Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 salah paham
Edgar menatap bingung ke arah Richi, manakala melihat Ameera berdiri di belakangnya. Kok, bisa-bisanya Richi bersama Ameera? Jadi, orang yang ditunggu Ameera adalah Richi. Ada hubungan apa Richi dengan Ameera? Sejuta tanya memenuhi benaknya. Edgar sampai tidak bisa menyembunyikan keheranannya.
Sama dengan Ameera juga. Dia tidak kalah bingung saat menyadari bahwa orang yang akan mereka jumpai adalah Edgar sendiri. Padahal tadi mereka saling menyapa. Bisa-bisanya dia tidak tau kalau Edgar dan Hadinata adalah orang yang sama. Mana setiap kali bertemu selalu saja, waktu dan tempatnya salah. Membuat hati kagok, tak tentu arah.
Lebih lagi Richi! Perasaannya langsung mencium ada yang tidak beres. Yang tiba-tiba mengungkung mereka berdua. Sikap Ameera dan Edgar sangat mencurigakan. Sepertinya keduanya salah tingkah tapi disaat yang bersamaan berusaha bersikap wajar. Bukannya keadaan membaik, malah menciptakan suasana yang tampak canggung.
Terlebih sikap Edgar yang paling membuatnya curiga. Dari gestur tubuhnya, tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya yang besar.
"Hem, sepertinya kalian sudah saling kenal ya?" tebak Richi, membuat wajah Edgar dan Ameera memerah di saat yang bersamaan.
"E-gh, i-iya. Kami sudah beberapa kali bertemu. Tapi ...."
"Dia yang menolong kakek saya tempo hari." potong Edgar sebelum Ameera menyelesaikan ucapannya.
"Ooo," kedua bola mata Richi berputar aneh. Ingat kejadian, gagalnya pertemuan mereka minggu lalu. Ternyata, kakek Edgar lah yang ditolong Ameera saat itu.
"Oh, saya paham sekarang," buru-buru Richi meralat ucapannya, karena nada ucapannya tadi terdengar ambigu.
Ameera dan Edgar malah saling tatap dengan ucapan Richi yang penuh misteri.
"Maksudnya apa?" kejar Edgar malah salah paham. Ameera mendelik, karena nada bicara Edgar yang sedikit sarkas.
"Tidak! Tidak! Saya baru paham sekarang. Jangan salah paham dulu. Soalnya sikap kalian seperti potongan puzzle, jadi saya butuh konsentrasi untuk menyusunnya. Supaya saya dapat gambarannya." ucap Richi serius.
Dan pernyataan itu semakin memperparah situasi.
"Eh, kamu Gar, kok serius sekali. Ekspresimu itu loh, seperti barusan kehilangan mainan kesayangan." ledek Richi membuat hati Edgar gondok.
"Bacot kamu. Sengaja ya, membual, supaya kamu lolos dari kesalahan kamu. Ini sudah jam berapa. Kamu telat datang sudah hampir satu jam. Pengen aku black list ya." kecam Edgar mode serius.
"Eh, jangan serius kali Bos. Tadi aku sudah minta izin terlambat kan. Ameera juga sudah mewakilkan kehadiranku lebih dulu. Tapi anak buahmu yang mencekal dia."
"Maksudnya?" Edgar teringat kalau tadi dia sudah berpapasan dengan Ameera, bahkan sempat menyapanya. Saat ditanya, malah ngaku sedang menunggu seseorang. Dia juga sudah tanya apa Selasih ada mencarinya. Jawaban karyawannya tidak. Ternyata, sudah ada kesalah pahaman dari awal. Tapi, kenapa karyawannya tidak konfirmasi padanya?
"Benar mereka menjegal Anda?" seru Edgar dengan lembut, menyadari kekeliruannya. Ameera sedikit terhenyak karena mendengar nada ucapan Edgar. Seperti saklar lampu saja suasana hatinya, mudah berubah hanya karena ditekan tombolnya.
"Ya, katanya aku tidak punya bukti hitam di atas putih, untuk bertemu Anda." Ameera menjawab dengan nada kesal yang masih tersisa.
"Hem, baiklah. Sekarang jelas sudah terjadi kesalah pahaman . Nanti saya akan menindak karyawan saya yang arogan itu."
Jadi Selasih itu Anda sendiri, Ameera?" Edgar mulai bisa mengerti ucapan Richi. Bahwa telah terjadi kesalah pahaman antara mereka. Sebab dia tadi sudah menanyakan pada resepsionis, apakah ada tamu dengan identitas Selasih mencarinya. Jawaban mereka tidak ada. Tapi kenapa pula mereka menolak Ameera.
