SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 TRIO HEBOH
Matahari siang itu bersinar begitu terik, seolah-olah jaraknya hanya sejengkal dari atas kepala. Di atas sebuah motor Scoopy yang mesinnya sudah megap-megap, dua gadis remaja sedang terlibat dalam debat eksistensial tingkat tinggi. Nana, sang pengemudi, mencoba menyeimbangkan motor sambil matanya melirik liar ke kanan dan ke kiri. Di belakangnya, Ruby bertindak sebagai navigator yang merangkap sebagai beban hidup karena kerjanya hanya berteriak.
"Emm, mana sih Ruby rumahnya Gretta?!" tanya Nana setengah berteriak, mengalahkan suara klakson angkot yang bersahut-sahutan di belakang mereka. "Ini kita udah muter-muter tiga kali di gang yang sama! Abang tukang bakso di pojokan sana sampai udah hafal sama muka kita!"
Ruby, dengan dramatis, menempelkan layar ponsel Nana ke depan matanya sendiri, mengabaikan fakta bahwa motor mereka sedang berguncang melewati polisi tidur. "Kayanya sih depannya toko kue... kayaknya itu deh!" sahut Ruby sambil menunjuk sebuah bangunan dengan plang bergambar cup-cake raksasa yang agak pudar.
"Eumm, iya kayaknya!" jawab Nana lega. Ia langsung menarik rem depan dengan sentakan dramatis, membuat motor Scoopy itu berhenti dengan efek suara mendecit yang dipaksakan. Mereka berdua melangkah mendekat ke pintu toko kue tersebut.
Sementara itu, di dalam rumah yang menyatu dengan toko kue tersebut, atmosfer ketegangan yang berbeda sedang terjadi. Gretta berdiri di depan ibunya dengan sikap tubuh tegap, seolah-olah sedang berhadapan dengan komandan militer.
"Mama, aku keluar dulu yah, mau belanja keperluan kemping," ujar Gretta meminta pamit. Suaranya sengaja dibuat selembut mungkin, taktik kuno untuk melunakkan hati orang tua.
Sang Mama, yang tangannya sedang sibuk memasukan kue ke dalam plastik, mendadak menghentikan gerakannya. Ia memicingkan mata, menatap Gretta dengan pandangan penuh selidik. Backsound musik tegang seolah bergaung di dalam ruangan itu.
"Emm, beneran mau kemping sama temenmu? Apa Gian ikut?" ujar mamanya, menyebut satu nama yang langsung membuat atmosfer ruangan menjadi canggung.
Gretta menghela napas berat, bahunya merosot seketika. "Emm, iya dia ikut... karena terpaksa sih, Mah," ujar Gretta dengan nada pasrah. Dalam hatinya, ia membayangkan wajah Gian yang pasti akan ditekuk sepanjang perjalanan kemping nanti seperti pakaian yang belum disetrika.
Mendengar nama Gian disebut, ekspresi wajah sang Mama langsung berubah 180 derajat. Senyumnya merekah lebar, seolah baru saja memenangkan lotre. "Emm, baguslah kalau begitu! Yasudah, hati-hati di jalan!" pekik sang mama dengan nada riang yang luar biasa, lalu kembali melayani pelanggan yang mau beli kue dengan semangat membara.
"Baik, Mah," gumam Gretta. Ia berbalik dan melangkah keluar. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Nana dan Ruby sudah berdiri di depan pintu dengan pose melipat tangan, menatapnya seperti dua orang penagih utang yang siap menyita rumah.
"Heeyy, kalian kenapa tidak masuk?" ujar Gretta, mencoba mencairkan suasana dingin di antara mereka.
Ruby langsung berkacak pinggang, menatap Gretta dengan tatapan menghakimi. "Tadi kami memastikan dan mengirim pesan padamu, tapi tidak dibalas! Kami hampir mengira rumah mu tak kasat mata!"
Gretta menyengir lebar, menampilkan deretan giginya tanpa dosa. "Eh, maaf, ponselku sedang dicas. Kemarin lupa kucas sampai mati total," jawab Gretta sambil cengengesan.
Nana mengacak rambutnya frustrasi. "Yasudah, kita langsung berangkat saja sekarang sebelum matahari ini melelehkan kita semua!" ujar Nana yang sudah kembali bersiap di atas motor Scoopy kesayangannya.
