Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha mencari bantuan : 13
“Biasanya hal-hal gaib terjadi pada saat bulan suro, di mana batas dunia manusia dan alam gaib setipis kulit ari. Sangat mudah antara manusia dan makhluk tak kasat mata saling bersinggungan,” ucapnya tegas.
“Sekarang sudah hampir terlewati bulan suro, Nyi. Apa dimensi lain itu akan segera terbuka?” Laila berharap demikian. Tidak sanggup membayangkan bagaimana sang putri melalui semua ini.
“Bisa jadi, bisa juga tidak. Apabila mereka selamat melewati rintangan alam gaib, maka akan kembali ke dunia manusia, sebaliknya … terperangkap disana untuk selamanya.” Nyi Hyang mengibaskan selendangnya, seketika bara api menyala dalam tungku tanah liat, padam.
“Astaga.” Dia terhuyung, beruntung sang putri memeluknya dari belakang, kalau tidak pasti menabrak sisi batu.
Pramudya mendekati kedua wanita kesayangannya, merangkul mereka. “Ayah akan meminta bantuan ke penjaga hutan terlarang, siapa tahu beliau bisa terhubung dengan alam yang memerangkap Kanti.”
“Ibunya kak Sawitri? Ni Dasah?” Laila seperti merasakan angin sejuk di musim kemarau, sedikit memiliki harapan.
“Iya. Lusa, kakang ada kunjungan ke sana. Nanti tinggal gimana cari cara bertemu ni Dasah.” Ia mengecup pucuk kepala istri lalu putrinya.
Disini, keluarga Kanti berusaha mencari jalan keluar, sementara di tempat lain … kejanggalan terus menerus terjadi dengan intensitas lebih sering.
***
“Apa yang lu rasain, Mayang?” Ahwaya begitu senang melihat sahabatnya sudah sadarkan diri.
Namun, keanehan terjadi membuat semua orang terkejut bukan main.
Kala Mayang membuka mulut yang bibirnya terkatup – tidak ada suara keluar dari kerongkongan, hanya terdengar hembusan napas lewat hidung.
“Mayang?!” Abeer shock, di guncangnya bahu sang kekasih.
Netra Mayang membasah, tatapan pilu seolah lewat binar berair itu dia hendak menceritakan sebuah rahasia.
“Abeer, dia masih terkejut. Jangan kamu tambahi tekanan batinnya!” Kanti memperingati, ikut prihatin. Tidak lagi peduli pada sifat Mayang yang sering menghinanya setiap ada kesempatan.
Aji menuang air putih dalam ceret kecil ke dalam gelas, lalu meminta Abeer membantu Mayang agar duduk bersandar bantal.
“Bantu dia minum.” Gelas dalam genggaman diberikan ke Abeer.
Pelan-pelan Mayang meneguk air putih, belum juga tertelan masih masuk batas tenggorokan – tiba-tiba matanya mendelik, kedua tangan mencekik leher.
“MAYANG!” teriak mereka hampir bersamaan.
Ekspresi Mayang mirip orang menghadapi kematian, badannya bergetar, kepala menunduk, lalu di muntah darah segar di atas lantai semen.
Akhh!
Ahwaya menjerit sejadi-jadinya. Rasa takut membuatnya menjauhi sang sahabat, enggan mendekat.
Abeer pun sama, mundur teratur. Takut terkena muntahan darah, dan tidak lagi memandang penuh sorot hangat. Seolah cinta menggebu-gebu telah padam, tergantikan oleh kengerian.
Kanti maju tanpa ragu, berdiri di tepi tempat tidur, memijat tengkuk Mayang yang masih menunduk berusaha memuntahkan sesuatu, tapi tidak berhasil.
Beberapa saat kemudian, kondisi Mayang bertambah memprihatinkan. Cekungan matanya kian dalam, dan dia tetap tidak bisa berbicara. Gerakan bibir sangat sulit di tebak.
“Kamu lapar?” Kanti berusaha keras untuk menangkap sorot mata, bibir terbuka seolah memberi isyarat.
Mayang menggeleng lemah, tangannya meraba tenggorokan.
“Kerongkonganmu sakit, ya?”
Dia mengedip membuat air mata terjatuh. Mayang menatap lama netra hitam Kanti, jemari telunjuk tangan kirinya naik ke atas paha tertutup celana panjang. Bergerak sangat pelan, membentuk enam huruf ‘tolong.’
Kanti terbelalak, tapi cepat-cepat menetralkan ekspresi ketika mendengar langkah kaki tergesa-gesa masuk ke dalam kamar.
