NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 : Undangan ulang tahun

"A-Aku..."

Kalimat itu menggantung di udara.

Sementara Kelly dan Ruby masih menatapnya penuh rasa penasaran.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Lyko kembali tersenyum canggung. "Kalau kalian penasaran... nanti aku ajak berkunjung saja."

Keduanya langsung tersenyum senang.

"Serius?" tanya Kelly.

Lyko mengangguk. “Iya, tentu saja.”

Ruby terlihat senang, "tapi maaf Lyko, hari ini sepertinya aku tidak bisa."

Kelly juga langsung menghela napas panjang. "Ah benar... aku juga tidak bisa.”

Lyko berkedip. "Hm? Kenapa?”

Kelly menyandarkan dagunya di telapak tangan. "Aku masih harus kerja sambilan nanti sore, dan akan ada event disana, jadi mungkin minggu ini tidak bisa."

Ruby ikut mengangguk. "Aku juga harus membantu Ibu berjualan, dan membuat beberapa pesanan."

Mendengar itu, entah kenapa Lyko merasa lega. Namun ia berusaha tidak menunjukkannya. "Oh begitu, ” ia kemudian tersenyum hangat. "Tidak apa-apa teman-teman, aku mengerti."

Kelly langsung menunjuknya dengan garpu. "Tapi tenang saja, lain kali kami akan usahakan berkunjung.”

Ruby mengangguk serius. “Ya, itu benar!”

Lyko tertawa kecil. "Baiklah, baiklah."

Obrolan mereka kembali berlanjut.

Kelly yang terkenal paling berisik langsung mulai melontarkan berbagai lelucon recehnya.

“Hei aku punya pertanyaan," ucap Kelly yang tiba-tiba.

Lyko dan Ruby langsung menatap kearahnya. "Apa?"

“Ayam akan berkokok saat hari mau?” katanya sambil tersenyum sendiri.

Lyko menjawab, “saat hari mau pagi,” katanya.

“Hahahahah kamu salah.”

Ruby mengerutkan kening. “Lalu?”

“Ayam berkokok saat hari-mau mengaum, kan ayamnya ketakutan, hahahahah!”

Ruby langsung mengepalkan tangannya dan menutup mulutnya. “Astaga aku pikir apa, ahhaa,” Ruby pun ikut tertawa.

Lyko yang melihat tingkah mereka akhirnya ikut tertawa kecil sambil menutup mulutnya.

.

.

Tidak lama kemudian mereka selesai makan. Ketiganya terlihat akan mengembalikan nampan ke kantin dan mereka berniat membeli smoothie sebelum kembali ke kelas.

Namun saat memasuki area kantin dan menaruh nampan, suasana terlihat jauh lebih ramai dari biasanya.

Di tengah kerumunan terlihat ada Jenny, dan di sampingnya berdiri Meli dan Fania.

Ketiganya sedang membagikan sesuatu kepada para siswa.

Kelly langsung mendecih lalu melipat kedua tangannya. "Mulai deh nih si ratu pamer, pasti mau sok kaya lagi, cih.”

Di tangan Jenny terlihat tumpukan kartu undangan berwarna emas.

Setiap orang yang menerimanya langsung terlihat kagum.

Kelly memutar bola matanya lalu langsung hendak menarik tangan Lyko dan Ruby. "Sudahlah, ayo kita pergi."

Namun sebelum mereka sempat berbalik tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggil mereka.

"Hei kalian."

Suara Jenny terdengar dari belakang.

Ketiganya langsung berhenti. Jenny, Meli, dan Fania terlihat berjalan mendekat dengan wajah sombong ciri khas mereka.

Jenny terlihat memainkan rambutnya. "Lusa aku akan berulang tahun."

Fania kemudian menyerahkan tiga buah undangan kepada mereka.

Jenny melanjutkan. "Karena aku baik hati, jadi aku mengundang kalian."

"Acara akan diadakan di tempat yang sangat mewah, serta akan ada banyak tamu penting. Bahkan beberapa rekan bisnis Papa dari luar negeri juga hadir,” lanjutnya.

Ia lalu menatap mereka bertiga. "Jadi aku harap datanglah dengan pakaian yang bagus dan jangan sampai mempermalukanku."

Kelly menaikkan sebelah alis. "Omg. Aku tersentuh sekali... wow,” kata Kelly dengan nada yang tidak niat.

Sementara Ruby tampak membaca alamat yang tertulis di undangan.

Dan Kelly kembali mendengus. "Bilang saja mau pamer, kan simple."

Senyum Jenny langsung menghilang.

