Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta, Luka, dan Pengakuan 10 jam
Malam itu, Grand Ballroom hotel bintang lima di pusat Jakarta berubah menjadi panggung kemewahan yang menyesakkan. Cahaya lampu gantung kristal memantul pada setiap sudut ruangan, namun semua kemilau itu seolah meredup saat pintu besar aula terbuka.
Arselan Dirgantara melangkah masuk dengan wibawa yang mengintimidasi. Ia mengenakan tuxedo hitam dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang sangat rapi. Jasnya memiliki detail lining berwarna merah marun gelap senada dengan gaun yang dikenakan wanita di lengannya. Arsel tampak seperti pangeran dari negeri dongeng, namun dengan tatapan mata elang yang tetap dingin.
Di sampingnya, Gisella menjelma menjadi pusat semesta. Gaun pemberian Nyonya Widya membalut tubuhnya dengan sempurna. Potongannya simpel namun elegan, mengikuti setiap lekuk tubuh "gitar Spanyol"-nya yang mematikan. Warna merah marun itu membuat kulit putih Gisel tampak bersinar. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai lembut di tengkuk. Ia tidak terlihat seperti sekretaris; ia terlihat seperti model papan atas yang sedang menghadiri red carpet.
Bisik-bisik mulai menjalar di antara para tamu. "Siapa wanita itu?", "Apakah itu kekasih baru si kaku Arselan?".
Saat mereka berjalan menuju pelaminan, langkah mereka dihentikan oleh seorang pria. Dia adalah Dani, pria yang menjadi alasan hancurnya hati Arsel si selingkuhan yang kini menjadi pengantin pria Nabila.
Dani, yang mengenakan setelan pengantin putih, bukannya fokus pada hari bahagianya, malah menatap Gisel tanpa kedip. Matanya memindai tubuh Gisel dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan lapar yang tidak sopan.
Gisel yang merasa risih dengan tatapan predator itu langsung merapatkan tubuhnya pada Arsel. Ia melingkarkan tangannya dengan sangat erat pada lengan Arsel, mencari perlindungan sekaligus menunjukkan kepemilikan.
"Gimana kabarnya, Pak Arsel?" sapa Dani dengan nada meremehkan, matanya masih melirik Gisel. "Ternyata sudah punya gandengan baru nih. Cantik juga, jauh lebih segar dibanding Nabila."
Arsel hanya menatap Dani dengan pandangan datar yang mematikan. "Kabar saya selalu baik, Dani. Selamat atas pernikahanmu."
Dani tertawa sinis, ia sengaja ingin memancing amarah Arsel di depan umum. "Kamu tahu kan kenapa Nabila lebih milih selingkuh sama aku? Itu karena kamu... yah, kamu tahu sendiri. Kamu pria yang membosankan dan mungkin 'kurang memuaskan' di ranjang. Nabila bilang kamu itu kaku kayak kayu."
Wajah Arsel mengeras. Rahangnya mengatup rapat, dan tangannya mengepal di balik saku jas. Namun, sebelum Arsel sempat membalas, Gisel sudah mengambil langkah maju. Sifat ceriwis dan agresifnya meledak demi membela harga diri pria yang mulai ia cintai itu.
"Kurang memuaskan?" Gisel tertawa renyah, tawa yang penuh dengan nada ejekan yang sangat menyakitkan bagi telinga Dani.
Gisel menatap Dani dengan pandangan menghina, lalu ia menoleh ke arah Arsel dengan tatapan manja yang dibuat-buat.
"Duh, Mas Dani... jangan sembarangan bicara kalau nggak tahu faktanya. Mas Arsel ini, kalau sudah di kamar, bisa jadi singa yang sangat lapar," ujar Gisel dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh tamu di sekitar mereka.
Arsel tersentak, ia menoleh ke arah Gisel dengan mata membelalak. 'Apa yang anak ini katakan?' batinnya.
"Maksudmu?" tanya Dani, wajahnya mulai memerah karena merasa terhina.
Gisel menyandarkan kepalanya di bahu Arsel, tangannya mengelus dada bidang sang bos dengan gerakan menggoda. "Asal Mas Dani tahu ya, semalam saja Mas Arsel 'bermain' sama saya 10 jam nonstop tanpa henti. Sampai-sampai pagi ini saya hampir nggak bisa jalan karena lemas dibuatnya. Jadi, kata siapa dia nggak memuaskan?"
"Gila!"Arsel nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Sepuluh jam? Gisel benar-benar ngarang terlalu jauh! Melakukan 'itu' saja kami belum pernah!" Namun, Arsel tetap memasang wajah datar, mencoba menjaga martabatnya meski di dalam hati ia sangat syok.
Gisel belum selesai. Ia menoleh ke arah pelaminan di mana Nabila berdiri menatap mereka dengan wajah pucat dan marah.
"Hmm, mungkin... istri Mas-nya saja yang kurang memuaskan bagi kekasih saya ini, makanya Mas Arsel dulu kelihatan nggak semangat. Bedalah kalau mainnya sama saya yang berkualitas," tambah Gisel sambil tersenyum penuh kemenangan.
Dani terdiam seribu bahasa. Wajahnya merah padam karena malu. Ia tidak menyangka wanita secantik Gisel akan bicara sevulgar dan seberani itu di depan umum demi membela Arsel.
"Ayo, Sayang. Kita ke sana, aku haus setelah 'olahraga' panjang kita tadi malam," ajak Gisel sambil menarik Arsel menjauh dari Dani yang masih mematung.
Setelah agak jauh dari kerumunan, Arsel langsung menarik Gisel ke sudut ruangan yang agak sepi. Ia menatap Gisel dengan tatapan yang sangat tajam, namun ada sedikit kilat keheranan di sana.
"Sepuluh jam, Gisella? Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu?" desis Arsel dengan suara rendah yang mengancam.
Gisel hanya nyengir tanpa rasa bersalah. "Habisnya dia nyebelin banget, Pak! Masa Bapak dikatain nggak memuaskan? Saya kan nggak terima. Jadi saya kasih aja bumbu sedikit supaya dia tahu rasa."
"Sedikit bumbu? Kamu bilang saya main sepuluh jam! Sekarang semua orang di ruangan ini akan menganggap saya monster!" Arsel memijat pelipisnya, merasa pusing dengan tingkah sekretarisnya yang ajaib ini.
"Yah, mending dianggap monster daripada dianggap nggak normal atau nggak bisa memuaskan, kan?" Gisel menaikkan alisnya, menantang Arsel.
Arsel menatap Gisel dalam-dalam. Di balik kejengkelannya, ada rasa hangat yang menyelinap. Tidak ada wanita yang pernah membelanya segarang ini. Arsel mendekat, membuat Gisel terdesak ke pilar marmer.
"Lain kali, kalau mau berbohong, pastikan kamu sanggup menanggung konsekuensinya kalau saya benar-benar membuktikan kata-katamu itu, Gisella," bisik Arsel tepat di depan bibir Gisel.
Gisel terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan tantangan dalam suara Arsel. Permainan ini benar-benar semakin panas, dan Gisel tidak tahu apakah ia sudah siap jika Arsel benar-benar menagih "janji 10 jam" itu di dunia nyata.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