Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang tidak dilihat
Jarum jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam ketika sedan hitam milik Adrian memasuki halaman utama kediaman Wijaya. Adrian turun dengan langkah berat akibat kelelahan yang menumpuk sejak pagi.
Penjualan yang merosot di beberapa cabang membuat suasana kantor sangat tegang. Alih-alih mencari solusi, para manajer wilayah justru sibuk saling melempar kesalahan selama rapat berlangsung.
Begitu memasuki kamar pribadinya, Adrian langsung melepas jas dan melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Namun, keningnya segera berkerut saat membuka lemari pakaian.
Jas-jas kerjanya tergantung asal-asalan, bahkan kemeja putih favoritnya tercampur berantakan dengan pakaian rumah. Adrian hanya menghela napas pendek melihat hal sepele yang mendadak mengacaukan kenyamanannya itu.
Dia beralih menuju meja kerja untuk memeriksa bahan presentasi esok pagi, namun kekesalannya justru bertambah. Laptopnya diletakkan di posisi yang salah, bertumpuk dengan berkas-berkas lama yang sudah tidak terpakai.
Adrian memijat pelipisnya yang mulai berdenyut pening. Sudah hampir satu bulan rumah ini ditinggalkan, tetapi para pelayan baru belum juga bisa menyamai ritme kerja yang lama.
Saat rapat direksi siang tadi, salah satu manajer cabang bahkan membawa laporan tebal yang belum sempat dirangkum. Akibatnya, rapat molor hampir dua jam hanya untuk membedah data mentah.
Adrian masih ingat betapa kepalanya menahan sakit saat melihat puluhan halaman berkas yang berantakan itu. Dulu, dia tidak pernah mengalami hal seperti ini karena selalu ada satu lembar ringkasan bersih yang memuat poin-poin penting sebelum rapat dimulai.
Dia hanya tinggal membaca instan tanpa perlu tahu siapa yang bersusah payah menyiapkannya. Kini, ketika sistem itu menghilang, Adrian baru menyadari betapa ringannya pekerjaannya selama ini.
Merasa tenggorokannya kering, Adrian turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air. Lampu ruang makan ternyata masih menyala terang.
Mama Wijaya duduk di kursi utama dengan ekspresi letih yang jarang beliau perlihatkan. "Kamu baru pulang, Adrian?" tanya beliau saat menyadari kehadiran putranya.
Adrian hanya mengangguk singkat sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Mama Wijaya bersandar pada kursi sambil mengembuskan napas panjang. "Entah kenapa urusan rumah ini jadi merepotkan sekali akhir-akhir ini."
"Pelayan baru sudah tiga kali ganti, tapi tidak ada yang cekatan. Makanan Papa sering salah, bahkan jadwal kontrol rumah sakit minggu lalu sempat tertukar," keluh beliau sambil memijat dahi.
Kalimat itu meluncur begitu saja sebagai keluhan biasa, tanpa ada duka penyesalan ataupun menyebut nama Kayla. Namun, Adrian tahu persis siapa orang yang selama bertahun-tahun ini memastikan seluruh detail rumit itu berjalan tanpa celah.
Setelah suasana ruang makan kembali sepi, Adrian melangkah menuju ruang arsip keluarga yang berada di dekat ruang kerja lama. Dia berniat mencari berkas audit tahun sebelumnya untuk bahan perbandingan rapat besok.
Lemari arsip besar itu penuh dengan map yang tersusun rapi berdasarkan tahun. Saat menarik satu tumpukan berkas di baris belakang, sebuah map tebal berwarna biru tua mendadak jatuh ke lantai.
Adrian membungkuk untuk mengambilnya. Map itu terlihat agak kusam di bagian sudutnya karena tampaknya sering ditarik keluar-masuk.
Saat membuka halaman pertama, tatapan Adrian langsung terpaku pada deretan tulisan tangan yang sangat dia kenali.
Halaman-halaman awal berisi laporan operasional bulanan, jadwal rapat direksi, hingga evaluasi performa cabang. Semakin dibilas ke belakang, isinya berubah menjadi catatan pengeluaran rumah tangga, agenda kesehatan Papa, hingga daftar kebutuhan harian Mama.
Semuanya ditulis oleh orang yang sama dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Adrian membalik halaman demi halaman dalam keheningan yang pekat.
Fakta di depannya menampar ego Adrian dengan telak. Banyak urusan besar di rumah dan beberapa draf penting di perusahaan ternyata tidak berjalan otomatis dengan sendirinya.
Di bagian paling akhir map, terdapat sebuah draf laporan audit fisik beberapa tahun lalu. Dokumen itulah yang dulu menyelamatkan Wijaya Group dari kerugian miliaran rupiah akibat denda pajak.
Tatapan Adrian membeku saat melihat sudut kanan bawah halaman tersebut. Di sana tertera sebuah tanda tangan kecil dengan nama yang ditulis tegas:
Disusun oleh: Kayla aninditha
Dada Adrian mendadak terasa sedikit sesak, Namun, sebelum dia menutup map tersebut, selembar kertas kecil berwarna kuning yang terselip di antara dokumen menarik perhatiannya.
Kertas memo itu bukan bagian dari laporan perusahaan ataupun agenda bisnis. Isinya hanya tulisan tangan sederhana yang tampaknya dibuat secara terburu-buru.
Adrian akhir-akhir ini sering sakit kepala. Kurangi kopi malam.
Jangan lupa makan siang sebelum rapat investor hari Jumat.
Obat maag ada di laci kedua meja kerja.
Empat kalimat pendek yang sangat biasa. Selama ini, Adrian selalu menganggap perhatian-perhatian kecil seperti itu sebagai kewajiban yang memang sudah seharusnya dia terima.
Baru malam ini, di tengah ruangan yang sunyi, dia sadar dari mana semua kenyamanan hidupnya berasal. Dan orang yang memberikan semua itu sudah tidak ada lagi di rumah ini.
Adrian melipat kertas kuning tersebut, lalu menggenggamnya erat-erat di gengaman tangannya.
Untuk pertama kalinya malam itu, sedikit benih penyesalan menabrak egonya yang tinggi.