Meli terlihat kesal. "Hei Jenny memang orang kaya makanya dia mampu membuat pesta semewah ini, bilang saja kalian iri karena memang dasarnya kue kecil saja kalian tidak sanggup beli kan!”

Kelly langsung melangkah maju karena terbawa emosi. "Heh jaga mulutmu!”

Lyko dan Ruby langsung menahan Kelly.

"Sudah Kelly, sudah,” ujar Ruby.

Kelly masih terlihat sangat kesal.

Sementara Lyko menatap Jenny dengan tenang. "Terima kasih atas undangannya, Jenny, kami akan datang."

Jenny kemudian tersenyum tipis.

Lyko mengangguk sopan. Kemudian ia dan Ruby langsung menarik Kelly pergi dari sana.

Meli terlihat masih ingin berbicara namun Fania menahannya.

Sementara Jenny, sudut bibir Jenny perlahan terangkat. Sebuah senyuman licik terukir di wajahnya. Seolah ada sesuatu yang ia rencanakan.

***

Sesampainya di kelas.

Kelly masih tampak kesal dengan kedua temannya, “ha! Kalian ini, kenapa malah menarikku sih!” katanya sambil menjatuhkan tubuh ke kursi.

Ruby bersender di mejanya. "Kalau tadi kamu sampai ribut di kantin, yang rugi kita sendiri.”

Kelly mendecih. "Tapi mereka sudah keterlaluan tahu!” kata Kelly yang masih tidak terima.”

"Tapi Jenny pasti akan berpura-pura seolah ia menjadi korban, dan nanti akhirnya kita yang kena masalah,” lanjut Ruby.

Lyko ikut mengangguk. "Yang dikatakan Ruby benar, lebih baik kita jangan ceri masalah dengannya untuk saat ini.”

Kelly menghela napas panjang. Kemudian ia melempar undangan ulang tahun ke dalam tasnya.

Ruby kemudian kembali mengeluarkan suara. "Jadi... kita akan datang sungguhan ke pesta ulang tahun Jenny?"

Kelly langsung menjawab. "Mau tidak mau kota harus datang, kau dengar apa yang diucapkan Lyko kan?" katanya. “Lagipula kamu kenapa malah berkata seperti itu sih Lyko?” tanya Jelly pada Lyko.

Ruby mengangguk pelan.

Sedangkan Lyko hanya tersenyum canggung. “Aku juga tidak sengaja mengatakan itu, karena melihat Kelly yang marah aku jadi mengikuti kata yang ada diotakku saja,” katanya sambil menggaruk kepalanya sendiri.

Kelly dan Ruby langsung menepuk jidat mereka.

Kelly kembali berbicara, "otak dan hatimu itu kenapa tidak pernah sejalan sih?" katanya.

Lyko hanya mengedikkan bahu. "Heeheh, maaf..."

Kelly dan Ruby akhirnya tertawa pasrah. Karena itu memang benar-benar khas Lyko.

***

Sebuah kafe eksklusif di pusat kota.

Terlihat Xavier duduk dengan tenang di kursinya. Di hadapannya seorang pria paruh baya yang terlihat hampir putus asa.

Pria itu adalah kepala grup Agrasa, yaitu Arga Agrasa.

Sejak satu jam lalu ia berusaha menawar harga sewa sebuah lahan milik Xavier, namun hasilnya nihil.

"Apa... harganya tidak bisa diturunkan lagi, Tuan?" tanyanya.

Xavier menggeleng. "Harga 15 miliar sudah harga yang sangat rendah Tuan. Apalagi lokasi itu merupakan lahan terbesar yang saya miliki."

Pak Arga terlihat semakin tertekan. "Tapi putriku sangat menginginkannya Tuan, saya mohon."

Xavier tidak menjawab.

Dan pria itu kembali mencoba dengan semua yang bisa menjadi jaminan asalkan ia bisa membayar dengan harga yang mungkin bisa turun sedikit.

"Bagaimana kalau saya mencicil, Tuan? Atau... atau kalau saya tidak bisa membayar, Anda boleh mengambil saham keluarga Agrasa."

Felix yang berdiri di belakang Xavier bahkan hampir tertawa. Namun ia menahannya.

Sementara Xavier hanya terus menatap pria itu dingin. "Pak Arga.”

"Apa Anda pikir itu lelucon? Saya sudah memiliki saham yang nilainya lebih besar daripada seluruh saham keluarga Agrasa dalam waktu beberapa menit dan saham itu terlalu murah bagi saya."

Ruangan langsung hening.

