Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Selesai sarapan, Xena segera beranjak dari meja makan tanpa banyak bicara.
Ia masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Ruangan itu terasa jauh lebih tenang daripada dapur yang tiba-tiba penuh dengan aroma keberadaan Prabu.
Ia mulai mengganti pakaian santainya dengan kemeja kerja yang lebih formal.
Saat sedang merapikan kerah bajunya, suara notifikasi dari ponselnya berbunyi nyaring.
Xena meraih benda itu dan membaca sebuah surat elektronik yang masuk.
Mata Xena membulat. Sebuah undangan seminar kedokteran jiwa tingkat nasional di Bali yang seharusnya ia hadiri bulan depan, ternyata dimajukan menjadi siang ini karena ada perubahan jadwal mendadak dari kementerian kesehatan.
"Siang ini?" gumam Xena panik.
Tanpa membuang waktu, ia menarik koper kecil dari kolong tempat tidur.
Tangannya bergerak cekatan memasukkan beberapa setel pakaian, alat mandi, dan dokumen penting ke dalam koper.
Pikirannya hanya satu: ia harus segera sampai di bandara agar tidak terlambat.
Klik.
Xena mengunci kopernya, lalu menarik tuas pegangannya.
Ia mengembuskan napas panjang sebelum membuka pintu kamar.
Begitu ia melangkah keluar, sosok Prabu yang sedang bersandar di tembok lorong langsung menyambutnya.
Pandangan Prabu terjatuh pada koper biru di tangan Xena. Alisnya bertaut.
"Mau ke mana?" tanya Prabu, suaranya berubah serius.
"Aku harus ke Bali. Ada seminar mendadak siang nanti dan aku tidak boleh absen," jawab Xena sambil terus melangkah menuju pintu depan.
Prabu tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. Ia segera menyusul langkah Xena.
"Wah, kebetulan nih. Aku kan juga mau ke Bali. Aku ada jadwal terbang ke sana satu jam lagi," ucap Prabu dengan nada yang terdengar sangat bersemangat.
Xena menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.
Ia menoleh dan menatap Prabu dengan tatapan skeptis.
"Pra, aku bisa naik pesawat lain. Aku akan pesan tiket komersial sekarang juga," tolak Xena tegas.
Ia tidak ingin terjebak dalam ruang tertutup yang sama dengan Prabu selama satu setengah jam di ketinggian 30.000 kaki.
Prabu tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pria itu maju selangkah, lalu dengan lembut namun pasti, ia menggandeng tangan Xena—sebuah sentuhan yang membuat jantung Xena kembali berdesir aneh.
"Ikut aku, Xen. Jangan menolak," bisik Prabu.
Ia mempererat genggamannya pada jemari Xena, seolah takut wanita itu akan lari lagi.
"Anggap saja ini caraku meminta maaf atas perbuatanku kemarin. Biarkan aku membawamu terbang dengan aman."
Selesai sarapan dan memastikan Xena siap, Prabu segera masuk ke kamar mandi.
Gemericik air terdengar dari balik pintu, seirama dengan detak jantung Xena yang masih belum tenang.
Tak butuh waktu lama, Prabu keluar dengan penampilan yang sepenuhnya berbeda.
Pria itu telah mengenakan seragam pilotnya yang gagah.
Kemeja putih bersih dengan epolet emas di pundak, celana kain gelap yang disetrika rapi, serta topi kapten yang dijepitkan di bawah lengannya.
Otoritas dan karisma seorang pemimpin di udara kembali terpancar dari dirinya, membuat Xena sempat tertegun sejenak.
"Ayo, nanti kita terlambat," ajak Prabu sambil menyambar kunci mobil dan menarik koper milik Xena.
Prabu segera melajukan mobilnya membelah jalanan menuju bandara.
Kecepatan mobilnya stabil, namun suasana di dalam kabin terasa begitu sempit bagi Xena.
Ia terus menatap ke luar jendela, melihat deretan pepohonan yang melesat cepat.
