NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PILIHAN HATI

Bulan kelima di Singapura seharusnya menjadi masa-masa paling tenang bagi Kira. Proyek renovasi hotel warisan budaya di Orchard Road itu hampir mencapai tahap penyelesaian akhir. Namun, sebuah undangan makan malam privat dari Direktur Utama Vanguard Interio, Mr. Henderson, mengubah ketenangan itu menjadi badai pikiran yang baru.

​Di sebuah restoran atap gedung dengan pemandangan Marina Bay Sands yang berkilau, Mr. Henderson menyesap anggurnya dan menatap Kira dengan tatapan apresiatif.

​"Kira, kamu tahu kan kalau dewan direksi sangat terkesan dengan caramu menangani detail lobi itu? Kamu punya sesuatu yang jarang dimiliki desainer muda sekarang: ketenangan dalam menghadapi krisis," ucap Mr. Henderson dalam bahasa Inggris yang kental.

​Kira tersenyum sopan. "Terima kasih, Sir. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk proyek ini."

​"Itulah sebabnya saya ingin menawarkan posisi permanen. Bukan lagi kontrak khusus. Kami ingin kamu menjadi Senior Associate di sini. Fasilitas apartemen, tunjangan keluarga, dan tentu saja... kenaikan gaji yang signifikan. Bagaimana?"

​Kira tertegun. Garpu di tangannya seolah membeku. "Posisi permanen, Sir?"

​"Ya. Kamu punya waktu satu minggu untuk berpikir. Tapi jujur saja, Kira, karier seperti ini tidak datang dua kali di Singapura."

​Di saat yang hampir bersamaan di Jakarta, Arlan sedang berdiri di sebuah lahan kosong yang sangat luas di pinggiran ibu kota. Di sampingnya, seorang pria berpakaian safari dengan pengawalan ketat menunjuk ke arah cakrawala.

​"Pak Arlan, pemerintah ingin area ini menjadi simbol keberlanjutan. Pusat riset energi hijau. Dan kami ingin firma Anda yang menjadi arsitek utamanya. Ini proyek strategis nasional," ucap pejabat tersebut.

​Arlan menatap hamparan tanah itu. Ini adalah proyek impian setiap arsitek di Indonesia. Membangun sesuatu untuk negara. Namun, ia tahu proyek ini berisiko tinggi. Tekanan politik, tenggat waktu yang tidak masuk akal, dan tentu saja, ia harus mendedikasikan seluruh waktunya di Jakarta untuk tiga tahun ke depan.

​"Saya butuh waktu untuk mendiskusikan ini dengan istri saya, Pak," jawab Arlan tenang.

​Malam itu, panggilan video kembali menjadi jembatan antara dua kota. Wajah Arlan dan Kira muncul di layar masing-masing, keduanya tampak membawa beban pikiran yang serupa.

​"Lan, ada hal besar yang terjadi hari ini," Kira memulai, suaranya terdengar ragu.

​"Aku juga, Ra. Kamu duluan saja," balas Arlan.

​Kira menarik napas panjang, lalu menceritakan tawaran dari Mr. Henderson. Tentang posisi permanen, tentang karier internasional yang sudah di depan mata, dan tentang fasilitas yang bisa membawa Arlan ikut pindah ke Singapura.

​"Jadi... kamu bisa pindah ke sini, Lan. Firma kamu bisa buka cabang di Singapura. Kita bisa mulai hidup baru yang lebih... stabil secara internasional," ucap Kira, mencoba mencari binar dukungan di mata suaminya.

​Arlan terdiam cukup lama. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya yang dikelilingi gulungan maket. "Ra, tadi sore aku juga dapat tawaran. Proyek pusat riset energi hijau dari pemerintah. Proyek nasional, Ra. Tiga tahun kontraknya, dan aku harus ada di Jakarta setiap hari."

​Kira terdiam. Harapan yang tadi sempat melambung mendadak jatuh menghantam bumi. "Tiga tahun? Di Jakarta?"

​"Iya. Ini proyek yang selalu kita bicarakan dulu saat kuliah, Ra. Membangun sesuatu yang punya dampak buat negara kita sendiri."

