NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menara Kaca dan Meja Direktur

Kabut tipis masih menyelimuti langit Ibu Kota ketika Alesha Camellia melangkah masuk ke lobi utama gedung tertinggi di kawasan bisnis pusat.

Jam dinding di dinding marmer berkilau itu baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit, namun gedung setinggi enam puluh lantai itu sudah mulai bernyawa. Pintu kaca berputar menyambutnya, membiarkan udara sejuk beraroma kesuksesan dan kesibukan menyapa kulitnya.

Alesha mengenakan setelan jas berwarna kelabu gelap yang terjahit rapi, menutupi tubuh rampingnya dengan kesan tegas namun tetap anggun. Rambut panjangny disatukan rapi ke belakang, memperlihatkan wajah yang halus namun penuh ketegasan. Di tangannya tergenggam tas kerja berkulit asli, dan sepasang sepatu hak tingginya menimbulkan bunyi teratur di atas lantai marmer yang licin.

“Selamat pagi, Ibu Direktur,” sapa petugas keamanan di meja resepsionis dengan nada hormat.

Alesha mengangguk singkat sambil tersenyum tipis, senyum yang sudah terlatih selama bertahun‑tahun, ramah namun tetap menjaga jarak.

Ia melangkah menuju lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh pimpinan tertinggi. Pintu lift terbuka, dan di dalamnya tergantung cermin besar yang memantulkan sosoknya. Alesha menatap pantulan dirinya sejenak.

Di usia masih terbilang muda, ia telah menduduki jabatan Direktur Operasional di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang jasa keuangan dan pengelolaan aset. Bagi banyak orang, ia adalah lambang kesuksesan, wanita muda yang cerdas, mandiri, dan tak tersentuh kesulitan hidup. Namun di balik sorot mata yang tajam itu, tersembunyi lapisan‑lapisan kisah yang belum pernah ia ceritakan sepenuhnya kepada siapa pun.

Pintu lift terbuka kembali di lantai teratas. Suasana di sana terasa lebih hening, lebih eksklusif. Lorong panjang yang dibatasi dinding kaca bening memandang ke arah hamparan kota yang perlahan bangun dari tidurnya.

Di ujung lorong itulah terletak ruang kerja Alesha, ruangan terluas dan paling mewah di seluruh gedung.

“Selamat pagi, Bu Alesha,” sapa seorang wanita muda yang sudah menunggu di depan pintu ruangan itu.

Dia adalah Dinda, sekretaris sekaligus sahabat terdekatnya sejak masa awal Alesha mulai bekerja di perusahaan ini sebagai staf pelaksana. Dinda mengenakan pakaian kerja yang rapi, wajahnya berseri‑seri namun tetap sigap.

“Selamat pagi, Dinda,” jawab Alesha sambil membuka pintu ruangannya.

“Bagaimana persiapan rapat pagi ini?”

“Segala sesuatunya sudah disiapkan, Bu. Berkas‑berkas laporan kinerja triwulan sudah disusun menurut urutan topik, jadwal pertemuan dengan mitra usaha juga sudah dikonfirmasi kembali, dan kopi kesukaan Ibu sudah diletakkan di atas meja.”

Alesha tersenyum lebih tulus kali ini.

“Terima kasih. Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan.”

Alesha meletakkan tas kerjanya di sudut meja, lalu duduk di kursi putar yang empuk namun kokoh. Ia meraih cangkir keramik berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap. Aroma pahit dan hangatnya menyebar ke seluruh rongga hidung, seolah memberikan kekuatan baru untuk menghadapi hari yang panjang.

Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, telepon di meja kerjanya berdering. Itu adalah panggilan dari kepala bagian keuangan. Alesha mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk atau memberikan petunjuk singkat yang langsung dipahami oleh lawan bicaranya. Suaranya rendah namun tegas, tak ada keraguan sedikit pun di setiap kata yang diucapkannya.

Setelah panggilan berakhir, Dinda masuk kembali membawa berkas tambahan.

“Ini laporan rinci mengenai proyek perluasan cabang ke luar pulau, Bu. Ada beberapa poin yang menimbulkan perbedaan pendapat di antara kepala bagian.”

Alesha mengambil berkas itu, matanya bergerak cepat menyapu setiap baris tulisan dan angka yang tertera di dalamnya. Ia tidak butuh waktu lama untuk menangkap inti permasalahan.

“Katakan kepada mereka bahwa keputusan akhir tetap mengacu pada analisis risiko yang telah disepakati sebelumnya. Jangan tergoda oleh keuntungan jangka pendek yang mengabaikan stabilitas jangka panjang. Aku akan menjelaskannya lebih rinci saat rapat dimulai.”

“Baik, akan kusampaikan segera,” jawab Dinda lalu bergegas keluar.

Sejak pagi hingga mendekati pukul sembilan, ruangan itu tak pernah sepi dari kedatangan kepala‑kepala bagian. Mereka datang satu per satu atau berkelompok, membawa laporan, mengajukan usulan, atau meminta keputusan atas berbagai permasalahan yang timbul.

Setiap kali Alesha mendengarkan dengan saksama, mengajukan pertanyaan tajam yang langsung menembus inti masalah, lalu memberikan arahan yang jelas dan mudah dilaksanakan. Tak ada satu pun yang berbicara dengan nada ragu atau berani menyepelekan pendapatnya.

Di mata seluruh karyawan, Alesha Camellia bukan hanya seorang direktur karena keberuntungan atau hubungan keluarga, ia juga disegani karena kecerdasannya yang tajam, ketelitiannya yang luar biasa, serta kemampuannya mengambil keputusan tepat di saat yang paling sulit sekalipun.

