Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjumpaan di Ruang Tunggu
Lobi utama kantor pusat Ramiro Group adalah sebuah monumen kejayaan dari kaca dan baja. Langit-langitnya yang menjulang tinggi memberikan kesan agung sekaligus mengintimidasi. Di sana, di atas sofa kulit berwarna hitam yang dingin, Seraphina Aeru duduk dengan tangan bertautan di atas pangkuannya. Ia sudah menunggu di sana selama hampir dua jam.
Denzel sedang pergi. Sejak pagi tadi, pria itu harus mendampingi Leah untuk sebuah pertemuan mendadak yang diatur oleh Jeff Chevalier di lokasi yang dirahasiakan. Bagi Seraphina, menunggu Denzel adalah sebuah rutinitas yang mulai terasa seperti pengabdian yang sia-sia. Ia sering datang ke kantor ini hanya untuk bisa melihat Denzel selama lima menit saat pria itu turun dari lift, atau sekadar memastikan bahwa Denzel masih bernapas di bawah tekanan pekerjaan yang mencekik.
Namun hari ini, Denzel tidak memberikan kabar. Pesan singkatnya hanya berbunyi: "Ada tugas luar. Jangan tunggu aku."
Tapi Seraphina tetap menunggu. Ia merasa jika ia pulang sekarang, ia akan kehilangan satu-satunya benang merah yang menghubungkannya dengan dunia Denzel yang tertutup.
Pintu lift eksekutif berdenting pelan. Seraphina mendongak, berharap itu adalah Denzel yang kembali lebih awal. Namun, yang keluar adalah Zefan Ramiro. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan setelan jas abu-abu gelap, meskipun wajahnya memancarkan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan oleh potongan rambutnya yang rapi.
Langkah Zefan terhenti saat melihat sosok gadis di ruang tunggu. Ia mengerutkan kening sejenak, mencoba mengingat, lalu sebuah pengenalan muncul di matanya. Ia berjalan menghampiri Seraphina dengan langkah yang tenang.
"Nona Seraphina? Kau masih di sini?" suara Zefan berat namun mengandung nada ramah yang jarang ia tunjukkan pada bawahannya.
Seraphina segera berdiri, sedikit gugup. "Ah, selamat sore, Tuan Zefan. Iya, saya... saya pikir Denzel akan kembali sebentar lagi."
Zefan melirik jam tangannya yang mewah. "Denzel tidak akan kembali sampai malam nanti. Jeff Chevalier membawanya dan Leah berkeliling lokasi proyek baru di pinggiran kota. Kau sudah menunggu berapa lama?"
"Hampir dua jam, Tuan," jawab Seraphina jujur, pipinya sedikit merona karena malu.
Zefan terdiam sejenak, menatap gadis di depannya. Ada sesuatu yang sangat kontras antara keceriaan wajah Seraphina dan kesunyian lobi yang kaku ini. Ia teringat percakapannya dengan Denzel semalam tentang betapa "segar" dunia Seraphina. Di tengah krisis korporat dan ancaman Jeff yang membuat napasnya terasa pendek, kehadiran Seraphina yang sederhana tampak seperti oase.
"Dua jam adalah waktu yang terlalu lama untuk dihabiskan sendirian di ruang tunggu yang membosankan ini," ucap Zefan. Ia memberikan isyarat pada sekretarisnya yang berdiri tak jauh dari sana untuk pergi duluan. "Bagaimana kalau kau ikut saya ke atas? Saya ada sedikit waktu luang sebelum pertemuan berikutnya. Setidaknya di ruang kerja saya ada teh yang jauh lebih enak daripada kopi mesin di lobi ini."
Seraphina tertegun. Ia tidak pernah menduga pria sesibuk Zefan Ramiro akan menawarinya waktu. "Apa saya tidak mengganggu, Tuan?"
"Anggap saja ini kompensasi karena asisten saya menelantarkan kekasihnya demi tugas keluarga saya," Zefan tersenyum tipis—sebuah senyum yang terasa lebih tulus daripada senyum "ideal" milik Denzel.
Mereka naik ke lantai paling atas menggunakan lift pribadi. Di dalam ruang kerja Zefan yang luas, Seraphina merasa seolah masuk ke dalam pusat saraf sebuah kerajaan. Rak-rak buku setinggi langit-langit, meja kerja yang penuh dengan cetak biru, dan pemandangan kota Jakarta yang terhampar luas di balik jendela kaca raksasa.
"Duduklah, Seraphina," Zefan menunjuk ke arah kursi tamu yang nyaman. Ia melepas jasnya, menyampirkannya di sandaran kursi, dan melonggarkan dasinya. Gerakannya menunjukkan rasa lelah yang jujur, sesuatu yang justru membuat Seraphina merasa lebih santai.
Seorang pelayan masuk membawakan nampan berisi teh melati yang harum dan beberapa potong biskuit.
"Jadi, bagaimana kuliahmu? Denzel bilang kau mengambil jurusan seni rupa?" Zefan memulai obrolan ringan sambil menyesap tehnya.
"Benar, Tuan. Saya sedang fokus pada lukisan cat minyak belakangan ini," jawab Seraphina. Ia mulai bercerita sedikit tentang dunianya—tentang bagaimana warna bisa mengekspresikan emosi yang tidak bisa diucapkan, dan tentang betapa ia mencintai cahaya matahari pagi yang jatuh di atas kanvasnya.
