NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Peringatan

Matahari pagi di Glanzwald menyelinap malu-malu di balik tirai beludru, namun atmosfer di dalam kamar utama masih terasa berat oleh sisa-sisa badai emosi semalam. Matthew berdiri di dekat jendela, seragamnya sudah rapi tanpa cela, namun matanya tidak lepas dari sosok Daisy yang masih terlelap dengan napas yang sedikit berat akibat sisa alkohol.

Ingatan tentang Daisy yang memukul dadanya sambil terisak semalam terus berputar di kepala Matthew. "Pria menyebalkan," igauan itu seperti peluru yang menembus pertahanan mentalnya. Matthew tahu, Daisy yang sombong dan penuh gengsi tidak akan menangis sehebat itu hanya karena ia bersikap dingin. Pasti ada pemicu lain di pesta itu.

Setelah memastikan Daisy dalam penjagaan pelayan medis yang paling tepercaya, Matthew berangkat ke markas militer. Namun, tujuannya bukan untuk memeriksa gudang senjata, melainkan untuk melakukan pembersihan pada sumber polusi yang mengganggu ketenangan istrinya.

Markas besar militer Pusat adalah tempat yang kaku, penuh dengan aroma pelumas senjata dan kedisiplinan yang mencekam. Di sana, para perwira menengah sedang sibuk dengan rutinitas pagi mereka. Salah satu perwira muda, Mayor Richard—suami Beatrice—adalah bawahan langsung Matthew yang dikenal ambisius.

Pagi itu, Beatrice datang ke markas. Ia mengenakan gaun sutra berwarna lavender yang mencolok, membawa keranjang makanan perak untuk suaminya. Ia berjalan dengan dagu terangkat, menikmati tatapan kagum dari para prajurit muda. Baginya, status sebagai istri perwira adalah panggung untuk menunjukkan kekuasaannya.

Namun, langkah Beatrice terhenti saat ia berbelok di koridor menuju ruang kerja suaminya. Sosok tegap dengan seragam Jenderal Agung berdiri di sana, menunggunya seolah-olah sudah memprediksi kedatangannya.

"Jenderal Eisenberg," Beatrice membungkuk dengan senyum manis yang dipaksakan. "Suatu kehormatan bertemu Anda di sini. Saya hanya ingin mengantarkan makan siang untuk Richard."

Matthew tidak membalas sapaan itu. Ia berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, matanya yang dark blue menatap Beatrice dengan intensitas yang bisa membuat prajurit paling berani sekalipun gemetar.

"Nyonya Richard," suara Matthew rendah, namun setiap katanya terdengar seperti vonis mati. "Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi aristokrat Anda. Katakan pada saya, apa yang Anda bisikkan pada istri saya semalam?"

Senyum Beatrice membeku. Ia mencoba tertawa kecil, suara yang terdengar hambar di koridor yang sepi itu. "Saya tidak tahu apa maksud Anda, Jenderal. Kami hanya berbincang ringan soal mode dan... berita-berita terbaru di Ibukota."

"Jangan bermain-main dengan saya," Matthew melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak hingga Beatrice harus mendongak untuk menatapnya. Hawa dingin yang keluar dari tubuh Matthew terasa nyata. "Daisy pulang dalam keadaan mengamuk semalam. Dan laporan intelijen saya menyebutkan Anda adalah orang terakhir yang berbicara padanya sebelum dia meninggalkan aula."

Beatrice menelan ludah. Rasa takut mulai merayap di punggungnya, namun sifat dengkinya lebih besar. Ia merasa Matthew terlalu melindungi Daisy, sama seperti cara Matthew melindungi Maira dulu—dengan cara yang salah.

"Saya hanya memberitahunya kebenaran, Jenderal," Beatrice memberanikan diri, suaranya sedikit melengking. "Kebenaran bahwa Anda masih menyimpan bayangan Maira. Bahwa Anda adalah pria yang berbahaya bagi wanita mana pun. Lihatlah diri Anda sekarang... Anda mengancam saya hanya karena istri Anda sedikit mengamuk? Anda benar-benar tidak pernah berubah, jenderal Matthew."

Beatrice mencibir, matanya berkilat penuh kemenangan semu. "Anda selalu salah dalam mencintai wanita. Anda pikir dengan mengurung mereka dalam perlindungan yang menyesakkan ini, mereka akan bahagia? Anda mencekik Maira, dan sekarang Anda sedang mencekik Daisy dengan keheningan Anda. Anda adalah monster yang bersembunyi di balik seragam Jenderal."

Rahang Matthew mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Kalimat Beatrice menghantam titik paling rapuh di mentalnya: rasa takut bahwa dia adalah seorang monster.

Namun, Matthew tidak meledak seperti yang diharapkan Beatrice. Ia justru tersenyum sangat tipis—sebuah senyum yang lebih menakutkan daripada amarahnya.

"Mungkin Anda benar soal masa lalu saya, Nyonya Richard," ucap Matthew pelan, namun nadanya sangat tajam. "Tapi ada satu perbedaan besar antara dulu dan sekarang. Dulu, saya membiarkan orang-orang seperti Anda bicara. Sekarang... jika saya mendengar satu kata lagi yang membuat istri saya menitikkan air mata, saya pastikan suami Anda akan dikirim ke pos terdepan di perbatasan Utara, di mana satu-satunya teman bicaranya hanyalah badai salju."

