NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Sesampainya di kamar inap, Arkan tidak membiarkan Sheila bersusah payah bangkit dari kursi roda. Tanpa aba-aba, ia merendahkan tubuhnya dan mengangkat Sheila dengan gaya bridal style.

​Seketika Sheila terkejut. Secara insting, ia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Arkan agar tidak terjatuh. Jarak mereka begitu dekat hingga Sheila bisa merasakan embusan napas Arkan dan aroma maskulin yang menenangkan dari jas putih pria itu. Jantung Sheila berdegup kencang, sebuah debaran yang sudah lama tidak ia rasakan.

​Arkan membaringkan tubuh Sheila di atas ranjang rumah sakit dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah porselen berharga yang mudah retak. Sebelum menjauhkan tubuhnya, Arkan sedikit merunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Sheila.

​"Selamat istirahat, Cantik. Jangan terlalu banyak pikiran, ya? Kamu harus segera pulih," bisik Arkan dengan suara rendah yang begitu lembut.

​Sheila terpaku, merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh wajahnya. Ia menatap mata Arkan yang meneduhkan, mencari perlindungan di sana.

​"Te-terima kasih, Arkan," jawab Sheila sedikit gugup. Suaranya nyaris berbisik, sementara jemarinya masih sedikit gemetar setelah melepaskan pelukannya dari leher Arkan.

​Arkan tersenyum tipis—sebuah senyum yang hanya ia tunjukkan pada Sheila. Ia menarik selimut hingga sebatas dada wanita itu, memastikan kenyamanannya sebelum ia benar-benar beranjak pergi.

Begitu pintu tertutup setelah kepergian Arkan, suasana kamar kembali sunyi, namun pipi Sheila masih terasa panas. Tanpa ia sadari, ternyata Risma sudah berdiri di balik pintu kaca sejak tadi, menyaksikan adegan manis yang baru saja terjadi.

​Ceklek.

​Pintu terbuka kembali, menampilkan Risma yang melangkah masuk dengan senyum misterius yang menghiasi wajahnya. Ia menyilangkan tangan di dada sambil berjalan perlahan mendekati ranjang Sheila.

​"Wah, wah! Sheila... barusan itu adegan apa, ya? Film romantis apa yang sedang tayang di kamar ini?" ledek Risma dengan nada jenaka.

​Sheila langsung menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merona. "Apa sih, Risma? Dokter Arkan cuma membantu aku pindah ke tempat tidur karena kaki aku masih agak lemas."

​"Membantu?" Risma tertawa kecil, ia duduk di pinggir ranjang sambil menyenggol bahu sahabatnya itu. "Membantu sih membantu, tapi kalau menggendongnya gaya bridal style dan pakai bisik-bisik segala, itu namanya bukan cuma bantuan medis, Sayang. Itu namanya bantuan dari hati!"

​Sheila terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Namun, dalam hati ia tidak bisa menampik bahwa perlakuan Arkan barusan memang terasa sangat berbeda.

​"Aku serius, Sheil," lanjut Risma, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tulus. "Melihat kamu bisa gugup dan malu-malu lagi seperti tadi... itu membuatku senang. Setidaknya, cahaya di matamu mulai balik lagi."

Sheila menatap Risma dengan mata berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang mendalam. Ia meraih tangan sahabatnya itu dan menggenggamnya erat.

​"Iya, Ris. Dan terima kasih kamu sudah menjadi sahabat terbaikku selama ini. Bahkan lebih dari itu... kamu sudah seperti saudara perempuanku sendiri. Terima kasih banyak atas semuanya," ucap Sheila tulus. Ia kemudian menghambur ke pelukan Risma, menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang selalu ada di titik terendahnya itu.

​Risma membalas pelukan itu dengan erat, menepuk-nepuk punggung Sheila dengan sayang. "Sama-sama, Sheil! Sudah, ah, jangan bikin suasana jadi melow lagi. Kamu harus bahagia mulai sekarang, mengerti?" ujar Risma sambil berusaha menahan haru.

​Sheila hanya mengangguk pelan sambil menyeka air matanya yang jatuh perlahan. Di saat itulah, pintu kamar terbuka dan Bunda Rini melangkah masuk membawa buah-buahan segar. Ia terhenti sejenak melihat pemandangan haru di depannya.

​"Ada apa ini? Kenapa tidak mengajak Bunda berpelukan?" tanya Bunda Rini dengan nada protes yang jenaka, namun matanya memancarkan kelegaan melihat putrinya mulai kembali membuka diri.

​Risma tertawa dan segera membuka lengannya. "Sini, Bunda! Pelukan grup untuk wanita-wanita hebat!"

