JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Suasana ruko jastip yang tadinya mulai kondusif setelah "interogasi" mendadak dari Emilia, kembali berubah menjadi tegang saat lonceng di atas pintu kaca berdenting dengan suara yang cukup nyaring. Seseorang melangkah masuk dengan gaya angkuh, sepatu hak tinggi stiletto-nya beradu nyaring dengan lantai marmer, menciptakan irama yang terdengar mengintimidasi.
Anggun Permana, wanita dengan setelan blazer branded yang tampak sangat kontras di tengah tumpukan kardus ruko, berdiri di ambang pintu. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan dengan tatapan merendahkan, seolah sedang melihat tempat pembuangan sampah.
"Oh... jadi di sini tempat kamu 'magang' ya, Marco Permana?" desis Anggun, suaranya yang melengking khas wanita kelas atas bergema di seluruh ruangan.
Marco yang sedang sibuk melakban kardus di meja packing seketika membeku. Ia mendongak, dan begitu matanya menangkap sosok wanita yang paling ia benci di dunia ini, rahangnya langsung mengeras. Ia berdiri spontan, melangkah maju beberapa langkah untuk menghalangi akses Anggun menuju meja admin tempat Haura berada.
"Ada urusan apa Tante ke sini?" tanya Marco, suaranya sedingin es, penuh dengan kebencian yang tidak berusaha ia tutupi. "Mau bikin rusuh lagi? Belum puas lo bikin gue sama Papa berantem semalam sampai gue diusir? Masih kurang puas lo ngerusak hidup gue?"
Anggun tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat palsu dan penuh duri. Ia mengamati kuku-kukunya yang terawat sempurna, lalu menatap Marco dengan tatapan meremehkan. "Usir? Oh, jadi kamu merasa diusir ya? Kamu sendiri yang pergi kayak pengecut setelah membentak Mama kamu. Papa kamu sudah sangat kecewa dengan kelakuan kamu yang makin liar sejak bergaul sama orang-orang kelas bawah di sini."
Di meja admin, Haura yang tadinya sedang fokus memeriksa manifes pesanan di layar laptop, akhirnya menyadari keributan di depan. Ia mengangkat wajahnya, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Anggun berdiri di sana—wanita yang sempat ia sindir di pertemuan keluarga tempo hari.
Haura segera bangkit dari kursinya, merapikan blusnya, dan melangkah keluar dari meja admin dengan aura Boss Lady yang muncul secara otomatis.
"Mana bos kamu?" tanya Anggun tanpa memedulikan keberadaan Haura yang sudah berdiri beberapa meter di belakang Marco. "Katanya dia cewek yang bikin kamu sampai berani ngelawan keluarga sendiri. Saya mau lihat, sehebat apa sih sampai bisa bikin anak tiri saya yang keras kepala ini jadi babu di ruko kumuh ini."
Marco mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Tante, pergi sekarang atau gue panggil keamanan kompleks buat ngusir lo!"
"Kenapa? Kamu takut saya liat bos kamu yang ternyata cuma pedagang kecil-kecilan?" Anggun memajukan langkahnya, mendorong bahu Marco dengan kasar untuk menyingkir, namun Marco tidak bergeming sedikit pun.
Haura akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang tajam. "Saya bosnya. Ada yang bisa saya bantu, Nyonya Anggun Permana?"
Anggun menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, menatap Haura dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan yang menghina. Ia tersenyum miring, lalu berjalan mendekati Haura tanpa rasa takut sedikit pun.
"Oh, jadi kamu? Haura Widjaja?" Anggun mengangguk-angguk sinis. "Saya dengar banyak tentang kamu dari Andi. Wanita karier yang sukses di jastip, tapi sayangnya... kurang sukses dalam menarik perhatian pria normal sampai harus memungut anak tiri saya yang masih bau kencur ini."
Marco maju selangkah, hendak berteriak, namun Haura memberikan isyarat dengan tangannya agar Marco tetap di tempat. Haura menatap Anggun dengan tatapan mata yang sama tajamnya, tanpa sedikit pun gentar.
"Nyonya Anggun, saya rasa kedatangan Anda ke sini tidak memiliki urgensi bisnis apa pun," sahut Haura datar. "Tempat ini adalah area privat. Jika Anda hanya datang untuk menghina, saya sarankan Anda untuk segera meninggalkan ruko saya sebelum saya mengambil tindakan hukum atas pencemaran nama baik."
