Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan
Artikel itu tidak pernah dibagikan langsung ke Andi. Ia menemukannya sendiri—bukan lewat notifikasi, melainkan saat menggulir berita pagi sambil menunggu kopi menetes. Judulnya singkat, bersih, hampir membosankan. Tapi justru di situlah letak bahayanya.
Ia membaca tanpa ekspresi, tidak ada tuduhan, kutipan, nama lengkap. Namun, semua detail cukup presisi untuk dikenali oleh mereka yang tahu cara membaca pola: talent perempuan, kontrak besar, pengakhiran internal, tetap profesional.
Andi menutup ponsel membiarkan benda itu tergeletak di meja menandakan sesuatu sudah mulai bergerak, tanpa izin siapa pun.
Di kantor, suasana tidak berubah secara kasat mata. Kalender rapat tetap penuh, target tetap dipresentasikan dengan grafik naik. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia tidak lagi diajak dalam percakapan informal yang biasanya terjadi sebelum rapat dimulai, tidak dihindari, dijauhi, hanya… dibiarkan lewat. Itu bentuk isolasi paling rapi.
Dio menyadarinya lebih dulu.“Lu lagi dikasih ruang,” katanya pelan saat mereka berdiri di pantry.
“Ruang buat apa?”
“Buat lu mikir sendiri, atau ngerasa sendirian.”
Andi mengangguk. Ia sudah lama belajar membaca sistem seperti ini. Tidak semua tekanan datang sebagai ancaman beberapa datang sebagai kesenyapan yang disengaja.
Sementara itu, Nayla merasakan bentuk tekanan yang berbeda tanpa pemanggilan ulang, email lanjutan, atau klarifikasi tambahan. Justru itu yang membuat dadanya terasa lebih berat.
Ia datang ke coworking space seperti biasa, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, berbicara seperlunya. Statusnya kini jelas: bukan lagi internal, bukan sepenuhnya bebas berada di celah yang sah, tapi tidak nyaman.
Seorang rekan lama gadis berbendo—mantan internal juga—menyapanya singkat di lift.“Lu berani,”katanya tanpa senyum.
“Berani apa?”
“Pergi tanpa dibuang.”
Pintu lift terbuka. Percakapan berhenti di sana. Kalimat itu menempel lebih lama dari yang ia kira.
Mira tidak segera bertindak membiarkan artikel itu mengambang, membiarkan HR memproses administrasi Nayla tanpa suara keras. Ia bahkan menolak satu usulan legal untuk mengirim klarifikasi ke media.
“Jangan,” katanya. “Klarifikasi itu pengakuan bahwa kita merasa terganggu.”
“Lalu kita tunggu apa?” tanya staf
Mira menatap layar—grafik exposure klien Andi stabil, bahkan sedikit naik.“Kita tunggu mereka membuat kesalahan kecil,” jawabnya. “Karena orang yang merasa sudah cerdas biasanya lengah.”
Ia hanya tahu satu hal: keluarnya Nayla dari internal mengurangi kendali langsung, tapi belum menghilangkan leverage. Selama kontrak klien aktif, Andi tetap berada di dalam lingkaran. Dan lingkaran selalu punya cara untuk menyempit.
\=\=
Mereka bertukar pesan singkat—bukan karena menjauh, tapi karena sadar bahwa setiap kebersamaan kini punya konsekuensi berat berganda.
Andi mengetik singkat
“Aman?”
“Aman, tapi terasa diawasi.”
“Gue juga.”
Ia menulis tanpa emotikon, atau tambahan gambar Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka sama-sama memahami satu hal yang tidak pernah diucapkan: jarak sekarang bukan tanda renggang, tapi strategi bertahan.
Dua hari kemudian, undangan masuk ke kalender Andi. Judulnya tidak mencurigakan: Diskusi Internal – Penyesuaian Strategi Pribadi dari Direktur Regional.
Andi membaca undangan itu lama. Ia tahu pertemuan seperti ini jarang membicarakan angka secara langsung. Mereka membicarakan arah. Dan arah sering kali lebih berbahaya daripada ancaman. Ia menerima undangan itu tanpa membalas apa pun.
Di tempat lain, Nayla menerima pesan dari nomor tak dikenal: “Ini Mira. Kita perlu bicara hanya minum kopi saja.
Nayla menatap layar beberapa detik. Netral adalah kata yang sering dipakai sebelum sesuatu menjadi personal. Ia membalas singkat: “Baik. Waktu dan tempat?”
Dua undangan terpisah—satu menuju kekuasaan, satu menuju kendali. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang melanggar kontrak, melainkan: siapa yang lebih dulu dipaksa memilih tanpa perlindungan pasal apa pun.
Ruang pertemuan itu terlalu kecil untuk disebut ruang rapat, tapi terlalu rapi untuk disebut ruang santai. Dinding kaca buram, satu meja oval, tiga kursi—sengaja tidak simetris. Andi datang tepat waktu. Direktur Regional sudah duduk lebih dulu, membuka tablet tanpa menatapnya.
