Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Tahu Rasa
Setelah beberapa saat, Lu Yansheng akhirnya sadar. Nyonya tua Wang yang setia menunggui putranya, sementara Shen Meiren baru datang lagi ketika pelayan mengatakan jenderal sudah sadar.
"Suamiku, akhirnya kamu sadar. Sebenarnya kamu minum berapa banyak?"
"Dari mana saja kamu? kenapa aku tidak melihatmu sejak tadi?" tanya nyonya tua Wang.
"Ibu, aku akan sedang hamil. Aku harus banyak menghirup udara segar. Aku ada di luar kamar!" jawab Shen Meiren.
Lu Yansheng hanya terdiam. Dia melihat ke arah perut Shen Meiren yang tidak terlalu besar. Mungkin sekarang sudah hamil 5 bulanan. Tapi memang belum begitu besar. Ingatannya tiba-tiba saja terbang, ke beberapa belas tahun yang lalu.
Waktu itu Mei Huarin hamil anak pertama mereka Lu Chengyan. Dan saat itu usia kehamilannya sudah lebih dari tujuh bulan. Namun karena Lu Yansheng terluka. Siang dan malam yang merawat Lu Yansheng adalah Mei Huarin sendiri. Dia masak bubur obat dari jam 3 pagi, memijat tangan dan kaki tanpa lelah padahal, perutnya sudah sangat besar dan mempersulitnya saat bergerak.
Namun Mei Huarin tak pernah mengeluh sedikitpun. Setiap masuk ke dalam kamar, dia selalu menunjukkan senyumnya.
Ketika jabatannya di pengadilan terancam. Mei Huarin sendiri pergi memohon pada Kaisar, bahkan menyumbangkan banyak sekali harta untuk kas negara. Asal Lu Yansheng bisa lebih lama beristirahat sampai sembuh dan pulih seperti sediakala.
Lu Yansheng tertunduk. Matanya berkaca-kaca, dia mengingat semua itu. Sekarang di depannya, wanita yang dulu sangat perhatian padanya ketika di perbatasan. Tiba-tiba saja menjadi sangat tidak perduli.
"Aku ingin makan bubur obat. Meiren, kamu mau buatkan untukku, kan?" hanya Lu Yansheng.
Sebenarnya dia tidak terlalu ingin makan makanan itu. Dia hanya ingin tahu, apakah Shen Meiren bersedia membuatkannya bubur yang harus masak lebih dari tiga jam lamanya itu.
Shen Meiren segera terkejut. Itu terlihat jelas di matanya.
Dia juga bukan tidak tahu bubur seperti apa itu.
"Suamiku, kalau kamu memang mau bubur obat. Aku akan minta pelayan di dapur membuatnya ya!"
"Kamu bisa membuatnya sendiri kan?" hanya Lu Yansheng menyela.
"Aduh suamiku, aku sedang hamil. Berdiri selama tiga jam, itu tidak akan baik untuk kesehatan anak kita. Aku akan bilang pada pelayan ya, tunggu sebentar!"
Dan Shen Meiren, segera menarik tangan Chuying setelah mengatakan semua itu. Keduanya langsung beranjak keluar, menuju ke arah dapur, untuk memerintahkan pelayan masak bubur obat itu.
"Nyonya, tuan benar-benar keterlaluan. Nyonya sedang hamil, bagaimana bisa harus berdiri berjam-jam mengaduk bubur?" tanya Chuying.
Majikan dan pelayan sungguh sama saja. Mau bagaimana lagi, bukankah orang yang dekat dengan penjual parfum juga bisa mencium aroma wanginya. Apalagi Chuying termasuk pelayan yang sangat suka menjilatt.
Nyonya tua Wang juga hanya bisa mendengus kesal. Kalau saja Shen Meiren tidak sedang hamil, mungkin dia sudah akan memberikan hukuman keluarga Lu pada wanita itu.
"Bagaimana keadaan mu, Yansheng? bagaimana bisa juga kamu sampai tidur di depan pintu samping kediaman Jinxi?" tanya wanita tua.
