NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Cinta

Tiba-tiba Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: nisa_prafour

Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.

Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.

akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Sudah ke sekian kalinya. Ponsel berwarna putih itu berdering nyaring. Mungkin jika terhitung sudah ada lebih sepuluh kali. Namun sang pemilik ponsel sama sekali tidak ada niatan untuk mengangkatnya.

Terhitung sejak 3 jam yang lalu Aruna masih senantiasa dengan dirinya yang duduk dibawah pohon besar di depan rumahnya. Nafasnya berhembus kasar sesekali. Pikirannya menerawang entah kemana. Yang jelas ia sedang tidak mood dalam melakukan apapun saat ini. Jersey merah dan tas selempang masih melekat di tubuhnya.

Aruna bahkan tidak ada niatan untuk kembali kedalam rumah. Lagipula, di rumahnya tidak ada siapa-siapa. Arina dan kedua orang tuanya jelas masih di stadion untuk mendukung Rehan. Meskipun ia tahu kalau pertandingan sudah selesai sejak tiga jam yang lalu. Mungkin mereka masih makan ataupun pertemuan dengan orang tua Jihan. Besan ibu dan ayahnya.

"Kenapa nggak diangkat?"

Tidak, Aruna tidak terkejut akan suara barusan. Karena sosok itu sudah Aruna dapati sejak dirinya keluar dari dalam mobil yang barusan terparkir. Bahkan tidak ada tenaga untuk Aruna terkejut.

Jadi, ia hanya menoleh perlahan dan menatap sebentar pada sosok disampingnya itu, "Apanya?"

"Telfonku. Kamu kenapa disini?"

"Aku capek" kalimat singkat miliknya barusan mampu membuat sosok disampingnya Menatap dirinya lekat-lekat.

"Kamu salah paham soal di tribun tadi"

"I know"

"Run?"

"Noah? Bisa kamu tinggalin aku sendiri? Aku capek banget"

"I'm sorry. Aku salah"

Aruna memijit keningnya perlahan lalu ia berdiri dan menatap Noah dengan pandangan sayu, "Kamu kesini bawa alasan apa buat bikin aku percaya?"

"Aruna ... Please aku tadi emang nggak ada niatan untuk --"

"Kita sedang tidak dalam ruang sidang Noah. Jadi aku nggak ingin ada Argument, perdebatan, tersangka, dan tuntutan apapun. Demi apapun aku capek sekali hari ini"

Dan Isakan itu berhasil membuat Noah terkejut bukan main. Laki-laki itu bahkan dibuat kalang kabut oleh suara isakan Aruna. Dengan reflek ia bergerak untuk lebih dekat dan menghapus air matanya yang berjatuhan. Jantungnya berdebar kencang. Ini pertama kalinya selama 4 bulan menjalin hubungan, Noah melihat Aruna menangis.

"Blue hei! Maaf maaf .. aku nggak bermaksud buat kamu sedih. Hei! Please stop crying"

"Aku capek banget. Biarin aku sendiri dulu"

"Iya aku bakal biarin kamu istirahat. Tapi aku nggak mau ninggalin kamu. Please maafin aku ya"

"....."

"Demi Tuhan Run aku tadi nggak ada niat buat peluk dan cium dia. Entahlah aku hanya reflek ketika mau peluk Mikie aja. Aku merasa ada yang narik dan dorong aku. Kamu tahu kan gimana padatnya tribun? Posisi Mikie juga ditengah tadi"

"Kamu pikir aku percaya?"

"Ya ampun Aruna. Aku serius"

"Kamu mau bales dendam sama aku karena aku sama Rinos kemarin? Iya kan?!"

"Enggak Run. Awalnya aku emang kesal soal itu tapi kejadian yang di tribun tadi murni bukan apa-apa "

"Emang ya laki-laki semua sama aja! Sama-sama brengsek kalau udah soal wanita. Dia wanita yang hampir bercinta sama kamu di Bali dulu kan?!"

Sialan! Noah sedikit terkejut ketika Aruna membahas kejadian sialan itu. Kenapa juga kekasihnya ini memiliki ingatan yang tajam? She's smart girl bro. Remember!

"Aruna itu sudah lama sekali. Lagipula waktu itu kita--"

"Masih belum berhubungan gitu kan maksud mu?!! Noah dengar ya kamu dan dia itu bukan satu tahun dua tahun. Kalian bahkan hampir menikah, Jadi nggak mungkin kalau kamu dan dia nggak ada sisa-sisa rasa"

"Ya ampun ... Kok topik nya jadi melebar gini?"

"Melebar apa?! Udahlah kamu malah bikin aku tambah kesel aja!"

"Jangan marah ya. Run please..."

"Pulang sana! Aku mau sendiri!"

"Run aku--"

Kalimat milik Noah mengudara. Ponsel nya berdering dalam saku.

Mundur dua langkah dari Aruna, ia mengangkat panggilan itu. Menempelkan benda pipih itu antara telinga dan Pipinya.

