Karakter sesuai judul, jadi jangan di judge lagi ya Readers ...
Marissa, 19 tahun. Gadis berwajah cantik dengan tubuh yang seksi dan nyaris sempurna.
Ia tergila-gila pada seorang duda berusia 39 tahun, Marcello Alexander. Seorang Owner sekaligus CEO dari Antariksa Group, perusahaan besar yang bergerak dalam bidang Otomotif.
Namun, sayangnya kisah cinta Marissa harus pupus tatkala ia mengetahui bahwa Marcello adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari dirinya.
Penasaran gak sih? Yukk ... ikuti cerita cinta mereka 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setibanya di Mansion, Marissa segera berlari menuju kamarnya. Ia masih kesal sama Marcello yang begitu mudahnya memutuskan sesuatu tanpa mempedulikan bagaimana pendapatnya.
"Cha!" teriak Marcello, tetapi Gadis itu tetap tidak mempedulikan panggilannya.
"Apa aku sudah keterlaluan, Joe?" tanya Marcello kepada Joe yang baru saja keluar dari mobilnya.
Joe ingin sekali meneriakkan 'Ya, Tuan! Anda sudah sangat keterlaluan!', tetapi ia tidak mungkin berani mengatakannya. Dan dengan berat hati, Joe pun terpaksa menggelengkan kepalanya sembari berucap .
"Tidak, Tuan."
"Nah, benarkan! Wajar saja 'kan aku berlaku seperti itu karena Marissa adalah Anakku dan aku tidak ingin Anak gadisku kenapa-napa!" jelas Marcello.
Joe menahan tawanya agar tidak pecah. Ia ingin sekali tergelak setelah mendengar penuturan lelaki itu. "Wajar dari mana, Tuan? Sikap Anda sudah kelewat batas," batin Joe.
Menjelang malam, di kamar Marissa.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Marissa merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia masih kesal dengan tingkah konyol Marcello hari ini.
Dreett ... dreettt ...
"Icha sayang!" sapa Erika dari seberang telepon.
"Erika, kebetulan sekali. Aku pengen curhat sama kamu, boleh ya?" ucap Marissa.
"Tentu saja, aku juga lagi suntuk nih gak ngapa-ngapain!" sahut Erika.
"Eh, mungkin gak, sih, kalau aku jatuh cinta sama Daddyku sendiri?" tanya Marissa.
"Ya, gak mungkin lah! Mana gak boleh juga, 'kan! Kamu ini aneh-aneh saja," sahut Erika.
"Tapi, kalo ternyata itu benar?" tanya Marissa lagi.
"Apa?! Jadi kamu beneran jatuh cinta sama si Hot Daddy? Terus, apa Daddy mu juga jatuh cinta padamu?" tanya Erika bertubi-tubi.
"Aku tidak tahu, Erika! Aku tidak mengerti dengan perasaan yang aku rasakan kepadanya. Sedangkan Daddy, dia tidak mungkin jatuh cinta padaku, Erika. Bukankah dia Ayahku? Lagipula dia begitu mencintai kekasihnya, si Wanita Penyihir itu! Bahkan acara pertunangan mereka sudah didepan mata. Dan sialnya lagi, aku masih belum bisa menyingkirkan Wanita itu dari Daddyku," tutur Marissa dengan raut wajah kesal.
"Oh, iya! Bicara soal pertunangan, kamu punya kenalan gak? Orang yang pandai membuat perhiasan replika? Yang benar-benar mirip seratus persen sampe gak bisa dibedakan?! Ada gak, ada gak?!" tanya Marissa.
"Sebentar, aku coba ingat-ingat!"
Untuk beberapa saat, tak ada suara di seberang telepon. Namun, setelah itu Erika pun kembali bicara.
"Aku lupa, Cha. Tapi perasaan aku pernah punya kenalan yang hebat dalam membuat perhiasan. Nanti aku ingat-ingat dan kalo udah ingat, aku pasti kasih tau kamu, deh!" sahut Erika.
"Eh, eh, sebenarnya untuk apa sih kamu nyari orang yang bisa bikin perhiasan? Aku jadi penasaran, jangan-jangan kamu mau bikin ulah lagi, ya?" tanya Erika penasaran.
Marissa tergelak setelah mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu. "Ada deh, aku hanya ingin bermain-main bersama Wanita Penyihir itu," jawab Marissa.
"Eh, jangan lupa, ya! Kasih tau aku kalo kamu sudah ingat kontaknya," sambung Marissa lagi.
"Ok, ok! Kamu tenang saja!" sahut Erika.
Tok ... tok ... tok ...
"Cha, apa kamu sudah tidur?" tanya Marcello dari balik pintu kamar Marissa.
"Eh, gawat! Daddy ku datang, sepertinya dia ingin menemuiku. Bye dulu, Erika!"
Tanpa mendengar jawaban dari sahabatnya, Marissa segera memutuskan panggilannya kemudian bersembunyi dibalik selimutnya.
Marcello penasaran karena tidak ada jawaban dari Marissa. Ia pun kembali memanggil nama Gadis itu sembari mengetuk pintu kamarnya.
"Cha, ini Daddy? Bukalah pintunya, Daddy ingin bicara padamu," ucap Marcello.
"Gawat! Mana pintunya lupa aku kunci! Aduh, bodohnya aku!" gumam Marissa dsri balik selimutnya.
"Apa Marissa sudah tidur?" gumam Marcello.
Marcello mencoba membuka pintu kamar Marissa dan ternyata pintunya tidak dikunci. Ia tersenyum sembari melangkah masuk dan menghampiri tempat tidur Marissa.
"Cha, kamu sudah tidur, ya?!" tanya Marcello.
Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur Marissa, tepatnya disamping tubuh Gadis itu.
"Aduh, gawat!" batin Marissa sembari memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
Perlahan Marcello meraih selimut yang menutupi tubuh Marissa dan membukanya. Terlihat wajah cantik Marissa yang sedang memejamkan matanya.
"Cha?!" panggil Marcello seraya mengelus lembut pipi Gadis itu.
Namun, akting Marissa benar-benar bagus. Marcello bahkan tidak menyadari bahwa Marissa hanya berpura-pura tidur.
"Maafkan Daddy, Cha. Daddy memang keterlaluan, tapi itu semua untuk kebaikanmu. Daddy tidak ingin lelaki itu menyakitimu dan memanfaatkan dirimu," gumam Marcello.
"Selamat malam, Icha sayang! Semoga mimpi indah," ucap Marcello sembari melabuhkan sebuah ciuman hangat di kening Marissa.
Marissa merasakan darahnya mengalir lebih cepat ketika Marcello mencium keningnya.
Marcello segera bangkit kemudian melangkah menuju pintu. Dengan sangat perlahan, Marcello kembali menutup pintu kamar Marissa, agar tidur anak Gadisnya itu tidak terganggu.
"Selamat malam, Dad! Terima kasih," sahut Marissa pelan.
...***...