Saat para pimpinan bagian telah kembali ke ruangan masing‑masing, kesunyian kembali menyelimuti ruangan itu. Alesha bersandar di kursinya, membiarkan pandangannya menembus dinding kaca menuju hamparan gedung‑gedung tinggi yang berjejer bagaikan menara‑menara kaca yang tak tergoyahkan. Di bawah sana, ribuan orang bergerak sibuk, berlomba mengejar waktu dan harapan.

Ia teringat sejenak betapa sulitnya perjalanan hingga sampai ke titik ini. Dulu, ia hanyalah lulusan baru yang harus bekerja keras dari bawah, menanggung beban kekhawatiran orang tuanya yang pernah terjerat utang besar.

Namun ingatan itu segera ia singkirkan kembali ke sudut terdalam pikirannya. Di sini, di balik meja kerja ini, ia harus tetap menjadi sosok yang kuat, yang tidak boleh terlihat lemah sedikit pun.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan tepat. Pintu ruangan terbuka kembali, kali ini Dinda datang membawa berkas rapat utama pagi itu.

“Sudah waktunya untuk memulai rapat, Bu. Semua kepala bagian sudah berkumpul di ruang rapat besar.”

Alesha berdiri, merapikan sedikit ujung jasnya, lalu menarik napas panjang sejenak sebelum melangkah menuju pintu. Saat ia melintasi lorong panjang menuju ruang rapat, para karyawan yang kebetulan lewat segera menyingkir dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Di mata mereka, Alesha adalah puncak kesuksesan yang patut diteladani.

Saat ia melangkah masuk ke ruang rapat yang luas, percakapan di dalamnya seketika terhenti. Semua mata tertuju padanya. Ia berjalan lurus menuju kursi paling depan di ujung meja panjang yang terbuat dari kaca tebal, lalu duduk dengan tenang.

“Mari kita mulai,” ucapnya pelan namun terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan.

“Hari ini kita akan meninjau pencapaian triwulan lalu, menentukan arah kerja untuk tiga bulan ke depan, serta membahas hambatan yang masih menghambat kelancaran operasional perusahaan.”

Selama dua jam berikutnya, ruangan itu dipenuhi pembahasan yang padat dan teratur. Alesha memimpin rapat dengan cekatan, memotong pembicaraan yang menyimpang, menyoroti angka‑angka yang belum jelas, serta memberikan solusi yang praktis namun berjangkauan luas. Tak ada satu pun yang berani menyanggah tanpa alasan yang kuat, karena mereka tahu betul bahwa setiap keputusan yang diambil Alesha selalu didasari perhitungan yang matang.

Ketika rapat berakhir, para kepala bagian meninggalkan ruangan dengan wajah penuh keyakinan, seolah‑olah segala keraguan yang semula ada telah terhapus sepenuhnya.

Alesha kembali ke ruang kerjanya yang hening, merasakan sedikit kelegaan namun tetap tidak mengendurkan kewaspadaannya. Hari itu masih panjang, masih banyak tugas yang menunggu di atas meja kerjanya.

Ia kembali duduk di depan meja kerjanya yang luas. Di sebelah kiri terhampar laporan keuangan, di sebelah kanan rancangan perjanjian kerja sama baru, dan di tengah‑tengahnya komputer yang menampilkan grafik perkembangan pasar.

Ia mulai membaca kembali setiap halaman, menandai bagian‑bagian penting dengan pena tinta biru, sesekali mengetikkan catatan tambahan di layar komputer. Cahaya matahari pagi yang mulai terang menembus kaca, jatuh tepat di atas meja kerjanya, menyoroti setiap garis tulisan tangan yang rapi dan tegas.

Dari balik dinding kaca itu, seluruh kota tampak kecil dan teratur, seolah‑seluruhnya berada dalam genggaman tangannya. Namun di dalam hati wanita muda itu, tersimpan kesadaran yang tak pernah hilang, bahwa kesuksesan yang ia bangun di atas menara kaca ini tetap rapuh, sama seperti kaca itu sendiri, indah dan berkilau, namun bisa pecah seketika jika terkena benturan yang cukup keras.

Namun saat ini, di balik meja direktur itu, ia tidak membiarkan perasaan itu muncul ke permukaan. Ia tetap bekerja, memeriksa, menandatangani, dan merencanakan segala sesuatu dengan ketelitian yang tak pernah berkurang.

Di mata siapa pun yang melihatnya dari jauh, Alesha Camellia hanyalah sosok yang sempurna, tak tergoyahkan di tengah hiruk‑puk kesibukan Ibu Kota.

Pukul sebelas lewat tiga puluh menit, Dinda kembali mengetuk pintu.

“Ada panggilan telepon dari rumah, Bu. Ibu Zaskia yang menelepon.”

Jari‑jari Alesha yang semula sibuk memegang pena seketika berhenti bergerak. Ia mengangguk pelan.

“Baik, sambungkan ke sini.”

Saat suara ibunya terdengar dari gagang telepon, nada bicaranya sedikit melunak, meski tetap menjaga ketegasan. Namun begitu panggilan berakhir, ekspresi wajahnya kembali seperti semula. Tenang, dingin, namun tetap menyisakan sedikit keresahan yang hanya bisa ia sembunyikan di balik tumpukan berkas di atas meja kerjanya.

Hari itu terus berlanjut dengan kesibukan yang tak terputus. Berkas demi berkas ditandatangani, pertemuan demi pertemuan diselesaikan, keputusan demi keputusan diambil. Di seluruh lantai gedung itu, nama Alesha Camellia disebut dengan rasa hormat yang mendalam. Ia adalah penggerak utama yang menjaga seluruh roda perusahaan tetap berputar lancar di tengah persaingan yang semakin ketat di Ibu Kota.

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!