannya dengan Bima yang baru saja terjalin harus kandas karena terhalang restu orang tua.
"Mbak pasti sedih, ya? Semoga ada jalan buat menyelesaikan masalah ini, Mbak." Ambar tak bisa membantu banyak selain berdoa agar hubungan kakaknya dengan Bima tetap bisa dipertahankan.
***
"Mbak, kok naik motor? Nggak diantar Pak Arga?"
Pagi ini Citra kembali menggunakan sepeda motornya untuk beraktivitas ke kantor. Ketika sampai di parkiran, Elis yang baru tiba, melihat Citra turun dari motornya hingga ia pun bertanya.
"Nggak apa-apa, Lis. Kepingin naik motor aja." Citra tak mengatakan alasan sebenarnya ia kembali mengendarai sepeda motor seperti ketika belum dekat dengan Bima.
Elis segera mencabut kunci setelah ia mematikan mesin motor dan melepas helm-nya.
"Udah enak pakai mobil lho, Mbak. Calon ibu bos masa naik motor?" ledek Elis dengan terkekeh.
"Calon ibu bos nggak jadi!" sahut Citra ikut tertawa, padahal hatinya tidak bisa seceria kemarin.
"Lho, kok?" Elis menatap heran mendengar jawaban Citra.
Citra langsung merangkul Elis seraya berjalan meninggalkan halaman parkir menuju gedung perkantoran Vista Ceramics.
"Ibuku udah tahu siapa Mas Bima, Lis." Akhirnya Citra menceritakan apa yang terjadi kepada Elis.
"Hahh?? Terus gimana, Mbak?" Elis terkejut hingga langkahnya berhenti dan menatap Citra.
"Seperti yang aku takutkan, Lis. Ibuku nggak setuju dan melarang aku berhubungan dengan Mas Bima. Jadi, ya the end-lah." Citra memaksakan tersenyum.
"Sebentar, ibu Mbak Citra tahu dari mana kalau Pak Arga itu saudara tiri Bayu? Mbak sudah cerita sama ibu?" Elis makin penasaran.
"Nanti aja aku ceritakan, sekarang kita masuk saja! Nanti keburu telat." Pasti akan panjang jika diceritakan saat ini, sementara pekerjaan sudah menunggu mereka, sehingga Citra mengajak Elis untuk bergegas daripada mereka telat absen karena asyik berbincang.
Siang harinya ...
Klik
Ponsel Citra berbunyi, suara notif pesan terdengar menandakan ada pesan masuk di ponselnya.
Citra mengambil ponsel untuk mengecek pesan yang masuk. Hempasan nafasnya terdengar ketika mengetahui yang mengirim pesan adalah Bima.
"Saya ada di luar kantor kamu. Kita harus bicara."
Citra membaca tapi tak membalas pesan dari Bima. Dia merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi antara mereka, sehingga ia mengabaikan pesan Bima.
Sepuluh menit berselang, kembali pesan Bima masuk di ponsel Citra. Kali ini Citra hanya mengintip tak membuka pesan terakhir dari Bima.
"Kamu sibuk?"
Citra meletakkan kembali ponselnya. Sebenarnya dia berniat makan siang karena ini sudah masuk waktu istirahat. Hanya saja dia khawatir bertemu dengan Bima di luar, sehingga dia mengurungkan waktu istirahatnya.
"Lis, kalau mau istirahat, duluan aja." Sebenarnya kita sudah berjanji makan siang bersama Elis dan terpaksa ia batalkan.
"Lho, kenapa, Mbak?" tanya Elis, padahal dia sangat penasaran ingin tahu cerita soal masalah yang sedang dihadapi oleh Citra.
"Perut aku tiba-tiba nggak enak, Lis." Citra berpura-pura beralasan jika perutnya mengalami masalah, hingga membuatnya mengurungkan niat pergi makan siang bersama Elis.
"Perutnya kenapa, Mbak? Mual, ya? Mbak Citra nggak ngapa-ngapain 'kan sama Pak Arga?" tanya Elis dengan tersenyum menyeringai, "Bercanda, Mbak. Hehe ..." sambungnya langsung mengklarifikasi jika ucapannya tadi hanya sekedar iseng dan jangan dianggap serius oleh Citra.
"Ngaco, kamu!" sahut Citra merespon. Tak tersinggung dengan kata-kata Elis tadi, karena ia tahu jika Elis hanya bercanda bukan menuduhnya.
"Cit, Pak Arga WA aku, tanya kamu sedang sibuk nggak? Katanya dia kirim pesan ke kamu belum direspon. Pak Arga bilang ada di luar." Erwin yang baru masuk ke ruangan memberitahu Citra jika Bima menghubunginya.
