Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Arka Memohon
Kara terpaksa berbohong, jika dirinya ikut les memasak setelah kematian orang tuanya. Dan menjelaskan seperti apa yang pernah dia katakan kepada Tama.
Jika dirinya ikut les masak untuk menarik perhatian Arka. Karena itu sudah masa lalu, mereka tidak membahasnya terlalu jauh, mereka tidak ingin merusak suasana hangat yang sudah lama mereka rindukan.
Tapi mereka bersyukur, karena Kara pernah ikut les, Kara jadi bisa masak, dan mereka bisa menikmati masakannya.
Tama juga tidak juga tidak melarang, asal mereka lihat kondisi terlebih dahulu, jika Kara ingin masak ya silahkan saja! Tapi jika sudah menolak, jangan dipaksa dan malah mengatakannya pelit.
Kara dan Tama tidak jadi memperlihatkan foto Istri Dion yang sedang bersama pria lain, keduanya tidak ingin merusak suasana yang penuh dengan tawa bahagia.
...----------------...
Beberapa hari berlalu, Arka tiba-tiba datang kerumah Kara dan memohon agar rumahnya dikembalikan, dia sudah tidak betah tinggal di Mess Restoran.
Dia berteriak seperti orang gila, dia sampai memukul pintu gerbang yang membuat para tetangga terganggu.
Melihat itu akhirnya Kara keluar rumah dengan wajah masam. Kara menatap Arka dengan tatapan jijik.
Tidak ada lagi barang-barang mewah yang melekat ditubuhnya. "Aku sudah mengatakan untuk tidak datang ke rumahku!"
"Kar! Aku mohon, kembalikan rumah dan mobilku!" pintanya dengan suara serak, dia sudah berteriak sampai berjam-jam.
"Boleh saja! Asalkan kau bayar utangmu!" balas Kara dengan mencemooh.
"Aku tidak pernah memaksamu untuk memberikan semua itu! Kamu sendiri yang melakukannya!" bantah Arka dengan kesal.
Kara menatapnya dengan dingin, memang dia tidak pernah meminta, tapi dia selalu memberinya kode, agar Kara membantunya.
"Kalau begitu aku tarik kembali, aku tidak Sudi pemberianku malah dipergunakan untuk melakukan hal yang ilegal!" kata Kara.
Tubuh Arka menegang, dia menatap Kara dengan wajah panik. Tentu Kara melihat reaksinya itu.
"Kenapa? Apa aku harus perlu mengatakan bisnis apa yang kau jalan kan?" tanya Kara dengan menyeringai.
Tubuh Arka makin bergetar, dari perkataannya saja, dia sudah bisa menebak. Jika Kara sudah mengetahui hal yang paling dia takutkan.
"Kau,, kau,, tau sesuatu?" tanyanya dengan gugup.
Kara mendengus lalu berkata. "Aku bahkan tau beberapa hal. Seperti kau dan Sarah, sepasang kekasih yang sudah bertunangan! Kalian semua GILAAAA..!"
"Kamu jua sudah tahu itu?"
"Ya. Aku sudah tau. Kenapa?" tanya Kara dengan dingin.
Arka terdiam, dia bertanya-tanya, seberapa banyak Kara ketahui tentang rahasianya? Apa jangan-jangan, Kara sudah mengetahui tentang kecelakaan itu!
Tapi jika Kara sudah mengetahuinya, kenapa dia tidak melaporkan ke polisi? Mungkin dia belum tahu apa-apa. Arka berusaha berpikir positif.
"Kenapa diam? Bukannya tadi kau sangat bersemangat berteriak memintaku untuk keluar!"
"Emm,, itu. Beri aku waktu setahun untuk membayar utangku!" Kata Arka dengan suara pelan.
Kara tertawa mengejek. "Setahun? Kau mau kerja apa? Kamu mau membayarnya dengan uang harammu?"
"Kar! Jangan omonganmu! Kau pikir aku tidak bisa apa-apa haa? Asal kau tau, bisnisku sudah berjalan.. Makanya aku minta waktu setahun!"
"Kalau begitu, datang setahun lagi, jika kau menginginkan rumahmu!" Kara berbalik dan meminta satpam untuk menutup pagar.
Kara juga tak lupa menelpon satpam perumahan untuk tidak membiarkan Arka masuk, meski dia melakukan segala cara.
***
Tama Yang berada di kantor melihat semua kejadian itu melalui CCTV yang sudah terhubung di ponselnya.
Bukannya dia belum percaya dengan Kara, tapi dia hanya takut Kara kembali luluh dengan rayuan Arka yang memiliki banyak janji.
