NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAKAI STICKER,EH MASIH AJA ADA YANG KACAU

Hari ini di meja kerja udah tergeletak rapi tumpukan stiker alamat yang kemarin akhirnya berhasil jadi. Meskipun sempat banyak yang salah cetak, yang tersisa cukup banyak dan tulisannya jelas-jelas semua.

Pak Harun datang sambil senyum-senyum, langsung kasih perintah santai,

“Nah, hari ini kita coba pakai stiker baru ini. Biar gak perlu capek tulis tangan lagi. Tugasnya cuma antar ke tiga tempat aja. Kalau lancar, nanti kita bikin lagi yang lebih banyak. Ingat, hati-hati ya!”

“Siap Bos! Kali ini pasti aman deh!” jawab Ojak sambil langsung pegang tumpukan amplopnya, semangatnya kayak dapat hadiah.

Kami bagi tugas kayak biasa aku sama Ojak ke dua tempat, Nina sama Kak Dedi ke satu tempat lagi. Pak Joko tetap jaga kantor, katanya lebih enak duduk santai sambil minum kopi ketimbang jalan-jalan kena terik matahari.

Perjalanan aku dan Ojak awalnya mulus aja. Jalanan gak macet, anginnya lumayan sejuk. Sampai di alamat pertama, tempel stikernya rapi, diserahkan, langsung diterima tanpa masalah.

“Nah, lihat kan? Lebih gampang dan cepat sekarang,” kata Ojak bangga sambil nyetir lagi.

Belum sempat merasa tenang, pas sampai di alamat kedua Jalan Kenanga Nomor 8 baru mulai ada hal aneh.

Begitu sampai depan rumah yang dimaksud, kami ketuk pintu. Keluar seorang bapak yang mukanya agak bingung.

“Mau cari siapa Nak?” tanyanya.

“Kami antar berkas dari kantor Harun, Pak. Alamatnya kan Jalan Kenanga Nomor 8 ini,” jawabku sambil tunjuk amplop yang udah ditempel stiker.

Bapak itu melirik tulisan di stiker, terus menggaruk kepalanya.

“Ini rumah saya memang nomor 8, tapi yang kalian cari itu tetangga saya, nomor 8 sebelah kanan yang punya pagar hijau. Ini nomor 8 sebelah kiri punya saya, beda pemiliknya lho!”

Aku dan Ojak langsung melongo. Waduh, nomornya sama tapi rumahnya beda?

“Maaf Pak, kirain sama saja,” kata Ojak sambil nyengir malu.

Kami pindah ke rumah sebelah, ternyata bener juga. Baru bisa nyerahin berkasnya dengan lega.

Di jalan pulang sebentar, Ojak mengeluh dikit: “Wah, sama-sama nomor 8 tapi beda rumah, bisa juga ya? Stikernya bener tapi tempatnya nyaris salah.”

Sementara itu, Nina dan Kak Dedi juga gak kalah ceritanya. Mereka ke Jalan Mawar Nomor 45. Sampai di depan rumah yang kelihatan pas, Nina langsung tempel amplopnya dan mau serahkan.

Tapi pas keluar pemiliknya, dia malah ketawa ngakak lihat tulisan di stikernya.

“Wah, ini tulisannya beneran ya? Jalan Mawar Nomor 45 tapi ditambah garis miring panjang kayak mau jadi pagar kawat?” katanya sambil nunjuk stiker yang masih ada bekas cetakan tambahan itu yang sempat kami kira masih bisa dipakai ternyata masih ada coretan halusnya.

Nina langsung merah mukanya malu. “Maaf Pak, ini masih percobaan pertama, jadi belum sempurna betul.”

Untungnya bapak itu baik hati, cuma ketawa dan bilang gak apa-apa, asal tujuannya sudah jelas.

Di jalan balik, Kak Dedi cuma geleng-geleng kepala. “Katanya mau bikin gampang, eh masih ada aja hal kecil yang bikin kacau. Tapi lumayan lah, belum sampai salah jalan jauh kayak dulu.”

Kami semua balik ke kantor hampir barengan. Cerita kejadian masing-masing keluar begitu saja, bikin ruangan jadi rame lagi.

Pak Harun denger semuanya, ketawa sampai geleng-geleng kepala. “Wah, jadi gak ada yang bener-bener mulus ya? Padahal tulisannya sudah dibenerin, masih ada saja yang bikin bingung. Tapi setidaknya berkasnya sampai juga kan? Itu yang paling penting.”

Pak Joko yang denger dari tadi ikut nimbrung sambil minum kopi: “Namanya juga hal baru dicoba. Kalau langsung sempurna, rasanya kurang asyik dong. Nanti kita perbaiki lagi, biar stikernya makin rapi dan gak bikin bingung orang.”

Sore harinya, saat waktunya pulang, kami lewat depan rumahku lagi dan ketemu Sari sama Rara yang lagi duduk santai di teras sambil makan gorengan.

“Wah, balik lagi nih! Ada cerita lagi nampaknya, mukanya pada senyum-senyum sendiri,” sapa Rara sambil menawarkan gorengan.

Kami duduk sebentar sambil makan, lalu cerita semuanya: dari nomor sama tapi rumah beda, sampai stiker yang masih ada coretan kecil.

Mereka berdua langsung ketawa sampai terguling-guling.

“Wah, namanya mau berubah cara, kebiasan konyolnya gak hilang ya!” kata Sari sambil menepuk tangan pelan.

Rara langsung catat lagi di buku kesayangannya. “Ini lucu juga! Bikin stiker biar gak ribet, eh tetap saja ada kejadian yang bikin deg-degan sebentar. Sepertinya gak akan ada hari yang beneran lurus-lurus aja untuk kalian ya!”

Aku cuma tersenyum sambil menggaruk kepala, dalam pikiran cuma simpel aja:

Ternyata mau pakai cara baru atau lama, namanya kerja pasti ada saja rintangannya. Mau tulis tangan, bisa salah tulis. Mau pakai stiker, bisa ada yang nyaris salah tempat juga.

Tapi yang penting kita tetap sabar, gak panik, dan bisa ketawa lihat kekurangannya. Hari ini tetap selesai juga, dan dapat cerita baru lagi buat dibagi-bagi.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!