Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Mendengar Angga jatuh sakit, Gina segera menengok ke kediaman utama keluarga Pratama. Sejak Lisa di makamkan Gina sengaja selalu datang ke kantor Angga. Namun sayang Angga selalu melarang dia untuk masuk. Ini kesempatan bagi Gina untuk mendekati Angga. Dia sudah berdandan cantik,memakai minyak wangi terbaiknya dan tak lupa dia berpakaian sedikit terbuka.
Sampai di kediaman Pratama, Gina di sapa dengan baik oleh orang rumah, sejak kecil Gina memang sering bermain di sini, orang tuanya sering menitipkan Gina di rumah Bu Nada. Gina memang sejak kecil tidak punya ibu, ayahnya sibuk. Bu Nada sudah dia anggap ibu sendiri, keluarga mereka bahkan hampir menjadi besan jika saja waktu itu yang di jodohkan dengan dirinya adalah Angga.
"Meski kamu menikah sepuluh kali dengan orang lain, aku tidak akan pernah menyerah mengejar kamu Angga" Gumam Gina saat dia masuk ke rumah itu.
Bu Nada menyapa Gina dengan senang hati, Dia memeluk Gina seperti putrinya sendiri.
"Angga masih tidak mau makan Tante?"
"Iya, di bawa ke rumah sakit juga tidak mau"
"Gina nengok Angga dulu ya tan?"
Bu Nada mempersilahkan Gina ke kamar Angga, begitu masuk ke kamar itu, Gina langsung mengepalkan tangannya. Bagaimana tidak? Dia melihat seluruh kamar Angga di penuhi foto Lisa, bahkan bantal dan guling Angga juga ada gambar Lisa. Rasanya Gina benar-benar ingin menghancurkan semua foto itu.
Angga yang tadinya memandangi foto istrinya di ponsel langsung menghentikan kegiatannya sebentar saat melihat ada yang membuka pintu, melihat Gina yang masuk. Angga berdecak kesal, dia sudah melarang Gina mendekati dirinya, dia bahkan tidak mengizinkan Gina ke kantor, tapi di sini Angga tidak bisa melakukan apapun.
"Mau apa lagi kamu?"
"Ketus banget sih, aku cuma mau nengok kakak aku yang sedang sakit"
"Dengan berpakaian seperti itu? Kamu lebih terlihat ingin ke bar dari pada menjenguk orang sakit" sinis Angga.
"Aku hanya berusaha memancing, siapa tahu kamu tergoda" Kekeh Gina yang langsung blak-blakan.
"Sudah aku bilang berjuta-juta kali, aku tidak menyukaimu, kamu sudah aku anggap seperti adik kandung ku sendiri, jadi jangan berharap ada hubungan yang lebih"
Gina menghela nafas berat, meski selalu penolakan yang dia dapat, namun Gina tidak akan pernah menyerah dengan Angga.
"Aku yakin akan keluar kata iya dari mulut kamu"
Angga semakin frustasi, dia meninggikan selimut yang dia pakai dan meminta Gina untuk segera keluar.
Gina tidak bergeming, dia tetap duduk di dekat Angga, sambil membuka buah yang dia bawa. Gina mengambil Anggur kesukaan Angga.
"Aku tidak akan pergi, setidaknya sebelum kamu mengisi perut kamu dengan sesuatu" Gumam Gina.
Dia mengulurkan tangannya ke depan bibir Angga. Angga tentu melengos, dada Gina begitu tercetak jelas, jika dia menoleh, dada itu otomatis terlihat olehnya.
"Mau aku paksa? Aku bisa mencium paksa kamu kalau kamu menolak"
Angga makin kesal, dia merebut Anggur itu dari tangan Gina tanpa menoleh ke arahnya. Gina tersenyum kecut. Dia tidak menyangka Angga benar-benar tidak mau melihatnya.
"Sudah hampir dua Minggu Angga, kamu harus bangkit. Lupakan istrimu, masih banyak wanita cantik yang bersedia menggantikan posisi Lisa, kamu hanya tinggal memilih, jangan buat Tante Nada dan Om Pratama hawatir"
Angga langsung bangun, dia mendorong tubuh Gina hingga tersungkur ke lantai.
"Jaga bicaramu! meski aku m*ti, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Lisa di hati ku"
Gina tersenyum mengejek sambil berusaha bangun, jujur dia sakit hati di perlakukan seperti ini, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja.
"Kamu yakin? Kamu tahu kan, kamu itu penerus satu-satunya keluarga Pratama? Kamu mau membuat Keluarga Pratama tidak memiliki keturunan? Kamu mau keluarga Pratama berakhir?"
