Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31🩷 Sehari bersama MIPA 3
Kedua orangtua Fani tidak pernah keberatan saat mama dan papa menyatakan bahwa mereka bangkrut, dan akan memulai usaha di Jogja, kota kelahiran papa. Mereka justru mensupport.
"Wah, jadi Dea pindah dong...kuliah di sana?" mereka duduk bertiga di dalam mobil, Tante Aini, mama dan Dea di kursi belakang. Dea mengangguk, "iya tante."
"Bakalan kangen ketemu Dea, Tante. Nanti sering-sering main ke Bandung, apalagi kalo kak Fani sama mas Huda udah nikah."
Terus, Elok gimana jeng....jadi cari kerja, kapan wisudanya?
Jadi, rencananya Elok....
Dan obrolan santai antara mama dan tante Aini hanya menjadi latar suara di dalam mobil ketika Dea memilih menatap jalanan diluar kaca jendela mobil, hmmm....akan ia ingat jalanan ini. Jalanan yang acap kali menemani Dea menghabiskan waktu senggang menuju hiruk pikuk dan hiburan tengah kota.
Setiap incinya, akan terpotret dalam memori. Benar kata penyair, Bandung bukan sekedar letak geografis....
/
Ia berjalan mengikuti ayunan langkah kedua ibu ini, mencicipi satu persatu sampel makanan untuk hajatan nanti. Mulai dari makanan utama bernuansa Sunda dan Jogja, serta hidangan penutup yang memberikan sentuhan nuansa kembali ke tempo doeloe.
"Bubur campur, coba... De," pinta mama menyuapkan satu sendok kayu ke dalam mulut Dea, berisi biji salak, pacar cina, bubur sum-sum yang berkuah gula merah plus santan.
Alis Dea naik dengan jempol mengudara. Namun kemudian Dea melirik jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 10, semoga masih sempat.
Yang ini serabi kuah kinca...ujar si manager catering, ada umbi-umbian rebus ada kue basah...
Rifal tidak membuat Dea risih dengan terus menanyakan kabar, Dea dimana dan sebagainya. Sesimpel itu Rifal.
Rumah Nara cukup ramai di Minggu pagi ini, anak-anak MIPA 3 berkumpul dengan Mutia membawa sebuah kado tas bermerk serta sepatu untuk dibungkus.
"Selain om Fal, siapa lagi yang nyumbang gede? Ayo jawab! Pake nama no name segala anjiirr banget, so-soan misterius, kalo hamba Allah pasti param." Ujar Mutia sendiri selalu bendahara tak pernah tau siapa saja, sebab uang yang dititipkan lewat Rifal.
"Nyumbang berapa emang Mut?" tanya Dian.
"Param 300 ribu, om Fal sama. Nah si no name ini 500 ribu."
Dan beberapa dari mereka membuat gerakan mulut o besar tanda takjub.
"Gue yank!" Yusuf mengunjuk tangan namun justru mengundang cacian dari yang lain.
KAGAK MUNGKIN!!!
"Jajan aja sering minta gratisan dari Tian." Tasya membongkar kartunya sambil mencebik.
"Bini tua Tian ngambek nih...acara pacaran mereka disusupi pengemis terus," kekeh Andi.
Hahahaha, "pengemis."
"Si Alan." Tawa Yusuf pada Andi.
Tian tertawa cengengesan. Sementara Rifal, ia tengah mengobrol dengan Rama, Vian sambil menunjuk dan memperhatikan motornya, begitu khusyuk mengobrol, apa lagi jika bukan tentang spare part motor.
Lantas ada tim cewek yang tengah membungkus termasuk Nara sendiri ditambah Tama.
"Jadi gue tanya, gunanya ada cowok-cowok disini apa?" lirik Vina pada kumpulan pemain game online dan tukang ngencani motor, tak lupa Yusuf yang malah jadi pengganggu Muti.
"Cupid ih! Diem ngga?!"
"Lah, buat gangguin ciwi-ciwi lah sambil kasih semangat..." jawab Fajar mencomot cemilan, "kan katanya suruh ngumpul semua termasuk cowok-cowok buat ngomongin rencana surprisenya?"
"Eh iya, bener. Jadi surprisenya gimana?" tanya Mita.
"Mau pake cara dulu, siram air, telor sama terigu?" tawa Rio.
"Abis itu goreng." Rama menimpali membuat mereka tertawa, "terlalu sadis caramu, bang."
"Jangan ihh, abis itu kan Bu Wilda ngajar lagi...kasian kalo mesti begitu, kalo dia ngga bawa baju ganti gimana, mana bau..." itu Dian yang bicara.
"Terus? Om Fal ada ide ngga?" tanya Rika. Justru hanya membuatnya menoleh saja sambil menggeleng, "kasih aja kadonya langsung, happy birthday."
