NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.

Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.

Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bawahan

Setelah melihat kenangan yang kembali—pecahan demi pecahan yang tajam dan membara seperti pecahan kaca yang menusuk otak—Iago perlahan membuka matanya.

Dunia kembali, tapi tidak ramah. Dunia kembali dengan dingin yang merayap dari lantai batu, dengan kegelapan yang menggantung di langit-langit, dengan beban yang kini ia tahu namanya.

Ia melihat sekeliling dengan kelopak matanya yang seperti ditindih beban tak terlihat. Dinding-dinding ruangan melengkung mengikuti bentuk bangunan tua, terbuat dari batu kasar yang dingin dan lembap. Tidak ada cahaya matahari yang masuk ke sini, tidak ada angin, tidak ada kehidupan—hanya obor-obor besi yang tertancap di dinding dengan bunyi krek-krek pelan, menerangi ruangan itu dengan cahaya merah kekuningan yang berkedip-kedip tak menentu, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding basah.

Di mana ini? gumamnya dalam hati.

Ia kemudian menoleh ke kanan dan kiri, gerakan kecil yang membuatnya menyadari sesuatu yang mengerikan. Kedua tangannya terbelenggu. Rantai besi tebal dan dingin melingkar di pergelangan tangannya, kulit di sekitarnya sudah memar, terhubung ke sebuah besi panjang yang ditanam kokoh di dinding batu. Ia duduk di lantai yang juga terbuat dari batu, dinginnya merambat naik perlahan ke seluruh tubuhnya, masuk ke tulang, ke sumsum.

Iago hanya terdiam. Tidak memberontak. Tidak berteriak.

Pikirannya kosong. Ada begitu banyak hal yang baru saja ia lihat, begitu banyak luka yang baru saja menganga kembali setelah bertahun-tahun tertutup, sehingga ia tidak tahu harus memikirkan yang mana, harus merasakan yang mana, harus menangisi yang mana.

Jadi ia tidak memikirkan apa pun. Ia hanya menunduk, menatap bebatuan di bawahnya dengan pandangan hampa. Sesekali matanya terpejam, tertidur karena kelelahan yang bukan hanya fisik. Lalu terbangun lagi, menatap hal yang sama, mendengar suara yang sama, merasakan dingin yang sama.

Suasana benar-benar hening. Hanya ada suara api obor yang berderak pelan di dinding, dan detak jantungnya sendiri yang berdegup lambat. Dan setelah waktu yang terasa sangat lama, suara kunci berderak nyaring di belakangnya.

Kreeeet...

Pintu yang dilapisi baja tebal itu terbuka dengan suara berat. Iago tak bisa melihat siapa yang datang. Ia tak bisa bergerak. Rantai besi itu benar-benar mengunci dirinya pada tempat ini, pada dingin ini, pada kegelapan ini.

Tap... Tap... Tap...

Suara langkah kaki menggema di ruangan sempit itu, memantul dari dinding batu ke dinding batu lainnya, menciptakan ilusi bahwa banyak orang yang datang, padahal hanya satu. Orang itu memakai jubah abu-abu sederhana yang tidak mencolok, tangannya menyilang dengan tenang di belakang punggung saat berjalan.

Setelah beberapa langkah, ia akhirnya berhenti tepat di belakang Iago.

Iago tetap menunduk, menatap bebatuan di bawahnya dengan mata kosong. Ia bisa merasakan kehadiran orang itu. Bukan hanya secara fisik, tetapi sebagai tekanan di udara, sebagai sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Bagaimana kondisimu?" tanya orang itu. Suaranya terdengar menenangkan.

Iago tidak menjawab. Tidak bisa.

Keheningan terasa semakin mencekam ketika orang itu tidak berbicara lagi, namun terus berdiri di belakangnya tanpa bergerak. Iago bisa merasakan tatapannya. Mata itu tidak berhenti menatapnya, seolah sedang membaca sesuatu di balik kulit dan tulang.

Dan itu membuat Iago akhirnya bereaksi.

Ia mengangkat kepalanya dengan susah payah. Lehernya terasa kaku dan sakit, seperti tidak digerakkan selama berhari-hari.

"Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.

"Kau ingat momen sebelumnya?" balas orang itu.