Pak Arga tidak mampu membalas. Karena apa yang dikatakan Xavier adalah fakta. Pria muda di hadapannya memiliki kekayaan yang bahkan sulit dibayangkan.

Xavier kini langsung berdiri. "Saya masih memiliki urusan lain, Tuan. Saya permisi."

Kemudian ia berjalan pergi bersama Felix.

Meninggalkan Pak Arga yang terlihat terduduk lemas. Karena ia tahu jika gagal mendapatkan tempat itu istri dan putrinya pasti akan marah besar padanya.

***

Sementara di dalam kelas, terlihat para siswa sedang sibuk mengerjakan soal di papan tulis. Suara pulpen beradu di kelas.

Sampai akhirnya suara bel pulang pun berbunyi.

TRIINGGGG!!

Seluruh anak dikelas langsung terlihat senang.

"Tugas hari ini menjadi pekerjaan rumah, lalu dikumpulkan besok ya,” kata pak Dosen sambil merapihkan bukunya.

"Baik, Pak!"

“Kalian boleh pulang, hati-hati dijalan.”

“Baik!”

Setelah dosen pergi, semua siswa mulai merapikan barang mereka.

Lyko juga melakukan hal yang sama.

Sampai saat itu Kelly yang berada didepan mejanya membalikkan badannya ke belakang. "Hei nanti malam kita teleponan sambil mengerjakan tugas yuk."

Ruby uang ada dia di seberang Lylo langsung mengangguk. "Aku setuju, soalnya pasti akan kesulitan mengerjakan beberapa nomor di soal kali ini."

Lyko tersenyum. "Baiklah."

Kemudian mereka bertiga berjalan keluar kelas bersama.

Sepanjang perjalanan Kelly dan Ruby kembali berdebat soal hal yang sepele.

"Hei Ruby, kamu tuh benar-benar pendek sekali ya,” kata Kelly yang meledek.

Ruby langsung terlihat sangat kesal. “Kelly kamu ini! Aku tidak sependek itu tau!”

“Aku dan Lyko saja hampir sama, sedangkan kamu...? Lebih pendek dari kami, hahahaha!”

“Kelly! Jangan mengejek dong!”

Lyko hanya bisa tertawa melihat mereka.

Begitu sampai di halte depan kampus, perdebatan mereka masih belum selesai.

Akhirnya Lyko mengangkat tangan.

"Kelly, Ruby sudah hentikan,” ucap Lyko yang mampu membuat mereka berdua terdiam.

Lyko kemudian menatap kearah Kelly. "Kelly bukankah kamu harus kerja sembilan? Jangan sampai telat loh.”

Kelly langsung terdiam. "Astaga, hampir aku lupa,” katanya sambil memegang kepalanya. "Kalau begitu aku duluan ya teman-teman.”

Ruby mengangguk. “Sampai nanti!” katanya sambil melambaikan tangan.

Lyko tersenyum. "Hati-hati di jalan."

Kelly melambaikan tangan. Kemudian pergi meninggalkan halte.

Beberapa menit kemudian sebuah bus datang.

“Apa Lyko naik bus juga?" tanya Ruby padanya.

Lyko menggeleng. "Aku mau membeli sesuatu dulu, jadi kamu duluan saja aku mungkin pulang dengan bus selanjutnya.”

Ruby tersenyum dan mengangguk. "Oh begitu... baiklah kalau begitu aku duluan ya, sampai nanti malam.”

Lyko mengangguk. "Baik, hati-hati Ruby."

"Tentu, Lyko juga,” kata Ruby sebelum masuk ke dalam bus.

Tak lama kemudian bus itu pergi.

Kini tinggal Lyko seorang diri di halte. Angin sore berhembus pelan. Ia perlahan duduk di bangku halte sambil memainkan ponselnya.

Dalam hati ia mulai bertanya-tanya. Apa Bella yang akan menjemputnya? Atau mungkin Xavier?

Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.

Pintu terbuka dan terlihat Bella turun dari dalam sana.

Bella langsung membungkukkan badan. "Selamat siang, Nona.”

Lyko tersenyum dan berdiri. "Selamat siang, Bella.”

"Maaf Nona apakah anda menunggu lama?" tanya Bella yang tampak takut ia terlambat.

Lyko menggeleng. "Aku juga baru keluar ko, tenang saja."

Bella mengangguk. Kemudian membukakan pintu mobil untuknya. "Kalau begitu silahkan masuk, Nona"

"Baik."

Lyko kemudian masuk ke dalam mobil. Dan kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan area kampus.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!