"Pra, aku naik pesawat lain saja," ucap Xena tiba-tiba. Suaranya kecil, namun sarat akan keraguan.
"Aku bisa pesan tiket maskapai lain di terminal sebelah. Kamu harus fokus pada pekerjaanmu, aku tidak mau mengganggumu."
Prabu menurunkan sedikit kecepatan mobilnya. Ia menoleh sejenak, menatap Xena dengan sorot mata yang teduh namun penuh selidik.
"Xena, apakah kamu tidak percaya dengan pasien kamu yang baru saja kamu sembuhkan ini?" tanya Prabu dengan nada bicara yang lembut namun telak menghantam pertahanan Xena.
"Kamu sendiri yang memberikan rekomendasi medis bahwa aku sudah layak terbang. Apa sekarang kamu meragukan diagnosamu sendiri?"
Xena terdiam.
Kata-kata Prabu benar-benar mengunci lidahnya. Sebagai dokter jiwa yang telah mendampingi masa-masa terkelam Prabu, ia tahu pria itu sudah pulih secara klinis. Namun secara emosional, berada di dekat Prabu masih menjadi tantangan besar baginya.
Xena menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya. Ia menyerah pada kegigihan suaminya.
"Baiklah," jawab Xena akhirnya, meski wajahnya tetap dipalingkan ke arah luar.
"Tapi hanya sampai Bali. Setelah mendarat, jangan ikuti aku ke tempat seminar."
Prabu tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang tidak lagi mengandung kesombongan, melainkan rasa syukur yang amat dalam.
"Kesepakatan diterima, Bu Dokter."
Mobil berhenti tepat di area parkir khusus kru maskapai.
Prabu turun lebih dulu, lalu dengan sigap membukakan pintu untuk Xena dan membawakan kopernya.
Langkah kaki mereka yang beradu di atas lantai marmer bandara mengundang perhatian beberapa orang—seorang kapten pilot yang gagah berjalan bersisian dengan wanita cantik yang tampak sedikit tegang.
Sesampainya di bandara, Prabu tidak membawa Xena menuju loket check-in umum.
Ia menuntunnya melewati jalur kru dan langsung mengajaknya masuk ke dalam pesawat melalui garbarata sebelum penumpang lain naik.
Prabu membimbing Xena menuju barisan kursi paling depan.
Ia membantu meletakkan tas kecil Xena ke kompartemen atas, lalu mempersilakan istrinya duduk di kursi kelas bisnis yang luas dan nyaman.
"Selamat menikmati penerbangan pertamamu," ucap Prabu sambil sedikit membungkuk, menatap mata Xena dengan binar yang hangat.
Ada penekanan pada kata 'pertamamu'—penerbangan pertama Prabu setelah sembuh, dan penerbangan pertama Xena sebagai pendampingnya kembali.
Xena hanya bisa tertegun, merasakan kemewahan dan perhatian yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Belum sempat ia membalas ucapan itu, Prabu sudah menegakkan tubuhnya, memberikan hormat singkat dengan ujung jarinya ke dahi, lalu berbalik dengan langkah mantap.
Prabu segera masuk ke dalam kokpit. Ia menutup pintu baja itu, lalu duduk di kursi kapten. Jemarinya menari dengan sangat lincah di atas panel instrumen yang rumit, menyalakan sistem satu per satu dengan penuh konsentrasi.
Trauma yang dulu menghantuinya kini telah berganti menjadi rasa tanggung jawab yang besar.
Beberapa menit kemudian, suara statis terdengar di seluruh kabin pesawat melalui pengeras suara. Suara itu berat, tenang, dan sangat berwibawa—suara yang membuat Xena mendongak dan menahan napas.
"Selamat pagi untuk para penumpang. Saya Captain Prabu, pilot yang akan memimpin penerbangan Anda menuju Denpasar, Bali siang ini."
Xena memejamkan mata sejenak, mendengarkan getaran suara suaminya yang memenuhi udara.
