Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Sesuai Permintaanmu
Sepulang dari Pantai Asuhan, keduanya langsung ke hotel, karena Kara sudah Check in sebelum mereka berangkat.
Di malam hari Sisil mengajak Kara untuk bersiap, tapi Kara dibuat bingung dengan pakaian yang dia pakai.
"Sil, kayaknya ini terlalu meriah! Kita kan cuman mau makan malam, bukan ke pesta!" ucap Kara sambil melihat pantulannya di cermin.
"Heheh anggap saja makan malam ini perayaan ulang tahunmu!" kata Sisil yang juga sedang bersiap.
"Ya tidak masalah, tapi kita cuman berdua!" Kara masih bingung dengan Sisil yang begitu bersemangat, padahal mereka cuman makan malam di gedung hotel itu juga.
Sisil tak menanggapi, dia menarik tangan Kara dengan pelan lalu keluar dari kamar. Keduanya menuju ruangan yang sudah dibooking.
Kara kembali dibuat heran, karena Sisil mengajaknya di tempat yang berbeda, tapi Sisil mengatakan jika dirinya sudah membooking salah satu ruangan dari beberapa hari yang lalu, dan ruangan yang Kara booking sudah dia batalkan.
"Kar, aku ada kejutan untukmu! Tapi kamu harus tutup mata!" pinta Sisil sembil menyodorkan sebuah penutup mata.
Kara menatap Sisil dengan tatapan menyelidik. "Kau sudah merencanakannya?"
Sisil tersenyum misterius, lalu meminta Kara untuk menutup mata. Ruangan itu sudah didekor dengan romantis, banyak bunga dan lilin yang menyala di lantai.
Kara hanya pasrah dengan semua yang dilakukan Sisil, dia duduk di kursi dengan mata yang tertutup kain.
"Sil, kenapa tidak langsung aja sih?" tanya Kara yang sudah tidak sabar.
"Tunggu sebentar lagi! Aku yakin kamu pasti sangat menyukai kejutan kami!" Kata Sisil yang makin membuat Kara penasaran.
Kami? Itu berarti, bukan hanya Sisil yang merencanakan kejutannya. Lalu siapa? Sedangkan Bintang dan Dion sedang sibuk, Kara sempat mengajak mereka untuk gabung makan malam.
Tiba-tiba Kara mendegar pintu terbuka, dia mencium aroma parfum yang begitu familiar. Seketika jantungnya berdebar.
"Tidak mungkin!" gumam Kara dalam hati.
"Kar ada apa?" Sisil segera bertanya saat melihat Kara menoleh ke sana kemari.
Kara menggeleng pelan. "Tidak apa-apa! Aku hanya tiba-tiba teringat Tama!" ucapnya dengan suara pelan.
"Hmm! Kar, aku mau tanya sesuatu. Tapi kamu jangan marah!" sahut Sisil dengan nada serius.
"Tanyakanlah..!"
"Sekarang kamu sudah tidak membenci Tama lagi, dan kamu juga sudah merima pernikahan kalian. Aku ingin tau, bagaimana perasaanmu kepada Tama?"
Kara tidak langsung menjawab, dia bingung kenapa Sisil malah membahas pernikahannya? Bukankah seharusnya dia mendapat kejutan?
"Sil, mungkin kamu tidak akan percaya. Jika aku mengatakan, aku sangat mencintainya!" Kara juga tidak tahu sejak kapan perasaan itu ada.
Bisa jadi, dia sudah mencintai Tama di kehidupan pertamanya. Tapi dia tidak ingin mengakuinya, Karena Sarah dan teman-temannya mendoktrinnya untuk tidak menyukai orang yang sudah tinggal bersama dengannya sejak kecil.
"Kamu yakin itu cinta? Bukan hanya sekedar rasa bersalah dengan apa yang kamu perbuat selama ini?" tanya Sisil.
Kara tertawa kecil, bersalah? Tentu dia sangat merasa bersalah. Tapi dia benar-benar yakin, jika dirinya sudah mencintai Tama sebelum mereka bertunangan.
"Apa yang harus Aku lakukan? Agar kamu, dan yang lainnya bisa pecaya?" Kara juga tidak memaksa mereka untuk percaya, mereka bisa menilainya sendiri dengan sikapnya yang berbeda.
