"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: INTELIJEN DI BALIK RAK BUKU KELILING
Pagi menyapa Kota Batu dengan kabut yang menyelinap di antara sela-sela ruko tua.
Arka tidak membuka tokonya seperti biasa. Ia justru sedang sibuk memodifikasi sebuah sepeda ontel tua peninggalan almarhum ayahnya.
Di bagian belakang sepeda itu, ia memasang dua kotak kayu besar yang diisi dengan berbagai macam buku, mulai dari komik bekas, majalah otomotif, hingga buku-buku agama saku.
"Kau benar-benar akan keliling pasar dengan sepeda ini?" tanya Reyna sambil menyerahkan sebuah botol minum berisi air putih yang sudah didoakan. "Tubuhmu masih memar karena perkelahian semalam, Arka."
KREEEKKK...
Arka mencoba mengayuh sepedanya di depan toko. Otot paha dan punggungnya berdenyut nyeri. Belenggu tujuh segel itu benar-benar membuat tubuhnya terasa seperti memikul beban beton.
"Dafa butuh suasana baru, dan aku butuh telinga di pasar," jawab Arka singkat. Ia menoleh ke arah Dafa yang sudah duduk manis di boncengan depan yang dimodifikasi khusus. "Siap berangkat, Jagoan?"
"Siap, Papa! Ayo jualan buku!" seru Dafa kegirangan.
Reyna hanya bisa menghela napas, menatap punggung Arka yang menjauh. Ia tahu, di balik penyamaran sederhana itu, Arka sedang memetakan struktur kekuasaan Lembah Hitam.
BREEEMMM! TIN! TIN!
Pasar Besar Batu adalah jantung ekonomi lokal yang riuh. Di sini, ribuan orang bertransaksi setiap pagi. Namun, di balik keriuhan itu, ada ketakutan yang mengendap.
Arka memarkir sepedanya di dekat kios sayuran, tempat yang paling strategis untuk mendengar bisik-bisik warga.
"Buku, Mas? Buku, Mbak? Murah saja, lima ribu dapat tiga!" seru Arka dengan suara yang sengaja dibuat cempreng dan medok khas pedagang kecil.
Seorang ibu pedagang sayur mendekat, memilih beberapa majalah resep masakan. SRET... "Masnya baru ya di sini? Kok nggak pernah kelihatan?"
"Iya, Bu. Saya baru pindahan dari pinggiran. Mencoba peruntungan di pasar," jawab Arka sambil memberikan kembalian. "Pasarnya ramai ya, Bu. Tapi kok kelihatannya banyak penjaga berjaket hitam di pojokan sana?"
Ibu itu langsung menaruh telunjuk di bibirnya, wajahnya berubah pucat. "Ssttt! HUSS!" Ibu itu pucat. "Jangan keras-keras, Mas. Itu orang-orangnya Tuan Jagad. Mereka itu 'setan pasar'."
"Tiap pedagang di sini harus bayar 'uang lapak' lima puluh ribu per hari. Kalau nggak bayar, dagangannya diacak-acak atau... ya begitu, diculik."
Arka pura-pura terkejut. "Lho, bukannya ada polisi, Bu?"
"Polisi?" Ibu itu tertawa hambar. "Polisi cuma datang kalau ada kecelakaan. Kalau urusan Tuan Jagad, mereka tutup mata."
"Kabarnya, separuh gaji pejabat di kota ini asalnya dari kantong Tuan Jagad. Masnya mending hati-hati, jangan jualan di sini terlalu lama kalau belum lapor ke 'pos' mereka."
Arka mengangguk paham. Ia terus berkeliling, berpindah dari satu sudut ke sudut lain. Melalui interaksi kecil itu, Arka mulai menyusun puzzle intelijen di kepalanya:
Pos 1 (Terminal): Tempat pengumpulan setoran angkutan umum.
Pos 2 (Los Daging): Tempat eksekusi bagi mereka yang berhutang pada rentenir Lembah Hitam.