"Momen... sebelumnya?" Iago termenung sejenak, pikirannya berputar lambat di dalam kabut. Matanya yang sayu beralih ke api obor yang memancarkan cahaya merah keorenan, menari-nari di dinding basah tanpa henti. Lalu kembali ke lantai batu. "Aku... Entahlah. Aku tidak tahu."

Suasana hening lagi.

Lalu, Iago mendengar suara jubah yang berdesir pelan. Orang di belakangnya bergerak. Kemudian, dengan perlahan, lututnya menyentuh lantai batu dengan suara tumpul. Ia berlutut satu.

Tepat di belakang Iago.

Begitu dekat hingga Iago bisa merasakan kehangatan tubuhnya menembus dingin sel, bisa merasakan napasnya yang berhembus pelan di tengkuknya, membuat bulu kuduknya berdiri.

"Kau harus ingat," bisik orang itu, suaranya rendah. "Karena jika tidak, semuanya akan sia-sia. Semua pengorbanan yang telah kau lakukan. Semua nyawa yang telah diambil dengan darah dan air mata. Semuanya."

Iago merasakan dadanya sesak. "Apa... maksudmu?"

"Kau pikir mengapa kau berada di sini, Iago? Ingatlah semuanya. Memorimu. Baik manis maupun pahit, baik yang ingin kau ingat maupun yang ingin kau lupakan. Ingatlah. Karena kau tidak akan bisa maju selamanya jika terus berlari."

Kata-kata itu merayap masuk ke telinga Iago, ke dalam kepalanya, ke dalam dadanya. Dan perlahan, sesuatu mulai bergerak di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini terpendam, sesuatu yang menunggu.

Kedua tangannya yang terbelenggu mulai gemetar hebat. Rantai besinya berderak pelan dengan suara logam yang bergesekan. Kelopak matanya, yang tadi hampir tertutup lelah, perlahan naik. Pupilnya mengecil. Mulutnya terbuka sedikit, lalu mengatup dengan paksa, giginya bergemeretak keras. Kedua tangannya, yang diborgol di belakang, mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya menusuk telapak tangan.

Perlahan, sangat perlahan, pria di belakangnya bergerak maju. Ia tidak lagi berada di belakang, tetapi di samping. Wajahnya kini berada tepat di samping wajah Iago, begitu dekat hingga Iago bisa melihat setiap kerutan halus di kulitnya, setiap uban tipis di alisnya yang masih hitam.

Ia menatap Iago dengan mata yang melebar.

Kepala Iago menegang, tak mampu menoleh. Seluruh tubuhnya yang ringkih gemetar hebat tak terkendali. Matanya mulai berkaca-kaca, menggenang, tapi belum tumpah. Giginya masih terkatup rapat-rapat.

"K-kau..." suaranya nyaris tak terdengar, hanya hembusan napas.

"Kau pikir untuk apa kami mengambil nyawa manusia selama ini?" bisik pria itu, mendekatkan wajahnya hingga mulutnya hampir menyentuh telinga Iago, napasnya hangat. "Hanya untuk menurutimu? Hanya karena kau adalah Master yang harus dipatuhi?"

Mata Iago semakin melebar. Pupilnya mengecil hingga nyaris menjadi titik hitam kecil di tengah lautan putih yang basah. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya, mengalir di pelipis, di leher, di bawah kerah bajunya. Ia menunduk dalam-dalam, menatap bebatuan di bawahnya.

"Apakah hanya untuk melampiaskan emosi?" lanjut pria itu. "Tidak. Aku yakin kau bukan orang yang seperti itu, Master. Kau bukan tiran yang menikmati penderitaan orang lain."

Iago mengangkat wajahnya secara refleks, gerakan yang keluar tanpa sadar.

Dadanya naik turun dengan cepat. Keringat semakin membasahi seluruh wajahnya, menetes dari ujung hidung, jatuh ke lantai batu yang dingin. Dan dengan perlahan, seolah-olah setiap derajat putaran membutuhkan seluruh keberanian yang ia miliki, ia akhirnya menoleh.

Ia menatap wajah pria di sampingnya.

Mata abu-abu pucat. Rambut putih lebat yang terlihat sempurna.