​"Tapi Lan, tawaran di sini... ini Vanguard. Kalau aku tolak, aku nggak akan pernah punya kesempatan masuk ke lingkaran ini lagi."

​"Dan kalau aku tolak proyek pemerintah ini, namaku akan dicoret dari daftar arsitek strategis. Kita ada di persimpangan, Ra," suara Arlan terdengar berat.

​"Jadi gimana? Kita mau LDR-an tiga tahun? Kamu tahu sendiri enam bulan saja rasanya kayak apa!" nada suara Kira mulai meninggi karena rasa frustrasi.

​"Aku nggak mau LDR lagi, Ra! Aku mau kamu pulang!" Arlan membalas dengan nada yang sama kuatnya.

​"Pulang ke mana, Lan? Ke bayang-bayang kesuksesan kamu? Aku di sini dihargai sebagai diriku sendiri, bukan cuma 'istrinya Arlan Dirgantara'!"

​Hening yang menyakitkan menyelimuti mereka. Kira menyadari bahwa ucapannya mungkin terlalu tajam, sementara Arlan merasa usahanya membangun rumah selama ini seolah tidak cukup untuk menarik Kira kembali.

​"Maksud kamu, di Jakarta kamu merasa tertekan?" tanya Arlan pelan, suaranya kini terdengar sangat terluka.

​"Bukan begitu, Lan... Maksud aku, kesempatan ini... ini pencapaian aku sendiri. Sebelas tahun aku jadi sahabat kamu, aku selalu bangga sama proyek-proyek kamu. Sekarang saat aku punya proyekku sendiri, kenapa rasanya kamu berat buat kasih dukungan?"

​"Aku dukung kamu, Kira! Aku terbang ke Singapura demi kasih semangat ke kamu! Tapi kalau dukung kamu berarti aku harus buang seluruh karier dan mimpiku di sini untuk jadi pengikut kamu di Singapura... apa itu adil buat aku?"

​Kira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata mulai menetes di sela-sela jarinya. "Kita baru nikah beberapa bulan, Lan. Kenapa tantangannya sesulit ini?"

​"Karena kita berdua punya mimpi yang sama besarnya, Ra. Dan ego yang sama kuatnya," bisik Arlan. "Sudah malam. Kita pikirkan lagi besok. Aku nggak mau kita ambil keputusan saat sedang emosi."

​Tiga hari berlalu tanpa komunikasi yang berarti. Hanya pesan-pesan singkat menanyakan kabar yang dijawab dengan satu atau dua kata. Kira tidak bisa fokus bekerja. Desainnya terasa hambar, sementara Arlan di Jakarta terus menunda penandatanganan kontrak pemerintah.

​Sampai suatu sore, Kira mengunjungi hotel warisan budaya yang sedang ia kerjakan. Ia berdiri di tengah-tengah lobi yang setengah jadi. Ia melihat detail-detail kayu yang ia pilih dengan penuh pertimbangan. Ia bangga, sangat bangga. Namun, saat ia melihat sebuah keluarga kecil—ayah, ibu, dan seorang anak—sedang berfoto di depan pintu hotel, hatinya berdenyut.

​Ia teringat janjinya dengan Arlan di bawah langit senja. Bahwa rumah bukan soal bangunan, tapi soal orang di dalamnya.

​Di Jakarta, Arlan sedang duduk di studio rumah mereka. Ia menatap kursi kosong di samping mejanya—meja yang ia buatkan khusus untuk Kira. Ia melihat beberapa sketsa Kira yang masih tertinggal di sana. Ada coretan kecil di pojok kertas: "Lan, nanti di sini kita kasih pot bunga melati ya?"

​Arlan tersenyum pahit. Ia menyadari sesuatu. Seberapa besar pun proyek pemerintah itu, ia tidak akan bisa menikmatinya jika tidak ada Kira yang protes soal kopi pahitnya setiap pagi.

​Malam itu, tanpa ada yang memulai lebih dulu, keduanya melakukan panggilan video secara bersamaan.

​"Lan," ucap mereka serempak.

​"Kamu dulu," ujar Arlan.

​Kira tersenyum, kali ini tulus. "Aku sudah bicara sama Mr. Henderson hari ini. Aku menolak posisi permanen itu."

