NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Yang Belum Di Mulai

Duel pribadi yang telah lama terpendam akhirnya pecah menjadi pertarungan yang nyata. Dian, yang kini didorong oleh rasa keputusasaan yang mendalam dan amarah yang meluap, tidak menunggu sedetik pun.

Ia menyerang lebih dulu, melepaskan sebuah tendangan lurus yang sangat berbahaya, diarahkan tepat ke pelipis Vino. Dian tidak hanya sedang bertarung secara fisik; ia sedang bertarung untuk menyelamatkan sisa-sisa harga diri dan eksistensinya yang kini terancam hancur oleh kehadiran Kuadran Presisi.

Vino, meskipun hatinya sedang mendidih dalam amarah yang hebat, menggunakan emosi tersebut sebagai bahan bakar yang terkontrol dengan sangat baik. Ia tidak membiarkan dirinya menjadi ceroboh seperti Nanda. Vino memposisikan dirinya dalam kuda-kuda pertahanan yang sangat kokoh, menangkis setiap serangan eksplosif Dian dengan kedua lengannya yang kuat. Ia membiarkan Dian menghabiskan seluruh energinya di awal pertarungan.

Pertarungan mereka berlangsung sangat sengit, namun jauh lebih sunyi dibandingkan kebisingan di dalam stadion. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. Dian berusaha keras menutup ruang gerak, mencoba memaksa Vino masuk ke area sempit yang menguntungkan gaya bertarungnya. Namun, Vino justru terus membuka ruang, menunggu dengan sabar sampai Dian melakukan kesalahan fatal.

"Kamu pengecut, Vino!" provokasi Dian dengan suara yang melengking tajam. "Kamu hanya berani menyerangku karena Misca memberikan izin! Kamu tidak lebih dari sekadar anjing penjaga yang patuh, selalu berada di bawah bayang-bayang kendali konyol milik Misca itu!"

Vino menanggapi provokasi murahan itu dengan sebuah senyuman kecil yang sangat mengerikan, senyum yang menandakan bahwa Dian telah berhasil mencapai batas kesabarannya. "Dian," desis Vino dengan nada rendah saat ia berhasil memblokir serangan siku Dian dengan telak. "Aku adalah orang yang paling setia pada Misca. Dan malam ini, kesetiaan itu akan berwujud kehancuran mutlak bagimu."

Vino menggunakan setiap kata hinaan Dian bukan sebagai luka, melainkan sebagai pemicu internal untuk terus meningkatkan kecepatan reaksi dan kekuatan blokirnya. Pertarungan mereka terus berlanjut seperti sebuah permainan catur fisik yang mematikan, di mana setiap langkah diperhitungkan, dan setiap serangan adalah investasi emosi yang sangat mahal harganya.

###

Di bagian dalam, pertarungan antara Nanda dan Gus berlangsung dengan sangat brutal. Gus, sang Komandan Lapangan The Phantom yang bertubuh raksasa, memiliki kekuatan fisik yang hampir menyaingi Nanda.

Bugh! Brak!

Suara kepalan tinju mereka yang saling beradu menciptakan gemuruh yang memekakkan telinga. Nanda, yang membiarkan dirinya didorong oleh naluri murni untuk melindungi kehormatan Wilayah Selatan dan nama baik Misca, menyerang Gus dengan rentetan pukulan yang seolah tidak ada habisnya. Gus membalas dengan pukulan-pukulan besar yang bertujuan untuk menciptakan knockout instan. Keduanya sama sekali mengabaikan teknik halus dan hanya fokus pada kekuatan murni..

###

Di sudut lain, duel antara Raka vs Pria A baru saja dimulai. Ini adalah duel yang jauh lebih tenang namun tetap sangat mematikan. Pria A, salah satu Unit Inti The Phantom yang paling terlatih, bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, mencoba melumpuhkan Raka sebelum Raka sempat memproses strategi pertahanan. Raka membalas dengan gerakan kaki bertahan yang sangat cermat, menutup setiap celah pergerakan lawan.

"Jadi kamu adalah otak di balik Kuadran Presisi ini?" ejek Pria A sambil melayangkan jab cepat yang mengarah ke wajah Raka.

Raka menghindar dengan gerakan kepala yang minimal dan sangat tenang. "Aku adalah kecerdasan yang adaptif. Dan aku tahu betul bahwa kelemahan terbesarmu adalah terlalu mengandalkan kecepatan lurus." Pertarungan mereka dibuka dengan analisis yang sangat tajam, sebuah duel antara "Ketepatan" melawan "Kecerdasan" yang tidak terbendung lagi.