"Bersenang-senanglah! Sebelum aku menyerahkan semua buktinya ke kantor polisi!" gumamnya.
Tama juga bingung, karena Kara belum mengizinkannya untuk segera melaporkan semua orang yang terlibat dengan kecelakaan orang tuanya.
"Mungkin Kara masih ingin melakukan balas dendam!" tebak Tama.
Tama meletakkan ponselnya dan lanjut bekerja, dia dan Kara akan ke panti asuhan setelah makan siang.
Ngomong-ngomong, tentang perselingkuhan istri Dion! Tama sudah memperlihatkan semua foto dan videonya.
Tapi Tama meminta Dion untuk menyelidikinya terlebih dahulu. Takutnya itu hanya kesalah pahaman.
Tentu Dion langsung bertindak, dia mengirim dua mata-mata untuk mengintai kemana istrinya pergi, jika dia benar-benar selingkuh, saat itu juga dia menuju pengadilan agama.
...----------------...
Tama sudah berada di rumah, dia pulang saat waktu makan siang, sehingga dia bisa makan bersama dengan Kara.
"Maaf yaa,, lama nunggunya!" kata Kara yang baru turun dari lantai dua. Dia mandi dan bersiap terlebih dahulu.
Tama mengusap kepala Kara dengan pelan sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, kita juga tidak buru-buru!"
"Emm.. Yasudah, kita berangkat sekarang!" Kara merangkul tangan Tama dan berjalan ke luar.
Di bagasi mobil, sudah dipenuhi banyak makanan atau cemilan untuk anak-anak di panti.
"Oh iya, kamu ke panti itu karena Ayah dan Bunda pernah jadi Donatur di sanakan?" tanya Tama seraya menebak.
Tama mendapat informasi, jika Panti Asuhan Jelita adalah salah satu panti yang pernah menerima sumbangan dari Kedua Orang tua Kara.
Dan saat itu, Tama berpikir, mungkin Kara ke panti tersebut karena mengenal Caca dari kunjungan beberapa tahun yang lalu bersama orang tuanya. Sehingga Kara, mengatakan kepada Pak Rudi, jika dia pergi mencari teman lama.
"APA? Donatur?" Suara Kara sedikit meninggi saking terkejutnya. Dia mana tahu soal itu.
"Kamu tidak tahu? Jadi bagaimana kamu mengenal gadis yang bernama Caca?" Tama juga terkejut, karena ternyata Kara tidak tahu apa-apa.
Kara terdiam, jadi Donatur yang membiayai sekolah anak-anak adalah kedua orang tuanya? Dan Donatur yang mengalami kecelakaan itu adalah Ayah dan Bundanya.?
"Aku..!"
Tama mengutuk dirinya dalam hati, Kenapa dia malah membahas kedua orang tua Kara. Hal yang sangat sensitif baginya, dan itu bisa merusak moodnya.
"Maaf! Aku tidak bermaksud. Aku pikir kamu sudah tahu hal itu!" ucap Tama.
Kara menghela nafas panjang, ternyata di masa lalu, dia dan Caca sudah saling terhubung. Mungkin kebaikan orang tuanya, mendatangkan Caca untuk menolongnya saat itu.
"Tidak apa-apa! Aku mengenal Caca beberapa tahun yang lalu. Dia membantuku mencari kalungku yang terjatuh di depan mini market!" ucap Kara berdusta.
Kalau masalah kalung hilang, Tama mengingatnya. Tapi yang dia tau, orang yang membantu untuk mencarinya adalah tukang parkir, bukan seorang gadis kecil yang bernama Caca.
"Ohh, kalung hadiah ulang tahun yaa?" Tanya tama pura-pura tidak tahu. Dia tidak lagi peduli siapa yang membantu Kara, mau tukang parkir atau Caca itu sama saja.
"Ya. Kalung hadiah darimu!" ujar Kara.
Tama terdiam, kapan dia memberi Kara kalung? Dia paling sering memberi Cicin dan gelang. Kalau kalung hanya sekali saja, waktu Kara ulang tahun di umur 17 tahun.
"Kalung itu?"
"Ya."
Tama tak menyangka, ternyata Kalung pemberiannya itu sangat berharga. Kara bahkan Rela mencarinya sampai berjam-jam.
"Kamu masih menyimpannya?" tanya Tama penasaran. Kalung itu sudah sangat lama.
"Ya. Setelah hilang waktu itu, aku menyimpannya di brankas. Aku tidak berani lagi memakainya."
Kara tiba-tiba tersadar, jangan-jangan waktu itu dia sudah menyukai Tama! Karena saat kalungnya terjatuh, dia sampai menangis takut Tama membenci dan menjauhinya.
.
.
.
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