NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30 Roda Takdir yang Berputar

Teri dengan lihai mengarahkan kemudi menuju area parkir belakang pusat distribusi kesehatan pemerintah yang tampak sibuk. Begitu mobil berhenti sempurna, Hana segera bergerak cepat masuk ke dalam kantor administrasi untuk mengurus tumpukan berkas dan verifikasi dokumen dengan petugas dinas, sementara Kael dan Teri bertugas di bagian luar untuk membongkar muat muatan.

Kardus demi kardus besar berisi obat-obatan kronis, cairan infus, dan perlengkapan medis mulai dipindahkan ke atas bak mobil pick-up.

Petugas gudang yang bertugas mencatat manifes sampai melongo takjub dengan mulut sedikit terbuka saat melihat Teri dengan santainya mengangkat dua kardus berukuran paling besar sekaligus di kedua belah bahunya tanpa terlihat kepayahan.

"Mas... hati-hati, kardus yang itu beratnya luar biasa berat," peringat petugas gudang itu dengan wajah cemas.

Teri hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, meletakkan kardus itu di bak mobil dengan posisi presisi. "Biasa saja, Pak. Sapi di desa kami jauh lebih berat dari ini."

Petugas itu kemudian beralih menatap Kael yang berjalan di belakang Teri. Namun, pemandangan yang sama kembali tersaji di depan matanya. Kael mengangkat sebuah peti kayu berisi peralatan medis darurat dengan satu gerakan halus yang konstan, seolah benda berbobot puluhan kilogram itu tidak memiliki berat sama sekali di tangannya.

"Orang-orang dari desa pesisir sekarang tenaganya kuat-kuat seperti monster ya..." gumam petugas gudang itu pelan dengan dahi berkerut heran sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hana yang kebetulan baru saja keluar dari ruang administrasi membawa lembar tanda terima resmi, tidak sengaja mendengar gumaman heran si petugas. Ia langsung gigit bibir bawahnya, berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak meledak di tempat. '

"Kalau petugas ini tahu siapa identitas dua pria berotot di depannya ini sebenarnya, mungkin dia akan langsung pingsan karena terkejut," batin Hana tertawa geli dalam hati.

Menjelang senja, seluruh urusan birokrasi dan muat barang akhirnya berhasil diselesaikan dengan tuntas. Semburat warna jingga keunguan mulai menghiasi langit di atas gedung-gedung beton kota.

"Syukurlah semuanya selesai tanpa ada kendala," ucap Hana mengembuskan napas lega, menyeka sisa keringat di pelipisnya. "Persediaan obat-obatan penting untuk Poskesdes selama beberapa bulan ke depan akhirnya sudah aman di bak mobil."

"Kalau begitu, semua urusan kita di sini sudah beres. Kita bisa mencari penginapan kecil dan langsung bersiap pulang besok subuh," kata Teri sembari menyandarkan tubuhnya di sisi mobil.

Hana mengangguk setuju, menyimpan dokumen berharga itu ke dalam tas selempangnya. Mereka bertiga kemudian mulai melangkah perlahan meninggalkan area gudang menuju area parkir luar untuk mencari makan malam.

Namun, baru beberapa langkah menyusuri trotoar, langkah kaki Kael tiba-tiba terhenti di tempat. Sepasang matanya yang tajam mendadak terpaku diam pada sebuah toko pakaian anak-anak yang berada tepat di seberang jalan raya yang ramai.

Teri yang menyadari perubahan ritme langkah atasannya langsung menghentikan langkahnya sendiri, melirik diam-diam mengikuti arah pandangan mata Kael. Di balik etalase kaca toko yang bersih dan terang, terpajang berbagai model pakaian kecil berwarna cerah.

Pandangan Kael perlahan terkunci mati pada sebuah gaun katun kecil berwarna biru muda dengan aksen pita putih yang manis di bagian pinggang. Untuk sesaat, bayangan wajah riang Rani saat memeluk lengannya tadi subuh langsung melintas jelas di dalam benak Kael.

Teri memperhatikan dinamika emosi yang tertangkap di wajah Kael dengan sangat jeli. Sebuah senyuman tipis penuh arti perlahan terangkat di sudut bibirnya.

Tanpa menimbulkan suara atau menarik perhatian Hana, jemari Teri merogoh saku bagian dalam jaket hitamnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu plastik hitam mengilat yang berlogo eksklusif organisasi.

"Kau… rupanya masih menyimpan benda terkutuk itu, Teri?" tanya Kael teramat pelan dengan suara rendah, matanya melirik tajam ke arah tangan Teri tanpa merubah posisi berdirinya.

"Tentu saja saya menyimpannya dengan baik, Ketua," jawab Teri dengan nada formal yang santai, menyodorkan kartu hitam itu secara sembunyi-sembunyi ke dalam genggaman tangan Kael. "Ini adalah milik Anda. Akses rekening pribadi yang bersih dari segala jenis pelacakan sistem."

Kael menatap kartu hitam di telapak tangannya selama beberapa saat dengan dahi berkerut dalam. "Kukira kartu akses ini sudah ikut musnah atau hilang saat malam penyerangan itu."

"Saya selalu menyimpannya di saku terdalam pakaian saya, Ketua," jelas Teri tulus.

"Untuk alasan apa kau membawanya sampai ke pelosok desa?" tanya Kael, menyipitkan matanya menuntut jawaban.

"Karena saya sangat tahu, suatu hari nanti saya akan menemukan anda dan mungkin seperti saat ini dalam keadaan miskin," gurau Teri sembari melirik halus ke arah toko pakaian anak-anak di seberang jalan.