Zefan mendengarkan dengan saksama. Ia tidak memotong pembicaraan. Ia tidak memeriksa ponselnya. Ia memberikan atensi penuh, sesuatu yang sangat dirindukan Seraphina dari Denzel. Bagi Zefan, mendengarkan tentang teori warna dan teknik chiaroscuro adalah pelarian yang luar biasa dari angka-angka neraca keuangan yang berantakan.
"Menarik," gumam Zefan. "Dunia bisnis ini sangat hitam dan putih, Seraphina. Terkadang aku lupa bahwa di luar sana masih ada orang yang peduli pada gradasi warna. Kau mengingatkanku pada mendiang istriku. Dia juga sangat mencintai keindahan."
Seraphina tersenyum lembut. "Keindahan ada di mana-mana, Tuan Zefan. Bahkan di gedung ini, jika Anda melihat cara bayangan jatuh di koridor saat sore hari, itu adalah sebuah karya seni."
Zefan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar jujur dan hangat. "Aku sudah berada di gedung ini selama sepuluh tahun dan belum pernah sekali pun memperhatikan bayangan di koridor. Mungkin aku terlalu sibuk mencoba menjaga agar gedung ini tidak runtuh."
Ada keheningan sejenak yang tidak terasa canggung. Seraphina memperhatikan Zefan. Pria ini tampak begitu kuat di luar, namun ia bisa melihat retakan-retakan kecil di matanya—beban berat sebagai kepala keluarga dan pemimpin perusahaan. Di sisi lain, Zefan merasa terpesona oleh cara Seraphina berbicara. Gadis ini memiliki ketulusan yang transparan; ia tidak sedang mencoba mencari muka atau meminta jabatan. Ia hanya ada di sana, berbagi secangkir teh dan sepenggal dunianya yang damai.
"Tuan Zefan," ucap Seraphina pelan. "Apakah menjadi pemimpin selalu sesepi ini?"
Zefan tertegun oleh pertanyaan itu. Ia meletakkan cangkir tehnya, menatap lurus ke mata Seraphina. "Ya. Di puncak gunung, angin bertiup paling kencang, dan kau seringkali berdiri sendirian di sana. Orang-orang di bawahmu hanya melihat kekuatanmu, tapi mereka tidak tahu betapa dinginnya suhu di puncak."
"Mungkin itu sebabnya Denzel menjadi begitu kaku," bisik Seraphina, lebih kepada dirinya sendiri.
Zefan mengangguk pelan. "Denzel adalah orang yang sangat berdedikasi. Tapi terkadang, dedikasi itu bisa menjadi penjara bagi hatinya sendiri. Aku minta maaf jika kehadirannya di sisiku membuatmu merasa kesepian."
"Bukan salah Anda, Tuan," Seraphina tersenyum kecut. "Mungkin saya hanya perlu belajar untuk mencintai bayangan, karena Denzel adalah bayangan."
Zefan menatap Seraphina dengan tatapan yang dalam, sebuah tatapan yang mengandung rasa terima kasih sekaligus pengakuan. "Setidaknya bayangan butuh cahaya untuk ada, Seraphina. Dan aku pikir, kaulah cahaya itu bagi Denzel, meski ia terlalu keras kepala untuk mengakuinya."
Obrolan itu berlanjut hingga matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan semburat warna oranye dan ungu yang indah di langit Jakarta. Saat Seraphina pamit untuk pulang, Zefan secara pribadi mengantarnya hingga ke pintu lift.
"Terima kasih untuk sore ini, Seraphina. Kau benar-benar membantu pundakku terasa sedikit lebih ringan," ucap Zefan tulus.
"Terima kasih juga untuk tehnya, Tuan Zefan. Saya senang bisa berbagi cerita," jawab Seraphina.
Saat pintu lift tertutup, Zefan berdiri diam sejenak di depan pantulan dirinya di pintu lift yang mengilap. Ia merasa sesuatu yang sudah lama mati di dalam dirinya mulai berdenyut kembali. Bukan rasa cinta romantis yang impulsif, melainkan rasa nyaman karena ditemukan oleh seseorang yang melihatnya bukan sebagai "CEO Ramiro Group", melainkan sebagai manusia yang lelah.
Sementara itu, di dalam lift yang meluncur turun, Seraphina merasakan dadanya sedikit lebih hangat. Untuk pertama kalinya sejak ia mulai berhubungan dengan Denzel, ia merasa benar-benar "didengar". Ia merasa dihargai bukan sebagai bagian dari protokol keamanan, tapi sebagai dirinya sendiri.
Ironisnya, ia menemukan pengakuan itu bukan dari kekasihnya, melainkan dari pria yang menjadi alasan kekasihnya selalu sibuk.
Perjumpaan di ruang tunggu itu adalah awal dari sebuah jalinan baru yang tidak pernah direncanakan. Di sebuah rumah yang penuh dengan rahasia dan kepura-puraan, dua jiwa yang sama-sama kesepian baru saja menemukan jembatan kecil untuk saling bertukar cerita. Dan tanpa mereka sadari, perjumpaan sederhana ini akan menjadi variabel baru dalam labirin hati yang sedang dibangun oleh Denzel Shaquille—sebuah variabel yang mungkin akan meruntuhkan seluruh rencananya.