NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Ingin tahu

"Qiuye, dasar anak ini! Darimana saja kamu, hah? Semua orang mencarimu kemana-mana, tapi kau malah datang tanpa wajah berdosa." ucap Ayahku sambil menjewer telingaku.

"Aduh Ayah, sakit. Maaf, aku habis jalan-jalan tadi, tapi malah tersesat saat kembali kesini. Untung saja aku ketemu sama Bibi Lan dan dia segera menuntunku kemari," balasku sambil mengusap telingaku yang sedikit memanas.

"Huh! Benar-benar merepotkan, kalau tahu jadinya seperti ini Ayah tidak akan membawamu kesini!" sesal Ayahku.

"Maaf Ayah," balasku menyesali.

"Sudah lah Tabib Jiang, yang penting putri anda sudah ditemukan. Silahkan kalian kembali ke dalam dan menikmati sajian yang telah kami siapkan," ucap Bibi Lan menengahi.

"Terima kasih Bibi Lan, maaf telah merepotkan anda," ucap Ayahku.

"Sama-sama Tabi Jiang, tidak mengapa."

"Ayo cepat masuk!" ucap Ayah padaku lengkap dengan tatapan tajamnya.

Setelah semuanya berkumpul, jamuan makan pun dimulai. Kedua netraku tidak henti-hentinya membelalak ketika melihat sajian-sajian mewah nan nikmat berjejer diatas meja besar.

"Tabib Jiang duduklah, ajak putrimu dan mari kita makan bersama," ajak Nyonya Huang ramah.

"Terima kasih Nyonya Huang," ucap Ayah dan aku bersamaan.

"Jadi kamu adalah Qiuye?" tanya Nyonya Huang padaku.

"Ya Nyonya," jawabku menganguk.

"Tuan Huang pernah cerita saat bersama Tabib Jiang di istana dahulu, kata Ayahmu dia memiliki putri yang cantik dan juga pintar. Dan kali ini aku melihatnya sendiri, dan membuktikan kalau cerita ayahmu memang benar kalau dia memang memiliki putri yang cantik dan juga pintar," puji Nyonya Huang.

Aku tersenyum dan tersipu malu saat mendengarnya. "Terima kasih atas pujiannya Nyonya Huang, tapi aku tidak seperti yang Ayah katakan."

"Jangan merendah Qiuye, ketika aku melihatmu membantu ayahmu meramu obat dan juga keseriusanmu dalam mengerjakannya, maka aku berkesimpulan sendiri, kalau kau itu memang punya keistimewaan sendiri. Kau baik, rajin dan juga tangkas, kau juga terlihat pintar," puji Nyonya Huang bertubi-tubi.

"Sudah lah Nyonya Huang, Qiuye memang seperti yang anda katakan barusan. Tapi putriku ini sebenarnya sangat ceroboh dan dia masih harus banyak belajar," sela Ayahku dan diiringi tawa semua orang.

"Sudah ... sudah, kalau begini terus kapan kita makannya? Lebih baik kita sudahi saja percakapan ini dan nikmati saja makanan yang ada dihadapan kita sekarang," pangkas Tuan Huang.

"Anda benar Tuan Huang," jawab Ayahku menyetujui.

Malam itu aku merasa senang, bukan hanya senang karena perutku ini kenyang dengan makanan enak dan mewah, tetapi aku juga diberikan pelayanan ekstra dikediaman perdana menteri.

Seperti mandi dikolam air hangat bertabur bunga dengan wewangian memanjakan, aku juga mendapat pijatan dari beberapa pelayan yang ada disana.

Hingga tempat tidur mewah sendiri seperti seorang putri bangsawan.

"Malam ini beristirahatlah disini, kalau perlu sesuatu jangan ragu memanggil kami," ucap Bibi Lan.

"Baik Bibi, terima kasih," balasku lalu menutup pintu.

Setelah itu aku membanting tubuhku diatas kasur dan merasakan kelembutan kain sutra diatasnya, sesekali tersenyum memikirkan semua yang terjadi hari ini.

Akan tetapi aku tidak terlena lebih larut, karena setelah itu aku kembali duduk dan membuka tasku.

Disana aku mengambil buku usang yang aku temukan tadi di paviliun belakang dan mulai membacanya lembar demi lembar.

