Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
POV: Nara
Pagi pertama setelah pernikahan itu terasa aneh.
Bukan karena ada cincin di jariku, bukan karena aku tidur di villa yang kemarin menjadi saksi sesuatu yang bahkan belum sempat kucerna sepenuhnya. Tapi karena aku bangun tanpa tahu harus merasa apa.Dev masih tertidur di sampingku, wajahnya tenang, damai. Seolah kemarin bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan mimpi yang ia tunggu sejak lama.
Aku menatap langit-langit kamar. "Istri?"
Kata itu menggantung di kepalaku, aku tidak merasa berbeda, tidak merasa lebih dicintai, tidak merasa lebih aman—Hanya… lebih terikat.
Perutku tiba-tiba terasa mual, aku menutup mulut dan bergegas ke kamar mandi, lututku hampir goyah ketika bersandar di wastafel. Aku memuntahkan cairan pahit, padahal belum ada yang kumakan. Mungkin karena kurang tidur atau mungkin karena stres.
Aku menatap pantulan diriku di cermin, mata sembab, kulit pucat, rambut kusut. Aku tidak terlihat seperti pengantin baru, aku terlihat seperti seseorang yang kehilangan sesuatu. Saat aku keluar dari kamar mandi, Dev sudah bangun, ia duduk di tepi ranjang, menatapku dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
“Tidak apa-apa,” jawabku cepat. "Mungkin hanya masuk angin."
Ia berdiri dan mendekat, tangannya menyentuh pipiku, lembut. "Kamu pucat."
“Aku baik-baik saja.”
Ia menatapku sedikit lebih lama, “kita pulang hari ini."
Aku hanya mengiyakan, tidak ada pelukan hangat, tidak ada tawa kecil seperti pasangan yang baru menikah, hanya percakapan datar yang terasa seperti formalitas. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar sesuatu—Aku tidak lagi berbicara padanya dengan nada yang sama.
Rumah itu terasa berbeda saat kami kembali. Dev masuk lebih dulu, membuka pintu seperti biasa, tapi aku melangkah masuk dengan perasaan asing. Ini rumahku, tapi tidak terasa seperti rumah. Dev meletakkan kunci mobil di meja dan menoleh padaku.
"Kamu capek?"
"Sedikit."
"Kamu istirahat dulu, aku akan memasak." Tangannya mengusap kepalaku.
Nada suaranya lembut, ia mencoba, aku tahu ia sedang mencoba memperbaikinya. Tapi ada sesuatu yang sudah berubah di dalam diriku. Sesuatu yang tidak bisa kembali hanya dengan sikap manis.
Aku masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang, tanganku tanpa sadar menyentuh cincin di jariku, logam itu terasa dingin. Aku menghela nafas panjang, memejamkan mataku, berharap ini semua hanyalah mimpi, tanpa sadar aku tertidur.
...***...
POV: Devandra
Setelah selesai memasak dibantu oleh bik Sumi, aku menuju ke kamar Nara, pintu kubuka dan aku melihatnya sedang tertidur di ranjang dengan kedua kaki yang masih menggantung di lantai. Aku melihatnya dari dekat. Maafkan aku Nara, jika tidak sengaja menyakitimu, gumamku.
Rambut panjangnya kubelai, seketika ia terbangun, melihatku.
"Dev?" suaranya serak.
"Ayo kita makan," kataku.
Ia bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu.
"Nara." Aku memotong langkahnya.
Ia hanya menolehku.
"Mulai sekarang kamu tidur di kamarku!"
Ia mengernyit, "tapi—"
Kalimatnya terhenti.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku... suka kamarku," katanya lirih sambil menunduk.
Mendengar itu aku menghela nafas, bangun dari dudukku. Meraih wajahnya agar melihatku. "Kita sudah suami istri, Nara. Tidur di kamar yang sama adalah hal yang wajar."
"Apa bedanya? Sebelum menikah pun, saat kita tidur di kamar yang berbeda, hubungan kita sudah seperti suami istri."
"Kali ini aku ingin tidur bersama mu, setiap waktu, setiap hari, aku selalu ingin bersamamu."
Ia terdiam.
"Saat aku bangun tidur, aku ingin melihatmu, aku ingin selalu melihatmu bahkan ketika kamu tidur." Aku menyingkap helai rambutnya yang tergerai. "Apa itu permintaan yang sulit?"
"Kamu selalu memintaku untuk ini dan itu, aku selalu menurut. Tapi untuk sebuah kamar..."
Aku tahu mungkin ia tidak bisa meninggalkan kamarnya.
"Dev... tolong, kali ini saja. Aku tidak bisa meninggalkan kamarku."
Aku menghela nafas berat, kenapa hal konyol semacam ini harus terasa berat dan malah diperdebatkan.
"Ayo makan."
Aku memilih tidak menjawab, di satu sisi aku sangat ingin lebih dekat dengannya, tapi di sisi lain aku merasa kasihan dengannya. Nara benar, dia selalu menuruti semua keinginanku, hingga aku tidak menyisakan satu keinginan yang mungkin ia pendam sejak lama.
...***...