Ada rasa bangga yang menyelinap di tengah luka hatinya.
Pria itu benar-benar telah kembali ke langit, dan ia adalah alasan di balik kepakan sayap itu.
"Cuaca di rute penerbangan dilaporkan cerah. Kita akan terbang di ketinggian 32.000 kaki. Silakan kenakan sabuk pengaman Anda, karena kita akan segera melakukan pushback dan take-off. Terima kasih telah terbang bersama kami."
Xena menyandarkan kepalanya di kursi, merasakan getaran mesin pesawat yang mulai menderu di bawah kakinya.
Penerbangan ini bukan hanya tentang perjalanan menuju Bali, tetapi juga awal dari perjalanan panjang di atas awan yang mungkin akan mengubah arah hidup mereka berdua.
Pesawat mulai bergerak menjauhi gerbang, perlahan merayap menuju landasan pacu.
Xena mencengkeram pinggiran kursi kelas bisnisnya, merasakan sensasi perut yang sedikit bergejolak saat burung besi itu mulai memacu kecepatan dan akhirnya melesat membelah awan.
Di ketinggian ribuan kaki, saat tanda sabuk pengaman telah dipadamkan, suasana kabin terasa begitu tenang dan eksklusif.
Xena menatap hamparan awan putih di luar jendela, pikirannya masih berkelana jauh pada kejadian-kejadian yang menimpanya belakangan ini.
Tiba-tiba, seorang pramugari dengan seragam yang sangat rapi dan senyum yang ramah mendekat ke arahnya.
Ia membawa sebuah nampan kecil berisi beberapa camilan premium dan minuman segar.
"Permisi, Ibu Xena. Selamat menikmati santapan ringan Anda," ucap pramugari itu dengan sopan sambil menata piring kecil di atas meja lipat di depan Xena.
Xena mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih. Namun, pramugari itu tidak langsung beranjak pergi.
Ia meletakkan sebuah kotak cokelat kecil yang diikat pita berwarna emas dan sebuah kartu mungil di samping gelas minuman Xena.
"Dan ini dari Captain Prabu," ucap pramugari itu dengan binar mata yang terlihat kagum.
"Beliau berpesan agar Ibu menghabiskan cokelat ini supaya tidak pusing selama perjalanan."
Xena tertegun menatap kotak cokelat tersebut. Jemarinya yang sedikit gemetar menyentuh permukaan kartu mungil itu.
Di dalamnya tertulis tulisan tangan yang sangat ia kenali—tulisan yang tegas namun kini terlihat lebih lembut.
"Makanlah cokelatnya, Xen. Aku tahu kamu selalu lapar kalau sedang tegang. Tetaplah di situ, aku sedang menjagamu dari depan sini."
Xena menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang kembali mendesak.
Ia memandang ke arah pintu kokpit yang tertutup rapat di depan sana.
Di balik pintu itu, pria yang pernah menghancurkannya kini sedang bertarung melawan sisa-sisa traumanya sendiri, sambil tetap menyisihkan ruang di kepalanya untuk memastikan Xena baik-baik saja.
Pramugari itu kembali berbisik sebelum pergi, "Beruntung sekali ya, Bu. Captain sangat perhatian. Sepanjang persiapan tadi, beliau berkali-kali memastikan kenyamanan kursi ini untuk Anda."
Xena hanya bisa tersenyum pahit. Ia mengambil sepotong cokelat dan memakannya perlahan.
Rasa manis dan sedikit pahit dari cokelat itu meleleh di lidahnya—persis seperti perasaannya saat ini kepada Prabu.
Manis karena perhatian yang mulai kembali, namun pahit karena luka yang masih belum benar-benar sembuh.
Di kelas bisnis yang sepi itu, Xena menyadari satu hal: meski ia berusaha menjaga jarak, Prabu punya seribu cara untuk menyentuh hatinya kembali, bahkan dari balik kemudi pesawat yang sedang membelah angkasa.