​Arlan terbelalak. "Kenapa, Ra? Itu mimpi kamu!"

​"Mimpiku bukan jadi desainer hebat di Singapura, Lan. Mimpiku adalah jadi desainer hebat yang bisa pulang ke rumah dan cerita soal pekerjaanku ke kamu. Aku sudah nego sama mereka. Aku akan selesaikan proyek ini sebulan lagi, lalu aku akan jadi konsultan lepas untuk mereka dari Jakarta. Aku akan terbang ke sini sebulan sekali kalau ada rapat besar. Mereka setuju karena mereka nggak mau kehilangan desainku."

​Air mata haru menggenang di mata Arlan. "Ra... kamu beneran lakukan itu buat kita?"

​"Iya. Karena aku sadar, kesuksesan di sini nggak ada rasanya kalau aku harus merayakan sendirian di apartemen dingin itu." Kira menatap Arlan lekat. "Sekarang, kamu gimana?"

​Arlan menarik napas panjang. "Aku akan ambil proyek pemerintah itu, Ra. Tapi dengan syarat yang aku ajukan tadi sore: aku minta waktu kerja yang fleksibel dan aku menolak untuk lembur di akhir pekan kecuali keadaan darurat nasional. Aku bilang, istriku adalah prioritas utamaku."

​"Mereka setuju?"

​"Mereka sempat ragu, tapi mereka bilang mereka butuh otakku. Jadi, mereka setuju." Arlan tertawa kecil. "Jadi... kita berdua menang, Ra?"

​"Kita menang, Lan. Struktur kita nggak runtuh, cuma perlu sedikit penyesuaian desain," balas Kira sambil menghapus air matanya.

​Satu bulan kemudian.

​Bandara Soekarno-Hatta kembali menjadi saksi. Kali ini bukan untuk perpisahan, tapi untuk kepulangan. Arlan berdiri di pintu kedatangan internasional dengan sebuah papan besar bertuliskan: "Selamat Pulang, Lead Designer Kesayanganku. Kopinya Sudah Aku Siapkan!"

​Begitu Kira muncul di pintu keluar, ia langsung berlari dan menghambur ke pelukan Arlan. Seluruh orang di bandara menoleh, namun mereka tidak peduli.

​"Aku pulang, Lan," bisik Kira di dada Arlan.

​"Selamat datang di rumah, Ra," balas Arlan, mencium puncak kepala istrinya berkali-kali.

​Di dalam mobil menuju rumah baru mereka, tangan Arlan tidak pernah melepaskan genggaman tangan Kira.

​"Tahu nggak, Ra?" ucap Arlan saat mereka melewati jalanan Jakarta yang macet.

​"Apa?"

​"Sejak kamu nggak ada, aku baru sadar kalau gorden yang kamu pilih itu beneran bagus. Bikin rumah terasa hangat, meskipun orangnya nggak ada."

​Kira tertawa. "Baru sadar sekarang? Itu namanya sentuhan cinta, Tuan Arsitek."

​"Mulai besok, proyek pemerintah dimulai. Dan mulai besok juga, kamu bakal pusing dengerin aku ngeluh soal birokrasi," goda Arlan.

​"Nggak apa-apa. Aku sudah siapin telinga dan kopi manis buat kamu. Tapi janji ya, nggak ada lagi rahasia soal tawaran-tawaran besar?"

​"Janji, Sayang."

​Malam itu, meja makan di rumah mereka tidak lagi terasa luas. Ada dua piring, dua cangkir kopi, dan ribuan cerita yang siap dibagi. Sebelas tahun persahabatan mereka telah mengajarkan satu hal penting: bahwa di dunia yang penuh dengan ambisi dan gedung pencakar langit, kemenangan sejati adalah tahu ke mana harus pulang.

​Bab 24 ditutup dengan pemandangan lampu-lampu Jakarta yang kini terasa jauh lebih indah bagi Kira, karena ia melihatnya dari samping pria yang menjadi atap dan pondasi hidupnya.

1
Penikmat Sunyi
yang nulis cerita keren sekali....😍
Penikmat Sunyi
kerennnn bangetttttt rumah tangga ini😍
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!