NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

"Sebenarnya aku melakukan itu karena ingin melindungi mu. Naya adalah adik kesayangannya Ratna, si ketua panti. Siapapun yang melukai adiknya, apalagi sampai yang parah banget, dia tidak akan tinggal diam." Ucap Alfian serius dan tegas. Namun tampak jelas bahwa ada rasa takut dan khawatir dalam dirinya.

 "Dia bukan orang sembarangan, jajarannya juga orang-orang yang berpengaruh dan berbahaya. Aku tidak ingin melihatmu menjadi titik dendamnya. Saat ini kekuatan kita belum terlalu kuat, kita hanya bisa melawan mereka dengan kecerdikan, bukan kekuatan."

" Beneran?"

Matanya terlihat sendu dan seakan ingin menangis, ia tak menyangka alasannya itu sangat mulia dan tulus.

Kayla tertawa kecil, ia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak di dengar oleh Alfian. Dia tertawa karena air matanya yang keluar kemarin sangat sia-sia. Kalau saja dia mau mendengar penjelasan Alfian kemarin, mungkin stok air matanya tidak akan menipis.

Sialan! Kayla merutuki kebodohannya dalam hati.

"Kay! Boleh peluk sebentar? Rasanya aku tidak akan bertahan lagi, tubuhku sangat ingin energi." Ucap Alfian dramatis, ia membuka kedua tangannya menunggu Kayla masuk ke pelukannya.

Kayla mendekat, dia membuka kedua tangannya lebar-lebar. Saat tubuhnya tinggal beberapa inci dari tubuhnya Alfian, ia segera memeluknya erat, seakan tak ingin terpisahkan lagi. Dunianya yang hancur kini telah direnovasi dengan berbagai alat moderen,.menjadikannya dunia yang indah dan sangat mewah.

"Kita ini sebenarnya ada hubungan nggak ya? Kamu nggak ngerasa kalo kita itu aneh?" Tanya Kayla bingung.

Cup!

"Ada, tapi kita belum meresmikannya. Banyak hubungan yang punya status tapi sejatinya mereka tidak ada hubungan sama sekali. Mereka seperti dalam satu ruang tapi tak ada akses komunikasi. Berbeda dengan kita. Walaupun kita tak punya status resmi, pacaran atau semacamnya. Tapi hati kita sama, jiwa kita sama. Sejauh-jauhnya kamu, tak akan pernah jauh dariku."

"Pinter banget sih ngomongnya! Belajar dari mana?" Ucapnya sembari memperhatikan wajah Alfian dengan gemas. Pria di depannya ini emang paling jago klo soal merangkai kata sperti ini.

"Kamu tahu... Kemarin rasanya kayak nggak makan setahun! Tubuh aku lemes banget karena kamu menjauh. Kamu adalah rumahku. Ketika kamu pergi atau menjauh, aku tak punya tempat tinggal lagi. Aku sperti gelandangan yang tak tahu harus kemana."

"Boleh tiduran disini? Pliss..." Matanya membesar, bibirnya di majukan sedikit, kedua tangannya menyatu seperti seseorang yang meminta permohonan.

"Ok, ini sebagai permintaan maaf soal kemarin." Ucap Kayla seraya mengatur bantal dan berbaring di samping Alfian.

Alfian bangkit, dia merangkak di atas tubuh Kayla, lalu membaringkan kepalanya tepat di dada Kayla dengan hati-hati.

Seketika rasa nyaman dan damai meliputi dirinya, sungguh! Kayla adalah obat yang mujarab, bahkan ketenangan akibat narkotik atau nikotin tak bisa menandinginya.

Alfian seperti sudah kecanduan dengannya, dia tak bisa menjauh, atau marahan dengan Kayla terlalu lama. Karena saat itu tiba, dia akan merasa hilang kendali, dan tubuhnya akan merasa tidak seimbang yang membuatnya akan kehilangan kontrol.

Alfian mengangkat kepalanya sedikit, dia menggesek-gesek hidungnya di dada Kayla dengan lembut, ia ingin menghirup tubuh Kayla lebih dalam, merasakan harum tubuhnya yang menenangkan hati dan jiwa.

Plak!

"Jangan Nakal! Ingin ku tendang jauh-jauh dari sini?" Tanya Kayla dengan suara yang tegas dan serius.

"Ampun..." Alfian segera membaringkan kepalanya kembali.

"Gimana keadaan anjing itu? Dia sudah sembuh?" Tanya Alfian.

Kayla hanya menggelengkan kepala," Kondisi aku kemarin sedang tidak baik-baik saja, mana mungkin aku mengingatnya. Tapi dia dirawat dengan baik."

"Gimana kalau aku kasih nama Baylor? Bagus nggak?" Tanya Kayla, ia ingin mendengar tanggapan dari Alfian.

"Bagus! Itu nama yang keren, apalagi tubuhnya yang besar, dan terlihat menyeramkan sangat cocok menggunakan nama itu."

