NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Cemburu yang Terbit Terlalu Dini

Grep.

​"Kamu... apa-apaan ini, Martin?!" teriak Kirana terkejut, kedua tangannya seketika berada di atas dada Martin untuk mendorongnya. "Lepaskan aku sekarang juga!"

​"Silahkan Nona marahi saya sepuas hati Anda... Saya tidak peduli. Saya tidak mau Anda kenapa-napa dan cedera Anda menjadi lebih parah," kata Martin tanpa memedulikan bentakan Kirana. Ia terus melangkah tegap melewati anak tangga menuju kamar utama.

​"Lepaskan... Martin! Aku perintahkan kamu melepaskan aku!" teriak Kirana lagi, namun suaranya mulai kehilangan daya tegasnya, diganti dengan debaran jantung yang makin liar karena kedekatan tubuh mereka.

​Martin menatap lurus ke depan dengan sorot mata teguh. "Nanti setelah Anda sembuh dan berada di atas kasur dengan aman, Anda boleh pecat saya saat itu juga. Tapi sekarang, biarkan saya melakukan tugas saya untuk melindungi Anda."

​Mendengar kalimat Martin yang sangat berani dan penuh perlindungan tulus tersebut, seluruh kemarahan Kirana seketika lenyap tanpa sisa. Rasa aman dan hangat yang belum pernah dia rasakan selama hidupnya seketika memenuhi jiwanya. Tanpa sadar, kedua tangan Kirana yang tadi mendorong, perlahan bergerak naik dan melingkar dengan sangat manis di sekeliling leher Martin, menyembunyikan wajah merahnya di bahu pria tersebut.

​Hampir Bersentuhan di Ambang Batasan

​Martin melangkah masuk ke dalam kamar utama yang mewah, lalu perlahan-lahan merebahkan tubuh Kirana di atas kasur king size yang sangat empuk. Gerakannya sangat hati-hati, seolah dia sedang meletakkan sebuah permata berharga yang mudah pecah.

​Namun, saat tubuh Kirana sudah menyentuh kasur, posisi wajah Martin masih berada di atasnya karena tangan Kirana masih melingkar di lehernya.

​Jarak wajah mereka seketika menjadi sangat dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Waktu kembali terasa berhenti. Kirana bisa melihat setiap detail wajah Martin, hingga ke sinar mata pria itu yang penuh hasrat dan kekaguman yang terjaga. Napas hangat Martin terasa sangat nyata menyentuh kulit wajah Kirana.

​Bibir mereka hampir saja bersentuhan. Di dalam lubuk hati terdalamnya, Kirana merasa sangat pasrah dan sebenarnya ingin merasakan sentuhan tersebut. Sudah sangat lama dia tidak pernah disentuh dengan penuh kelembutan dan cinta yang tulus seperti ini. Kirana perlahan mulai memejamkan matanya, menyerahkan dirinya pada momen romantis yang menjerat jiwanya.

​Martin menatap bibir Kirana yang indah, dan seluruh insting lelaki dewasanya seketika mendesaknya untuk maju dan merampas sentuhan tersebut. Namun, Martin adalah seorang ksatria profesional. Ia tahu persis posisi Kirana yang masih terluka dan baru saja keluar dari neraka Adrian. Ia tidak mau memanfaatkan kelemahan wanita yang sangat dicintainya ini.

​Dengan sebuah tarikan napas panjang yang berat, Martin akhirnya memilih untuk menahan diri dan menghindar, menarik wajahnya kembali mundur sambil tersenyum lembut.

​"Nona... Istirahat saja terlebih dahulu. Jangan memikirkan hal yang berat lagi," kata Martin, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh hormat sambil menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Kirana hingga batas dada.

​Kirana perlahan membuka matanya, merasa sedikit kecewa namun di sisi lain dia merasa sangat respek dan kagum pada kendali diri Martin yang luar biasa untuk menjaganya.

