Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tendangan Maut
Meringis dalam hening, bibir Ares perlahan mengeluarkan erangan tertahan saat kesadaran mulai merayapi sarafnya yang carut-marut. Kelopak matanya terasa seberat timah, sementara sekujur tubuhnya seakan dipaksa mengingat kembali perihnya luka robek akibat ledakan dan hantaman peluru yang baru saja ia lalui.
Namun, di tengah sisa-sisa trauma fisik itu, Ares merasakan sebuah kehangatan asing yang menjalar, kontras dengan dinginnya jemari maut yang hampir menjemputnya semalam. Saat netranya perlahan terbuka, membiarkan cahaya tipis dari balik tirai menyapa penglihatannya, jantung Ares tiba-tiba berdegup kencang hingga terasa menyesakkan dada. Bukan karena luka-lukanya, melainkan karena sosok Claire yang terlelap begitu pulas di sampingnya.
Napas Ares tertahan---- pemandangan di depannya jauh lebih berbahaya bagi kewarasannya daripada medan perang mana pun. Claire tertidur hanya dalam balutan pakaian dalam, dengan jemari yang masih melingkar protektif memeluk tubuhnya, membuat kontak kulit yang intim itu memicu desiran panas yang tak terelakkan. Dengan gemetar, Ares mengulurkan tangan, membelai pipi wanita itu dengan ujung jari selembut embun, sementara senyum tipis terukir di wajahnya yang pucat.
Ia mendekatkan wajah, mencoba meresapi setiap garis kecantikan Claire, hingga sebuah aroma familiar menyeruak masuk ke indra penciumannya—aroma yang seketika memutar kembali memori masa lalu 5 tahun silam.
" Aroma ini... seperti milik wanita malam itu?" Ares tidak pernah melupakan nya. Meski malam itu dia melakukan nya dalam keadaan tidak sadar. Namun satu yang tertinggal--- harum tubuh wanita itu. Namun saat Ares membuka mata, dia tidak menemukan siapapun di samping nya. Hanya ada bercak darah yang menandakan bahwa wanita yang melalui malam panas bersamanya masih perawan--- dan dialah yang merenggut keperawanan wanita itu.
Terobsesi untuk memastikan kebenaran ingatan itu, Ares mengabaikan rasa sakit yang menyiksa dan memaksakan tubuh lemahnya untuk bangkit, hingga ia kini berada tepat di atas Claire. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang seolah menjadi penawar rasa sakit paling ampuh di dunia.
Namun, keintiman yang sunyi itu pecah saat Claire terbangun karena hembusan napas hangat Ares yang menggelitik kulitnya. Dalam detik yang seakan membeku, dunia mereka berhenti berputar; mata Claire membelalak lebar mendapati Ares telah sadar dan berada begitu dekat di atas tubuhnya, mengunci keduanya dalam kebisuan yang sarat akan ketegangan dan rahasia yang belum terucap.
Claire menjerit. " AKKHHHHHHH! Apa yang kau lakukan?! Dasar kau... pria mesum." tanpa mempedulikan Ares yang masih terluka. Kaki Claire menendang selangkangan pria itu, membuat mata Ares melotot dengan suara tertahan sampai tubuh nya menghantam ke lantai karena dorongan dari Claire.
Ares gelagapan. " T--tunggu dulu, N--noa Claire.. ini.. hanya salah faham,"
Claire melotot, wajah nya merah. "DIAM KAU! JIKA BUKAN KARENA AKU YANG MENYELAMATKANMU DARI MEREKA, KAU PASTI SUDAH MATI KARENA DARAHMU YANG MEMBEKU ITU! TAPI KAU JUSTRU MALAH MENCARI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN!"
Ares meringkuk di lantai, memegangi selangkangannya dengan wajah pucat pasi. "Dengar... ugh... dengarkan aku dulu, Nona Claire! Aku tidak berniat... akh! Kakimu itu benar-benar maut."
Claire mengeratkan lilitan selimut di tubuhnya, matanya menatap tajam penuh emosi." Tidak berniat apa? Tanganmu tadi ada di mana, hah?! Aku menjahit luka di perutmu sampai mataku perih, tapi begitu bangun, kau malah berbuat kurang ajar! Kau pikir karena kau Tuan Muda Ares yang terhormat, kau bisa menyentuhku sembarangan?"
Ares duduk sambil memegangi pinggiran tempat tidur, berusaha mengatur napas. "Tunggu dulu! Seharusnya aku yang marah! Kau sedang apa ada di sampingku dengan kondisi... tubuh yang terlihat seperti itu?! Aku ini sakit! Aku tidak sadar semalaman! Tapi kau sadar, kan?! Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku? Apa jangan-jangan kau yang berniat melecehkanku?"
Mata Claire membelalak lebar, seolah bola matanya akan keluar saat itu juga. "KAU BILANG APA? AKU MELECEHKANMU?! Heh, Tuan Cadangan! Sembarang kalau ngomong! Kau tahu, jika bukan karena aku, tubuhmu pasti masih kedinginan dan jantungmu sudah berhenti berdetak! Kalau kata orang medis, itu namanya metode skin to skin! Itu prosedur darurat untuk hipotermia berat, bodoh!"
"Metode apa? Skin to skin? Itu alasan paling klasik yang pernah kudengar! Kau kan bisa menyalakan perapian atau memberiku sepuluh lapis selimut! Kenapa harus... harus telanjang di sampingku?!"
Claire memijit pangkal hidung nya, merasa di permalukan. "Perapian? Kau pikir itu bisa menyelamatkan mu dari penyakit mu? Dan selimut? Kau pikir aku penjual selimut, tidak ada selimut sebanyak itu disini. Aku tidak punya pilihan lain selain menggunakan panas tubuhku sendiri untuk memancing suhu tubuhmu naik kembali!"
