NovelToon NovelToon
MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta setelah menikah / Romansa pedesaan / Konglomerat berpura-pura miskin / CEO / Nikahmuda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.

Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.

Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pekerjaan Adipati

Motor Adipati berhenti di garasi rumah. Mesin dimatikan. Keduanya turun, Selina lebih dulu masuk ke dalam rumah.

Begitu melangkah ke ruang tamu, Selina menoleh ke sekeliling.

“Masih kotor banget…” gumamnya pelan.

“Ya ampun, kayaknya Mas Adipati nggak pernah diajarin bersih-bersih sama ibunya,” batinnya sambil menghela napas.

Ia langsung mencari sapu dan mulai menyapu lantai.

Tak lama kemudian, Adipati masuk ke dalam rumah.

“Sel…”

Selina menoleh.

“Iya, Mas?”

Adipati melihat sekeliling, lalu menatap Selina yang sedang menyapu.

“Maaf ya. Kemarin belum sempat Mas bersihin lagi. Ada kerjaan mendadak.”

Selina tersenyum tipis.

“Gak apa-apa kok, Mas. Ini kan tugas aku sebagai istri.”

Alis Adipati langsung terangkat. Ia mendekat, lalu menggenggam tangan Selina lembut.

“Kamu kok ngomong gitu?”

Selina terdiam.

Adipati melanjutkan dengan suara tegas tapi hangat.

“Tugas istri itu bukan cuma urusan rumah. Dan kerjaan rumah bukan cuma tugas kamu.”

Ia menatap Selina dalam-dalam.

“Ini rumah kita. Jadi semuanya kita kerjain bareng.”

Selina tersenyum malu.

“Mas…”

Adipati meraih sapu dari tangan Selina sebentar, lalu mengembalikannya.

“Gini aja,” katanya santai.

“Kamu lanjut nyapu, biar Mas yang ngepel.”

Selina tertawa kecil.

“Beneran mau ngepel, Mas?”

Adipati mengangguk.

“Beneran. Mas juga mau belajar jadi suami yang berguna.”

Selina tersenyum lebar.

“Kalau gitu aku nyapu yang rajin.”

“Deal,” kata Adipati sambil tersenyum.

Selina kembali menyapu dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.

“Mas aneh deh,” katanya sambil menggerakkan sapu. “Biasanya laki-laki langsung duduk, main HP.”

Adipati sudah mengambil pel dan ember.

“Mas bukan biasanya,” jawabnya ringan. “Mas suami kamu.”

Selina mendengus kecil.

“Jawabannya sok keren.”

Adipati tertawa pelan sambil menuang air ke ember.

“Biarin. Yang penting kamu senang.”

Ia mulai mengepel lantai perlahan. Selina memperhatikan sebentar, lalu melanjutkan menyapu.

“Mas,” Selina membuka suara, “rumah kamu sebenarnya besar, tapi kesannya sepi.”

Adipati berhenti sejenak, lalu mengangguk.

“Iya. Dari dulu juga gitu.”

Selina menoleh.

“Kesepian?”

Adipati tersenyum tipis.

“Sedikit. Tapi sekarang beda.”

“Kenapa?” Selina penasaran.

Adipati meliriknya sambil melanjutkan mengepel.

“Sekarang ada kamu. Berisik dikit nggak apa-apa.”

Selina terkekeh.

“Jadi aku pengisi kebisingan ya?”

“Pengisi rumah,” koreksi Adipati lembut.

Selina terdiam sesaat, dadanya terasa hangat.

“Mas ngomongnya bikin aku nggak fokus nyapu.”

“Berarti berhasil,” jawab Adipati santai.

“Masih banyak yang kotor tuh,” Selina menunjuk sudut lantai.

“Iya, Bos,” sahut Adipati bercanda.

Beberapa menit kemudian, rumah mulai terlihat lebih bersih. Selina menyandarkan sapu ke dinding.

“Capek,” keluhnya pelan.

Adipati menaruh pel, lalu menghampiri Selina.

“Duduk dulu.”

Selina duduk di sofa baru. Adipati mengambilkan air minum dan menyerahkannya.

“Minum.”

“Makasih, Mas,” Selina menerima gelas itu. “Mas baik banget sih.”

Adipati duduk di sebelahnya.

“Mas cuma mau kamu ngerasa ini rumah kamu juga.”

Selina menatap sekeliling, lalu menatap Adipati.

“Pelan-pelan… aku mulai ngerasa begitu.”

Adipati tersenyum, kali ini lebih dalam.

“Mas tunggu. Pelan-pelan aja, Sel.”

Selina mengangguk.

“Iya.”

Selina menatap lantai yang sudah bersih, lalu kembali menoleh ke Adipati.

“Eh, Mas,” katanya sambil menyilangkan tangan.

“Katanya tadi kamu mau ngasih tahu kerjaan kamu. Ini kerjaan rumah juga udah selesai.”

Adipati tersenyum kecil.

“Iya. Ayo ikut mas.”

Ia menggandeng tangan Selina menuju sebuah ruangan di bagian belakang rumah. Begitu pintu dibuka, Selina langsung berhenti melangkah.

Ruangan itu dipenuhi meja lebar, tiga monitor besar, dua laptop, dan beberapa layar kecil yang masih menyala.

Selina melongo.

“Mas… ini apa?”

“Ruang kerja mas,” jawab Adipati santai. “Duduk sini.”

Selina duduk pelan di kursi, menatap layar penuh grafik naik turun.

“Kamu hacker?” tanyanya setengah takut. “Jangan buat aku takut, ya.”