​Martin melangkah mundur menuju pintu kamar, sambil memegang ganggang pintu. "Oh iya... Kalau Nona butuh bantuan saya untuk mengompres kaki atau apa pun, langsung telpon saja ke ponsel saya. Saya akan selalu siap di lobi depan."

​Kirana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis dan manis, menatap kepergian Martin yang perlahan menutup pintu kamarnya dengan sangat rapat.

​Setelah suasana kamar kembali sepi, Kirana membalikkan tubuhnya ke arah samping, sambil memeluk bantal tebal. Dada Kirana masih berdebar sangat keras sambil kenangan hangat dipangkuan Martin tadi terus berputar di benaknya.

​Martin... Maaf... Kamu memang sangat baik dan sempurna untukku. Namun... Saat ini aku belum bisa sepenuhnya menerima kamu masuk ke hati saya. Aku harus menyelesaikan balas dendam saya terhadap Adrian terlebih dahulu hingga Adiwangsa Logistik hancur menjadi debu. Setelah semuanya selesai, aku berjanji akan memberikan kesempatan terbaik untuk kita... batin Kirana sambil perlahan memejamkan matanya menuju damai tidur siang yang hangat, di balik penjagaan seorang pengawal yang sangat setia.

​_____________________________________________

​Kamar utama di unit griya tawang itu terasa begitu tenang. Mentari siang yang menyengat perlahan bergerak turun, menyisakan bias cahaya sore yang lembut menembus kelambu sutra tipis di jendela besar. Kirana sempat terlelap selama beberapa jam. Tidurnya kali ini adalah tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan setelah sekian lama, meskipun pergelangan kaki kanannya masih terasa danyutan linu akibat terkilir di anak tangga tadi.

​Samar-samar, indra penciuman Kirana ditarik bangun oleh sebuah aroma gurih yang sangat menggugah selera. Bau harum kaldu segar, bawang putih yang ditumis sempurna, dan lada hitam merayap masuk, memancing cacing di perutnya untuk berdemo.

​Ketuk... ketuk...

​Suara ketukan pintu yang sangat pelan dan sopan terdengar dari arah luar. Kirana memperbaiki posisi selimutnya hingga menutupi dada, lalu bersandar pada tumpukan bantal empuk.

​"Masuk," kata Kirana, suaranya masih sedikit serak khas orang baru bangun tidur.

​Pintu terbuka perlahan. Martin muncul dari balik daun pintu, namun penampilannya kali ini sedikit berbeda. Ia sudah melepaskan jas hitam formalnya. Kini pria itu hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga batas siku, menampilkan lengan berotot yang tadi memangku Kirana dengan sangat mudah. Di depan tubuhnya, terikat sebuah celemek masak berwarna abu-abu polos. Pemandangan itu terlihat sangat kontras namun justru membuat ketampanan maskulin Martin naik beberapa level.

​Di kedua tangannya, Martin membawa sebuah nampan kayu yang di atasnya terdapat semangkuk sup hangat, sepiring nasi putih, dan segelas air putih.

​"Nona, minumlah dan makanlah ini selagi hangat," kata Martin sambil melangkah sopan menuju sisi tempat tidur. Ia meletakkan nampan itu di atas meja nakas di samping kasur.

​Kirana menatap mangkok sup yang mengepulkan uap panas tersebut. Penampilannya sangat cantik, dengan potongan sayur yang rapi dan kuah yang bening berkilat.

​"Ini... siapa yang masak, Martin?" tanya Kirana sambil menoleh kaget. "Bukankah Paman Aldo belum mengirimkan Asisten Rumah Tangga?"

​Martin tersenyum tipis, sebuah senyuman rendah hati yang selalu berhasil membuat debar di dada Kirana kembali terusik. "Aku mencoba masak sendiri, Nona. Karena saya tahu Anda pasti lapar setelah terlelap lama. Cicipilah... bagaimana menurutmu?"

