NovelToon NovelToon
Little Tiger : Harga Sebuah Penolakan

Little Tiger : Harga Sebuah Penolakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Fantasi Wanita / Persaingan Mafia
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.

***

Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.

Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.

Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Beberapa jam kemudian.

Colly baru saja keluar dari kelas. Ia berjalan sendirian menyusuri koridor kampus yang mulai lengang ketika teriakan keras terdengar dari arah lapangan belakang.

Alisnya berkerut.

Ia mengikuti sumber suara itu dan mendapati Michael Lin sedang berkelahi dengan empat mahasiswa lain.

“Apa lagi ini…” gumam Colly.

“Kenapa dia selalu saja terlibat masalah?”

Saat Michael sibuk menghadapi tiga orang di depannya, seorang mahasiswa lain muncul dari belakang sambil mengangkat sepotong kayu.

Mata Colly membelalak.

“Hati-hati! Dari belakangmu!” teriaknya.

Michael refleks menoleh. Dalam satu gerakan cepat, ia berputar dan menendang tangan pria itu, membuat kayu terlepas dan tubuhnya terhempas ke tanah.

Bruk!

“Aaaargh!”

Mahasiswa itu menjerit kesakitan, sementara yang lain sudah terkapar lebih dulu.

Michael berdiri tegak, napasnya sedikit memburu, matanya dingin menatap mereka.

“Tidak ada cara yang lebih pintar untuk menyerang?” sindirnya.

“Pengecut.”

Colly melangkah mendekat, memandang keempat mahasiswa yang tergeletak di tanah.

“Wah… luar biasa,” ucapnya jujur.

“Kau mengalahkan mereka sendirian.”

Michael tidak menjawab. Ia berbalik dan langsung pergi, seolah Colly tidak pernah ada.

“Michael Lin, tunggu!” seru Colly mengejarnya.

“Jangan ikut campur,” jawab Michael tanpa menoleh.

Colly berhenti di depannya.

“Aku sudah membantumu. Kenapa kau malah bersikap kasar?”

“Membantu?” Michael menatapnya sinis.

“Aku tidak butuh bantuan siapa pun. Tanpamu, mereka tetap akan kalah.”

“Dasar sombong!” Colly mendengus kesal.

Michael mendekat setengah langkah. Suaranya rendah dan dingin.

“Nona manja, lebih baik kau menjauh dariku… kalau tidak ingin terjadi sesuatu padamu.”

Colly mengepalkan tangan.

“Aku sudah melewati banyak masalah. Kenapa kau memanggilku nona manja?”

Michael tertawa kecil tanpa humor.

“Aku salah memanggil?”

“Kau punya kakak yang siap menghancurkan siapa pun yang menyentuhmu. Siapa yang berani macam-macam?”

Colly menatapnya tajam.

“Maksudmu kejadian keluarga He?”

“Kalau kau merasa simpati pada mereka, kau salah. Mereka pantas menerima balasannya. Permainan mereka sudah melewati batas.”

Michael menghela napas pelan, lalu melangkah pergi.

“Aku tidak berniat menyinggungmu,” ujarnya dingin.

“Aku hanya ingin hidup aman.”

“Jadi kau menganggap kami penjahat yang suka menyakiti orang?” teriak Colly dari belakang.

Michael tidak menjawab.

Colly berdiri di tempatnya, dadanya naik turun menahan kesal.

“Orang itu…” gumamnya.

“Selalu menjauh dari semua orang, sombong, dingin… padahal aku bahkan belum pernah menyinggungnya.”

“Colly, kenapa belum pulang?” tanya Profesor Zhou ketika mendekatinya.

“Ada sesuatu yang terjadi?”

“Tidak ada apa-apa, Profesor Zhou,” jawab Colly cepat.

“Bagaimana dengan pelajaranmu hari ini? Apakah semuanya berjalan lancar?” tanya profesor itu lagi.

“Lancar,” jawab Colly singkat.

“Kalau ada kesulitan, jangan ragu untuk datang mencariku,” ujar Profesor Zhou dengan senyum ramah.

“Baik, Profesor Zhou. Terima kasih,” ucap Colly sopan.

Beberapa saat kemudian, Profesor Zhou meninggalkan area kampus, berjalan menuju parkiran dan menghilang dari pandangan.

Colly masih berdiri di tempatnya.

"Apakah dia adalah pemyelamatku?" gumam Colly.