Pikiran Iago melesat dengan kecepatan yang menyakitkan. Sebuah nama muncul dari kedalaman memorinya yang terkunci, muncul dari kabut yang selama ini menyelimuti pikirannya—seorang bawahan yang dulu pernah menjadi bagian dari Organisasi IV, seorang penyihir yang matanya berwarna sama, yang suaranya sama, yang senyumnya sama.

"Ya." Pria berambut putih itu mengangguk pelan. Matanya yang tadi melotot kini menyipit. Sudut bibirnya yang tipis terangkat sedikit. "Namaku Alarion Varek. Bawahan yang kau tumbalkan saat itu." Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam tulang Iago. "Sekaligus penyihir yang mengunci memori dan niatmu di puncak gunung, tahun 1497."

Seluruh tubuh Iago bergetar hebat. Mulutnya terbuka-tertutup berkali-kali. "Kenapa... Kenapa kau masih hidup, Alarion?" Suaranya serak. "Kenapa... tubuhmu menjadi penyihir tua yang kutemui di gunung? Kenapa kau menyembunyikan diri di sini?"

Sebelum Alarion sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Bukan satu orang, tetapi beberapa orang.

Alarion segera bangkit dengan gerakan cepat. Ia merapikan jubah abu-abunya dengan satu tarikan cepat, lalu berdiri tegak di samping Iago, postur tubuhnya berubah menjadi seorang biarawan tua yang patuh. Ketika pintu baja berat itu terbuka dengan suara derit panjang, ia sudah menunduk dalam-dalam dengan kedua tangan di perut, senyum tipisnya yang palsu kembali terpasang sempurna di wajahnya.

Lyrian masuk dengan langkah mantap, diikuti dua prajurit elit berseragam lengkap dengan pedang di pinggang. Tatapan mereka langsung menyipit ketika melihat Alarion yang berdiri begitu dekat dengan Iago.

"Jadi bagaimana?" Lyrian melangkah masuk, suaranya menggema di ruangan sempit yang pengap itu, memantul dari dinding batu. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka, matanya beralih dari Alarion ke Iago yang masih membeku, masih gemetar, masih menunduk. "Apa ia sudah bisa berbicara?"

Alarion sedikit membungkuk, satu tangan di perutnya, senyum tipisnya tidak berubah sedikit pun. "Belum, Yang Mulia. Sepertinya anak muda ini masih dalam keadaan syok yang cukup berat. Mungkin karena efek pingsannya kemarin masih belum pulih sepenuhnya."

"Begitu." Lyrian melangkah maju hingga berdiri tepat di depan Iago. Ia berjongkok perlahan, menatap wajah Iago dari jarak yang sangat dekat, matanya yang menyelidik bergerak dari ujung rambut Iago yang kusut hingga ke dagunya yang tertunduk. "Hei, Nak. Tenanglah. Tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Kau aman."

Iago tidak bereaksi. Ia masih menunduk dalam-dalam, dagunya hampir menyentuh dada, matanya setengah terpejam seperti orang yang setengah sadar. Napasnya yang tadi kencang mulai melambat sedikit demi sedikit, tetapi tubuhnya masih kaku.

Lyrian menghela napas panjang. Ia mengamati wajah Iago beberapa saat lagi, lalu berdiri dengan gerakan lambat. "Kami mengurungmu di sini karena kau mengganggu acara penyambutan prajurit elit kemarin. Itu pelanggaran serius terhadap keamanan internal gereja." Ia berhenti sejenak, suaranya menurun. "Tapi kau akan segera dibebaskan. Mungkin besok, atau lusa, tergantung kondisimu. Jangan khawatir."

Iago tetap diam. Tidak mengangguk. Tidak menggeleng. Tidak menunjukkan tanda-tanda mendengar.

Lyrian menoleh ke arah prajurit yang ia bawa. Prajurit itu tidak memiliki rambut, kepalanya botak mengilap di bawah cahaya obor, rahangnya tegas, dan matanya terlihat menyipit. Pakaian tempurnya yang terbuat dari kulit dan logam tampak sangat ketat membungkus tubuhnya, membalut otot-otot yang besar dan keras.

"Thorne," panggil Lyrian.

"Ya, Yang Mulia?" Suara prajurit itu dalam dan berat.