“Dia sudah sadar?” bu Sasmi bersama suaminya berdiri di bagian ujung ranjang, menatap penuh rasa iba pada gadis melototkan mata.
Perlahan Kanti mengikuti arah pandang Mayang, lalu bertemu tatap dengan sorot mata jauh dari kesan ramah.
“Apa yang dikatakannya? Ada bilang lapar tidak? Biar pak Aan bergegas manasi sayur lodeh,” bu Sasmi menyentuh lembut jemari kaki tertutup selimut.
Sambara menjelaskan dengan ekspresi bingung, ngeri. “Tadi kami memberinya air putih, tapi dia langsung muntah darah.”
Widi melirik lantai terdapat cairan merah pekat. “Hal yang lumrah setelah terkena cakar makhluk jadi-jadian. Sepertinya obat penawar dari mbah Munah mulai bereaksi.”
“Berarti memang seperti ini fase penyembuhannya?” tanya Aji.
“Benar. Hanya beberapa hari, setelahnya dia bisa kembali ceria,” timpal bu Sasmi.
“Mayang juga gak bisa berbicara, Bu. Apa itu wajar?” Aya mengajukan pertanyaan yang membuatnya takut sendiri.
“Racun makhluk astral sangat berbahaya, membuat peredaran darah tersumbat apabila tidak cepat-cepat ditangani, kehilangan kemampuan berkomunikasi, bahkan gagal mengeluarkan suaranya sendiri. Jadi, harap bersabar. Tak ada namanya pengobatan instan yang langsung sembuh,” Widi ikut menjelaskan.
“Lalu, bagaimana dengan asupan makanannya? Mayang tidak bisa minum, tentu juga kesulitan makan. Apa tidak berbahaya, sementara tubuhnya lemah butuh tenaga?” Kanti ikut berkomentar, jujur dia tidak sampai hati.
“Pada dasarnya manusia memiliki daya tahan tubuh dua sampai empat hari tanpa makan dan minum. Dalam kurun waktu itu, racun sudah keluar melalui keringat dan saluran kemih. Jadi, tidak perlu terlalu cemas. Yang harus kalian lakukan, terus menjaganya jangan sampai ditinggal seorang diri!” peringatan bu Sasmi, terasa seperti ancaman bagi Candra Kanti.
‘Apa kalian mengharapkan kami berdiam diri disini menunggu kebebasan, atau aslinya setiap waktu terlewati adalah menuju kematian?’ ia menangkap makna tersirat.
“Sebaiknya kalian istirahat, besok kondisi Mayang pasti jauh lebih baik.” Widi merangkul pundak istrinya, lalu menatap lama pada gadis menunduk dengan badan bergetar.
Sambara mengucapkan terima kasih, mengantar pasangan suami istri paruh baya keluar dari dalam kamar.
“Aji, tolong ambilkan air hangat dalam baskom, terus kalau ada handuk bersih. Biar ku lap badan Mayang, mungkin dia merasa gak nyaman.” Kanti duduk ditepi ranjang, jemarinya menjepit dagu terasa dingin.
Mayang mendongak, menatap penuh harap entah pada apa. Sedari tadi air matanya terus berguguran.
“Gapapa, kami akan menjagamu. Kamu pasti sembuh, dan kita nanti pulang bareng-bareng,” Kanti menghibur jiwa tengah gundah, termasuk dirinya sendiri.
Aji menyanggupi permintaan Kanti, dia pergi ke dapur hunian bu Sasmi, kebetulan ada pak Aan masih membersihkan peralatan makan yang kotor.
Sesudah air hangat didapat, Aji masuk ke kamarnya, mengambil sapu tangan bersih berbahan katun. Barulah kembali ke tempat Mayang.
Pakaian Mayang sudah diganti dengan baru. Kali ini dia mengenakan baju kaos dan celana longgar milik Candra Kanti yang dia pinjamkan.
Bercak darah di lantai pun sudah dibersihkan oleh Aji. Hanya dia dan Candra Kanti yang dapat diandalkan mengurus gadis seperti mayat hidup.
Ahwaya masih terpukul, tidak ada yang dia lakukan selain duduk bersandar pada dinding tembok sambil melamun.
Abeer dan Sambara tengah di teras mengisap tembakau linting pemberian Tejo.
“Kenapa?” Aji menyenggol lengan gadis tengah memperhatikan Mayang dengan ekspresi tidak biasa.
.
.
Bersambung.
lanjut Thor