NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 31

Cwen benar-benar menjadi akrab dengan teman-teman Ansel yang ia panggil ‘om’ itu, semuanya baik dan mau menemani Cwen bermain, bahkan mereka berempat, tanpa Ansel , bermain game yang entah apa Cwen tidak tahu apa namanya.

Bahkan kini Cwen asik bercerita banyak hal kepada keempatnya, benar-benar sudah dekat, dalam kurun waktu kurang dari empat jam.

“Om, om tahu tidak kalau pak guru sudah menjadi papa untuk Cwen loh,” pamer Cwen kepada om-omnya itu.

Angga langsung tertarik dengan topik yang akan Cwen bahas, “benarkah? Cwen sudah panggil papa ya?”

Cwen mengangguk semangat, “saat di sekolah nanti pun, Cwen akan tetap memanggil pak guru papa loh,”

Yoga dan Ando langsung terkikik geli dengan Cwen yang pamer jika ia sudah bisa memanggil Ansel papa, walaupun Ansel dan mamanya belum menikah.

“Mama Cwen juga punya rambut yang sama seperti Cwen ya?” tanya Angga yang penasaran.

Sebenarnya bukan hanya Angga saja yang penasaran dengan sosok ibu dari Cwen, mereka melihat jika wajah Cwen bukanlah wajah-wajah lokal Indonesia, seperti benar-benar wajah orang luar negeri, apalagi wajahnya, tidak terlihat jika ada wajah lokalnya sama sekali.

Cwen diam sebentar, lalu ia menatap Angga dengan tatapan sendu, “rambut Cwen jelek ya om?” tanya Cwen sedih.

Angga langsung panik, “bukan itu maksud om, rambut Cwen sangat cantik, benar-benar sangat cantik dan cocok untuk Cwen, om angga hanya bertanya saja kok,” Angga mengelus lembut kepala Cwen yang lesu.

“Benar om?” tanya Cwen.

Angga mengangguk, “rambut Cwen sangat cantik, om saja suka loh dengan rambut Cwen, om jadi berfikir kalau Cwen saja secantik ini, apa mama Cwen lebih cantik dari Cwen yang sangat cantik ini,”

Cwen tersenyum kembali, mendengar jika Angga memuji rambutnya, Cwen kira rambutnya terlihat aneh di mata om-omnya itu, rupanya, om Angga memuji dirinya karena terlihat sangat cantik dengan warna rambutnya yang pirang.

“Om angga tahu tidak, mama Cwen juga sangat cantik loh,” beritahu Cwen.

“Secantik apa?” tanya Lingga yang ikut menimbrung pada obrolan Cwen dan Angga.

“Sangat cantik, mama Cwen itu benar-benar sangat cantik, papa juga bilang kalau mama sangat cantik sama seperti Cwen,”

“Om jadi tidak sabar bertemu dengan mama Cwen loh,” ucap Angga membuat yang lainnya mengangguk setuju, mereka benar-benar menjadi sangat penasaran dengan sosok mama dari Cwen, jika anaknya saja sudah secantik ini, lalu bagaimana dengan mamanya, pasti lebih cantik, kan?

Ansel melangkah mendekati Cwen dan duduk di sebelah Cwen yang masih asik membicarakan mamanya kepada keempat omnya, seperti mempromosikan mamanya sendiri kepada orang lain, membuat Ansel menggelengkan kepalanya tidak mengerti jalan pikiran Cwen.

“Cwen sudah siang, Cwen mau makan dengan apa?”

Cwen menoleh ke belakang, ia baru menyadari kehadiran Ansel di sebelahnya, hanya saja duduknya berjarak sedikit jauh, jadi terlihat duduk di belakang Cwen.

“Loh papa, papa sudah berapa lama ada di belakang Cwen?” Cwen berbalik dan langsung duduk di sebelah Ansel membuat keempat temannya langsung memutar matanya malas. Karena Cwen sudah pasti akan lebih menempel kepada Ansel daripada mereka.

“Kenapa ke sini coba, memangnya pekerjanmu itu sudah selesai?” tanya Angga menatap sinis temannya itu.

“Kalau saya tidak ke sini, kalian akan terus membicarakan calon istri saya,” balas Ansel membuat Cwen terkikik geli.

“Papa, mama cantik kan?” tanya Cwen mendongak menatap Ansel.

“Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Ansel mengerutkan alisnya bingung.

“Itu loh, om Angga tadi tanya, apa mama cantik juga seperti Cwen, Cwen jawab kalau mama cantik, karena papa pun bilang kalau mama cantik,”

Ansel menggelengkan kepalanya dan menatap tajam temannya itu yang malah senyum-senyum tidak jelas, tertangkap basah menanyakan soal calon istrinya.