"Bu, aku tidak ingat. Aku semalam hanya minum beberapa botol arak. Tidak tahu kalau aku berjalan sampai disana"
Ya, yang namanya orang mabukk mana sadar apa yang sudah mereka lakukan. Lu Yansheng bahkan tidak ingat sama sekali, kalau dia memang sangat merindukan Mei Huarin, makanya bisa sampai berjalan ke arah kediaman Jinxi.
"Ya sudah, istirahat saja. Kalau buburnya sudah matang. Ibu akan datang untuk memastikan selir mu itu menyuapi mu. Dia sekarang benar-benar kurang ajar, cara bicaranya sungguh keterlaluan!" kata Nyonya tua Wang yang sebenarnya sejak tadi menahan diri untuk tidak mengadukan apa yang terjadi pada anaknya.
Tapi, karena sangat kesal. Nyonya tua Wang akhirnya mengatakan semua itu pada Lu Yansheng. Padahal sejak tadi menahan diri, karena khawatir kondisi Lu Yansheng menjadi semakin tidak baik.
Lu Yansheng hanya bisa terdiam. Ternyata memang bukan hanya dirinya saja yang merasa kalau Shen Meiren berubah.
"Bu, sabar ya. Meiren sedang hamil, mungkin saja emosinya tidak stabil!" kata itulah yang bisa dikatakan Lu Yansheng pada ibunya.
"Hahh, dulu Huarin juga hamil dua kali kan? mama ada dia tidak mengurus mu. Meski tidak terlalu baik pada ibu, tapi dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang kasar!"
Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut nyonya tua Wang. Akhirnya wanita yang sudah keriput disana sini itu sadar juga. Siapa yang selama ini selalu baik padanya. Meski selalu diwaspadai karena memang Mei Huarin lebih berkuasa daripada jenderal.
Apa yang dikatakan ibunya membuat Lu Yansheng terdiam. Dia sama sekali tidak baja membantah lagi, kenyataan nya memang seperti itu.
"Tuan, nyonya..."
Paman Tang, datang dengan terburu-buru ke dalam kamar itu.
"Ada apa paman Tang?" tanya nyonya tua Wang.
"Nyonya, pemilik penginapan tempat perdana menteri kerajaan Yuzhuan menginap datang. Mereka bilang, ada yang berkelahi! dan merusak barang-barang yang ada disana. Mereka minta tuan jenderal datang!"
Nyonya tua Wang merasa kepalanya jadi sangat sakit.
"Apalagi mereka itu?"
Lu Yansheng yang berdiri saja masih limbung, berusaha untuk turun dari tempat tidur.
"Panggil Du Guanzhi!" katanya.
Paman Tang segera menganggukkan kepalanya dan keluar memanggil Du Guanzhi.
Jenderal akhirnya meminta Du Guanzhi dan paman Tang datang ke penginapan. Karena memang dia masih sangat lemah dan belum bisa berjalan.
Sampai di penginapan, ternyata ada dua orang prajurit yang mabuk, dan merusak barang-barang. Kerugiannya sekitar 30 tael. Du Guanzhi tentu saja kembali ke kediaman jenderal untuk menyampaikan semua itu.
Dan mendengar laporan dari Du Guanzhi. Lu Yansheng semakin menekan kepalanya yang terasa begitu sakit.
"Uang lagi? uang lagi!" pekik Nyonya tua Wang.
Nyonya tua Wang sampai terduduk lemas di kursi.
"Dimana Meiren?" tanya Lu Yansheng pada Du Guanzhi.
"Tuan, aku lihat nyonya selir ada di penginapan. Dia sepertinya menemui ayahnya! dan kata pemilik penginapan, nyonya selir yang menyuruhnya datang minta ganti rugi pada jenderal!" ujar Du Guanzhi.
Lu Yansheng mengepalkan tangannya. Dia sungguh tidak mengerti dengan Shen Meiren. Dia sendiri ada di penginapan itu, tapi kenapa bukannya menyelesaikan masalah dengan pemilik penginapan. Malah menyuruh pemilik penginapan datang ke kediaman jenderal. Apa dia tidak merasa kalau dia juga sudah menjadi anggota keluarga jenderal sekarang? benar-benar membuat sakit kepala.
***
Bersambung...