Nara tertawa, "nanya sama Rifal. Dia pasti ngambil cara tersimpel."
"Ngga surprise dong, udah mahal-mahal beli kado jugaa .." kini Muti cemberut duduk di atas karpet di halaman belakang rumah Nara itu.
"Nyalain confetti. Udah cukup."
"Kaget nanti Bu Wildanya ngga, takut jantungan kan repot." Meri bersuara sambil memotong selotip dan menyerahkannya pada Nara.
"Ribet amat. Namanya juga gelar surprise ya pasti kaget lah, yang ngga kaget tuh gelar pengajian...." Vian berdecak. Vina sampai tersedak minuman dinginnya, "Saravv njirrr."
Gilang ikut tertawa renyah, "gelar tikar di lantai, siapin cemilan piknik plus tart pake lilin jadi pas Bu Wilda masuk langsung prasmanan piknik...darrr confetti meledak, kagetnya dapet tapi ada ancang-ancang...*barakallah fii umrik, Bu Wilda...tadaaa ini buat ibu*. Lo keluarin lah kado, *uhhh masyaAllah, jazakillah anak-anak*, sun tangan atu-atu..." Ucap Gilang lengkap dengan gestur meniru suara lain.
Mereka terdiam dengan usul Gilang yang asal nyeletuk itu.
"Ih iya bener! Tumben om Bolang pinter!" mereka berseru riuh lagi, dengan tawa dari yang lain.
Mama Nara tersenyum menghampiri, "wah lucu! Kertas kadonya...udah selesai?"
"Sedikit lagi, tante."
"Ra, di depan ada Dea, tapi bukannya Dea beda kelas, ya? ikut kasih surprise juga?" tanya mama langsung memancing wajah-wajah kaget plus penasaran anak-anak MIPA 3 ini, "Deanada Kharisma, kan Tante? Bukan Dea imut?" tanya Yusuf diangguki mama Nara yang terkekeh.
"Eeeeeaaaa, tampol om tampol, katanya Dea imut. Berani-beraninya nih busi motor." Tunjuk Rio pada Yusuf memantik keramaian mereka.
"Oh, iya ma...sebentar. Ada apa ya, Dea?" tanya Nara bergumam sembari beranjak dari duduknya dengan mamanya yang sudah melengos kembali.
"Dea mau ketemu gue, Ra...gue yang nyuruh kesini." ucap Rifal santai yang langsung beranjak dari posisi duduk.
Makin saja anak-anak MIPA 3 ini dibuat heboh plus penasaran, "yeeeee! Gas om gasss brummm brummm, jegerrr tubrukan deh!"
"Lo mau pada ngapain ikut berdiri?" tanya Rifal melihat Vian, Rio, Andy dan beberapa anak perempuan ikut beranjak.
"Lah, mau ketemu Dea.."
Rama tertawa.
"Hebatnya Dea pacaran sama cowok sekelas."
"Hahah, kocak. Lo semua ngapain ikut heboh, Rifal yang ketemu Lo semua yang ikut ambeien..." Vina menggeleng, "suruh masuk aja Fal, Ra..." pinta Vina.
/
Dea masih memunggungi pintu rumah Nara, sebenarnya ia pun merasa malu dan canggung bak masuk sarang macan, *balik aja apa stay, balik aja apa stay*? Dea mengetuk-ngetuk sepatu di teras.
"De, mau ketemu Rifal ya...masuk dulu sini, ada yang lain kok."
Gadis yang mencepol rambutnya di atas bak gadis-gadis Korea itu menoleh dengan bandana pink yang membatasi poni jarang dibawah alisnya itu, sisa rambut yang membingkai wajahnya tak bisa menutupi kegugupan Dea, "disini aja, Ra. Masih pada disini ya? Gue ganggu kalo gitu."
"Engga. Udah selesai kok bungkus kadonya." Rifal melebarkan daun pintu dan melewati Nara yang masih ada di gawang pintu.
Nara tersenyum gemas melihat keduanya. Dimana Rifal terlihat betul menjadi sosok yang lembut untuk Dea.
"Malu lah, aku bukan MIPA 3."
Alih-alih diam, mulut ember mereka justru berseru dari halaman, "sini Dea, masuk aja...ditungguin dari tadi loh, Rifal hampir aja nyemil meja mama Nara nungguin Dea katanya..."
Wkwkwkwkwkwk.....
Dea hanya cengengesan ringan.
"Ngga usah di dengerin, mereka emang suka becanda. Yu masuk dulu, baru sampe kan?" Dea mengangguk, Rifal meraih tangan Dea dan menggandengnya masuk.
"Dea...sini masuk nak."
"Tante, om..." Dea membungkuk di depan keluarga Nara, menyusul urutan berjalan, Nara, Rifal lalu dirinya.
.
.
.
.