“Cwen mau makan siang apa?” tanya Ansel mengganti topik agar tidak lagi membicarakan Jenia.

Cwen tampak berfikir sebentar sebelum kembali menatap Ansel, “Cwen sedang mau makan nasi goreng pa, apa boleh?” tanya Cwen.

Ansel mengangguk, “tentu saja boleh,” Ansel mengalihkan tatapan matanya kepada keempat temannya yang malah sibuk main ponsel masing-masing, “kalian mau makan siang juga atau tidak?” tanya Ansel.

Keempatnya kompak menggelang, bagaimana bisa mereka makan siang, sedangkan sejak pagi mereka memakan berbagai macam snack, buah bahkan beberapa makanan berat, tentu saja perut mereka masih terasa sangat kenyang.

“Ya sudah,” ucap Ansel, ia langsung mengotak-atik ponselnya dan memesan tida porsi kkan siang, satunya untuk Jenia yang pasti sebentar lagi pulang.

“Papa, mama masih lama ya pulangnya?” tanya Cwen.

Ansel menggeleng, “sebentar lagi mama pulang, beberapa menit yang lalu, mama kirim pesan kalau sebentar lagi pekerjaan mama selesai,”

Teng-tong

Ansel mengernyitkan dahinya mendengar suara bel apartemennya, ia baru saja menyelesaikan pesannya, Jenia yang datang juga tidak mungkin, beberapa menit lalu ia baru saja mengirim pesan jika ia sedang menyelesaikan pekerjaannya, Ansel menatap temannya.

“Kalian ada yang pesan makanan?” tanya Ansel yang langsung membuat Angga menoleh.

“Yoga, kamu pesan makanan bukan tadi?” tanya Angga kepada temannya itu.

Yoga langsung berdiri, “Ya ampun lupa kalau aku pesan pizza tadi, habisnya lama sekali datangnya, membuat saya lupa jika sedang order makanan,” ucap Yoga langsung melipir ke depan untuk membuka pintu apartment.

Tanpa mengecek terlebih dahulu, yoga membuka pintu dan menemukan seorang kurir makanan berdiri dengan seorang gadis yang membuat Yoga gagal fokus.

“Atas nama Yoga?” tanya kurir itu kepada Yoga, tapi Yoga mengabaikannya karena ia malah memperhatikan kehadiran gadis di sebelah sang kurir itu.

“Mas? Atas nama Yoga?” sampai harus di tepuk oleh sang kurir.

Yoga terperanjat lalu kembali menatap sang kurir dengan cengiran khasnya, “ maaf pak, atas nama Yoga kan ini?” tanya Yoga mengambil orderan miliknya,

Kurir itu hanya mengangguk, lalu berbalik meninggalkan Yoga yang melongo, tidak percaya jika kurirnya merajuk karena ia yang mengabaikannya.

“Heran ada kurir yang marah seperti itu,” Yoga geleng-gelang kepala, ekor matanya kembali melihat gadis yang membuatnya gagal fokus tadi masih berdiri tegak di sana.

“Maaf, mbaknya cari siapa?” tanya Yoga sopan.

“Anselnya ada?”

“Oh, mbaknya temannya Ansel ya?”

Perempuan itu menggeleng, “saya mau jemput putri saya, apa ada di dalam?”

Yoga diam sebentar, mencerna pertanyaan gadis di hadapannya itu, “putri mbaknya yang mana ya? Di dalam hanya ada calon anak tirinya Ansel saja, tidak ada anak kecil lagi selain Cwen,” Yoga diam sebentar seperti baru sadar apa yang di ucapkannya, lalu tiba-tiba menatap perempuan di depannya itu dengan tatapan terkejut.

“Jangan bilang mbaknya mama dari Cwen?”

Jenia tersenyum kecil dan mengangguk pelan,”Iya, apa ada Cwen di dalam?”

Suaranya lembut sekali, benar-benar definisi wanita yang tidak bisa marah sembari berteriak-teriak, membuat Yoga malah bengong dulu, mencerna hal yang baru saja di ketahuinya sembari menatap Jenia dengan tatapan kagumnya.

“Bentar mbak, saya masih terkejut jika mbak mama dari Cwen.” Yoga malah masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun lagi meninggalkan Jenia dengan pintu terbuka, dan itu ia anggap sebagai perizinan untuk masuk ke dalam, maka dari itu Jenia melangkah masuk ke dalam apartement.

“Mama.”

1
Lailatul Maulida
tambah seru thor ceritanya 😊
lanjutkan pokoknya
Lailatul Maulida
lanjut thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Lailatul Maulida
lanjut thor
Lailatul Maulida
wih tambah seru thor lanjut pokoknya thor😊
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!