Gretta memandangi motor Scoopy itu, lalu memandangi Nana dan Ruby bergantian. Matanya membelalak horor. "Haa? Bonceng tiga nih?!" tanya Gretta dengan nada tidak percaya. Bagaimana mungkin motor sekecil itu bisa menampung tiga orang manusia tanpa memicu kecelakaan lalu lintas yang masuk berita sore?
Nana tertawa renyah, meremehkan ketakutan Gretta. "Iya, kita bonceng tiga, gak apa-apa kan? Lagi pula kita semua kurus-kurus, gak ada yang semok! Motor ini masih sanggup menahan beban dosa kita!" ujar Nana ketawa.
"Hahaha!" Tawa Ruby dan Gretta pecah seketika mendengar humor Nana.
Namun, bukan Nana namanya jika tidak merusak suasana dengan leluconnya yang absurd. Sambil membusungkan dada dengan percaya diri, Nana berteriak, "Ihh, walaupun gak semok, tapi tetew-ku montok, Ruby!" ujar Nana tanpa malu-malu sambil memegang area dadanya sendiri.
Ruby langsung berteriak histeris menutupi wajahnya, sementara Gretta hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya yang satu ini. "Ada-ada saja!" gumam Gretta pasrah.
Tanpa pilihan lain, Gretta akhirnya naik dan duduk di bagian paling belakang, di belakang Ruby yang menjepit Nana di depan. Formasi bertumpuk tiga ini membuat motor Scoopy tampak seperti sirkus berjalan.
"Oke, kita jalan! Gretta, aman kan?!" tanya Nana memastikan, bersiap menarik gas.
"Aman, aman!" Jawab Gretta, sambil mencengkeram jaket Ruby sekuat tenaga demi keselamatan jiwanya.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan mereka sungguh luar biasa. Orang-orang di jalanan menatap trio bonceng tiga ini dengan pandangan antara kasihan dan takjub. Namun, mereka bertiga tidak peduli. Mereka tetap asyik melihat ke kanan dan ke kiri, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah.
Di tengah deru mesin motor yang kepayahan, Gretta tiba-tiba teringat sesuatu. Ia sedikit memajukan kepalanya agar suaranya terdengar oleh Ruby. "Hee, ngomong-ngomong, bukannya kamu punya motor Ninja hitammu itu, Ruby?! Kenapa kita harus menderita bonceng tiga di atas motor matic yang bergetar seperti mesin cuci ini?!"
Ruby menoleh sedikit, mencoba menjawab tanpa membuat motor kehilangan keseimbangan. "Emm, motorku tadi bannya bocor! Jadi kutinggal di bengkel, nanti pas pulang baru kuambil!" jawab Ruby setengah berteriak.
"Emm, begitu yah," saut Gretta dari belakang, baru paham alasan di balik penderitaan fisik mereka hari ini. Dalam hati, Nana berjanji akan menuntut ganti rugi bensin kepada Ruby karena telah mengeksploitasi motor Scoopy-nya melampaui batas kemampuan manusiawi.
Setelah melewati perjuangan panjang melawan lampu merah yang lamanya mirip seperti nunggu jodoh, serta drama hampir terjungkal saat melewati jalan berlubang, mereka akhirnya sampai di area parkir depan mall.
Begitu motor berhenti dengan sempurna, Gretta dan Ruby langsung melompat turun dengan perasaan syukur yang amat sangat, seolah-olah baru saja selamat dari wahana roller coaster ekstrem. Nana kemudian memarkirkan motornya dengan gaya seolah-olah dia baru saja memarkirkan sebuah motor sport mahal.
Nana merapikan rambutnya yang berantakan akibat angin jalanan, lalu menunjuk ke arah pintu kaca mall yang megah di depan mereka. "Ayok, kita masuk!" ujar Nana memimpin pergerakan.
"Ayok!" jawab Gretta dan Ruby kompak, menyambut seruan itu dengan kepalan tangan ke udara.
Dengan langkah tegap, penuh gaya, dan tawa yang masih tersisa dari lelucon di sepanjang jalan, ketiga sahabat itu berjalan beriringan. Mereka siap menyerbu mall, berbelanja keperluan kemping, dan yang paling penting: nongkrong cantik demi melupakan sejenak penderitaan bonceng tiga tadi. Pintu mall pun terbuka otomatis, menyambut kedatangan trio paling heboh siang itu.