Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: TETANGGA MENUDUH KAKEK SIMPAN UANG
Tetangga datang. Tiga orang. Bu Sarti. Pak Tarno. Yang pernah membantu. Yang pernah menggosip. Yang sekarang menuntut.
Mahesa melihat mereka dari beranda. Langkah-langkah tegas mendekati rumah. Wajah-wajah yang tidak biasa. Biasanya Bu Sarti tersenyum kalau lewat. Biasanya Pak Tarno lambaian tangan. Hari ini tidak. Hari ini berbeda.
Mereka naik ke beranda. Berdiri di depan kakek yang duduk di kursi goyang. Mahesa di pojok, di tempat yang menjadi miliknya, melihat dengan jantung berdebar.
"Kakek Surya," Bu Sarti memulai. Suara lebih keras dari biasanya. Suara yang berbeda. "Kami dengar Kakek dapat uang dari jual sawah. Dua bidang. Lumayan besar."
Kakek diam. Matanya sayu menatap mereka. Tubuhnya yang semakin lemah terlihat jelas di kursi itu.
"Kami butuh pinjam," Pak Tarno menambahkan. "Saya lagi butuh modal. Bu Sarti juga. Kakek kan dapat banyak. Pasti masih sisa."
Kakek menggeleng pelan. "Sudah habis, Pak. Untuk obat cucu saya."
"Semua?" Bu Sarti tidak percaya. Suaranya meninggi. "Dua bidang sawah? Harganya berapa juta? Habis semua?"
Kakek mengangguk. "Semua. Untuk obat. Untuk periksa ke kota. Untuk... hidup."
Pak Tarno mendengus. "Masa habis? Pasti disimpan. Kakek sembunyikan."
"Tidak, Pak. Saya tidak..."
"Kami cek!" Bu Sarti memotong. Tidak menunggu izin. Langsung masuk ke rumah.
Mahesa terpaku. Melihat mereka masuk. Membuka lemari. Membuka laci. Menjungkrah kasur. Mencari uang yang tidak ada.
Kakek tidak bergerak. Hanya duduk. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar di pangkuan.
Mahesa ingin berteriak. Ingin bilang, "Hentikan! Tidak ada uang! Semua habis buat aku!" Tapi suaranya tidak keluar. Hanya diam. Hanya melihat. Hanya... menerima.
Mereka keluar. Wajah merah. Marah.
"Tidak ada," kata Bu Sarti. Menatap kakek dengan tajam. "Pasti disembunyikan di luar. Kakek pinter nyimpen."
Kakek hanya diam. Tidak membela diri. Tidak bisa.
Bu Sarti mendekat. Berdiri di depan kakek. "Kakek egois! Kami pernah bantu. Pernah antar ke Puskesmas waktu kakek sakit. Sekarang kakek dapat uang banyak, tidak mau berbagi?"
"Bu, saya benar-benar tidak punya," kakek berkata. Suara lemah. Hampir tidak terdengar. "Semua untuk Mahesa. Untuk kakinya. Untuk obat. Saya... saya tidak bohong."
Pak Tarno meludah ke tanah. "Dasar kakek tua pelit! Simpan uang, anak cucu sendiri malah bau busuk!"
Mahesa merasa seperti ditampar. Kata-kata itu. Anak cucu sendiri malah bau busuk. Tentang dia. Tentang kakinya. Tentang bau yang mungkin tidak ada tapi selalu dituduhkan.
Kakek tetap diam. Tapi matanya... matanya berkaca.
Bu Sarti dan Pak Tarno pergi. Dengan sumpah serapah. Dengan ancaman. "Nanti kami sebarkan ke kampung! Biar semua tahu Kakek Surya kaya tapi pelit!"
Langkah mereka menjauh. Suara mereka hilang di tikungan.
Sunyi. Hanya suara jangkrik. Hanya suara napas kakek yang berat.
Mahesa merangkak mendekat. Duduk di lantai di depan kakek.
"Kek," panggilnya. Suara serak. "Maaf... maaf, Kek. Karena aku. Karena kakiku. Semua ini... karena aku."
Kakek menatapnya. Lama. Lalu tangannya yang keriput mengulur, menyentuh kepala Mahesa.
"Bukan salahmu," kata kakek. Suara lembut tapi pasti. "Bukan salahmu, Nak. Dunia ini yang salah."
Dunia yang salah. Kata-kata itu. Mahesa mengingatnya. Menyimpannya.
Dunia yang membuat yang sakit menjadi beban. Dunia yang membuat yang berkorban menjadi dituduh. Dunia yang membuat... tidak ada yang benar.
Tapi tidak mengubah apa-apa. Tidak mengembalikan sawah. Tidak mengembalikan tetangga. Tidak mengembalikan kepercayaan. Tidak mengembalikan yang hilang.
Malam itu, mereka tidak tidur. Duduk di beranda. Berdua. Menatap gelap. Menatap ke mana tetangga pergi.
"Kek," Mahesa berkata. Suara kecil di malam sunyi. "Kita harus pindah? Cari tempat lain?"
Kakek menggeleng. "Ke mana? Tidak ada tempat, Nak. Tidak ada yang mau kita. Lagipula... ini rumah kita. Satu-satunya."
Benar. Tidak ada tempat. Tidak ada yang mau mereka. Kakek tua renta. Cucu sakit berkaki besar. Siapa yang mau menerima?