​Bunda Rini segera bergabung, memeluk kedua gadis itu dengan penuh kasih sayang. Di dalam pelukan itu, Sheila merasa seolah beban yang selama ini menghimpit dadanya sedikit demi sedikit mulai terangkat. Dukungan dari Bunda dan Risma adalah pondasi kekuatannya untuk menghadapi dunia kembali.

​"Bunda hanya ingin kamu tahu, Nak," bisik Bunda Rini di sela pelukan mereka. "Apa pun yang terjadi, rumah kita akan selalu menjadi tempat paling aman untukmu pulang."

Sheila melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Bunda Rini yang mulai dihiasi garis-garis halus karena usia. Matanya kembali menyendu, sarat akan rasa bersalah yang selama ini ia pendam dalam diam.

​"Terima kasih, Bunda," ucap Sheila dengan suara yang sedikit bergetar. "Bunda masih mau menerima Sheila, meskipun Sheila sudah membuat Bunda sangat kecewa... Sheila sudah gagal menjaga diri dan membuat nama baik Bunda tercoreng."

​Mendengar itu, Bunda Rini segera meletakkan tangannya di kedua pipi Sheila. Ia menatap putrinya dengan tatapan paling teduh yang pernah ada, seolah ingin menghapus semua beban di pundak Sheila.

​"Huuuush! Stop! Jangan bicara seperti itu lagi, Sayang," potong Bunda Rini dengan lembut namun tegas. Ia mengusap air mata yang mulai menggenang di sudut mata Sheila.

​"Mau bagaimanapun keadaanmu, apa pun yang telah terjadi, kamu tetap putri Bunda satu-satunya. Tidak ada kata kecewa bagi seorang ibu untuk anaknya yang sedang berjuang bangkit. Luka kamu adalah luka Bunda juga, dan Bunda akan selalu di sini untuk membantu kamu menyembuhkannya."

​Risma yang melihat itu hanya bisa terdiam, ikut merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu yang begitu luar biasa. Ia tahu, dengan dukungan Bunda Rini dan Arkan, Sheila tidak akan bisa dihancurkan lagi oleh siapa pun.

​Sheila kembali memeluk ibunya, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia berjanji dalam hati, demi ibunya yang begitu mulia, ia akan membalas semua kebaikan ini dengan menjadi seseorang yang membanggakan.

Bunda Rini tersenyum lebar, berusaha mengalihkan suasana agar tidak kembali larut dalam kesedihan. Ia melepaskan pelukannya dan meraih keranjang buah yang tadi ia bawa.

​"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang, Bunda siapkan buah-buahan segar untuk kamu ya, agar kamu cepat pulih," ucap Bunda Rini dengan nada ceria yang menenangkan.

Beliau mulai mengupas buah apel dengan sangat teliti, sementara Sheila memperhatikannya dengan tatapan penuh rasa syukur. Risma pun tidak tinggal diam, ia segera mengambil piring kecil dan membantu Bunda Rini.

​"Benar itu, Sheil. Kamu harus makan yang banyak. Dokter Arkan bilang kamu butuh banyak vitamin supaya luka operasimu cepat kering dan kita bisa segera belanja baju baru untuk masuk kuliah nanti!" seru Risma sambil mengerlingkan mata, mencoba menggoda Sheila kembali.

​Sheila terkekeh pelan. "Kalian ini... selalu saja tahu cara membuatku merasa lebih baik."

​Suasana di kamar inap itu kini benar-benar berubah. Aroma segar dari buah jeruk dan apel yang baru dikupas seolah mengusir bau obat-obatan yang membosankan. Bagi Sheila, potongan buah yang disuapkan Bundanya bukan sekadar makanan, melainkan simbol cinta yang perlahan-lahan mulai menyembuhkan lubang di hatinya.

1
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
Ani Suryani
Vano orang baik
Chimpanzini Banananini
semakin tegang konfliknya. devano sekarang ga dianggap sama bunda rini, bahkan ayahnya sendiri /Cry//Cry/
Vᴇᴇ
cuma kata maaf yang pantas dikatakan ketika merasa bersalah, meskipun ga sebanding dengan kesalahan yg dilakukan
Wida_Ast Jcy
devano ni anak orang kaya toh. tapi kenapa harus taruhan untuk mendapatkan motor. minta belikan dia bisa🤭🤭🤭
putri bungsu
baik banget sih Risma, inimah sahabat sedekat nadi Sheila
Blueberry Solenne
Bagus dong, si devano udah tobat nasuha keknya 🤭
Mingyu gf😘
Risma harusnya jangan kasih tau devano😭
Blueberry Solenne
ngakuin ya si Devano
DANA SUPRIYA
ada apa dengan Devano?, apakah dia berubah
Jing_Jing22: mungkin otaknya sudah kembali pada tempatnya... kemarin-kemarin dia bergeser
total 1 replies
Renjana Senja
semoga saja ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!