Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan
Evan menoleh pelan saat merasakan Raisa menggenggam balik tangannya.Tatapannya sedikit melunak."Iya… kita pulang."
Namun sebelum mereka melangkah pergi, Raisa masih sempat menoleh ke arah Mona yang semakin menjauh di ujung koridor mall.
Wajahnya terlihat rumit."Aku jadi nggak enak sama dia…"
Evan langsung menatap Raisa."Jangan kasihan sama orang yang tadi hina kamu."
Raisa menggigit bibir pelan."Tapi tetap aja… dia nangis karena kamu."
Evan menghela napas panjang."Mas udah terlalu lama bertahan di hubungan yang salah."
Raisa menatap lantai beberapa detik sebelum akhirnya bicara lirih,"Kalau dari awal mas nggak cinta sama dia… kenapa mas tetap nikah?"
Evan terdiam sebentar."Karena waktu itu mas pikir cinta bisa datang belakangan."
Raisa menatapnya perlahan."Terus?"
Evan tersenyum tipis pahit."Ternyata nggak bisa kalau hati mas udah penuh sama orang lain."
Jantung Raisa kembali berdebar mendengar jawaban itu.Ia langsung mengalihkan pandangan karena malu.Evan memperhatikan wajahnya lalu tersenyum kecil."Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Boong."
Raisa mendengus kecil."Mas jangan ngomong aneh-aneh di tempat umum."
Evan malah terkekeh pelan."Tadi siapa yang duluan gandeng tangan mas?"
Pipi Raisa langsung memerah."Itu cuma refleks."
"Iya, refleks karena sayang."
"Mas!"
Evan tertawa kecil melihat wajah paniknya.Untuk pertama kalinya sejak keluar dari lapas dan menghadapi semua kenyataan pahit Raisa merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Meski hubungan mereka masih rumit… setidaknya sekarang tidak ada lagi kebohongan di antara mereka.Evan lalu menggenggam tangan Raisa lebih nyaman sambil mulai berjalan menuju parkiran."Mau langsung pulang?"
Raisa mengangguk kecil."Iya… aku capek."
Evan melirik kantong-kantong belanja di tangannya lalu tersenyum jahil lagi."Padahal mas masih mau lihat kamu coba lingerie model lain."
Raisa langsung memukul pelan lengannya."Ih, otaknya jangan mesum terus bisa nggak sih?"
Evan malah mendekat sedikit sambil berbisik rendah di telinganya,"Nggak bisa. Soalnya yang mas gandeng sekarang terlalu cantik."
Raisa spontan salah tingkah sampai buru-buru berjalan lebih cepat meninggalkan Evan sementara Evan tertawa kecil sambil mengejarnya.
Mereka akhirnya sampai di area basement mall yang lebih sepi.Suara langkah kaki dan roda troli samar terdengar di beberapa sudut parkiran.
Raisa berjalan lebih dulu sambil memeluk beberapa paper bag di dadanya."Mas, buka mobilnya."
Evan yang berjalan di belakang malah berhenti sambil tersenyum jahil."Sun dulu."
Raisa langsung menoleh bingung."Hah?"
Evan menunjuk pipinya santai."Cium."
Pipi Raisa langsung memerah."Mas… ini di parkiran."
Evan mengangkat bahu santai."Terus kenapa?"
"Ada CCTV."
Evan malah mendekat sedikit sambil menahan tawanya."Kalau nggak dikasih… kita nggak jadi pulang."
Raisa melotot tidak percaya."Mas serius?"
Evan mengangguk santai."Iya."
Raisa mendengus malu."Kamu childish banget."
"Terserah. Yang penting mas mau hadiah."
Raisa melirik kanan kiri memastikan tidak banyak orang lewat."Kalau ada yang lihat gimana?"
Evan mendekat lagi sambil berbisik rendah,"Biarin aja. Sekalian kasih tahu kalau kamu milik mas."
Jantung Raisa langsung berdetak kacau."Mas jangan ngomong sembarangan…"
Namun Evan tetap berdiri santai di depan pintu mobil tanpa membuka kuncinya sedikit pun.Raisa akhirnya menghela napas pasrah."Yaudah… sini."