Sejak kapan ada aturan dalam perusahaannya, setiap orang yang hendak berurusan dengannya harus ada bukti hitam diatas putih. Ngaco gak sih. Pinter kali karyawannya cari alasan. Padahal cukup membuat janji saja.Dengan menghubungi sekretarisnya.
"Baiklah saya minta maaf atas kelancangan karyawan saya. Saya pastikan akan menindak mereka. Sekarang kita ke urusan semula yang tertunda minggu kemarin." Edgar mengalihkan topik. Tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Masalah karyawannya akan dia selesaikan nanti.
Richi, sudah mengeluarkan beberapa gulungan kertas dari tas ranselnya. Tapi sikap Ameera sepertinya enggan mengambil tempat duduk di hadapan Edgar. Melihat sikap Ameera itu, Edgar merasa tidak enak juga. Sepertinya Ameera merasa tidak nyaman.
"Baiklah. Aku juga minta maaf, Gar. Karena urusan mendadak itu, sehingga kesalah pahaman ini terjadi." timpal Richi.
"Saya juga meminta maaf. Secara khususnya, kepada Nona Ameera atas ketidak nyaman beliau atas perlakuan karyawan saya. Sebelum kita memulai pertemuan, sebaiknya masalah ini saya bereskan dulu." Edgar berubah pikiran. Kemudian memanggil sekretarisnya lewat intercom. Untuk memanggil petugas resepsionis yang bertugas shift hari ini.
Ketukan di pintu ruangan Edgar terdengar pelan. Edgar mempersilahkan masuk. Munculah ketiga karyawannya dengan wajah pucat.
Edgar berdiri dari sofa dan menghampiri ketiganya. Dengan tatapan dingin dia memandangi satu persatu karyawannya.
"Siapa di antara kalian tadi, yang mencekal Saudari Ameera bertemu dengan saya."
Tya tertunduk dalam. Sama sekali tidak berani memandang ke arah bosnya. Dia teringat betapa angkuhnya sikapnya tadi saat bertemu Ameera. Entah kenapa dia melakukan itu. Dia terlalu meremehkan Ameera, karena penampilannya yang menurutnya terlalu sederhana.
Biasanya, perempuan yang mencari bosnya selalu dari kalangan high clas. Terlihat dari penampilan mereka yang wah. Dan tidak jarang, banyak dari mereka yang ditolak bosnya.
Apalagi seorang Ameera, yang menuritnya jauh dari standar. Tidak taunya Ameera adalah tamu yang istimewa. Sayangnya, Tya terlambat menyadarinya.
Sesaat setelah Ameera dan Richi berlalu, menuju ruang bosnya. Tya dan temannya melihat di layar kaca di ruang tunggu. Yang menampilkan sosok Ameera sebagai desainer pendatang baru.
"I-itu tamu yang tadi!" sentak Lena kaget. Ketiganya saling pandang dan tiba-tiba panik atas apa yang barusan mereka lakukan.
Belum reda rasa panik yang melanda mereka, tiba-tiba sudah terdengar panggilan supaya mereka menghadap Bos. Tubuh ketiganya lunglai penuh penyesalan. Karena telah salah mencari lawan. Tidak mungkin menyatakan itu sebagai alasan kan?
Makanya Tya bingung, untuk memberi jawaban yang masuk.akal. Tapi semakin dipikiri, semakin tidak ada alasan yang masuk logika.
Tya semakain tertunduk dalam, saat bosnya menatapnya tajam.
"Apa tidak ada di antara kalian yang akan bicara?" sentak Edgar mulai emosi.
"Ma-maaf Pak. Bukan saya yang mulai. Tya yang memulai lebih dulu, saya dan Rina cuma mendukung karena takut pada Tya." akhirnya Lena membuka mulut juga. Tya kaget atas kelancangan rekannya. Dia melotot kebarah Lena. Membuat Lena ketakutan. Tingkah Tya itu tidak luput dari pandangan Edgar.
Sebagai seorang bos tentunya Edgar bisa menyimpulkan kalau akar masalah dimulai dari Tya. Karakter karyawannya itu sangat buruk.
"Baiklah, kalau kalian saling lempar bola seperti itu. Besok paling lambat, berkas pengunduran diri kalian sudah ada di meja saya. Sekarang, keluar dari ruangan saya." Edgar mengultimatum ketiganya.
"Pak, saya mohon jangan berhentikan saya, Pak. Saya adalah tulang punggung keluarga saya. Mbak saya minta maaf kepada Mbak." Lena menghiba ke hadapan Ameera. Tya dan Rina sudah pasrah. Mereka kenal watak bos mereka. Tidak semudah itu meminta maaf saat melakukan kesalahan.***