'Kenapa?'

'Bisa kembali sebentar?'

'Satu jam. Beri aku waktu satu jam dan aku akan kembali'

'Ibu mu datang!'

Noah terdiam. Melirik Aruna yang masih tidak ingin Menatapnya. Kaki perempuan itu bergerak menyapu tanah dengan sepatu sport nya.

'Oke. I'm back. Bawa ke hotel saja Cave'

'Ya'

Lalu sambungan telfon terputus. Noah kembali bergerak mendekati Aruna, "Aku harus kembali ke hotel. Orangtuaku datang"

"Ya. Kembali saja"

Tarikan nafas itu terdengar begitu cepat. Lalu berhembus kasar. Noah bergerak semakin mendekat. Lalu memeluk Aruna dari samping. Mencium pelipis perempuan itu pelan, penuh kelembutan, "Aku akan menghubungi mu segera. Tunggu aku"

Dan setelahnya mobil pria itu menghilang begitu saja bersama dengan sosok Noah yang pergi meninggalkannya. Kosong. Hatinya terasa begitu kosong. Dan untuk yang pertama kalinya ia merasa ditinggalkan, entah karena apa.

.

.

.

Malam itu Aruna berdiam diri di kamar. Jendela ia buka lebar. Membiarkan udara dingin itu masuk kedalam kamarnya. Menerpa wajahnya dan menggerakkan sebagian rambutnya yang jatuh. Matanya menerawang jauh kedepan.

Hatinya gamang. Gundah gulana. Diatas kepalanya berputar kejadian beberapa saat lalu. Tepatnya setelah makan malam yang membuat dirinya di tampar kenyataan, di sidang habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Lengkap dengan kedua saudaranya.

"Putusin!" Suara kakanya tegas.

Aruna tidak menoleh pun tidak menjawab. Ia hanya fokus pada apel yang ia kupas. Ayah dan ibunya duduk, mengahadap televisi yang menyala, sedangkan Arina sang adik sibuk memakan potongan buah dan laptop di pangkuannya.

"Kamu dengar kakak nggak sih Run?!"

"Aku nggak ngerti apa yang omongin! Basi nggak jelas!"

"Putusin Noah! Masih kurang jelas?"

TAK

PRANG

Pisau buah itu meluncur begitu saja di meja kaca. Menimbulkan bunyi nyaring. Membuat kedua orangtuanya yang berjarak dua meter darinya menoleh. Membuat Arina yang duduk disebelahnya berjengit terkejut.

"Kakak nggak berhak menuntut ku soal hubungan pribadi ku!"

"Kamu adikku jadi aku berhak mengatur mu!"

"Adik? Sejak kapan kakak anggap aku adik? Sejak dulu hingga sekarang, aku hanya pion nggak penting untuk melengkapi kehidupan kakak!"

"Kamu nggak tahu siapa Noah Aruna. Dia bukan seseorang yang bisa kamu pacari begitu aja. Dia--"

"Dia apa? Dia nggak pantas untukku? Begitu?!" Aruna memotong cepat. Nafasnya memburu. Ia berdiri dari duduknya menatap kakaknya dengan pandangan marah.

"Aruna pacaran dengan siapa?" Suara sang Ayah bergema di ruang tamu luas itu. Yang minim perabot. Sebelum Aruna kembali melanjutkan kalimatnya.

Rehan terdiam. Matanya terpejam seolah baru saja menyesali perbuatannya. Lidah tak bertulangnya. Ini jelas akan semakin runyam ketika ayahnya tahu.

"Nggak papa kok Yah. Rehan cuma--"

"Pacaran dengan siapa?!" Tegas. Tidak marah. Tapi Suara sang ayah tak terbantahkan.

"Dengan teman Rehan"

"Yang mana?"

"Noah"

"Atlet juga?"

"Yang pernah ngobrol sama ayah di kolam belakang"

Lalu hening. Cukup lama.

Aruna yang masih berdiri, pergi begitu saja. Meninggalkan orang-orang yang berada di ruang tamu tanpa suara.

TING

Denting pesan itu mengalihkan pandangannya dari luar jendela. Kepalanya menoleh, tangannya Mengambil benda pipih itu dari saku celananya.

Noah Pattingga

Sorry. Aku harus terbang Venesia hari ini. Ada urusan yang begitu mendadak. Aku mencintaimu Run.

Untuk pertama kalinya, selama empat bulan menjalin hubungan, Noah mengeluarkan kalimat itu. Mencintai dirinya sekaligus meninggalkan dirinya dalam kalimat yang tak sempat terucap. Dari kesalahpahaman mereka yang masih mengambang.

Aruna menghembuskan nafasnya pelan. Lalu menutup jendela dan kembali memejamkan matanya diatas ranjang kamarnya. Mungkin tidur adalah cara terbaik untuk menghilangkan segala penatnya hari ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!