Evan langsung tersenyum puas lalu sedikit menunduk mendekat.Raisa buru-buru mencium pipinya singkat lalu langsung mundur cepat dengan wajah merah."Nah sekarang buka mobilnya."
Namun Evan malah menatapnya penuh protes."Itu mah nyolek."
Raisa membelalak."Loh tadi katanya cium!"
"Iya, tapi yang bener."
Raisa langsung memukul pelan lengannya."Mas nyusahin banget sih."
Evan tertawa kecil menikmati wajah paniknya.Lalu tanpa aba-aba ia menarik pinggang Raisa pelan mendekat sebelum mengecup singkat keningnya.
"Yaudah, mas bercanda."
Raisa langsung diam beberapa detik karena kaget.Evan tersenyum tipis lalu akhirnya membuka pintu mobil."Ayo masuk, sebelum kamu makin merah."
Evan membuka pintu mobil untuk Raisa lebih dulu."Hati-hati."
Raisa masuk sambil memeluk paper bag di pangkuannya.Sementara Evan memasukkan semua belanjaan lain ke bagasi belakang sebelum akhirnya masuk ke kursi kemudi.
Mesin mobil menyala perlahan lalu mereka mulai keluar dari area basement mall.Beberapa menit suasana di dalam mobil terasa tenang.
Sampai akhirnya Evan membuka percakapan."Kapan mas boleh ketemu orang tua kamu?"
Raisa yang tadi melihat ke luar jendela langsung menoleh pelan."Hm?"
Evan melirik sekilas sambil tetap fokus menyetir."Mas serius nanya."
Raisa terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan,"Sebenarnya… orang tua aku bilang ada yang mau melamar aku di kampung."
Tangan Evan yang memegang setir langsung sedikit menegang."Maksudnya?"
Raisa memainkan ujung paper bag di tangannya gugup."Dia teman masa kecil aku."
Evan mulai diam.Raisa melanjutkan hati-hati,"Katanya dia baru pulang kerja dari Kalimantan."
Tatapan Evan perlahan berubah tidak nyaman."Terus?"
Raisa menggigit bibir kecil."Orang tua aku suka sama dia."
Suasana mobil langsung terasa berbeda."Mereka setuju kalau aku sama dia."
Evan akhirnya menoleh sekilas, alisnya mengernyit."Kamu serius?"
Raisa mengangguk pelan."Dulu sebelum aku nikah sama Mas Aditya… sebenarnya keluarga dia pernah datang."
Evan langsung menghela napas panjang pelan."Kenapa baru bilang sekarang?"
Raisa menunduk."Aku juga baru dikabarin lagi beberapa hari lalu."
Evan tertawa kecil tipis, tapi terdengar tidak nyaman."Wah… saingan mas ternyata bukan cuma masa lalu."
Raisa langsung menoleh cepat."Aku belum jawab apa-apa ke orang tua aku."
"Tapi mereka suka sama dia?"
Raisa mengangguk kecil."Iya… katanya dia pekerja keras, dekat sama keluarga aku juga."
Evan mengetuk pelan stir mobil dengan jarinya beberapa kali sebelum akhirnya berkata,"Mas nggak suka."
Raisa sedikit terkejut."Kenapa?"
Evan menjawab jujur tanpa menutupi rasa cemburunya sedikit pun."Karena mas nggak mau kamu dilamar orang lain."
Pipi Raisa langsung memanas."Mas…"
Evan melanjutkan sambil menatap jalan di depan,
"Mas udah telat bertahun-tahun buat deketin kamu. Jangan sampai sekarang malah direbut orang kampung juga."
Raisa spontan tertawa kecil mendengar nada kesalnya."Kok jadi orang kampung…"
"Ya memang saingan mas sekarang orang kampung."
Raisa akhirnya tersenyum kecil untuk pertama kali sejak drama di mall tadi.
Melihat itu, Evan ikut tersenyum tipis."Jadi… kapan mas boleh datang?"
Raisa terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan,"Kalau mas serius… mungkin minggu depan aku bisa ajak mas pulang ke kampung."
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