Di sisi lain, Michael Lin ternyata belum pergi. Ia berdiri di luar pagar kampus, tubuhnya setengah tersembunyi bayangan pepohonan, tatapannya tertuju ke arah Colly, seolah sedang mengamatinya.

Sudut bibir Michael terangkat tipis.

“Colly Shen… hari ini baru permulaan,” gumamnya pelan.

“Permainan kita masih panjang. Tunggu saja apa yang akan terjadi.”

Setelah itu, Michael berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kampus dengan ekspresi yang sulit ditebak.

***

Malam hari.

Wilayah utara.

Kegelapan malam di wilayah utara pecah oleh suara tembakan dan jeritan. Sekelompok perusuh bersenjata menyerang tanpa pandang bulu. Mereka menembaki siapa saja yang berada di area itu.

“Ahhh!”

Seorang pria berseragam kubu para tetua Xiao Han terhuyung sebelum akhirnya ambruk ke tanah, darah mengalir dari dadanya.

“Musuh! Mereka menyerang dari sisi timur!” teriak salah satu anak buah tetua.

Namun perusuh itu bergerak brutal dan terorganisir. Dalam hitungan menit, beberapa anak buah para tetua tumbang—ada yang tewas, ada yang terluka parah.

“Wilayah utara kacau! Kita tidak bisa menahan mereka!” teriak seorang pria dengan panik.

Di saat situasi hampir tak terkendali, suara mesin kendaraan terdengar dari kejauhan.

Lampu-lampu sorot menembus gelap malam.

Xiao Han datang.

Pintu mobil terbuka. Xiao Han turun dengan wajah dingin, Roy dan Monica mengikutinya di belakang.

“Teman-teman!” suara Xiao Han menggema di tengah malam,

“malam ini kita ambil kembali apa yang menjadi hak kita. Habisi mereka dan rebut wilayah ini!”

“Siap, Bos!” jawab para anggota serempak.

Isyarat tangan Xiao Han terangkat.

Baku tembak pun pecah.

Dor! Dor! Dor!

Peluru beterbangan dari kedua sisi. Musuh menyerang tanpa ampun, tembakan membabi buta menghantam barisan anak buah Xiao Han. Salah satu anggota Shen terkena peluru di dada.

“Arghh…!”

Tubuhnya terhuyung lalu roboh ke tanah, darah mengalir deras.

“Bos! Mereka membunuh Ryan!” teriak salah satu anak buah.

Rahang Xiao Han mengeras.

“Majuuuu!” bentaknya.

Roy dan Monica langsung membalas tembakan. Peluru mereka menghantam musuh satu per satu.

Namun musuh tidak tinggal diam.

Dor! Dor!

Dua anak buah Xiao Han kembali tertembak. Salah satunya terjatuh dan tidak bergerak lagi.

“Bajingan!” maki Xiao Han.

Ia bergerak maju, berlindung di balik kendaraan rusak, lalu menembakkan peluru dengan presisi.

Dor! Dor!

Dua musuh roboh bersamaan.

“Jangan beri mereka celah!” teriak Xiao Han.

“Balas setiap darah yang mereka tumpahkan!”

Pasukan Shen menyerang balik dengan brutal. Pertempuran semakin sengit. Jeritan, tembakan, dan suara tubuh jatuh bersatu dalam kekacauan malam.

Beberapa menit kemudian, kubu para tetua mulai terdesak. Mereka kehilangan banyak orang, sementara sisa pasukan mundur dengan panik.

Xiao Han berdiri di tengah medan tempur, menatap tubuh anak buahnya yang gugur.

“Kalian tidak mati sia-sia,” gumamnya dingin.

“Wilayah ini… akan kembali menjadi milik kita.”

“Beraksi!” perintah Xiao Han melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

Detik berikutnya—

Sret! Sret! Sret!

Anak panah melesat dari kegelapan, menghujam ke arah para perusuh yang sebelumnya menembak brutal ke arah tim Xiao Han.

“Aaaargh!!”

Jeritan demi jeritan menggema.

Seorang perusuh terjungkal setelah anak panah menembus lehernya.

Yang lain roboh dengan panah tertancap di dada, jantung, dan perut.

Serangan itu datang dari arah yang tidak mereka duga—cepat, senyap, dan mematikan.

“Musuh dari mana ini?!” teriak salah satu perusuh dengan panik sebelum tubuhnya ambruk bersimbah darah.