"Kau boleh pergi sekarang. Perkenalkan Steve dengan para prajurit elit yang lain. Tunjukkan padanya tempat-tempat penting yang perlu diketahui oleh anggota baru."

Thorne sedikit menundukkan kepalanya yang botak, menutup matanya sejenak dengan hormat, satu tangannya menyentuh perut. "Baik, Yang Mulia. Saya permisi."

Ia berbalik dengan gerakan cepat, langkah kakinya bergema di lantai batu, dan meninggalkan ruangan melalui pintu baja yang masih terbuka lebar.

Lyrian kini kembali menatap Alarion dengan saksama. Matanya menyipit sedikit, mengamati biarawan tua itu dengan seksama. "Kau. Apa dia sempat berbicara denganmu sebelum upacara kemarin? Saat kau menjaganya sendirian di ruang pemulihan?"

Alarion diam sejenak, waktu yang cukup untuk membuat Lyrian sedikit tidak sabar. Matanya beralih sekejap ke arah Iago lalu kembali ke wajah Lyrian. Senyum tipisnya masih terpasang sempurna. "Iya, Yang Mulia. Meski hanya sebentar. Dia bilang dia sering bermimpi buruk. Mimpi yang sama berulang-ulang setiap malam, katanya. Saya pikir... ia merasa dihantui oleh sesuatu."

"Begitu." Lyrian mengangguk pelan, matanya kembali menatap Iago. "Malang sekali bocah ini. Masih muda tapi sudah dibebani mimpi buruk seperti itu."

"Ya, Yang Mulia." Alarion mengangguk. "Sangat malang."

Lyrian menatap Iago lama, sangat lama. Ruangan yang pengap itu tiba-tiba menjadi sangat hening, hanya diisi oleh derak obor yang berkedip dan napas mereka yang pelan. Lalu mata Lyrian menyipit lebih tajam. Ia berjongkok lagi, kali ini lebih dekat, menatap wajah Iago dengan intensitas yang berbeda.

Tangan Iago, yang masih terbelenggu erat di belakang punggung, mulai gemetar lagi dengan hebat. Getaran kecil yang menjalar dari ujung jari ke pergelangan tangan, membuat rantai besinya berderak pelan.

"Kau..." Lyrian mengerutkan kening dalam-dalam, garis-garis di dahinya semakin jelas. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Nak? Wajahmu... terasa familiar."

Alarion segera melangkah maju dengan gerakan halus, sedikit menghalangi pandangan Lyrian dengan tubuhnya. "Apa Yang Mulia pernah melihat wajahnya di suatu tempat? Mungkin di pasar, atau di jalanan? Wajahnya memang cukup khas."

"Entahlah." Lyrian mengabaikan Alarion dengan gerakan tangan kecil, masih fokus pada Iago, matanya tidak bergeser. "Ini... perasaan yang aneh. Seperti mengenali sesuatu yang tidak bisa diingat dengan jelas."

"Ah," Alarion tersenyum, "bukankah sebentar lagi akan ada jamuan makan malam untuk menyambut prajurit baru kita, Yang Mulia? Para penasihat lain pasti sudah menunggu. Mereka tidak suka ditunggu."

Lyrian terdiam sejenak. Matanya masih menatap Iago. Lalu, perlahan, ia menghela napas panjang dan berdiri. "Ya, kau benar. Mereka pasti sudah tidak sabar untuk mulai minum dan bergosip." Ia menatap Alarion. "Jaga dia dengan baik. Dan laporkan segera jika ada perubahan apa pun, sekecil apa pun."

"Tentu, Yang Mulia. Akan saya lakukan."

Lyrian berbalik dan berjalan menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan gerakan lambat, ke arah Iago yang masih membeku di lantai, masih menunduk, masih gemetar. Lalu ia pergi tanpa berkata lagi yang diikuti oleh Alarion.

Pintu besi ditutup itu akhirnya dengan suara berat dan panjang. Bunyinya nyaring, menggema di ruangan sempit, memantul dari dinding ke dinding, lalu perlahan lenyap ditelan kegelapan.