Gudang Dingin, tempat penyimpanan barang-barang ilegal yang masuk lewat jalur laut dan dibawa ke darat secara rahasia.
Saat Arka sedang memberikan buku mewarnai pada seorang anak kecil, tiba-tiba bayangan besar menutupi sepedanya. DUM!
Tiga orang pria berwajah sangar dengan rompi kulit penuh paku berdiri di depannya. Salah satunya adalah anak buah Suro Bledeg yang kemarin hidungnya dihantam Arka.
"Wah, wah... lihat siapa ini. Si tukang buku ternyata nyari penyakit sampai ke pasar," ucap pria itu, yang dipanggil Kancil, meski badannya sama sekali tidak kecil.
Arka mendongak, wajahnya dipasang ekspresi ketakutan yang sangat meyakinkan. "Eh, Mas... maaf, saya cuma cari sesuap nasi buat anak saya."
BRAAAKKK!
Kancil menendang ban sepeda Arka hingga oleng. "Cari nasi atau cari informasi? Lu pikir gue nggak tahu lu nanya-nanya soal Tuan Jagad ke ibu-ibu sayur tadi?"
Dafa mulai ketakutan dan memegang erat kaos Arka. Arka merasakan denyut amarah di jantungnya, tapi ia segera menekannya. Ia harus tetap di bawah radar.
"Saya cuma nanya kenapa pasarnya aman sekali, Mas. Ternyata karena ada Mas-mas ganteng ini yang jaga," ucap Arka dengan nada menjilat.
HUA-HA-HA!
Kancil tertawa sombong, menoleh ke teman-temannya. "Denger tuh? Dia bilang kita ganteng. Hahaha!" Kancil kemudian merampas tas pinggang Arka yang berisi uang hasil jualan pagi itu. SREEEET!
Ini uang pendaftaran lapak. Besok, kalau lu jualan lagi di sini, bayarnya dua kali lipat. Paham?!"
Arka menunduk dalam, tangannya mengepal di bawah kotak buku. KRETEK! (Suara buku jari Arka)
Sabar, Arka. Satu persen kekuatanmu bisa menghancurkan tengkorak orang ini, tapi itu akan membongkar penyamaranmu sebelum mencapai Tuan Jagad.
"I-iya, Mas. Paham," jawab Arka lirih.
Setelah para preman itu pergi dengan tertawa puas, Arka menarik napas panjang. Ia mengusap kepala Dafa. "Nggak apa-apa, Dafa. Uang bisa dicari lagi."
Namun, di dalam pikiran Arka, ia sedang menghitung koordinat. Ia baru saja menempelkan sebuah stiker pelacak mikro (teknologi milik Wironegoro yang ia simpan di saku) ke bagian belakang rompi kulit Kancil saat ia pura-pura memohon tadi.
Sore harinya, Arka kembali ke toko. Ia tidak terlihat seperti pemenang. Bajunya kotor oleh debu pasar dan wajahnya tampak kuyu.
Namun, begitu masuk ke ruang belakang, ia segera menghidupkan laptop tua yang sudah dimodifikasi. BIP... BIP...
Di layar, sebuah titik merah bergerak menuju arah utara, masuk ke sebuah wilayah perkebunan apel yang terisolasi di lereng Gunung Banyak.
"Itu markas besar Lembah Hitam," ucap Reyna yang muncul membawa handuk hangat. "Villa 'Kusuma Hayu'. Tempat itu milik Adiningrat, tapi sekarang sudah berpindah tangan secara ghaib ke Tuan Jagad."
"Dia ada di sana," ucap Arka, matanya menatap tajam ke layar. "Dan pelacak itu menunjukkan getaran frekuensi yang aneh. Bukan frekuensi elektronik, tapi frekuensi logam kuno. Keris itu... Kiai Setan Kober, benar-benar ada di sana."
"Kau akan ke sana malam ini?" tanya Reyna.
Arka berdiri, melepas kaos kusamnya. SREEEET. Terlihat punggungnya yang penuh bekas latihan beban berat tadi malam.
