Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Kopi Susu, Gunting Kain, dan Tamu yang Terlalu Ramah
"Gua bilang juga apa, Rei! Hati es lu itu bukan cuma mencair, tapi sudah menguap habis digulung sama Abang Mobil Listrik!"
Suara tawa Sherly melengking nyaring, memecah kesunyian ruang kerja butik pribadinya di kawasan Senopati sore itu. Di sekeliling mereka, gulungan kain sutra, manekin bergaun malam yang setengah jadi, dan potongan pola baju tampak berantakan di atas meja kayu panjang. Setelah ketegangan menghadapi Kakek Adrian di rumah batu Menteng tadi siang, Kirei memutuskan untuk melarikan diri sejenak dari dokumen kantor demi meluruskan pikirannya yang terasa mau pecah. Seluruh badannya lelah setelah berjam-jam mempertahankan argumen demi martabat Zhaklyn Mobile.
Kirei duduk selonjoran dengan santai di atas karpet bulu tebal, menyandarkan punggungnya di kaki sofa merah muda sambil memegang segelas es kopi susu gula aren pesanan ojek online. Pakaian blazernya sudah dilepas dan disampirkan di sandaran kursi, menyisakan kemeja tenun ikat biru indigo yang lengannya digulung asal sampai ke siku. Pipi cantiknya mendadak merona merah, membuat wajah tegasnya yang biasa kaku kini kelihatan sangat membumi dan manusiawi sore ini. Gelas plastik di tangannya berembun, beradu dengan hawa sejuk dari pendingin ruangan butik yang tenang.
"Diam, Sher. Gua cuma meletakkan fakta bisnis di depan kakeknya, tidak ada hubungannya sama perasaan," ketus Kirei, mencoba membela sisa-sisa gengsinya walaupun dia tahu senyuman bangga Vaxerion di labirin taman tadi sore masih membekas jelas di benaknya. Jemarinya memainkan sedotan plastik, memutar es batu di dalam gelas demi mengalihkan rasa salah tingkah yang makin merambat naik ke lehernya.
"Fakta bisnis pala lu peyang!" Sherly melempar segumpal kain perca tepat ke arah Kirei sambil terkekeh geli. "Kalau cuma urusan bisnis, ngapain si Vaxerion pakai acara melesat nekat dari pabrik cuma buat pasang badan di depan kakeknya? Itu namanya cinta, Nona CEO! Lu aja yang gengsinya setinggi langit! Coba lihat muka lu sekarang di cermin, merahnya udah kayak udang rebus!"
Kring.
Suara lonceng di atas pintu masuk butik berdentang pelan, memotong candaan santai mereka. Sherly mengira itu adalah kurir bahan sutra pesanannya, maka dia langsung berteriak tanpa menoleh dari meja guntingnya. "Masuk aja, Mas! Taruh di atas meja konter depan ya!"
"Maaf, saya bukan kurir bahan, tapi saya bawa sesuatu yang jauh lebih manis dari sutra."
Sebuah suara bariton yang terdengar renyah, ringan, dan penuh percaya diri bergema dari arah pintu. Kirei langsung menoleh cepat. Di ambang pintu butik, berdiri seorang pria muda bertubuh tinggi tegap yang mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda dengan lengan yang digulung rapi hingga memperlihatkan jam tangan kronograf berbahan titanium yang berkelas.
Devan Atmadja.
Pria berusia dua puluh delapan tahun itu memiliki garis wajah yang ramah, sepasang mata jernih yang selalu kelihatan tersenyum, dan potongan rambut modern yang rapi. Devan adalah pemilik Atmadja Capital, raksasa pendanaan teknologi yang namanya sedang naik daun di Asia. Berbeda total dengan aura Vaxerion yang berat, dingin, dan kaku, Devan membawa atmosfer yang hangat, santai, namun tetap memancarkan karisma pengusaha sukses yang disegani di bursa efek. Langkah kakinya terdengar ringan saat melintasi lantai kayu butik.
Di tangan kanannya, Devan menenteng dua kotak kardus besar berisi donat premium berlumur cokelat. Matanya yang cerdas langsung mengunci sosok Kirei yang sedang duduk lesehan di atas karpet. Bukannya merasa canggung melihat penampilan kasual sang CEO Zhaklyn Mobile, Devan justru mengulas senyuman lebar yang sangat tampan, memperlihatkan lesung pipit tipis di pipinya.
"Nona Kirei Zhaklyn," Devan melangkah masuk dengan gaya santai yang tidak dibuat-buat, meletakkan kotak donat itu di atas meja kopi marmer di depan Kirei. "Saya sudah mencari Anda ke lantai empat puluh lima Vancort Tower, dan sekretaris Anda bilang Anda sedang melarikan diri ke sini. Ternyata rumor itu benar, Anda kelihatan jauh lebih memikat saat sedang memegang es kopi susu daripada saat memegang grafik penjualan ponsel."
Kirei langsung meletakkan gelas plastiknya, bangkit berdiri dengan gerakan anggun untuk mengembalikan wibawa profesionalnya yang sempat runtuh. Dia merapikan sedikit lipatan kemeja tenunnya, menatap lurus pria di depannya. "Tuan Devan Atmadja. Saya tidak menyangka pemilik Atmadja Capital punya hobi melacak mitra bisnisnya sampai ke butik baju."
Devan tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar jujur tanpa ada maksud bisnis yang rumit. Dia menatap Kirei dengan pandangan mata penuh kekaguman yang jelas dan terang-terangan—sejenis tatapan mengejar dari seorang pria yang tahu apa yang dia inginkan. Dia tidak segan memperlihatkan ketertarikannya pada kecantikan dan kecerdasan Kirei.
"Saya tidak sedang melacak mitra bisnis, Kirei. Saya sedang mengejar wanita paling cerdas di kota ini," jawab Devan blak-blakan dengan nada bercanda namun matanya menyiratkan keseriusan. Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak dengan gaya ramahnya yang tidak memaksa, membiarkan auranya yang bersahabat memenuhi ruangan. "Saya dengar Zhaklyn Mobile sedang butuh ekspansi jaringan peladen cadangan untuk persiapan Gala Dinner bulan depan. Dan siang ini, saya ke sini membawa proposal investasi tanpa syarat senilai ratusan miliaran rupiah. Saya cuma butuh waktu makan malam Anda sebagai imbalannya. Bagaimana? Penawaran yang cukup adil, kan?"
Sherly yang berdiri di belakang meja potong langsung menahan napasnya, matanya membelalak lebar melirik Kirei lalu beralih menatap ketampanan Devan. Kotak donat di atas meja marmer seolah menjadi saksi bahwa skenario hidup Kirei mendadak kedatangan badai baru yang sangat seru. Devan datang bukan sebagai musuh, melainkan sebagai pria kedua yang tangguh, cerdas, dan nekat menantang dominasi Vaxerion Mahendra demi mendapatkan hati sang Ratu Es Jakarta.