Wajah Beatrice mendadak pucat pasi. "Anda tidak bisa melakukan itu... Richard tidak bersalah!"

"Saya adalah Jenderal Agung, Beatrice. Di militer ini, saya adalah hukum," Matthew menatapnya dengan pandangan kosong yang mematikan. "Jangan pernah menguji batas kesabaran saya terhadap Daisy. Dia bukan pengganti siapa pun. Dia adalah Duchess Eisenberg, dan siapapun yang menghinanya, berarti menghina saya."

Matthew berbalik tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Beatrice yang gemetar di koridor dengan keranjang makanannya yang hampir jatuh. Beatrice menatap punggung Matthew dengan benci sekaligus ngeri. Dia benar-benar gila karena wanita itu, batin Beatrice.

Sore harinya, Matthew kembali ke Glanzwald. Kali ini, ia tidak masuk ke ruang kerja. Ia langsung menuju kamar utama.

Daisy sudah bangun. Ia duduk di kursi dekat jendela, mengenakan jubah sutra putih. Wajahnya tampak pucat, dan matanya masih sedikit sembab. Saat melihat Matthew masuk, Daisy segera memasang topeng gengsinya. Ia menegakkan punggungnya dan menatap Matthew dengan dingin.

"Jenderal," sapa Daisy, suaranya sedikit serak. "Saya harap Anda tidak datang ke sini untuk membahas kejadian memalukan semalam. Saya akui, saya terlalu banyak minum dan kehilangan kendali diri."

Matthew berhenti di tengah ruangan. Ia menatap Daisy lama sekali, lalu perlahan ia berjalan mendekat dan berlutut di depan kursi Daisy—sebuah posisi yang sangat tidak lazim bagi seorang pria setinggi dan seberkuasa dirinya.

"Daisy," Matthew memanggil namanya dengan lembut, tanpa embel-embel protokol. "Aku bertemu Beatrice hari ini."

Daisy tertegun. Genggamannya pada jubahnya mengencang. "Untuk apa? Anda tidak perlu mencampuri urusan saya dengan wanita-wanita picik seperti dia."

"Dia mengatakan hal-hal yang menyakitimu semalam," lanjut Matthew, mengabaikan protes Daisy. "Dia bicara soal masa laluku... soal Maira."

Daisy memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak menatap mata Matthew. "Itu bukan urusan saya. Saya tidak peduli pada masa lalu Anda."

"Tapi kau mengamuk semalam," Matthew meraih tangan Daisy, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. "Kau memukulku dan terus menyebutku sebagai pria menyebalkan."

Daisy mencoba menarik tangannya, tapi Matthew menahannya dengan lembut namun tegas.

"Dengarkan aku, Daisy," ucap Matthew, suaranya bergetar dengan emosi yang tertahan. "Beatrice benar tentang satu hal: aku adalah pria yang mungkin tidak tahu cara mencintai dengan benar. Tapi dia salah tentang hal lain. Kau bukan pengganti. Kau bukan bayangan. Kau adalah satu-satunya alasan aku ingin pulang setiap hari."

Daisy menoleh kembali, menatap Matthew dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Gengsinya yang setinggi langit mulai retak menghadapi kerendahan hati suaminya yang tak terduga ini.

"Lalu kenapa Anda menjauh?" Tanya Daisy. "Kenapa Anda menjadi hantu selama tiga hari ini?"

"Itu karena aku takut," Matthew jujur. "Aku takut jika aku terlalu dekat, aku akan mengganggu kenyamananmu dan membuatmu semakin jauh dariku."

Daisy terdiam. Ia melihat kerentanan di balik mata dark blue suaminya. Ia menyadari bahwa Jenderal yang perkasa ini sebenarnya sedang ketakutan setengah mati menghadapi perasaannya sendiri.

"Anda memang pria menyebalkan, Jenderal," ucap Daisy akhirnya, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di bibirnya yang pucat. "Anda menyebalkan karena Anda lebih memilih mendengarkan gosip daripada bertanya langsung pada saya."

Daisy menarik tangannya dari genggaman Matthew, namun hanya untuk mengusap rambut pendek suaminya itu dengan lembut. "Jangan menjauh lagi. Saya lebih suka diganggu oleh Anda daripada ditinggalkan dalam kesunyian yang membosankan."

Matthew merasakan beban berat di pundaknya terangkat seketika. Ia menyandarkan kepalanya di lutut Daisy, membiarkan dirinya merasa damai untuk sejenak di rumahnya sendiri.

Hari itu di Glanzwald, tidak ada lagi surat palsu atau provokasi yang bisa masuk. Matthew telah memasang benteng pertahanan paling kuat di sekeliling Daisy, bukan dengan rantai besi, tapi dengan pengakuan yang tulus. Dan bagi Daisy, meski gengsinya belum sepenuhnya hilang, ia mulai menyadari bahwa memiliki pria menyebalkan seperti Matthew mungkin adalah takdir terbaik yang pernah ia miliki.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!