"Belum. Fisikku belum siap menghadapi keris sesepuh itu dengan kondisi 1%. Aku butuh meningkatkan sirkulasi darahku agar segel pertama, Segel Bumi bisa terbuka setidaknya 5%."
"Caranya?"
Arka menunjuk ke arah tumpukan kayu jati besar di halaman belakang toko. "Aku akan membelah kayu-kayu itu secara manual. Tanpa kapak. Hanya menggunakan sisi telapak tangan."
Malam itu, di bawah sinar bulan purnama yang pucat, pemandangan luar biasa terjadi di halaman belakang Pustaka Senyap.
Arka berdiri di depan balok kayu jati setebal 30 sentimeter. Ia menarik napas dalam, memfokuskan seluruh sisa energinya ke ujung telapak tangan kanannya. FIIIUUUUU...
HUK!
Pukulan pertama tumpul. Tangan Arka membiru. CESS... Darah mulai menetes.
"Lagi!"
HUK! HUK! HUK!
Ia terus memukul kayu itu selama berjam-jam. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah tulang tangannya remuk. Namun, perlahan-lahan, rasa sakit itu berubah menjadi panas yang membara.
Di punggung Arka, tato Segel Bumi mulai berpendar cokelat redup, mencoba menembus belenggu hitam yang mengikatnya.
Setiap pukulan Arka adalah bentuk meditasi fisik. Ia sedang menghancurkan batas kemanusiaannya agar bisa menampung kembali kekuatan dewanya.
Tepat pada pukulan ke-1.000, suara ledakan kecil terjadi.
PRAKKKKKK!!!
Balok kayu jati itu terbelah menjadi dua bagian sempurna. Bukan karena kekuatan otot semata, tapi karena setetes kecil energi Bumi berhasil merembes keluar dari segelnya.
Arka terjatuh lemas, tangannya hancur dan berdarah-darah, tapi matanya memancarkan kepuasan.
Level Up: Segel Bumi Terbuka 5%.
***
Di Villa Kusuma Hayu, Tuan Jagad sedang duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, Kancil sedang melapor sambil menyerahkan uang yang ia rampas dari Arka.
"Ini uang dari tukang buku itu, Tuan. Orangnya penakut, gemeteran pas saya tendang bannya," lapor Kancil bangga.
Tuan Jagad mengambil lembaran uang lima ribuan yang kumal itu. Ia mencium aromanya. Tiba-tiba, mata Jagad membelalak. Ia mencium aroma yang sangat langka, aroma tanah basah yang bercampur dengan hawa murni pegunungan.
"Bodoh!" DUAK! teriak Jagad, ia melempar uang itu ke wajah Kancil.
"A-ada apa, Tuan?"
"Uang ini bukan uang biasa! Ini uang yang sudah tersentuh oleh seseorang dengan energi Manunggal!" Jagad segera mencabut keris Kiai Setan Kober dari warangkanya. SREEEEET!
Keris itu mendesis, mengeluarkan asap tipis berwarna merah darah. "Kalian membawa pelacak ghaib ke sini! Tukang buku itu... dia bukan manusia biasa. Dia sedang mempermainkan kita!"
DRRRRRRR...
Jagad menatap ke arah kerisnya yang bergetar hebat. "Dia akan datang. Dan saat dia datang, aku ingin kalian siapkan 'Pasukan Bayangan'. Kita akan lihat, apakah kekuatannya cukup untuk melawan kutukan tujuh turunan keris ini."
Di kejauhan, di toko bukunya, Arka Nirwana sedang membalut tangannya dengan kain perban. Ia menatap ke arah lereng gunung.
Besok, penyamarannya mungkin akan berakhir, dan "Mas Arka" akan menunjukkan pada dunia bawah tanah Kota Batu, bahwa meskipun hanya dengan 5% kekuatan, sang Satria Piningit tetaplah penguasa takdir yang tak bisa dibeli.
***
Dukung Perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.