​Kirana mengambil sendok dengan sedikit ragu. Ia menyendok kuah sup itu dan meniupnya pelan sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Seketika, matanya terbelalak luar biasa. Rasa gurihnya sangat pas, kaldu ayamnya meresap sempurna, dan sayurannya tidak terlalu lembek alias pas tingkat kematangannya.

​"Enak!" puji Kirana spontan. Ia kembali menyendok untuk kedua kalinya tanpa bisa ditahan. "Kamu... kamu bisa masak juga, Martin?"

​"Hanya masakan sederhana untuk bertahan hidup, Nona," jawab Martin sambil berdiri tegap di samping kasur, memperhatikan Kirana yang lahap menikmati masakannya.

​Pertanyaan yang Mengundang Salah Paham

​Melihat bagaimana sempurnanya perlakuan Martin—mulai dari menjadi pengawal berdarah dingin yang jago tempur, ajudan yang sopan, hingga pria yang pandai masak dan penuh perhatian—sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Kirana. Pertanyaan yang sebenarnya terlalu pribadi, namun dorongan keingintahuan wanitanya terlalu kuat.

​Kirana menurunkan sendoknya sebentar, lalu menatap Martin dengan pura-pura kasual.

​"Martin... Kamu... kamu sudah punya istri?" tanya Kirana sambil menatap manik mata pria itu. "Atau... pacar gitu?"

​Mendengar pertanyaan tersebut, gerakan tubuh Martin seketika terpaku. Alisnya berkerut sedikit karena terkejut, lalu matanya berkilat jenaka menatap majikannya. "Maksud Nona... Nona?"

​Wajah Kirana seketika berubah menjadi merah merona untuk kesekian kalinya hari ini. Ia langsung membuang tatapannya ke seberang kamar, merasa merutuk dirinya sendiri karena pertanyaan bodoh tersebut.

​"Oh... tidak! Jangan berpikir macam-macam!" seru Kirana cepat dan sedikit panik, berusaha menyelamatkan harga dirinya. "Aku hanya bertanya saja karena penasaran! Mana mungkin aku suka sama pengawalku sendiri, kan?! Aku hanya ingin menegaskan batasan kita tadi."

​Martin terdiam sebentar, memperhatikan tingkah salah tingkah Kirana yang sangat menggemaskan di matanya. Ia menarik napas panjang, lalu berbicara dengan nada suara yang tiba-tiba terdengar sedikit berat dan serius.

​"Oh... begitu," kata Martin pelan. "Sebenarnya... Aku sudah dijodohkan, Nona. Tapi...—"

​Kekecewaan dan Tembok yang Meninggi

​Deg.

​Kalimat Martin yang mengatakan "sudah dijodohkan" seolah menjadi sebuah pukulan dingin yang langsung menghantam lubuk hati Kirana. Seketika saja, rasa hangat, nyaman, dan perasaan berbunga-bunga yang sejak tadi dirasakannya langsung padam, digantikan oleh sebuah kekecewaan halus yang sangat nyata.

​Kirana merasa dadanya sedikit sesak. Namun, sebagai seorang wanita yang baru saja keluar dari trauma pengkhianatan, topeng dingin dan angkuh Kirana seketika terpasang kembali dengan sangat cepat. Ia tidak mau terlihat terluka di depan siapa pun lagi.

​"Oh... ya sudah," potong Kirana cepat, tidak membiarkan Martin menyelesaikan kalimatnya. Ia tersenyum sinis dan dingin, menatap ke depan tanpa melihat Martin lagi. "Berarti beruntung yah calon istrimu. Kamu pria yang sangat perhatian dan pandai mengurus rumah."