"Tapi mereka...," Mahesa tidak melanjutkan.
"Biar," kakek memotong. "Besok mereka lupa. Atau tidak. Tapi kita punya sini. Punya beranda. Punya... bersama."
Bersama. Kata itu. Selalu kembali. Selalu menguatkan.
---
Hari-hari berikutnya, gosip menyebar. Seperti yang diduga. Seperti yang biasa.
Tetangga menjauh. Tidak lagi menyapa. Tidak lagi menolong. Tidak lagi ada. Mereka lewat di depan rumah dengan pandangan curiga. Berbisik-bisik. Menutup mulut.
Mahesa mendengar dari kejauhan. Potongan-potongan kalimat. "Kakek Surya... simpan uang... pelit... anaknya bau..."
Tapi ada yang aneh. Di tengah semua yang menjauh, ada satu yang datang.
Siti. Di sore hari. Berjalan sendirian dari kampung sebelah. Membawa keranjang kecil.
Mahesa melihat dari beranda. Tidak percaya.
Siti naik ke beranda. Meletakkan keranjang. "Ini," katanya. "Sayur dari ibu. Daging sedikit. Buat kakek."
Mahesa menatapnya. "Kamu... kamu tidak takut? Orang-orang bilang..."
"Aku tahu apa yang mereka bilang." Siti memotong. Matanya tegas. "Ibu aku juga dengar. Tapi ibu bilang, kakek Surya orang baik. Jual sawah untuk cucu. Itu bukan pelit. Itu... cinta."
Cinta. Kata yang jarang didengar. Kata yang sekarang keluar dari mulut Siti.
"Saya tahu tidak ada uang," Siti melanjutkan. "Saya tahu kakek habiskan semua untuk kamu. Ibu tahu. Makanya ibu suruh bawa ini."
Mahesa tidak tahu harus berkata apa. Hanya bisa memandang.
Kakek keluar. Dari dalam rumah. Berjalan pelan. Melihat Siti. Melihat keranjang.
"Kamu Siti, ya?" tanya kakek. "Anaknya Bu Tini?"
Siti mengangguk. "Iya, Kek. Ibu titip salam. Bilang, jangan sedih. Masih ada yang tahu kebenaran."
Kakek tersenyum. Tipis. Tapi tersenyum. "Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak."
Siti tersenyum balik. Lalu pergi. Seperti biasa. Berlari kecil meninggalkan halaman.
Mahesa memandanginya sampai hilang di tikungan.
Kakek duduk di kursi goyang. Menghela napas panjang.
"Lihat, Nak," katanya. "Tidak semua orang jahat. Masih ada yang baik."
Mahesa mengangguk. Memegang keranjang sayur. Hangat. Berisi bukan hanya makanan, tapi harapan.
---
Malam. Mereka makan bersama. Sayur dengan sedikit daging. Mewah untuk mereka.
"Kek," Mahesa berkata di sela makan. "Kenapa Siti baik sama kita?"
Kakek berpikir. Lalu menjawab, "Mungkin karena dia tahu rasanya susah. Atau mungkin karena dia punya hati. Atau mungkin... karena kamu dulu baik padanya."
Mahesa ingat. Penghapus. Dulu sekali. Di kelas dua. Siti nangis karena ketinggalan PR. Ia pinjamkan penghapus.
Hal kecil. Tidak berarti. Tapi sekarang kembali. Berkali-kali lipat.
"Kebaikan kecil, Nak," kakek melanjutkan. "Tidak akan hilang. Mungkin lama balasnya. Tapi pasti kembali."
Mahesa diam. Memikirkan. Selama ini ia hanya menerima. Dari kakek. Dari Siti. Dari beberapa orang. Tapi apa ia pernah memberi? Selain penghapus itu?
Besok, ia akan coba. Mungkin tidak banyak. Mungkin hanya membantu Siti bawa keranjang. Atau mengantarkan sayur balik. Hal kecil. Tapi mulai.
---
Malam semakin larut. Kakek tidur. Mahesa di tikar. Memikirkan hari ini.
Tetangga menuduh. Menghina. Menjauh. Tapi Siti datang. Membawa kebaikan.
Dunia tidak adil. Tapi tidak sepenuhnya gelap. Masih ada titik-titik terang. Kecil. Tapi cukup untuk melihat jalan.
Kaki kanan terasa gatal. Tapi tidak separah dulu. Ramuan nenek membantu. Daun sirih. Daun sambiloto. Semua dari buku.
Ia meraba buku itu. Di samping bantal. Bersama surat-surat yang tidak pernah dikirim. Bersama cincin ayah.
Besok, ia akan cari daun lagi. Racik ramuan lagi. Jaga kakek lagi. Dan mungkin, kunjungi Siti. Ucap terima kasih. Sekali lagi.
Karena terima kasih tidak pernah cukup. Tapi harus diucapkan.
Malam ini, meski ada tetangga yang menuduh, meski gosip menyebar, meski banyak yang menjauh, Mahesa merasa... tidak sendiri.
Ada kakek. Ada Siti. Ada yang percaya.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk tuduhan yang tidak benar. Untuk dunia yang salah. Untuk Siti yang datang.
Itu cukup.
Karena ada yang tidak menuduh. Ada yang mengerti. Ada yang tetap datang.
Malam ini, itu cukup.
---
di tunggu up nya kk.. semangat