Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angkasa dalam Sketsa Dunia
"Syukurlah pesta pertunangan Angkasa dan Nia berjalan lancar," kata Nyonya Mahendra pada Nyonya Lestari saat para tamu sudah pulang. Nyonya Lestari tersenyum.
"Terimakasih, Nyonya Mahendra sudah mengadakan pesta yang begitu meriah untuk menyambut Nia di keluarga Mahendra," kata Nyonya Lestari.
"Tentu saja! Gadis pilihan Angkasa akan mendapatkan hal terbaik dari kami," kata Nyonya Mahendra. Nyonya Lestari sedikit mengerutkan kedua alisnya.
"Pilihan Tuan Muda Angkasa?" tanya Nyonya Lestari yang heran karena merasa Nyonya Mahendra yang menjodohkan Angkasa dengan Nia. Nyonya Mahendra tersenyum.
"Untuk pemuda dingin dan kaku seperti Angkasa, tidak mudah mengungkapkan perasaannya pada gadis yang disukainya," bisik Nyonya Mahendra pada Nyonya Lestari membuat Nyonya Lestari menaikkan kedua alisnya, kaget.
"Gadis yang disukai?" tanya Nyonya Lestari memastikan dirinya tak salah dengar. Nyonya Mahendra mengangguk.
"Saya tahu. Bahkan hanya dengan melihatnya saja," kata Nyonya Mahendra sambil menatap Angkasa yang berdiri menatap Nia berdiri agak jauh darinya, sedang berbicara pada Bayu.
Nyonya Lestari mengikuti kemana Nyonya Mahendra menatap. Kini, Nyonya Lestari baru menyadarinya. Perjodohan yang Nyonya Mahendra usulkan hanya untuk membantu Angkasa lebih dekat dengan Nia tanpa terhalang restu dari orangtuanya.
"Nanti, Nia biar dianter Angkasa ke kosnya. Nyonya tak perlu khawatir," kata Nyonya Mahendra kemudian. Nyonya Lestari tersenyum dan mengangguk.
Sementara itu, di ambang pintu masuk, Bayu dan Nia berdiri. Angkasa memberi ruang kepada keduanya untuk berbicara.
"Makasih, Kak, udah dateng," ucap Nia. Bayu tersenyum.
"Selamat," ucap Bayu singkat. Nia hanya terdiam.
"Aku bisa lebih tenang sekarang karena udah ada yang jagain kamu," kata Bayu. Nia menunduk.
Entah mengapa, Nia jadi tak bisa berbicara normal dengan Bayu seperti biasa sejak mengetahui bagaimana perasaan Bayu terhadapnya. Nia hanya mampu terdiam.
Bayu menatap Nia yang jadi canggung kepadanya. Setitik rasa sesal masuk ke dalam hati Bayu. Kalau saja dia bisa menahan untuk tidak mengatakan bagaimana perasaannya saat itu. Namun, semua sudah terlambat.
"Aku harus pulang, Nia. Ada banyak proposal yang harus aku review," pamit Bayu. Nia mendongakkan kepalanya, menatap Bayu sesaat lalu mengangguk. Bayu tersenyum.
"Jaga dirimu," kata Bayu sambil menyentuh kepala Nia sesaat lalu berjalan menuju Nyonya Mahendra dan Nyonya Lestari yang sedang mengobrol.
Nia menatap punggung Bayu dengan perasaan sedih. Ada rasa kehilangan dalam hatinya.
'Kamu pantas dapet wanita yang lebih baik dari aku,'
***
Nia sudah kembali mengenakan baju rumahan yang disediakan Nyonya Mahendra untuknya. Nia duduk di tepi tempat tidur di kamar yang disediakan Nyonya Mahendra untuknya.
Hari ini, Nia resmi bertunangan dengan Angkasa. Nia masih tidak bisa mempercayainya. Nia yakin Rasi dan Bumi akan heboh kalau mereka tahu tentang hal itu via media online.
"Tok... Tok..."
"Ya?"
"Aku," suara Angkasa terdengar dari balik pintu. Nia membuka pintu kamar perlahan.
"Malam ini, kamu tidur disini," kata Angkasa.
"Eh? Bukannya kamu mau anter aku balik ke kos?" tanya Nia, bingung.
"Sudah terlalu larut. Tidur saja. Besok aku antar," kata Angkasa lalu berjalan menuju kamarnya.
"Tapi..." Nia menghentikan kalimatnya, merasa percuma bersikeras untuk kembali ke kosnya malam itu.