POV: Nara
Dari semua masalah yang sudah kulalui, satu hal yang membuatku masih bisa bernafas dengan lega—kamarku. Aku tidak ingin berpindah kamar apalagi harus berbagi dengan Dev. Aku tahu itu terdengar aneh bagi pasangan suami istri, tapi semua ini demi kewarasanku. Setelah aku beberapa kali memohon padanya, akhirnya ia luluh dengan syarat—kapan pun ia membutuhkanku, aku harus bersedia masuk ke kamarnya.
Aku hanya memikirkan privasiku, seandainya aku harus selalu bersamanya. Bukan karena aku sedang menyembunyikan sesuatu, hanya saja selalu melihat dan berada lebih dekat dengan seseorang yang membuatku sakit—adalah penyiksaan yang paling menakutkan.
Aneh, padahal dia adalah suamiku.
Suatu siang, saat Dev sedang mandi setelah ia selesai dengan hasratnya—ponselku menyala. Notifikasi dari nomor tak dikenal, aku membuka pesan itu—Keanu.
"Nara, bisa kita bertemu sebentar? Ada hal penting."
Jantungku berdegup lebih cepat, aku menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup, aku membalas cepat. "Infokan lokasi dan jamnya."
Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.
"Studio tato."
Jantungku berdegup—studio tato, tempat yang penuh kenangan itu membuatku terasa sesak.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, aku tersentak dan buru-buru menghapus pesan itu. Dev keluar sambil mengeringkan rambutnya.
"Kamu lagi chat siapa?"
"Nggak siapa-siapa," jawabku cepat. "Aku mau kembali ke kamarku."
Aku segera keluar dari kamar Dev dengan dada yang terus berdegup karena takut.
Keesokan harinya, saat Dev ingin pamit untuk bekerja, aku menahan tangannya.
"Dev."
Ia menoleh.
"Hari ini aku ingin jalan-jalan keluar, boleh?" kataku dengan nada yang terdengar lembut. Kali ini aku harus meminta izin padanya, untuk menghindari masalah seperti waktu itu.
"Dengan siapa?" tanyanya dengan wajah datar.
"Sendiri, kamu pikir aku punya teman?"
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Entahlah, mungkin ke mal. Aku ingin membeli lipstik baru."
Ia tidak langsung menjawab, seolah sedang menimbang apakah aku diizinkan atau tidak.
"Oke kamu boleh pergi, tapi mungkin mulai besok setiap kamu ingin pergi, kamu tidak akan sendirian lagi," katanya.
Aku bingung, "kenapa begitu?"
"Aku berniat untuk memanggil Bagas lagi, agar kamu tidak lagi repot memesan taksi."
"Dev—" bibirku terhenti oleh jarinya.
"Agar aku tetap bisa mengawasi mu," lanjutnya, memotong kalimatku.
Aku hanya menghela nafas, semakin hari tingkahnya semakin tidak wajar. Rasanya seperti aku ini adalah tahanan yang selalu di awasi setiap saat.
Setelah akhirnya Dev benar-benar pergi, aku buru-buru menuju studio tato milik Leon. Studio itu tetap beroperasi walaupun Leon sudah tidak di sana, salah satu orang kepercayaannya mengelola studi itu.
Kakiku melangkah keluar dari mobil, mataku menyapu seluruh bangunan itu. Tiba-tiba bayangan tentang Leon menyambar begitu saja, aku menyentuh dadaku yang terasa sakit.
Aku mulai berjalan masuk, pintu kaca itu ku dorong perlahan. Di dalam ada beberapa pekerja yang tengah mengukir gambar pada bagian tubuh pelanggan. Aroma tinta yang dulu sering kuhirup, tidak lagi asing di hidungku. Justru itu adalah hal yang paling kuat untuk mengingatkanku pada Leon.
"Nara," panggil Keanu dari arah ruang santai.
Aku tersenyum melihatnya, ia mendekat mengacak rambutku.
"Selamat atas pernikahan mu."
Seketika senyumku hilang, "jangan katakan itu."
"Loh, kenapa? Bukannya senang sudah menikah dengan orang yang kamu cintai."
Aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menatapnya dengan tatapan yang mungkin terlihat menyedihkan.
"Nara... Apa kamu tidak bahagia?" tanya Keanu dengan wajah serius.
"Aku—" kalimatku terhenti, aku bingung harus mengatakan apa. "Oh iya, kamu mau membicarakan hal penting apa?" Akhirnya aku hanya mengalihkan pembicaraan.
Keanu tersenyum, "aku punya sesuatu buat kamu."
Ia menggandeng tanganku memasuki ruang santai, yang biasa menjadi tempat kami berkumpul dulu.
"Kamu siap?" tanyanya.
Aku terlihat bingung, tangannya membuka pintu perlahan. Mataku terbelalak, dadaku berpacu dengan cepat, rasanya seperti tidak percaya, aku berusaha menutup dan membuka mataku—memastikan bahwa apa yang aku lihat bukan halusinasi karena aku mulai gila.
Leon—dia berdiri di antara sofa abu.
"Leon?" tanyaku memastikan.
"Nara," suaranya terdengar berat.
Aku berlari dan memeluknya dengan erat, air mataku jatuh tanpa henti. "Ini beneran kamu kan?" ucapku.
Leon membalas pelukanku.