NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:566
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu yang Berbisik

Paviliun Cendana berdiri seperti monumen kesedihan di ujung paling utara kompleks istana, terpisah oleh sebuah jembatan batu kecil yang melintasi kolam teratai yang kini sudah mengering. Tempat itu seolah-olah dipaksa berhenti berputar oleh waktu.

Garis segel berwarna merah kusam masih melintang di depan pintu kayu besarnya, menandakan bahwa sang Raja tidak ingin siapapun—termasuk dirinya sendiri—mengusik sisa-sisa kenangan Ratu Seraphina.

Aurelia berdiri di depan jembatan itu, ragu-ragu. Ia tahu melanggar perintah ayahnya bisa berakibat fatal, namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya belasan tahun yang lalu.

"Tuan Putri? Apa yang kau lakukan di tempat yang penuh hantu ini?"

Aurelia tersentak dan berbalik. Di sana, Lucas sedang berdiri dengan sebuah peti kecil di pundaknya. Wajahnya yang biasanya penuh tawa kini tampak sedikit bingung.

"Lucas! Kau mengagetkanku," Aurelia mengembuskan napas panjang. "Aku hanya sedang... ingin berjalan-jalan. Udara di sini lebih sejuk."

Lucas menurunkan peti itu ke tanah dengan bunyi dentum yang berat. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Sejuk? Menurutku lebih mirip tempat persembunyian tikus-tikus tua. Aku sedang dalam perjalanan mengantarkan suplai lilin ke barak belakang, tapi lewat sini memang lebih cepat, meskipun agak menyeramkan."

Lucas berjalan mendekati Aurelia, lalu menatap Paviliun Cendana dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kau tahu, para pelayan bilang pintu itu tidak pernah dibuka karena suaranya bisa terdengar sampai ke menara pengawas. Jika kau berniat masuk, sebaiknya kau punya alasan yang bagus untuk menjelaskan pada penjaga kenapa kau mencungkil gembok milik Raja."

Aurelia menoleh ke arah Lucas. "Apakah kau punya kunci cadangan untuk gudang belakang paviliun ini, Lucas? Kau kan pengurus logistik."

Lucas tertawa kecil, suara tawanya memecah kesunyian yang mencekam. "Tuan Putri, kau meremehkanku. Aku pengurus logistik, bukan pencuri kunci istana. Tapi..." ia meraba saku celananya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak. "Minyak ini bisa membuat engsel yang paling berkarat sekalipun diam seribu bahasa. Hanya saja, aku tidak ingin terlibat jika kau tertangkap dan dihukum membersihkan kandang kuda selama sebulan."

"Aku tidak akan tertangkap," ucap Aurelia tegas.

"Yah, itu yang selalu dikatakan orang-orang sebelum mereka berakhir di kandang kuda," Lucas mengedikkan bahu konyol, lalu meletakkan botol minyak itu di atas batu jembatan. "Aku harus pergi sebelum sersan logistik mulai menghitung berapa lama aku menghilang. Jaga dirimu, Aurelia. Jangan sampai debu-debu itu membuatmu bersin terlalu keras."

Setelah Lucas pergi, Aurelia mengambil botol minyak itu. Ia merasa beruntung memiliki teman seperti Lucas yang meski kelihatannya ceroboh, selalu tahu apa yang ia butuhkan tanpa banyak bertanya.

Dengan ketangkasan fisik yang ia asah selama latihan, Aurelia memutari paviliun menuju jendela samping yang tertutup semak belukar. Setelah mengoleskan sedikit minyak dari Lucas, jendela itu terbuka tanpa suara. Ia melompat masuk ke dalam kegelapan yang beraroma kayu tua dan kain lembap.

Ruangan itu tampak seperti waktu yang membeku. Gaun-gaun indah ibunya masih tergantung rapi, meski kini warnanya memudar ditelan kegelapan. Aurelia menuju meja kerja ibunya—sebuah meja kayu jati besar yang penuh debu.

Di sudut meja, terdapat sebuah goresan kecil membentuk simbol bunga matahari. Aurelia meraba bagian bawah meja hingga ia merasakan sebuah tonjolan kecil. Sebuah laci rahasia yang sangat tipis terbuka di sisi meja.

Di dalamnya, ia menemukan sebuah sapu tangan sutra berwarna putih yang sudah menguning dimakan usia. Sapu tangan itu tidak kosong; di tengahnya terdapat bercak noda kecokelatan yang tampak seperti bekas muntahan darah yang sudah kering.

Namun, yang menarik perhatian Aurelia adalah butiran halus berwarna perak yang masih menempel di serat-serat kain tersebut—serbuk yang sama dengan yang ia temukan di botol misteriusnya.

Selain sapu tangan, ada secarik kertas kecil, sobekan dari sebuah buku catatan medis. Di sana tertulis satu baris kalimat pendek dengan tulisan tangan ibunya yang mulai gemetar:

"Aromanya manis, tapi paru-paruku terasa terbakar. Mereka bilang ini adalah penyembuh, tapi aku merasa ini adalah penghenti detak jantung."

Aurelia segera memasukkan benda-benda itu ke saku gaunnya. Di sudut ruangan, ia juga melihat sebuah vas bunga porselen yang sudah pecah. Di dasar pecahannya, terdapat sisa-sisa akar tanaman yang sudah menghitam, mengeluarkan aroma apak yang aneh—sedikit manis namun tajam, persis seperti deskripsi di kertas tadi. Ibunya tidak mati mendadak karena sakit biasa; ia tahu ia sedang diracuni secara perlahan melalui sesuatu yang ia hirup.

Aurelia segera keluar melalui jendela, jantungnya berdegup kencang. Saat ia berjalan kembali, ia berpapasan dengan Lady Elara yang muncul dari balik pepohonan dengan lentera kecil. "Aurelia? Kau di sana?" Elara tampak khawatir, meski wajahnya tetap tenang seperti biasa. "Aku melihat Lucas mondar-mandir di dekat jembatan dengan wajah aneh, jadi aku tahu kau pasti melakukan sesuatu yang nekat di dalam sana."

"Kak Elara, aku menemukan sesuatu... sesuatu yang membuatku takut," bisik Aurelia, tangannya meraba sapu tangan di sakunya.

Elara segera menarik tangan Aurelia, membimbingnya menjauh dari area terbuka. "Jangan bicara di sini. Istana memiliki telinga di setiap dindingnya, dan penjaga malam akan segera berkeliling. Mari kita ke perpustakaan sayap barat. Kita perlu mencari tahu tanaman apa yang meninggalkan jejak perak seperti ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!