Di sekeliling mereka, pasukan Kuadran Presisi yang dipimpin oleh Bima berhasil membalikkan posisi dengan gemilang. Dengan gerakan yang sangat terkoordinasi dan disiplin, sebagian besar anggota The Phantom berhasil didesak mundur atau dilumpuhkan di tempat. Kala, anggota Selatan yang sangat setia, masih terus berjibaku dengan sisa-sisa anggota Phantom di sudut ruangan, merasa sangat frustrasi karena ia masih gagal membalas pengkhianatan Dian secara langsung.

Jeka, sang Master Logistik, berdiri tegak di tengah arena. Wajahnya tampak tegang melihat pertarungan yang terjadi secara bersamaan.

"Jeka!" teriak Tino dari tempat duduk pengamatannya yang tinggi. "Cepat ke sini! Jangan hanya berdiri diam seperti tiang listrik! Kita adalah mata bagi komandan kita!"

Jeka berlari cepat menghampiri Tino. "Raka benar, kamu adalah seorang jenius yang cukup menakutkan, Tino. Tapi... ke mana perginya Eko dan Joni?" tanya Jeka setelah menyadari bahwa dua orang kepercayaan Tino itu tiba-tiba menghilang dari pandangan.

Tino menyeringai penuh rahasia yang misterius. "Jeka, kamu fokus pada yang terlihat di depan mata saja. Aku sudah mengirim mereka untuk memaksimalkan kekuatan aliansi kita ini." Tino menunjuk ke arah dua anggota inti Phantom yang hampir dikalahkan oleh Nanda dan Raka. "Sekarang, fokuslah pada pergerakan musuh. Mereka sudah mulai terdesak hebat!"

Misca berlari dengan sangat kencang, amarahnya dipicu oleh ketidakteraturan yang dibuat oleh dua siluet misterius itu. Mereka bergerak dengan kecepatan yang luar biasa di luar prediksinya, dan kini Misca merasa telah kehilangan jejak mereka.

"Sial!" desis Misca dengan nada frustrasi yang jarang ia tunjukkan.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki yang teratur di belakangnya. Misca berbalik seketika dengan kuda-kuda bertarung yang sempurna, siap melepaskan serangan balik.

"Tunggu, Misca! Ini kami! Jangan menyerang!" Yang muncul ternyata adalah Eko dan Joni.

"Tino menyuruh kami untuk terus menjagamu, Misca," jelas Eko dengan napas yang sedikit terengah. "Dia bilang, kamu tidak boleh pergi sendirian mengejar ancaman yang belum jelas seperti ini."

Misca terdiam sejenak, merasa cukup terkejut dengan tindakan Tino yang ternyata sangat tepat namun tidak terduga bagi logikanya. Saat Misca hendak menyusun rencana pencarian baru, mereka semua dikagetkan oleh raungan keras mesin motor balap dari arah yang berlawanan.

NGUUNGGGG! NGUUNGGGG!

Dua motor sport berhenti mendadak tepat di hadapan mereka, menciptakan kepulan debu. Di atas motor itu, duduk dua orang dengan tinggi badan yang hampir serupa dengan Misca, mengenakan jaket kulit hitam yang sangat kontras dengan kegelapan malam. Mereka adalah dua siluet misterius yang tadi dikejar oleh Misca. Ternyata mereka tidak melarikan diri; mereka sengaja memancing Misca keluar.

Mereka mematikan mesin motor di depan Misca. Keheningan yang mencekam tiba-tiba menyelimuti jalanan sepi itu. Salah satu dari mereka, yang memiliki rambut pirang platinum, mengangkat visor helmnya. Senyumnya tampak sangat tenang, tetapi tatapan matanya penuh dengan tantangan yang berbahaya.

"Halo, Misca," sapa pria itu dengan suara yang ramah namun terasa sangat dingin. "Kamu membuat kami harus sedikit berlari-lari. Perhitunganmu cukup bagus, tapi fokusmu masih kurang tajam malam ini. Kami datang hanya untuk bicara. Aku Arsen, dan ini Kris."

Arsen melirik ke arah Eko dan Joni. "Aku rasa kamu tidak datang sendirian. Tapi, kami hanya ingin kamu tahu satu hal: Kami adalah alasan mengapa 'The Phantom' itu ada, dan mengapa duel konyolmu ini tidak akan pernah membawa ketenangan sejati yang kamu cari."

Misca, yang kini sudah kembali ke ketajaman berpikir yang dingin, menatap tajam dua orang baru ini. Mereka tahu namanya, mereka tahu tentang prinsip ketepatan mutlak yang ia anut, dan mereka secara terbuka meremehkan seluruh perjuangannya. Misca menyadari sepenuhnya bahwa Arsen dan Kris berada pada tingkat ancaman yang jauh berbeda dari anggota The Phantom lainnya. Mereka adalah otak bayangan yang beroperasi di tingkat kecerdasan yang sama dengan dirinya.