Kael menghela napas kecil, ego dinginnya runtuh demi membelikan hadiah untuk bocah yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Ia memasukkan kartu hitam itu ke dalam saku celananya dengan gerakan cepat.

"Terima kasih, Teri."

Untuk pertama kalinya sepanjang hari yang melelahkan itu, seulas senyum tipis yang tulus dan sarat akan rasa hormat muncul di wajah Teri melihat atasannya menerima bantuannya kembali.

"Aku mau ke toko seberang jalan itu sebentar," ujar Kael berpamitan, menghentikan langkah kaki Hana yang berjalan di depan mereka. "Ada sesuatu yang harus kubeli, tidak akan lama."

Hana yang saat itu fokusnya masih terbagi untuk memeriksa kembali lembar daftar manifes barang di tangannya hanya mengangguk santai tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Baiklah kalau begitu. aku akan menunggu kalian di dekat mobil parkiran sini saja, ya. Jangan lama-lama, Kael."

"Dimengerti," jawab Kael singkat sebelum berbalik langkah membelah keramaian trotoar bersama Teri yang ikut bersama Kael.

Sementara itu, Hana tetap berada di dekat area parkir mobil sendirian, menikmati hembusan angin senja kota. Namun, baru beberapa menit ia berdiri menyendiri, ponsel pintar di dalam tas selempangnya mendadak bergetar hebat, merusak ketenangan senja itu. Hana merogoh tasnya dan mengerutkan kening dalam saat melihat sebuah nama akrab yang sudah berbulan-bulan tidak pernah muncul di layarnya kini berkedip-kedip menuntut jawaban.

Ayah.

Seluruh syaraf di tubuh Hana seketika membeku di tempat, napasnya mendadak tertahan di tenggorokan melihat nama tersebut. Dengan jemari yang mendadak bergetar hebat karena luapan emosi, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Yah…?" tanya Hana, suaranya sengaja diturunkan sekecil mungkin agar tidak menarik perhatian sekitar.

"Hana," sahut sebuah suara bariton yang terdengar sangat berat, berwibawa, namun sarat akan nada dingin dari seberang saluran. "Lama tidak terdengar kabarmu setelah kau memutuskan melarikan diri ke pelosok."

Mendengar suara itu, sepasang mata Hana sedikit melembut, memendam rasa rindu sekaligus luka yang mendalam di dadanya. "Ayah...? Bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini? Ayah sedang ada urusan apa di kota ini?"

Hening mencekam sempat menguasai saluran telepon selama beberapa detik berikutnya, menyisakan suara deru napas berat dari seberang sana sebelum suara dingin itu kembali menjawab tanpa emosi.

"Ayah sedang berada di kota ini untuk sebuah urusan, dan Ayah tahu kau juga sedang berada di sini hari ini."

Hana terkejut bukan main, rasa cemas spontan menjalar di tengkuknya. "Sekarang? Ayah ada di kota ini sekarang?"

"Ya, sekarang," jawab ayahnya datar.

"Ada keperluan apa Ayah mencariku?" tanya Hana, suaranya mulai bergetar.

"Ayah ingin bertemu dan berbicara langsung denganmu, Hana," perintah suara itu tanpa bisa dibantah.

Hana langsung terdiam seribu bahasa, lidahnya mendadak kelu. Hubungan mereka memang tidak bisa dikatakan buruk secara personal, namun sang ayah bukanlah tipe pria mandiri yang akan meluangkan waktu berharganya yang padat hanya untuk sekadar berbincang santai atau menanyakan kabar anak perempuannya.

Hana memilih pergi ke Desa Sekar karena jalur pemikiran dan ambisi hitam ayahnya benar-benar bertolak belakang dengan prinsip hidupnya sebagai seorang dokter.

"Di mana lokasi Ayah sekarang?" tanya Hana akhirnya, mengalah pada situasi.

"Nanti Ayah akan mengirimkan titik koordinat alamatnya ke ponselmu," jawab suara itu datar.

"Baik, aku akan ke sana bersama teman-teman desa yang menemaniku hari ini—"

"Datanglah seorang diri, Hana," potong ayahnya dengan nada tegas yang mutlak sebelum Hana sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Sendiri? Tapi, Yah—"

"Datang sendiri," ulang ayahnya dingin.

Klik.

Sambungan telepon mendadak diputus secara sepihak dari seberang sana. Hana menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar kaca yang kini telah menggelap dengan pandangan nanar.

Perasaan aneh yang sangat tidak nyaman perlahan muncul dan mengembang di dalam dadanya sebuah firasat buruk yang memberi tahu jiwanya bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres sedang mengintainya, seolah pertemuan ini adalah awal dari akhir ketenangannya.

Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, menampilkan sebuah alamat titik temu di sudut terluar kota yang tampak sepi, asing, dan jauh dari pusat keramaian. Hana menggenggam ponsel pintar itu dengan teramat erat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba menguatkan hatinya yang bergetar hebat.

Sementara itu, di seberang jalan raya yang bising, Kael dan Teri masih sibuk di depan kasir toko, tertawa kecil bersama pelayan saat memilih ukuran gaun terbaik untuk hadiah Rani, sama sekali tidak menyadari bahwa dokter yang telah menyelamatkan nyawa mereka kini sedang melangkah pergi menuju titik bahaya.

Dan jauh di balik keramaian sudut kota yang temaram... seseorang dengan pakaian rapi tengah duduk tenang menunggu kedatangan Hana, menyunggingkan sebuah senyuman misterius yang sangat sulit diartikan di balik kegelapan. Roda takdir yang selama ini diam tersembunyi, kini telah resmi bergerak kembali memburu mereka semua.

Bersambung

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!