NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Jam di Dunia Luar

Florence berdiri di antara rak-rak buku yang menjulang hingga langit-langit. Sendiri. Tak ada napas berat di belakang tengkuknya. Tak ada bayangan Lucifer yang mengintai. Hanya aroma kertas tua, desing mesin espresso dari ujung toko, dan Marco yang bersandiwara membaca koran di pojok paling sunyi.

Dua bulan. Dua bulan ia tak menyentuh kertas, tak memilih, tak memiliki satu pun keputusan atas dirinya.

Ujung jari yang masih kurus itu meraba punggung buku satu per satu. Jane Eyre. Little Women. Anna Karenina. Judul-judul yang dulu ia selundupkan di bawah lampu redup panti, ditemani derik jangkrik dan malam yang bisu.

Ia menggenggam tiga buku erat ke dada, seolah melepaskannya berarti membangunkan dirinya kembali di kamar lantai tiga.

Di seberang jalan, Lucifer duduk membeku di kafe. Kopinya sudah dingin, tak tersentuh. Tatapannya tak pernah lepas dari pintu kaca. Setiap bayangan yang bergerak di dalam sana membuat dadanya mencelos. Takut ia tak kembali. Takut ia lari. Takut satu-satunya kesempatan itu hancur di tangannya.

Vulture bersuara pelan di sampingnya.

“Area aman, Bos. Tak ada media. Tak ada ekor. Nona baik-baik saja.”

Lucifer diam. Jari-jarinya meremas kertas di saku. Satu kesempatan. Jangan rusak lagi.

Pukul 11.15, pintu kaca terbuka. Florence keluar. Tiga buku di pelukannya. Wajahnya tetap pucat, tapi ada semburat samar di pipi—bukan bahagia, hanya hidup. Sedikit.

Mata mereka bertaut. Pertama kali hari itu. Tak ada sapa, tak ada senyum. Namun Florence tak segera mengalihkan pandangan. Dan Lucifer tak beranjak menghampiri.

Marco membuka pintu mobil. Florence masuk ke sisi kiri. Lucifer menyusul ke sisi kanan. Jarak suci di antara mereka tetap terjaga.

Mobil melaju. Sunyi. Hingga satu kata pecah pelan, hampir hilang di deru AC.

“Lapar.”

Itu bukan keluhan. Itu izin. Itu kemajuan.

Lucifer langsung menegak.

“Marco. Cari tempat makan. Sepi. Privat.”

“Lima belas menit dari sini, Tuan. Italia. Sudah saya pesan pagi tadi, untuk jaga-jaga.”

Lucifer mengangguk. Ia tak menoleh. Takut satu gerakan salah meretakkan momen rapuh itu.

---

Restoran Italia itu kosong. Dikuras khusus untuk mereka. Ruangan privat di lantai dua, jendela lebar menghadap Central Park. Meja untuk dua, tapi kursi mereka tetap berjauhan. Florence di satu sisi, Lucifer di sisi lain.

Pelayan meletakkan menu lalu menghilang tanpa suara. Instruksi jelas: jangan bicara jika tidak ditanya, jangan menatap terlalu lama, jangan buat gaduh.

Florence membuka menu. Tangannya gemetar halus. Dua bulan hanya sup dan roti tawar membuat lidahnya lupa rasa.

Lucifer melihat itu. Ia tak memberi saran, tak memaksa. Hanya berbisik pada pelayan yang berdiri di ambang pintu,

“Dua porsi. Tidak pedas. Lembut. Sama seperti di mansion, tapi versi yang hidup.”

Pelayan mengangguk, lalu lenyap.

Sunyi kembali. Tapi berbeda. Di mansion, sunyi itu mencekik. Di sini, sunyi itu memberi ruang.

Hidangan datang. Pasta creamy, roti bawang, sup labu. Florence menatapnya lama sebelum mengangkat garpu. Satu suapan. Ia mengunyah pelan, matanya terpejam sesaat.

Hangat. Enak. Tidak ada rasa takut menyelip di dalamnya.

Lucifer tak menyentuh makanan. Ia hanya meneguk air putih, mengamati dari sudut mata. Setiap kali Florence menyuap, beban di dadanya berkurang sedikit. Ia makan. Ia tidak muntah. Ia tidak gemetar.

Di tengah suapan, Florence berhenti. Tatapannya hanyut ke luar jendela. Anak-anak berlari di Central Park. Pasangan bergandengan. Anjing mengejar bola. Dunia normal yang dulu ia lihat dari balik kaca.

“Aku... dulu mau kuliah sastra,” katanya tiba-tiba. Suara kecil, tapi jelas. Bukan untuk Lucifer. Untuk jendela. Untuk dunia.

“Di Jakarta. Mau jadi guru. Atau penulis.”

Lucifer membeku. Sendok di tangannya menggantung di udara. Florence bicara. Dua kalimat. Tentang dirinya. Tentang mimpi.

Ia tidak menjawab. Takut satu kata salah menghancurkan semuanya. Ia hanya mendengar. Menyimpan. Mengunci di laci kepalanya, di samping surat Florence.

Florence tidak melanjutkan. Ia menyuap dua kali lagi, lalu meletakkan garpu. Kenyang. Atau lelah.

“Mau pulang,” bisiknya.

Lucifer berdiri seketika.

“Marco.”

Lima menit kemudian mereka sudah di dalam mobil. Pulang. Masih bungkam. Masih berjarak. Tapi hari ini mereka menghabiskan dua jam di dunia luar. Bersama. Tanpa teriakan. Tanpa darah. Tanpa paksaan.

Di lobi mansion, Florence turun lebih dulu. Ia berhenti di anak tangga, menoleh. Lucifer masih berdiri dekat mobil, memberi ruang.

Ia memandang tiga buku di tangannya, lalu menatap Lucifer.

“...Terima kasih,” katanya pelan. Hampir hilang ditelan angin. Lalu ia masuk cepat, sebelum menyesal, sebelum Lucifer sempat menjawab.

Lucifer terpaku di tempat. Terima kasih. Kata itu keluar dari bibir Florence. Untuknya. Setelah semua yang ia hancurkan.

Ia menutup mata. Napasnya berat. Kesempatan itu—hari ini tidak rusak. Malah tumbuh. Setipis benang, tapi nyata.

Di kamar, Florence meletakkan buku-buku di meja. Ia membuka Jane Eyre pada halaman pertama, lalu menyelipkan sobekan kertas kecil dari saku gaunnya di halaman 109. Tengah-tengah. Tidak di awal, tidak di akhir.

Jika Lucifer berani menyentuh buku itu, ia akan menemukan tiga kata:

Hari ini tidak sakit.

Bukan maaf. Bukan cinta. Hanya pengakuan bahwa selama dua jam, Florence tidak merasa berada di neraka.

Dan bagi Lucifer, itu sudah lebih dari cukup. Untuk hari ini.

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!