Misca menatap Arsen dan Kris dengan intens. Pikirannya langsung membedah keadaan: jika Pria A dan Gus adalah kekuatan kasar, maka dua orang di depannya ini adalah "Kekuatan Tersembunyi" yang jauh lebih mematikan. Mereka tidak emosional, dan mereka memiliki kontrol situasional yang sangat tinggi.

Arsen tersenyum, sebuah senyum yang sama tenangnya dengan Misca di saat-saat paling jernih. "Misca, kami ke sini hanya untuk mengobrol santai. Tidak ada niat untuk membuat keributan. Jika kami ingin ribut, kamu sudah lama terkapar di dalam stadion saat kamu sedang sibuk menghindari pukulan si Nanda tadi."

Eko dan Joni memasang kuda-kuda bertarung dengan wajah tegang, tetapi Misca mengangkat tangannya, meminta mereka untuk tetap tenang.

"Kalian adalah anggota inti dari The Phantom?" ujar Misca dengan suara tenang, meskipun tubuhnya masih berlumuran darah sisa duel.

Kris, yang memiliki mata setajam elang, mengangguk. "Tepat sekali. Kami adalah petinggi dari Unit Execution. Bos kami meminta kami untuk menunggu dan mengamati duel empat wilayah kalian. Rencana awal kami sebenarnya adalah menghabisi kalian, ketika kalian sudah kelelahan total dan hanya menyisakan puing-puing saja."

Misca menyipitkan mata, menanyakan hal yang sangat logis. "Lalu kenapa kalian tidak melakukannya sekarang? Kuadran Presisi baru saja terbentuk, dan kami semua sudah sangat lelah bertarung."

Arsen tertawa pelan, suara tawanya terdengar sangat merendahkan. "Bos kami adalah tipe orang yang menginginkan kepastian total. Dia tidak mau ada satu pun orang yang lolos, Misca. Dia menginginkan kemenangan mutlak. Dia ingin kalian semua tahu bahwa kalian kalah bukan hanya dari kami, tetapi juga karena kelelahan kalian sendiri."

"Kalian benar-benar pengecut!" teriak Eko, sudah tidak tahan dengan arogansi mereka yang melangit.

Arsen menatap tajam ke arah Eko. Sorot matanya begitu dingin hingga Eko secara refleks mundur selangkah, merasakan aura bahaya yang jauh melampaui apa yang pernah ditunjukkan Nanda.

Kris mencairkan suasana dengan nada sinis. "Tenang saja, Misca. Unit Execution tidak peduli dengan pengecut. Kami hanya peduli pada hasil akhir. Si bodoh Dian itu bergerak tanpa otak. Dia memanggil anggota The Phantom terlalu cepat. Rencana bos kami terganggu, tapi tidak hancur."

Misca terus mendengarkan, membedah pengakuan tak terduga ini di dalam kepalanya. Dian ternyata hanyalah orang yang gagal, dan The Phantom memiliki tatanan kelompok yang sangat ketat dan rapi. Misca kemudian melangkah maju, tatapannya beradu langsung dengan Arsen.

"Aku ingin tahu satu hal, Arsen. Kenapa kalian menargetkan Kuadran Presisi? Apa sebenarnya alasan di balik deklarasi perang besar ini?"

Arsen tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya perlahan. "Itu adalah kesalahan besar dari anggota 'universal'-mu, Misca. Anggota Kuadran Presisi sudah berani mengganggu wilayah kami. Wilayah yang kami anggap sebagai milik kami sepenuhnya. Entah itu sengaja atau tidak, kami tidak peduli. Konsekuensinya tetap satu: Perang Total."

Arsen menyalakan mesin motornya. Suara mesin yang mengaum keras memutus perbincangan mereka secara sepihak.

"Perang ini tidak akan berakhir malam ini, Misca. Malam ini hanyalah prolog dari sesuatu yang jauh lebih besar," kata Arsen dengan nada final.

Kris menambahkan: "Kami akan kembali. Dan ketika kami kembali, itu adalah perang besar antara The Phantom melawan Kuadran Presisi. Simpanlah energi sisamu baik-baik."

Mereka menarik gas dalam-dalam, motor mereka melesat pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Misca, Eko, dan Joni dalam keheningan yang sangat menyesakkan di jalanan gelap itu. Misca menghela napas panjang, ia mulai merasakan beban kepemimpinan yang jauh lebih berat dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Musuh sejati mereka kini sedang bersembunyi kembali di dalam kegelapan yang lebih pekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!