"Tindakan hukum?" Anggun meledak dalam tawa sinis. "Kamu pikir saya takut? Saya hanya ingin mengingatkan kamu, Haura. Kamu ini anak keluarga terpandang. Kalau keluarga Widjaja tahu kamu menjalin hubungan dengan bocah magang yang bahkan nggak punya masa depan ini, apa yang akan mereka katakan? Kamu sedang menghancurkan karier dan martabat kamu sendiri!"
"Masa depan saya bukan urusan Anda," potong Marco tajam, matanya berkilat penuh amarah. "Dan martabat keluarga saya atau keluarga Haura, tidak ditentukan oleh pandangan dangkal orang seperti Anda."
Anggun mendekat ke arah Haura, merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang sangat tajam. "Marco itu anak manja yang cuma tahu cara menghabiskan uang. Kamu mau jadi pengasuhnya selamanya? Jangan mimpi bisa mendapatkan restu dari keluarga Permana atau Widjaja kalau kamu tetap mempertahankan 'mainan' kotor ini."
Haura tersenyum, sebuah senyum tipis yang sangat tenang namun membuat Anggun merasa terintimidasi. "Nyonya Anggun, Anda bilang saya pedagang kecil. Tapi pedagang kecil ini yang membuat Anda repot-repot datang ke sini untuk memastikan posisi anak tiri Anda. Sepertinya, kehadiran saya memang sudah membuat Anda merasa sangat terancam, ya?"
Wajah Anggun memerah padam. "Kamu...!"
"Dan satu lagi," tambah Haura, melangkah lebih dekat ke arah Anggun hingga mereka hanya berjarak beberapa senti saja. "Marco bukan mainan. Dia adalah pria yang jauh lebih dewasa daripada siapa pun yang Anda kenal. Dan kalau Anda ingin dia kembali ke rumah, mungkin Anda seharusnya belajar bagaimana cara bersikap sebagai ibu, bukan sebagai ular yang selalu ingin mengadu domba anak dan ayahnya."
Suasana ruko mendadak sunyi senyap. Emilia, Arlo, dan Kevin yang tadinya sibuk bekerja, kini mematung di tempat. Anggun gemetar karena amarah yang memuncak. Ia mengangkat tangannya, berniat melayangkan tamparan, namun sebelum tangan itu mendarat, Marco sudah menangkap pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang kuat.
"Cukup, Tante," desis Marco, matanya menatap tajam ke arah mata Anggun yang kini dipenuhi rasa takut. "Jangan pernah berani menyentuh Haura. Kalau lo sampai berani menyentuhnya sekali lagi, gue nggak akan segan-segan ngelakuin hal yang jauh lebih parah daripada membentak lo."
Marco melepaskan tangan Anggun dengan kasar, membuat wanita itu terhuyung mundur.
"Kalian berdua akan menyesali ini," desis Anggun dengan suara bergetar karena emosi. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, menatap Haura dan Marco dengan kebencian yang mendalam. "Andi tidak akan tinggal diam. Dan kamu, Haura... jangan berpikir kamu bisa memenangkan permainan kotor ini."
Dengan langkah lebar yang masih menyisakan kemarahan, Anggun berbalik dan berjalan keluar dari ruko. Suara stiletto-nya yang membelah keheningan terdengar semakin menjauh hingga akhirnya hilang ditelan suara mesin mobil mewahnya yang menderu pergi.
Ruko kembali senyap. Haura menghela napas panjang, kakinya terasa lemas seketika. Ia mencoba tetap berdiri tegak, namun tangannya sedikit gemetar.
Marco segera membalikkan tubuhnya, menatap Haura dengan penuh rasa bersalah dan khawatir. "Ra... gue minta maaf. Gue nggak tahu dia bakal senekat ini."
Haura menatap Marco, lalu perlahan ia menyentuh pipi Marco yang masih lebam. Senyum tipis kembali terbit di bibirnya. "Nggak apa-apa, Marco. Sekarang kita tahu siapa musuh kita sebenarnya."
Haura menoleh ke arah Emilia, Arlo, dan Kevin yang masih terperangah. "Kalian semua... kembali bekerja! Sekarang!"
Meskipun suaranya tegas, ada rasa bangga di hati Haura melihat bagaimana Marco tadi melindunginya. Ya, permainan kotor keluarga Permana baru saja dimulai, dan Haura tahu, dia tidak akan membiarkan mereka menghancurkan hidupnya—atau hidup Marco—semudah itu.
***
semangattt