Lyrian dan Alarion berjalan bersisian di lorong gelap yang panjang, di bawah cahaya obor yang berkedip-kedip. Bayangan mereka bergerak-gerak di dinding batu yang basah, mengikuti setiap langkah.

"Ngomong-ngomong," Lyrian memecah keheningan yang panjang, tidak menoleh, "siapa namamu? Aku baru sadar tidak pernah bertanya namamu selama ini. Aku hanya tahu kau biarawan tua yang menjaga ruang pemulihan."

Alarion tersenyum. Masih senyum tipis yang sama, tidak berubah. "Nama saya..." Ia berhenti sejenak. "Synel Arcturus, Yang Mulia. Saya biasanya dipanggil Synel."

"Synel, ya." Lyrian mengulanginya pelan. Ia menoleh sekilas ke samping. "Meski kata orang-orang kau sudah lama bekerja di sini, kenapa jarang sekali kau menampakkan wajahmu? Aku baru melihatmu beberapa kali sejak menjabat. Kau sangat pendiam."

Biarawan tua itu tertawa pelan. Ia menoleh balik pada Lyrian, matanya yang abu-abu berkilat terkena cahaya obor yang berkedip. "Yah, saya lebih suka melakukan tugas saya di tempat yang sunyi, Yang Mulia. Menjaga penjara bawah tanah, merawat para tahanan yang terluka, membersihkan luka mereka, itu sudah cukup membuat saya sibuk dan puas."

Mendengar itu, sudut bibir Lyrian terangkat sedikit. "Hmm... Seleramu aneh." Ia kembali menatap lurus ke depan, ke lorong yang semakin gelap. "Jadi, kau yang akan mengurus anak itu mulai sekarang? Merawatnya sampai sembuh?"

"Tepat, Yang Mulia. Saya akan menjaganya dengan baik. Jangan khawatir."

Mereka terus berjalan bersama, langkah kaki mereka bergema di lorong yang panjang dan sunyi, sampai akhirnya suara itu memudar dan lenyap ditelan kegelapan.

Sementara itu, di dalam sel yang gelap dan dingin, Iago masih duduk di tempat yang sama, di lantai batu yang sama, dengan rantai yang sama.

Rantai berderak pelan saat ia mengepalkan tinjunya dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Buku-buku jarinya yang pucat memutih, otot-otot di lengannya yang kurus menegang kaku. Rahangnya mengeras, giginya bergesekan dengan suara halus yang nyaris tak terdengar.

"Alarion..." bisiknya, suaranya serak. "Apa sebenarnya tujuanmu, Alarion? Mengapa kau masih hidup? Apa yang kau rencanakan?"

1
kenzi moretti
saya senang karena membaca novel ini sebagai bacaan pertama di platform ini. novel ini sangat bagus. kalian mau baca novel dari segi apa? plot? character? worldbuilding? action? gaya bahasa yang bagus? semuanya ada di sini.

tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.

novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.

tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.
Kaelits: okay, kenzi. aku lg banyak tugas sekolah. cuma novel ini gak bakal nge gantung kok.
total 3 replies
kenzi moretti
wahh gak expectt...
kenzi moretti
bab ini gelap bgt. tapi bab ini akhirnya memberikan flashback keluarga iago. adegan di pegunungan yang muncul di bab 2 pun dilanjutkan. keren thor👍
Kaelits: makasihh
total 1 replies
kenzi moretti
siapa ini?? salah satu penasihat gereja cahaya kahh? hmm...
kenzi moretti
apakah klo iago menerimanya maka dirinya yang sekarang akan lenyap dan digantikan iago lama?🤔
rinn
pantas aja ayahnya stella gak kelihatan dari awal
rinn
gacorr otto🔥
rinn
gilaa plot twist-nyaaa
rinn
sumpah gelap bgt ceritanya thor/Cry/
rinn
kasian juga eliana
rinn
akhirnya mereka bertemu kembali🔥
rinn
hmm, apakah pria tua ini synel?
rinn
nyesek bgt baca bab ini/Sob/
rinn
huhuu/Cry/
rinn
aww gentle man bgt otto😍
rinn
ahahaha kasian otto
rinn
wah licik bgt gereja cahaya
kenzi moretti
🥶
kenzi moretti
kejam kali bab ini thor😢
kenzi moretti
astaga😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!