Anak panah terus menghantam sasaran satu per satu. Tidak ada tembakan balasan yang sempat dilepaskan.

“Mundur! Semua mundur!” perintah Monica tegas kepada timnya.

Pasukan Xiao Han bergerak perlahan ke belakang dengan formasi rapi, memberi ruang penuh bagi serangan jarak jauh itu.

Dari balik bayangan, hujan panah terus dilepaskan—

mengenai kepala, jantung, perut, dan anggota tubuh lain.

Satu per satu musuh tumbang, tewas di tempat.

Dalam hitungan menit, suara tembakan lenyap.

Yang tersisa hanyalah tubuh-tubuh perusuh yang tergeletak tak bernyawa di tanah, dan bau mesiu bercampur darah memenuhi udara malam.

Xiao Han menurunkan tangannya.

“Bersihkan wilayah,” ucapnya dingin.

“Pastikan tidak ada satu pun yang lolos.”

“Hanya sekelompok semut, tapi sudah bisa menewaskan banyak orang,” ucap Xiao Han dengan nada datar namun menusuk.

“Sepertinya anak buah para tetua perlu dilatih ulang.”

Roy melangkah mendekat.

“Bos, bagaimana dengan Yohanes?”

Tatapan Xiao Han mengeras.

“Sebarkan wilayah utara sudah kita rebut kembali, setelah dia mendengar kabar ini dia akan datang sendiri!” Perintahnya singkat, tanpa ruang untuk bantahan.

“Siap,” jawab Roy mantap.

Xiao Han kemudian menoleh ke arah Monica.

“Monica, hubungi para tetua. Minta mereka hadir besok.”

Monica langsung mengangguk.

“Baik, Bos.”

“Aku ingin mereka melihat sendiri,” lanjut Xiao Han dengan senyum tipis yang berbahaya,

“semua ‘kebaikan’ yang telah dilakukan oleh Yohanes bodoh itu.”

1
Tiara Bella
wah penuh misteri ini propesor Zhou...
Tiara Bella
bagus ceritanya aku suka.....
Tiara Bella
bakalan pada kapok ini mah yg mengusik keluarga mafia satu ini.....
Tiara Bella
gk bisa berkata² aku....mafia dilawan
Bonny Liberty
situ emang orang tua ODGJ,👿
Maria Mariati
hellehhh udah ke tepi jurang ga jadi lahhh,balik lagi takutt ga bisa naik lagi,udah emosi sama authorr masa bikin mafia pekok main perempuan 🤣🤣🤣
Pikachu: 😅😅😅😅😅😅😅😅😅
total 1 replies
Tiara Bella
plot twist bngt aku suka.....diluar dugaan semua 😍💪
Tiara Bella
siapa yg dimaksud kakak....masa Jacky
Ayu lestari Ayu
sengaja baru baca ceritanya, nunggu episode banyak dulu baru baca,,, ceritanya GK kalah menarik dari yg season 1,,,😘
Bonny Liberty
kamu kira wanita itu apa😏merendahkan diri sendiri,spek Nyonyah besar aja bisa di duain, apa lagi bocil modal ngangkang doang 👿🤪🤭
Maria Mariati
kapokkkk ,baru nyesel kan telattttt 🤣🤣🤣
Mineaa
bravo mommy janetta........💪
Bonny Liberty
kaga usah di pikir,tar pala loe meledak ga kuat mikir perang elit...sok..sokkan nantangin👿👿👿🤪😏
Bonny Liberty
sudah kebayang kaga kalau harga dirimu sudah kaya penyedap rasa saset 😏🤪👿
Maria Mariati
masuk kandang singa semua 🤣🤣🤣
Inez Putri
menarik. br pertm q baca peran utama cwok,selingkuh. biasa akan bucin. apa lg dl mendptkannya,memperjuangkan menentang smua klan. apakah ada peran cwok utama yg akan muncul.
Maria Mariati
bocah ,singa di lawan,makan tuhh mangsamu janete,bodoh tuh anak,mana ada laki2 udah di bayar trus di nikahin,hehhhh bodoh
Bonny Liberty
badan sih kaga tapi ❤️‍🩹😏
Bonny Liberty
kaga perlu mengaum mba,cukup main cakar,sepi,tiba - tiba /Skull//Chuckle/
Bonny Liberty
kan ga kepikiran sampe situ,cuman mikir sampe dalam rok doang🤪 yang penting aku😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!