Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELAWAN DERAS ARUS SUNGAI
Di sisi lain kampung.
Para preman itu tidak benar-benar pergi.
Mereka hanya…
menghilang..
Atas arahan Pak Kades,
mereka berpindah ke sebuah pondok bambu tua yang terbengkalai di dalam hutan yang di penuhi bambu.
Tempat itu jarang sekali didatangi warga.
Tertutup rimbunnya pepohonan dan banyaknya bambu, di tambah lagi cerita mistis yang buat untuk menakut-nakuti penduduk kampung agar tidak mendekat.
dan hanya orang tertentu yang tahu jalannya.
“Di sini kita tunggu,” ucap bos mereka
“Berapa lama?” tanya yang lain gelisah.
“Sampai semuanya tenang.”
Mereka memilih diam.
Menunggu.
Menghilangkan jejak.
Karena mereka tahu jika mereka bergerak sekarang,
Bima pasti akan memburu mereka sampai ke mana pun.
Sementara itu,
Bima kembali ke rutinitasnya.
Namun kali ini… bukan karena ia menyerah.
Melainkan karena ia sedang menyiapkan sesuatu.
“Mulai dari dasar lagi,” ucapnya tegas.
Andi, Bayu, Dimas dan dua murid lainnya yang masih remaja berdiri di dalam aliran air sungai yang dingin.
Kaki mereka gemetar menahan arus.
“Kuda-kuda bukan soal kuat… tapi soal keseimbangan,” lanjut Bima.
“Kalau kalian tidak bisa berdiri di sini… kalian tidak akan bisa berdiri di mana pun.”
Hari-hari berlalu.
Latihan semakin keras.
Dari sekadar bertahan di air,
hingga mereka belajar merasakan gerakan.
Menangkap ikan dengan tangan kosong
bukan hanya soal kecepatan,
tapi ketenangan.
Gagal.
Bangkit.
Ulangi.
Begitu terus.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Tubuh mereka berubah.
Gerakan mereka mulai terarah.
Namun lebih dari itu Pikiran mereka mulai diasah.
Dan Bima…
memperhatikan semuanya.
Diam-diam.
Suatu sore Saat matahari mulai turun,
dan cahaya keemasan menyentuh permukaan air.
Bima berdiri di tepi sungai.
Tatapannya jauh.
Seolah menghitung sesuatu.
Andi mendekat.
“Kita sudah beberapa hari latihan terus…”
Bima tidak menoleh.
“Karena waktu kita memang tidak banyak.
Aku harus melatih kalian sebelum kita pergi, karena aku tidak mau melihat kalian seperti terakhir kali.
Andi terdiam.
“Maksudmu… mereka?” tanyanya pelan.
Bima mengangguk tipis.
“Mereka tidak kabur,” katanya.
“Mereka bersembunyi.”
Angin berhembus pelan.
“Menghilangkan jejak…” lanjutnya.
“Menunggu kita lengah.”
Dimas yang mendengar dari belakang langsung mendekat.
“Jadi… kita biarkan saja?”
Bima akhirnya menoleh.
Tatapannya tajam.
“Itu yang mereka harapkan.”
Hening.
“Makanya kita latihan,” lanjutnya.
“Bukan cuma untuk kuat…”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi untuk siap.”
Bayu mengernyit.
“Siap untuk apa?”
Bima menatap ke arah hutan di kejauhan.
Tempat yang tampak tenang…
namun menyimpan sesuatu.
“Untuk saat mereka keluar,” ucapnya pelan,
“dan kita tidak memberi mereka kesempatan kedua.”
Di dalam hutan
Pondok bambu itu berdiri sunyi.
Namun di dalamnya,
beberapa bayangan bergerak pelan.
Menunggu waktu yang tepat.
Tanpa mereka sadari
Bima tidak pernah berhenti mencari.
Ia hanya… menunggu waktu yang sama.
Dan saat dua pihak yang sama-sama menunggu itu akhirnya bergerak,
yang terjadi bukan lagi sekadar pencarian.
Melainkan…
pertemuan yang tidak bisa dihindari
"mari kita lanjutkan latihan," ucap bima tegas.
Suasana yang tadinya sedikit santai…
kembali berubah serius.
Air sungai yang mengalir pelan kini terasa lebih dingin saat mereka kembali mengambil posisi.
“Kuda-kuda!” perintah Bima.
Andi, Bayu, dan Dimas serta dua lainnya segera merendahkan tubuh.
Kaki mereka mencengkeram dasar sungai,
menahan arus yang terus mencoba menggoyahkan keseimbangan.
“Jangan lawan airnya,” lanjut Bima.
Ikuti… tapi jangan hanyut.”
Beberapa detik berlalu.
Bayu mulai goyah.
Kakinya bergeser sedikit.
“Fokus!” suara Bima langsung memotong.
Bayu dan Randy menguatkan kembali posisinya.
Dimas menggertakkan gigi, mencoba bertahan.
Sementara Andi dan bayu mulai menemukan ritmenya.
Bima memperhatikan tanpa banyak bicara.