Alfian mulai menguap, mulutnya terbuka lebar, lalu tertutup kembali. "Bolehkah aku tidur sekarang?"

"Tentu." Jawab Kayla singkat.

Perlahan-lahan matanya mulai menutup, suara tak terdengar, digantikan dengan suara dengkuran halus. Padahal belum satu menit meminta izin, dia sudah tertidur sangat pulas.

Terlihat jelas kalau ia sangat nyaman di posisi ini. Mungkin karena kelelahan akibat kurang tidur. Kalian tahu sendiri gimana stresnya dia kemarin? Karena stres dia nggak bisa tidur dengan baik. Sekarang dia cepat tidur karena stres dan bebannya hilang, tergantikan dengan rasa damai dan nyaman.

.............................

Kayla meregangkan tubuhnya yang keram akibat ditindih terlalu lama oleh seseorang yang tubuhnya lebih besar dari tubuhnya.

Perlahan-lahan ia menyingkirkan tubuh Alfian ke samping. Walaupun gerakannya agak kasar, tapi pria itu tidak terbangun sama sekali.

Kayla melirik jam bundar yang tertempel di dinding. Jam masih menunjukan pukul 6:00, itu merupakan waktu yang masih sangat-sangat pagi, dan terbangun sepagi ini adalah hal yang langka.

"Masih pagi! Kenapa setiap kali tidur dengannya aku selalu bangun pagi? Padahal kalau tidur sendiri ataupun bersama Jenny aku selalu bangun kesiangan! Udah kayak istri aja!" Omel Kayla kepada diri sendiri. Pasalnya dia selalu bangun pagi kalau tidur bersama Alfian.

"Mana keram banget lagi ni badan! Dasar! Kebo!" Maki Kayla kepada Alfian yang masih tertidur pulas.

Kayla membentur-benturkan kaki dan tangannya ke dinding. Tujuannya agar bisa menghilangkan rasa keram. Emang cara ini ampuh, tapi nggak bisa hilang sepenuhnya.

Kayla segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan mulut dan wajahnya saja. Pagi ini dia akan pergi melihat Anjing Doberman yang kemarin. Selama beberapa hari ini bawahan mereka yang merawat anjing itu.

Padahal jarak tempat anjing dirawat masih dilingkungan yang sama dengan rumah dinas, hanya saja tempatnya berjarak 2 bangunan saja.

"Sudah siap!" Ucapnya setelah merapikan bedak yang ketebalan di sebagian wajahnya.

................

Di dalam kandang yang cukup besar, terlihat anjing Doberman Raksasa sedang terbaring. Latihan kemarin membuatnya harus dirawat berbulan-bulan.

Anjing itu masih terlihat lemas, seakan sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Sorot matanya terlihat seperti tidak ada harapan untuk hidup. Latihan keras kemarin membuatnya drop, sehingga butuh penanganan khusus dan pemantauan.

Kayla menatap anjing itu dengan tatapan bersalah. Ia seperti iku merasakan apa yang dirasakan anjing itu.

Kayla mendekat ke arah kandang, ia memasukan jari-jari ke sela-sela kandang, lalu menatap Baylor dengan tatapan penuh kehangatan.

"Semoga kau bisa sembuh dan kembali kuat seperti kemarin. Maafkan aku..." Ucap Kayla.

Baylor menghadapkan kepalanya ke samping, melirik sumber suara sebentar, lalu memalingkan wajah dan menghadap lurus ke depan.

"Apakah dia masih galak?" Tanya Kayla kepada salah satu bawahan yang merawat Baylor.

"Selama beberapa hari ini dia terlihat pendiam, tak ada satu pun suaranya yang terdengar."

"Apakah ada kemungkinan bisa sembuh?" Tanya Kayla lagi.

Kali ini ia sangat berharap Baylor cepat sembuh. Walaupun keadaannya sudah seperti ini, ia masih berharap ada peluang untuk menyembuhkannya.

Clek!

Kayla membuka pintu kandang dengan hati-hati, lalu masuk ke dalamnya dengan gerakan yang pelan dan hati-hati.

"Guk! Guk!"

Begitu Kayla masuk, Baylor langsung bangkit, ia menggonggong dengan suara yang pelan. Sepertinya dia sudah mengakui bahwa Kayla adalah tuannya.

"Tenang... Aku tidak jahat..." Ucap Kayla sembari mengelus kepala Baylor dengan sangat lembut.

Bruk!

Namun sesaat kemudian anjing itu ambruk. Tubuhnya sedikit sempoyongan, tubuhnya seakan tak mampu berdiri terlalu lama. Pantas saja dia hanya berbaring, karena kalau berdiri dia pasti akan langsung ambruk ke bawah.

Kayla mencium puncak kepala Baylor dengan lembut, lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku pergi dulu ya... Jangan nakal, harus patuh pada mereka!" Peringat Kayla.

Hari ini mereka akan membahas terkait misi penyamaran yang akan mereka lakukan. Sehingga Kayla tidak bisa berlama-lama disini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!