​Martin maju satu langkah, merasa bahwa Kirana salah paham terhadap makna kalimatnya. "Maksud saya... begini, Nona... Perjodohan itu—"

​"Sudah, gak apa-apa!" potong Kirana lagi dengan nada suara yang tinggi dan tegas, menolak untuk mendengar kelanjutan penjelasan Martin. "Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun padaku. Itu hidup pribadimu. Tapi mulai sekarang, kamu jangan terlalu perhatian sama aku. Nanti kekasihmu atau calon istrimu tersebut cemburu dan salah paham!"

​Martin menatap Kirana dengan tatapan dalam, melihat bahwa wanita di hadapannya ini sedang membangun kembali tembok pertahanan yang tinggi karena rasa takut akan terluka. Martin akhirnya memilih untuk menundukkan kepalanya sopan, menuruti keinginan Kirana untuk sementara waktu.

​"Baik, Nona Kirana," jawab Martin rendah dan patuh.

​Kirana membuang napasnya ke arah samping, matanya meredup penuh kesedihan rahasia. Ternyata dia sudah punya calon istri... batin Kirana dengan ngilu. Aku tidak boleh merusaknya. Aku tidak boleh menjadi wanita egois yang menghancurkan hubungan orang lain. Aku sudah pernah merasakan sendiri bagaimana sakitnya dikhianati dan dihancurkan oleh Adrian dan Valerie. Aku tahu persis rasanya, dan aku tidak akan pernah sudi membiarkan wanita lain merasakan neraka yang sama karenaku.

​Suapan yang Ditolak

​Suasana di dalam kamar seketika berubah menjadi dingin dan kaku kembali. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka berdua. Martin, yang tidak mau Kirana melewatkan makannya karena perubahan suasana hati ini, perlahan melangkah mendekat.

​Ia menyendok sedikit nasi dan kuah sup hangat tersebut, lalu mengarahkannya ke depan bibir Kirana.

​"Ini Nona... 'A...!!" kata Martin sambil mencoba menyuapi Kirana dengan sangat lembut, berusaha mencairkan kembali ketegangan di antara mereka.

​Kirana menatap sendok di depan wajahnya, lalu melirik ke manik mata Martin dengan dingin. Rasa cemburu dan gengsi yang berkecamuk di dalam dadanya membuat Kirana langsung menolak perlakuan manis tersebut. Ia menepis perlahan tangan Martin sambil menarik dirinya mundur.

​"Sudah... biar aku sendiri saja, Martin!" kata Kirana tegas dan datar sambil merebut sendok tersebut dari tangan Martin. "Aku masih punya tangan yang utuh untuk menyuap mulutku sendiri. Kamu boleh keluar sekarang, aku mau makan tanpa diganggu."

​Martin menatap tangan kosongnya, lalu kembali menatap Kirana yang sekarang mulai makan sendiri dengan gerakan kaku dan wajah tanpa ekspresi. Pria itu tahu persis bahwa saat ini Kirana sedang menghukum dirinya sendiri dan dirinya karena salah paham perjodohan tadi.

​"Baik, Nona Kirana. Saya akan menunggu di lobi depan kamarmu. Jika Anda selesai makan, langsung telpon saya," kata Martin sambil membungkuk hormat sangat sopan, lalu melangkah mundur dan keluar dari kamar tersebut, menutup pintu dengan sangat halus.

​Setelah Martin pergi, Kirana menurunkan sendoknya kembali. Rasa nikmat dari sup hangat tadi seketika lenyap tanpa sisa di dalam mulutnya. Ia menatap pintu kamar yang tertutup rapat dengan tatapan kosong dan penuh perasaan campur aduk.

​Kenapa... kenapa saat aku mulai merasakan kembali detak jantung yang nyata, takdir selalu punya cara untuk menamparku kembali ke kenyataan pahit? gumam Kirana sambil memeluk kedua lututnya di atas kasur, melupakan sejenak rencana balas dendamnya, karena saat ini, hati kecilnya sedang menangis cemburu pada sosok wanita lain yang bahkan belum pernah dia temui.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!