Bola mata Citra melebar, tak menyangka kalau Bima sampai meminta bantuan Erwin karena dia mengabaikan pesannya.
"Umm, bilang saja aku masih repot, Mas." Meskipun Bima sudah meminta bantuan Erwin, tapi Citra tetap pada sikapnya yang tak ingin lagi berhubungan dengan mantan iparnya itu.
"Lho, kok?" Erwin terheran dengan jawaban Citra.
"Ibunya Mbak Citra udah tahu siapa Pak Arga itu, Mas." Elis yang justru menjawab.
"Oalah ... jadi kalian putus?" Erwin menebak-nebak.
Citra merespon pertanyaan Erwin dengan mengedikkan bahu.
"Jadi aku mesti balas apa ke Pak Arga?" tanya Erwin kemudian.
"Bilang saja aku masih repot, Mas." Citra masih menggunakan alasan yang sama seperti sebelumnya.
"Eh jangan-jangan Mbak Citra bilang perutnya nggak enak itu cuma alasan supaya nggak ketemu sama Pak Arga!?" Elis curiga alasan yang digunakan Citra tadi, karena mereka berdua awalnya berencana makan di warung nasi depan kantor.
Citra diam tak membalas, seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Elis tadi.
"Apa sebaiknya temuin saja Pak Arga nya, Mbak. Bicarakan baik-baik, deh. Pasti ada jalan keluar." Elis memberi saran agar Citra menyelesaikan masalahnya dengan Bima dengan berdiskusi menggunakan kepala dingin.
"Sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi." Citra menolak karena dia tidak ingin menentang ibunya.
"Sayang banget Kalau Mbak Citra sama Pak Arga putus." sama seperti Ambar, Elis pun menyayangkan retaknya hubungan Bima dan Citra setelah rahasia tentang Bima terbongkar dan diketahui oleh ibu Nurul.
"Sudah ah, nggak usah bahas itu lagi!" Citra tak ingin terus membicarakan soal Bima di ruang lingkup pekerjaan.
Sementara itu di dalam mobil di seberang jalan kantor Vista. Bima tampak tak sabar menunggu balasan dari Erwin, setelah dia meminta bantuan Erwin mencari informasi keberadaan Citra, hingga akhirnya notif pesan masuk di ponselnya berbunyi.
Sebuah voice note dikirim Erwin kepadanya dan Bima pun segera membuka untuk mengetahui apa isi pesan suara itu.
"Jadi aku mesti balas apa ke Pak Arga?"
"Bilang saja aku masih repot, Mas."
"Eh jangan-jangan Mbak Citra bilang perutnya nggak enak itu cuma alasan supaya nggak ketemu sama Pak Arga."
"Apa nggak sebaiknya temuin saja Pak Arga nya, Mbak. Bicarakan baik-baik, deh. Pasti ada jalan keluar."
"Sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Terdengar percakapan antara Citra, Elis dan Erwin yang sedang membicarakan hubungannya dengan Citra. Ternyata Erwin sengaja menyalakan voice note agar Bima mendengar sendiri alasan Citra.
"Hmmm, ternyata kamu sengaja menghindari saya. Baiklah, kita lihat, apa kamu masih bisa menghindar sekarang!?" Bima segera mencari nomer Liza dan menghubungi atasan Citra itu.
"Selamat siang, Pak Arga. Ada yang bisa kami bantu, sehingga Pak Arga menghubungi saya?" suara Liza terdengar kaget karena Bima menghubunginya.
"Selamat siang, Bu Liza. Saya ingin melihat contoh desain keramik dapur untuk jenis rumah subsidi, karena perusahaan kami berencana membangun perumahan bersubsidi." Bima menggunakan alasan tersebut, karena perusahannya memang sedang mencari keramik dan porselen desain minimalis dengan harga terjangkau untuk menggarap proyek baru membangun dua ratus unit perumahan subsidi. "Tolong titipkan pada Citra, Saya ingin lihat contohnya sekarang! Tolong bawakan ke kantor saya saya, Bu Liza! " ujarnya kemudian.
"Oh, baik, Pak Arga. Nanti saya atur Citra supaya ke kantor Pak Arga." Liza yang tak tahu masalah Bima dan Citra menyetujui apa yang diminta oleh Bima tadi.
❤❤❤
trmksh
Bu Nurul perlu waktu untuk menerima semua ini.
Ibu tirimu perlu diberi pelajaran Bima, biar tidak bertindak seenaknya sendiri