“Terima kasih sudah datang,” ucapnya datar, profesional. “Ini bukan rapat evaluasi.”
Andi duduk perlahan. “Biasanya kalimat itu diucapkan sebelum evaluasi."
Direktur tersenyum tipis seperti pengakuan bahwa Andi tidak naif. “Kami menghargai kontribusi kamu. Dan justru karena itu, kami ingin memastikan kamu tidak membuat keputusan yang… merugikan diri sendiri.”
“Merugikan versi siapa?” tanya Andi tenang.
“Versi keberlanjutan,” jawabnya. “Karier kamu stabil. Citra kamu bersih. Jangan rusak itu karena dinamika personal yang sementara.” Tidak ada nama Nayla disebut. Tapi kehadirannya terasa jelas di ruangan itu.
“Kalau saya bertanya jujur,” kata Andi, “ini peringatan atau saran?”
Direktur meletakkan tabletnya. “Ini pengingat. bahwa organisasi besar tidak suka ketidakpastian.”
“Andai saya memilih tetap menjalankan kontrak sampai selesai, tanpa pelanggaran?” Andi menatap lurus.
“Secara teknis, aman,” jawabnya. “Tapi secara sosial—” ia berhenti sejenak “—ada jarak yang bisa terbentuk.”
Andi mengangguk pelan paham betul arti jarak dalam struktur seperti ini: promosi melambat, dukungan berkurang, nama perlahan menghilang dari daftar diskusi penting.
“Saya mengerti,” katanya. “Terima kasih atas keterusterangannya.”
Direktur tampak lega—seolah percakapan ini berjalan sesuai skenario. “Kami hanya ingin kamu tetap berada di jalur.”
Andi berdiri. “Saya juga.” Tapi dalam hatinya, ia tahu: jalur yang dimaksud tidak lagi sama.
\=\=\=
Di sisi lain kota, Nayla tiba di kedai kopi yang dipilih Mira. Tempatnya bersih, tenang, terlalu netral untuk disebut kebetulan. Mira sudah menunggu, menyapa dengan anggukan kecil.
“Aku langsung ke intinya,” kata Mira tanpa basa-basi. “Keputusan kamu keluar dari internal—itu cerdas. Tapi juga membuat kamu sendirian.”
Nayla mengambil tempat duduk didepannya. “Sendirian tidak selalu lemah.”
“Benar,” jawab Mira. “Tapi sendirian lebih mudah diarahkan."
Ia tersenyum tipis. “Itu ancaman?”
“Observasi,” balasnya ringan. “Kamu masih terikat kontrak. Publik mulai bertanya. Kami bisa membantu menjaga narasi tetap bersih.”
“Dengan syarat?”
“Dengan jarak,” jawab Mira. “Kurangi pertemuan informal. Tidak ada foto, cerita personal. Dan—” ia berhenti sejenak “—tidak ada langkah yang bisa ditafsirkan sebagai eskalasi hubungan.”
Nayla menatap cangkir kopinya. “Dan kalau saya menolak saran itu?”
Mira tidak tersenyum kali ini. “Kami tidak melarang hanya tidak akan menahan dampaknya.”
Hening
“Aku ingin tanya satu hal,” kata Nayla akhirnya. “Kenapa sistem sangat takut pada dua orang yang hanya berhenti pura-pura?”
Mira menatapnya lamat berkata pelan, hampir jujur: “Karena orang yang berhenti pura-pura tidak bisa lagi dikendalikan dengan iming-iming.”
\=\=\=
Dua orang bertemu diam diam memilih berjalan kaki di trotoar panjang jarang dilalui—tanpa tujuan jelas.
“Mereka bicara soal jalur,” kata Andi pelan.
“Mereka bicara soal jarak,” balas Nayla.
Mereka tertawa kecil, pahit.
“Lucu ya,” kata Nayla, “padahal kita bahkan belum benar-benar bersama.”
“Justru itu,” jawab Andi. “Yang mereka takutkan bukan hubungan kita. Tapi pilihan kita.”
Mereka berhenti di bawah lampu jalan tidak saling menyentuh.
“Gue belum siap melompat,” kata Andi jujur. “Tapi gue juga nggak mau mundur.”
Nayla mengangguk. “Gue juga. Dan kali ini, gue nggak minta diselamatin.”
Andi menatapnya, lebih tenang dari sebelumnya. “Kalau nanti gue jatuh—”
“Kakak jatuh sebagai diri kakak sendiri,” potongnya . “Itu cukup.”
Mereka berjalan lagi pelan dan sejajar.
\=\=\=
Di kantor Cinta Rental 24 Jam, Mira menulis catatan baru:Klien menunjukkan resistensi pasif. Talent menunjukkan otonomi penuh. Risiko meningkat, tapi kontrol belum hilang.
Ia menutup laptop, bersandar, dan bergumam pelan: “Belum.” Karena permainan belum pecah. Dan justru di fase inilah, satu langkah kecil bisa mengubah seluruh papan.