Adipati tertawa.

“Hacker apaan. Ini pasar modal.”

“Pasar?” Selina mengernyit. “Kayak pasar sayur?”

“Pasar uang,” koreksi Adipati sambil menarik kursi di sampingnya.

“Tempat orang jual beli aset—saham, indeks, mata uang, komoditas.”

Selina menunjuk layar.

“Terus garis-garis itu apa? Kok kayak detak jantung.”

“Itu grafik pergerakan harga,” jelas Adipati sabar.

“Naik turun sesuai permintaan dan penawaran.”

“Terus kamu ngapain di sini?”

“Mas trading,” jawabnya.

“Mas beli di harga rendah, jual di harga lebih tinggi.”

Selina meliriknya curiga.

“Kayak judi dong?”

Adipati menggeleng.

“Beda. Judi pakai untung-untungan. Trading pakai analisis dan manajemen risiko.”

Ia menunjuk layar pertama.

“Ini pasar Eropa. Biasanya aktif pagi sampai sore waktu sana.”

Selina mendekat, matanya fokus.

“Kalau kita kan siang atau sore?”

“Iya,” kata Adipati.

“Makanya pas Eropa buka, di sini masih terang.”

Lalu ia menunjuk layar kedua.

“Kalau ini Asia. Jepang, Hongkong. Pasar Asia aktif pagi sampai siang waktu kita.”

“Terus malam?”

Adipati tersenyum.

“Malam giliran Amerika. Itu yang paling rame.”

Selina terbelalak.

“Jadi kamu bisa kerja hampir 24 jam?”

“Bisa,” jawab Adipati. “Tapi mas nggak gila kerja. Mas pilih waktu yang paling stabil.”

Selina terdiam sebentar, lalu menoleh.

“Terus… ini yang bikin kamu punya banyak uang?”

“Iya,” jawab Adipati jujur.

“Mas hidup dari sini.”

Selina menatap layar lagi, lalu menatap Adipati.

“Kenapa kamu bilang nganggur ke orang-orang?”

Adipati bersandar.

“Karena kalau orang tahu mas punya uang, yang datang bukan cuma teman… tapi masalah.”

Selina mengangguk pelan.

“Pantes kamu santai banget.”

Adipati menatap Selina dengan senyum lembut.

“Sekarang kamu tahu. Jadi jangan takut lagi, ya.”

Selina tersenyum kecil.

“Takut sih enggak… malah kagum.”

Adipati terkekeh.

“Jangan kagum dulu. Yang penting kamu ngerti mas kerja apa.”

Selina melirik layar sekali lagi, dahinya berkerut.

“Jujur aja ya, Mas… aku tetap nggak ngerti garis-garis naik turun itu. Kayak EKG tapi versi duit,” katanya polos.

Adipati tertawa pelan.

“Ya jelas beda dunia.”

Ia mendekat, berdiri di samping kursi Selina.

“Kamu itu calon dokter. Urusannya jantung, darah, saraf, tulang. Mas mah malah nggak ngerti anatomi tubuh manusia sedetail kamu.”

Selina menoleh.

“Serius? Kamu nggak ngerti?”

“Ngerti dikit,” Adipati mengangkat bahu.

“Tapi kalau disuruh jelasin detail, mas kalah jauh sama kamu.”

Ia menunjuk layar.

“Mas mainnya di sini. Grafik, angka, risiko, timing.”

Lalu menunjuk dada Selina pelan, tanpa menyentuh.

“Kamu mainnya di sini. Nyawa orang.”

Selina terdiam, wajahnya sedikit memerah.

“Kalau salah kamu rugi uang. Kalau aku salah…”

“Nyawa orang,” sambung Adipati pelan.

“Itu kenapa mas selalu bangga sama kamu.”

Selina tersenyum kecil.

“Berarti kita beda dunia, ya.”

Adipati menggeleng.

“Beda, tapi saling ngisi.”

Ia duduk di tepi meja.

“Mas ngurus masa depan finansial keluarga. Kamu ngurus kesehatan orang-orang… termasuk mas.”

Selina terkekeh.

“Kalau gitu aku dokter pribadi kamu dong.”

“Wajib,” jawab Adipati cepat.

“Mas sering begadang, stres, butuh dokter yang galak.”

Selina tertawa.

“Siap, Pak Trader. Tapi dokter ini bayarnya mahal.”

Adipati mendekat, menatapnya hangat.

“Bayarnya seumur hidup.”

Selina menunduk, tersipu.

“Mas ngomongnya bikin aku makin nyaman.”

Adipati mengusap kepala Selina lembut.

“Itu tujuan mas. Biar kamu tenang ngejar cita-cita kamu.”

Selina menatap layar sekali lagi.

“Berarti aku nggak perlu ngerti pasar modal?”

“Nggak perlu,” jawab Adipati.

“Selama kamu percaya sama mas.”

Selina tersenyum.

“Kalau gitu, mas juga harus percaya aku jadi dokter yang baik.”

Adipati mengangguk mantap.

“Mas percaya. Kita tim, Sel.”

Selina mengangguk kecil.

“Iya… kita saling melengkapi.”

1
Scarlett Rose
doble update dong
Scarlett Rose
seru
Anonymous
🤭🤭lanjut
Ayu
lanjut kak
Ayu
seru
wagiyah baru
ditunggu kelanjutannya kak
wagiyah baru
seru
Scarlett Rose
lanjut kak🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut heeh
Anonymous
lanjut thor🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
wagiyah baru
lanjut kak
wagiyah baru
lanjut
Scarlett Rose
seru
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!