Nia menutup pintu kamarnya dan kembali duduk di tepi tempat tidur. Untung saja, dia membawa buku sketsa dan pensil lukisnya di dalam totebagnya. Nia segera mengambil buku sketsa dan pensilnya lalu duduk di sofa mini yang diletakkan di dekat jendela kamar.
Nia berpikir sejenak lalu mulai menggoreskan pensil di atas buku sketsanya. Garis demi garis Nia tarik membentuk sebuah postur tubuh yang tegap dan menawan. Nia menarik garis punggung melengkung. Lalu menggambar bentuk kepala yang tampak menoleh tipis ke belakang dengan menambahkan arsiran tipis pada area rambut dan mata, memberi kesan dingin dan misterius pada lukisannya.
Nia menghentikan pensilnya, mengangkat buku sketsanya sejenak lalu kembali menggoreskan pensilnya. Sesekali Nia mengganti pensil untuk area tertentu yang membutuhkan garis yang lebih tebal.
Menit demi menit berlalu. Nia sibuk memberi latar pada sketsanya —menarik garis, memberi arsiran tipis, membuat garis lengkung. Waktu seolah bukan sesuatu yang harus dicemaskan oleh Nia. Dia selalu menikmati waktunya saat sedang menggambar.
Tiga jam berlalu tanpa terasa. Nia melihat ke arah jam dinding saat dirinya telah menyelesaikan sketsanya. Jam 02.05. Nia kembali menatap hasil sketsanya lalu tersenyum.
Nia meletakkan buku sketsanya begitu saja di atas sofa lalu berjalan gontai menuju tempat tidur. Kantuk yang tadi sempat menghilang, tiba-tiba menyergap begitu Nia selesai menggambar. Sedetik kemudian, Nia sudah jatuh terlelap dalam buaian malam.
'Selamat tidur, Ang,'
***
Paginya, Angkasa mengetuk pintu kamar Nia berulang kali tanpa ada jawaban. Angkasa mengerutkan kedua alisnya, merasa bingung, cemas dan aneh dalam satu waktu. Angkasa memutar gagang pintu kamar. Tidak dikunci.
Angkasa melangkah perlahan masuk ke dalam kamar Nia. Sepi. Hanya terdengar dengkuran tipis dari tubuh yang masih pulas di atas tempat tidur. Angkasa tersenyum tipis melihat Nia yang tidur dengan posisi melintang di tengah tempat tidur.
Angkasa berjalan perlahan, hendak membangunkan Nia ketika dia melihat buku sketsa Nia tergeletak begitu saja di atas sofa. Angkasa mengalihkan langkahnya, menuju sofa tempat dimana buku sketsa Nia berada.
Mata Angkasa sedikit membulat saat melihat gambar yang ada pada buku itu. Perlahan, Angkasa mengambil buku itu. Ditatapnya gambar buatan Nia dalam-dalam.
Angkasa dengan ragu-ragu membuka halaman sebelumnya. Angkasa tertegun sejenak. Ada gambar separuh wajahnya dengan mata tajam dan dingin sedang menatap matanya.
Angkasa kembali membuka halaman buku sketsa Nia sebelumnya. Sebuah lukisan indah penuh warna di Bukit Senja. Sketsa yang Nia ragu tentang hal yang kurang dari gambarannya kini telah menjadi lukisan indah dengan adanya sosok Angkasa yang duduk di bukit itu menatap senja.
Angkasa terus membuka halaman demi halaman buku sketsa Nia. Semua berisi gambar Angkasa —dengan berbagai pose dan berbagai angle. Angkasa menutup buku sketsa Nia. Di sampulnya tertulis "Angkasa Biru Cakrawala".
Angkasa menoleh, menatap wajah tidur Nia yang damai. Matanya kemudian menangkap totebag Nia yang tergeletak di samping Nia. Terlihat dua buku sketsa menyembul dari dalam tas. Angkasa tersenyum tipis kemudian meletakkan buku sketsa Nia yang dibawanya kembali ke sofa.
Angkasa kembali menatap wajah tidur Nia. Dia merasa beruntung dapat kembali bertemu dengan Nia meski dirinya tak lagi Angkasa yang sama. Angkasa berjalan perlahan keluar dari kamar Nia. Dilihatnya sekali lagi tubuh Nia yang melintang di atas tempat tidur sebelum akhirnya menutup pintu kamar dan berlalu.
'Selamat tidur, Duniaku. Pastikan mimpimu adalah tentang diriku! Selamat tidur,'
***
ternyata aku punya tanamannya, tapi gak tau namanya😅
makasih lho thor🤭
maaf malah salfok ke bunga😅