"Aku percaya kok! Aku cuman takut, kamu berubah dan membenci kami lagi." Balas Sisil. "Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Sekarang waktunya memberimu kejutan!" lanjut Sisil.
"Ya. Aku juga sudah tidak sabar!" Kara menghela nafas lega, karena Sisil mengganti topik, dia suka menangis jika membahas masa lalunya.
Sisil mengatur waktu dalam hitungan mundur satu menit. Dan memberi tahu Kara, di saat itu dia akan membuka penutup matanya.
Kara hanya mengangguk paham, dia duduk menunggu dengan sabar. Ruangan itu tiba-tiba jadi sunyi.
Setelah hitungannya habis, Kara meresakan seseorang membuka penutup matanya dari belakang, tapi aroma itu kembali tercium di indra penciumannya.
Kara membuka matanya secara perlahan, dia langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang membuka tutup matanya.
Karena itu tidak mungkin Sisil, dari aroma parfumnya saja sangat berbeda. Mata Kara terbelalak melihat orang yang sangat dia rindukan.
"Raf! Kamu?" Kara beranjak dengan jantung berdebar. Dia tidak salah lihatkan?
Ya. Orang yang melepas penutup matanya adalah Tama. Aroma parfum itu miliknya, dia hampir saja membuat rencananya gagal.
"Ya ini aku!" balasnya sambil menatap Kara dengan intens. Ternyata, wanita yang dia cintai sekarang sudah makin cantik.
Kara langsung memeluknya, pantas sejak tadi dia mencium aroma parfum Tama di ruangan itu, ternyata orangnya ada di sini.
Tama membalas pelukannya dengan erat, dia sendiri bingung dengan dirinya, kenapa dia begitu mencintai wanita yang ada dipelukannya.
Padahal, dia sudah disakiti begitu dalam, tapi dia tetap mengorbankan semua untuknya. "Kamu sangat cantik malam ini."
Kara reflek melepas pelukannya, dia mendongak dan menatap mata Tama, "Raf! Kamu,, matamu sudah bisa melihat?" Tanyanya sambil melambaikan tangan di depan mata Tama yang berkedip-kedip.
"Ya. Sesuai permintaanmu sebagai hadiah ulang tahun!" balas Tama sambil tersenyum manis.
Kara sangat bahagia sekaligus terharu, dia kembali memeluk Tama dengan tubuh yang bergetar.
Ngomong-ngomong, kebutaan Tama karena melindungi Kara dari kecelakaan. Suatu hari, Kara meminta Tama untuk mengantarnya bertemu dengan Arka di sebuah Restoran.
Di situlah kecelakaan terjadi, Tama reflek memasang badan untuk melindungi Kara, dan kepalanya terbentur dengan keras.
Kara hanya terluka kecil, dan di sanalah Sarah merawat dan menjaganya sampai keluar dari Rumah Sakit. Karena sudah dibantu, tentu Kara membalas kebaikan Sarah.
Kara membelikan banyak barang-barang branded yang mahal, dan juga uang puluhan juta. Dan dia baru mengetahui jika Tama mengalami kebutaan setelah sebulan keluar dari Rumah Sakit.
Kara sempat merasah bersalah, tapi Sarah mengetakan, jika itu sudah kewajiban Tama melindunginya sebagai Suami.
Kara yang berada dipelukan Tama makin terisak, kenapa dia begitu jahat? Kenapa dia bisa terpengaruh dan percaya omongan orang-orang itu?
"Maaf!" Suaranya tersendat karena air mata yang masih menetes.
Tama menenangkannya, dia tidak ingin Kara bersedih diacara ulang tahunnya. "Jangan menangis! Itu cuman masa lalu.!"
Kara tak merespon, tapi dia berusaha mengendalikan perasaannya. Dia juga tidak ingin kejutan yang Sisil buat malah jadi berantakan.
Setelah beberapa menit, Kara melepas pelukannya, dan mengajak Tama untuk duduk. Lalu Kara meminta Tama untuk menjelaskan semuanya.
Ternyata, Tama ke luar Negeri bukan hanya untuk urusan pekerjaan, tapi dia juga melakukan operasi mata.
Dan kejutan itu, sudah dia atur dengan yang lainnya sebelum berangkat.
"Lalu di mana mereka?"
"Ada di ruang sebelah!"
.
.
.
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