Angga terdiam, dia hanya mencintai Lisa, dia hanya akan memiliki anak dengan Lisa. Fakta Jika Lisa tidak memiliki riwayat penyakit rahim sungguh membuat dia bahagia. Tapi saat dia memiliki kesempatan untuk memiliki keturunan, Lisa justru meninggalkan dia untuk selamanya.
"Aku tidak perduli, jika perlu aku akan menyusul dia ke sana"Gertak Angga mulai hilang kesabaran.
Gina mengepalkan tangannya erat, ini terlalu menyakitkan untuk di dengar, dia kira saat Lisa sudah tiada, akan mudah mengambil hati Angga, tapi ini justru makin menyakitkan , dia bahkan harus bersaing dengan orang yang sudah tidak ada di dunia ini.
"Kamu boleh bicara seperti itu, tapi Tante Nada tidak akan membiarkan kamu seperti ini"
Gina mengambil tas miliknya dan langsung keluar dari kamar Angga Dia menghapus air matanya yang sedari tadi dia tahan. Bertepuk sebelah tangan semenjak dia remaja memang sangat menyakitkan.
"Kamu nggak apa-apa Nak?"
"Gina tidak apa-apa Tante, Gina pulang dulu"
"Kenapa buru-buru? Kamu bisa makan siang dulu sama Tante"
"Gina masih ada urusan kerjaan tan, Gina pamit"
Gina langsung melesat dari rumah Angga, dia tidak punya tujuan. Dia terus mengarahkan mobilnya tanpa arah.
****
Pagi ini, Lisa sudah mulai bisa bangun dari tidurnya. Lisa ingin segera bekerja dan membantu nenek Ratmi. Tapi dia harus menghubungi sahabatnya untuk menjemput dirinya dulu.
Nenek Ratmi meminta Lila untuk mengantar Lisa ke sebuah telfon umum di dekat jalan raya.
Tubuh Lisa nampak lusuh, dia memakai baju bekas dari warga yang agak kebesaran di tubuhnya. Lisa berjalan pelan dengan Lila.
Sesampainya di wartel itu, Lila memberikan beberapa uang koin ke Lisa. Lisa menerimanya. Dia berjanji setelah kembali bekerja dia akan membalas semua jasa Nenek Ratmi dan juga Lila.
Lisa mulai menelfon nomor Tari, ponsel berdering, namun tidak di angkat.
Lisa mencoba kembali menelfon, namun tetap tidak di angkat. Hingga sepuluh menit, akhirnya Lisa menyerah.
"Mungkin Tari sedang bekerja, dia pasti tidak membawa ponselnya" Gumam Lisa. Dia keluar dari wartel itu, dia akan menelfon Tari di lain waktu.
"Sudah kak?"
Lisa nampak sedih, dia menggeleng pelan pada Lila.
"Tidak di angkat, mungkin teman kakak sedang kerja "
"Kakak ingat alamat tempat kakak tinggal? Lila bisa kog ngantar kakak ke sana"
"Memang kamu punya uang?"
Lila mengagguk cepat, kemarin ada Ibu-ibu cantik baik hati yang memberinya uang di makam. Lila berniat membeli makanan enak untuk mereka bertiga, tapi dia takut nenek marah. Jadi Lila masih menyimpannya.
Lila menunjukkan dua lembar uang seratus ribuan ke Lisa.
"Dari mana kamu dapat uang itu?"
"Lila bertemu orang baik kak di jalan, Lila di kasih uang ini buat makan Lila, ibu itu baik sekali"
"Simpan saja uangnya, Kakak bisa menelfon teman kakak lain kali saja"
"Tidak apa-apa kak, ayo Lila antar ke tempat tinggal kakak"
Lisa berfikir sejenak, dia akhirnya mengagguk setuju, sampai di tempat kontrakannya dia akan meminjam uang dari Tari untuk mengganti uang Lila. Lisa kehilangan tas, dompet dan kartu identitasnya. Dia tidak tahu di mana tas nya itu, jadi dia akan meminta Tari membantu mengurus itu.
Lila dan Lisa akhirnya pergi ke kontrakan Lisa dengan mengendarai angkutan umum. Lisa masih ingat betul alamat kontrakan nya. Begitu sampai di sana. Lisa mencari kunci yang sering dia simpan di bawah pot. Namun Lisa tak menemukannya.
Gerak gerik Lisa dan Lila begitu mencurigakan hingga keduanya di datangi orang-orang yang ada di sana.
"Mau mencuri ya?" Tuduh orang itu.
Lisa langsung mundur ketakutan di tuduh seperti itu. Dia memang tinggal di kontrakan ini.
Tanpa Lisa tahu, kalau dia memang kehilangan ingatannya. Lisa dan Tari sudah berpindah kontrakan yang lebih luas, semenjak mereka bekerja di perusahaan keluarga Pratama.
masih di fase sad ya men temen 🤭🙏
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