"Jurus ini sangat bagus, tapi tidak seru jika tidak ada pedang ditanganku," ucapku pada diri sendiri.

Segera aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru ruangan dan tertarik pada bilah rotan berbulu unggas disamping kasur. Lalu aku mengambil benda tersebut dan mencoba mengayun-ayunkannya.

"Pakai ini boleh juga, tidak terlalu berat tapi panjangnya sesuai seperti pedang," ucapku sambil menimbang-nimbang sebuah alat pembersih debu.

Kemudian aku mencoba menirukan beberapa gerakan pedang yang ditunjukkan pada buku kitab tersebut.

...----------------...

Keesokan paginya aku bangun pagi-pagi sekali membantu ayahku menyiapkan ramuan obat untuk putri perdana menteri sebelum kami pulang ke rumah.

"Ayah, kenapa obatnya ada dua mangkuk?" tanyaku ingin tahu.

"Yang satu untuk putri Huang dan satunya lagi ini obatmu," jelas Ayah.

"Obatku? Ku pikir Ayah lupa membawanya saat pergi kemari, tapi ternyata Ayah tidak lupa," gerutuku sembari menyengir.

"Apa maksud tatapanmu? Kenapa memasang wajah seperti itu?" cecar Ayah tidak senang.

"Ayah, kenapa aku selalu meminum obat ini? Obat ini rasanya pahit dan tidak enak," tolakku.

"Namanya obat itu pahit, kalau manis itu manisan! Pokoknya Ayah tidak mau tahu, kamu harus minum obat ini!" titahnya.

"Ya Ayah, tapi coba berikan aku satu saja alasannya kenapa aku harus meminum obat ini," tanyaku ingin tahu.

"Sudah jangan banyak tanya, segera minum selagi masih hangat," perintah Ayahku menolak menjawab.

Aku mencebik dan menolak. "Tidak mau," balasku tidak kalah ngotot.

"Kau harus minum, Ayah akan tunggu sampai kau benar-benar menghabiskannya," ucap Ayah serius.

"Tidak," balasku sama seriusnya.

Ayahku menatapku tajam seakan ingin menerkamku, lalu menghela nafasnya panjang sekali.

"Ye.."

"Hmm"

"Apa kau ingat saat kecil dulu?" tanya Ayahku.

"Yang mana?" tanyaku

"Kau pernah menolak meminum obat seperti hari ini, dan kau bahkan berani melemparnya hingga tumpah sampai tidak bersisa."

Seketika aku membuka memori lamaku dan teringat kembali kejadian tersebut, aku menangis dan mengamuk karena ayah memaksaku meminum obat pahit dan melemparnya agar tumpah.

Namun setelah kejadian itu aku tidak ingat lagi, namun kata ibu setelah aku tidak meminum obat dari ayah, aku tiba-tiba tertidur selama dua hari. Dan selama dua hari itu juga Ayah bekerja keras membangunkanku dengan segala obat-obatannya.

"Ya aku ingat, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi lagi."

"Kau tertidur Ye dan Ayah tidak mau itu terjadi lagi," ucap Ayah seakan mengenang masa tegang yang lalu.

"Tapi Ayah, kenapa aku seperti itu? Maksudku, kenapa aku bisa tertidur lama sekali kalau aku tidak meminum obat darimu?" tanyaku penasaran.

"Ada beberapa alasan yang lebih baik tidak disampaikan dan ada beberapa hal yang lebih baik tidak kau ketahui, Ye. Namun satu hal yang pasti Ayah akan selalu menjagamu dan memastikan agar hidupmu selalu sehat dan aman," ucap Ayah tidak ingin berdebat lagi. Lalu keluar dari dapur sambil membawa obat untuk diberikan kepada putri perdana menteri.

Aku memandangi cairan hitam pekat dalam mangkuk obatku dan banyak sekali pertanyaan yang berputar mengelilingi kepalaku.

Entah tanaman herbal apa ya dimasak oleh ayahku ini, seberapa bahayanya kah penyakitku ini dan apakah khasiat dari ramuan ini selain menjagaku agar tidak tertidur lama? Aku sama sekali tidak mengetahuinya, karena yang aku tahu hanya ayah seorang yang memiliki resepnya.

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!