Ares memicingkan mata, meski wajahnya masih meringis kesakitan. "Lalu kenapa kau berteriak mesum padaku tadi? Kalau kau memang berniat menolong, seharusnya kau tidak sekaget itu saat aku terbangun dan... menyentuhmu."
"Karena tanganmu itu! Tanganmu bergerak ke mana-mana, Tuan Ares yang Terhormat! Kau memelukku seolah aku ini guling daruratmu! Aku menyelamatkan nyawamu semalaman, mengobati lukamu sampai mataku berkantung, dan ini balasanmu?"
Ares tertegun, melihat perban yang melilit rapi di perutnya. "Aku... aku tidak bermaksud begitu. Tapi tetap saja, pemandangan tadi pagi itu... benar-benar di luar nalar."
Claire menunjuk pintu kamar. "Keluar! Cepat keluar dari kamarku sebelum aku menendang bagian itu sekali lagi sampai kau tidak bisa punya keturunan selamanya!"
Ares segera bangkit dengan tertatih-tatih, menyadari bahwa berdebat dengan Claire dalam kondisi tanpa busana dan dibalut amarah adalah ide yang sangat buruk bagi keselamatan masa depannya.
Begitu pintu tertutup rapat, Claire langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam ke balik selimut yang masih hangat.
Claire bergumam lirih dengan wajah memerah. "Ck, memalukan... seharusnya aku biarkan saja dia mati kedinginan tadi malam. Dasar pria tidak tahu terima kasih..."
Di tengah keheningan ruang tamu apartemen yang seolah membeku, Claire masih mematung dengan tatapan sedingin es, tangannya terlipat rapat di depan dada seolah-olah sedang membentengi diri dari sisa-sisa harga dirinya yang baru saja hancur berkeping-keping di kamar tadi. Setiap tarikan napasnya terasa berat, membawa aroma sisa pertengkaran yang masih membekas di udara.
Di hadapannya, Ares tampak kehilangan kata-kata--- sosoknya yang biasanya dingin kini menciut, dengan rona merah yang belum juga pudar dari wajahnya, seolah-olah ia sedang berusaha menelan seluruh rasa bersalahnya bulat-bulat.
Claire menggebrak pelan meja kayu di antara mereka sembari meletakkan sebuah liontin perak yang berkilau redup. "Kau tahu benda apa ini?" tuntutnya dengan suara rendah yang mengancam.
Ares melirik sekilas, masih enggan menatap wajah Claire. " Sebuah kalung... seharga.. dua ribu." sontak apa yang di katakan Ares membuat mata Claire terbelalak.
"DUA RIBU!!" Ares tersentak ke belakang saking terkejut nya. Dalam hati Claire menjerit. " Liontin lambang kekuasaan keluarga Sophia.. yang penuh kehormatan... seharga dua ribu! ORANG BODOH MANA YANG MENJUAL NYA!"
"A-- ada apa?" Ares yang biasanya berwajah datar dan sangar, entah kenapa bisa tunduk di hadapan wanita seperti--- Claire.
Claire berdiri sambil berkacak pinggang. " Katakan padaku... orang bodoh mana yang menjual kalung ini padamu?"
Ares menggaruk belakang tengkuk nya, menatap Claire dengan aneh. " Mana aku tau.. aku tidak ingat, " Ares mengusap tengkuknya, merasa tidak nyaman dengan intimidasi Claire. "Aku hanya membelinya dari pedagang loak di pinggir jalan. Dia bilang itu hanya logam tua yang tidak laku. Tapi saat aku menyentuhnya... rasanya seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.
Claire mendengus dan kembali duduk, dia seperti mengingat sesuatu. " Lalu... siapa Sunshine? Kau mengigau nama itu sepanjang malam."
Ares tertegun sejenak. " Sunshine? Aku tidak kenal? Tapi memang setiap kali aku sakit.. tanpa sadar aku selalu menyebut nama itu.. mungkin aku kenal.. tapi mungkin juga tidak, aku tidak tau apapun." Ares menunduk dalam diam. Memang benar, setiap kali dia sakit--- Albert yang merawat nya dan Albert selalu bilang jika dirinya setiap kali sakit dan dalam keadaan tidak sadar selalu menyebutkan nama itu. Bahkan Ares pernah meminta Albert untuk menemukan seseorang bernama ' Sunshine' karena penasaran. Tapi hasil nya nihil.
"Jadi... kau tidak tau apapun? Maksud ku, tentang dunia ini?"
Ares mengangkat satu alisnya." Maksud nya?"
Claire menghela nafas panjang, menatap mata Ares dalam - dalam.
"Baiklah," Claire mengambil kembali liontin itu dengan gerakan cepat. " Aku akan menyimpan ini, jika kau memang tidak tahu apa-apa, maka mulai detik ini kau berada dalam perlindunganku, apapun yang terjadi... jangan jauh dariku.. tidak ada pertanyaan dan tidak ada bantahan!" Claire yakin jika Ares adalah kunci agar dia bisa kembali ke dunia asalnya. Maka dari itu-- Ares harus berada di dalam jangkauan nya.
Ares sendiri melongo, untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang ingin melindungi nya. Dia menatap wajah Claire yang sangat cantik. " Kalo kata orang... kesempatan tidak perlu di cari.. ini kesempatan ku untuk dekat dengan nya.. tidak tau kenapa, aku sangat yakin jika kau adalah wanita malam itu."
•
•
•
BERSAMBUNG
rajin up